Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
#12
Zion tiba di rumah saat Zea menjelang tidur.
“Papa!”
Senyum pria itu mengembang lebar, menyingkirkan letih dan penat setelah seharian bekerja.
“Mau bobo, Sayang?”
Zea mengangguk lucu, “Papa cepeltina capek,” tebak Zea, tangan mungilnya mengusap peluh di dahi dan rahang pria itu.
“Habis diusap Zea, skarang sudah hilang capeknya, terima kasih, Nak.”
“Papa, Zea mau bobo cama Papa,” pintanya manja.
“Papa bau, belum mandi, Zea sama mama dulu, ya,” kata Zion.
Lizie keluar dari dapur yang sudah rapi seperti semula, wanita itu pun mendekat lalu mengusap pipi sang suami. “Makan malam sudah di meja, mandilah dulu.”
“Iya, istirahatlah, kamu pasti lelah seharian mengerjakan pekerjaan rumah.”
Lizie pamit untuk menidurkan putri mereka, Zion masih memperhatikan istrinya hingga wanita itu lenyap bersama Zea di balik pintu kamar.
Pria itu tersenyum samar, sambil menggelengkan kepalanya. “Yah, benar, kamu pasti pria sinting, Zion, karena mengira pembunuh bayaran mirip dengan istrimu,” gumam Zion.
Pria itu pun menuju kamar untuk mandi, dan berganti pakaian bersih. Dokumen pekerjaan, tak pernah ia bawa ke rumah, kalau pun dibawa pulang, biasanya tak sampai keluar dari mobil. Dan Lizie menghormati privasi Zion, dengan tidak lancang memeriksa isi mobil suaminya.
Di kamar Zea, Lizie memeluk putrinya yang telah terlelap, air matanya berlinang pelan bila tiba-tiba otaknya membayangkan sesuatu yang buruk. Misalnya dirinya yang tiba-tiba ditembak mati oleh anak buah Adam Romanov, sebab dia adalah pelaku peledakan di kediaman Adam Romanov saat itu.
Jika itu terjadi, bagaimana nasib Zea, siapa yang akan mendidik dan merawatnya dengan sepenuh hati? Lizie merasakan ketakutan yang sangat konyol, karena prasangkanya sendiri, hingga sepanjang hari ini ia tak bisa tenang, selalu was-was setiap saat.
Malam cukup larut saat Lizie kembali ke kamar yang ditempatinya bersama sang suami. Rupanya Zion pun belum tidur, masih duduk bersandar di headboard sambil menyalakan TV.
“Belum tidur?”
Zion menoleh.
“Hmm, sambil menunggumu. Cepatlah.”
Lizie tersenyum sambil melewatinya, tujuannya ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur. Tak butuh waktu lama, ia sudah kembali dengan mengenakan piyama terusan, tak lupa mengoles lotion sebelum tidur.
Setelah selesai, Lizie melihat Zion menepuk pangkuannya, “Sini,” katanya lembut, lalu mengulurkan tangan untuk Lizie.
Lizie merangkak naik ke tempat tidur, lalu duduk dipangkuan suaminya seperti permintaan pria itu, kedua lengannya melingkar manja di leher Zion, mengecup bibir pria itu sekilas. “Kenapa? Kelihatannya suntuk sekali?”
“Tidak ada, hanya misi baru.” Zion tak menjelaskannya lebih lanjut, malah menyelipkan helai rambut Lizie di belakang telinganya. Menciumi seluruh wajahnya, pipi hidung, mata, kening hingga melumat bibir mungil yang ranum tersebut.
Lizie mengerti, pastilah rahasia, karena Zion tak menceritakan detailnya.
“Lalu sekarang aku butuh hiburan,” bisik Zion, mulai mencumbu tengkuk Lizie yang tertutupi rambut hitam wanita itu, tangan pria itu ikut aktif menurunkan tali piyama Lizie, hingga seluruh tubuh bagian atas sang istri kini terbuka sepenuhnya.
Lizie tak menolak, karena menolak pun, ia tak bisa lepas sebab Zion sudah memenjarakan tubuhnya di antara kedua lingkaran lengan kokohnya.
Sebaliknya, Lizie justru membantu Zion melepas kaos pria itu hingga mereka berdua bisa berpelukan tanpa terhalang sekat pakaian.
Dengan diterangi cahaya lampu kamar yang sengaja tak dipadamkan, mereka terus mendesah nikmat. Zion sedang memuaskan kedua matanya, menikmati pemandangan aduhai dari tubuh mulus istrinya, hingga ia sengaja tak mengubah posisi awal mereka. Malam ini ia ingin dipuaskan sang istri, sebelum pergi bertugas, entah kapan kembali.
Lizie benar-benar terlihat seksi, di saat seperti ini, gerakannya lembut tapi menghanyutkan berbeda dengan Zion yang tak bisa bermain pelan.
Tak ada satupun bagian tubuh Lizie yang tak memikat, membuat Zion mabuk kepayang, wajah cantik, rambut tergerai berantakan, dada yang padat kenyal berisi, hingga pinggul yang sedikit berlemak. Tak masalah, semakin menggoda. Dua kaki jenjang yang lincah, bergerak kesana kemari, demi mengurus dirinya dan Zea dengan sebaik-baiknya.
Semuanya paket lengkap, yang mampu memenuhi dahaga Zion.
•••
“Ya— Papa mau pelgi?”
Seperti dugaan Zion, pagi itu Zea cemberut saat mendengar kabar bahwa dirinya akan pergi menjalankan tugas.
“Kan, Papa harus kerja, Sayang.”
“Da cuka, da cuka, da cuka!” sahut Zea, lalu melengos keluar dari rumah.
Hari ini weekend, dan biasanya Zea menghabiskan waktu bermainnya bersama Zion. Tapi tepat di hari libur, ia justru mendengar kabar bahwa sang papa akan pergi, perginya berapa lama, belum ada kejelasan.
“Kenapa dia begitu?” gumam Zion, jelas ditujukan untuk Lizie yang sedang menyantap sarapan di sisi Zion.
Lizie meletakkan sendok dan garpunya, lalu meneguk air putih dari gelasnya. “Minggu depan ada acara pentas seni, pasti Zea berharap papanya datang untuk melihatnya tampil di panggung untuk pertama kali,” jawab Lizie dengan ketenangan yang sudah menjadi gayanya yang khas.
“Ah, pantas saja.”
Sesaat kemudian, Lizie membantu suaminya menyiapkan pakaian yang hendak Zion bawa pergi. Namun, Zion sendiri terlihat seperti enggan melepaskan istrinya, pria itu terus mengekor kemanapun Lizie bergerak dan berjalan.
“Iih, jangan begini, dong, jadi makin lama selesainya, kan?” tegur Lizie gemas.
Namun, Zion mengabaikan ucapan tersebut, siapa yang peduli, ia hanya ingin menempel seperti ini lebih lama, karena selama berjauhan nanti hal inilah yang akan sangat ia rindukan. “Biarin, masih nanti siang perginya.”
Akhirnya Lizie hanya bisa menarik dan menghembuskan nafas penuh rasa sabar, ini adalah sebuah definisi, suami rasa anak. Kelakuan manjanya mengalahkan anak mereka.
“Awas, geser sedikit, aku mau duduk di lantai,” pinta Lizie yang langsung duduk bersila, karena semua barang-barang yang Zion butuhkan sudah terkumpul di sana. Tinggal memasukkannya ke dalam koper.
Alih-alih menjauh, Zion ikut duduk di dekat istrinya lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Lizie. Sengaja menenggelamkan wajahnya di perut sang istri, “Sayang, geli aku, tuh.”
“Ih, apaan, sih, orang aku lagi cium calon baby kita,” jawab Zion.
Lizie tertawa geli, “Baby apaan, hamil juga belum.”
“Biarin, kan, semalam sudah dibuahi, siapa tahu sekarang dia mulai tumbuh. Sehat-sehat, ya, anak Papa, jangan nakal, jangan bikin Mama susah, Papa mau pergi kerja dulu.”
Gemas mendengar ucapan suaminya, Lizie hanya bisa menggeleng, sementara tangannya bergerak cekatan menata barang bawaan Zion. “Ngomong-ngomong, kali ini kamu mau pergi kemana?” cetus Lizie.
Zion mendongak, lalu. Menoel hidung Lizie. “Ke tempat pertama kali kita bertemu.”
Rona di wajah Lizie, seketika memudar, berganti dengan warna pucat, dan getaran halus di dalam dada Lizie. “Oh, m-ma-mau apa kesana?” tanya Lizie, menyembunyikan perasaan aneh yang tiba-tiba menyelinap di lubuk hatinya.
“Misi rahasia, Sayangku, kamu sekalipun tak boleh tahu. Tugasmu hanya menjaga dirimu dan anak kita baik-baik, juga menungguku pulang. Oke?”
Meski berat, Lizie mengangguk, mencoba tersenyum meski terlihat kaku, dan takut. Namun, Zion justru mengartikan hal itu sebagai tangis kesedihan yang coba ditahan.
“Baiklah, kamu juga harus baik-baik selama di sana.”
“Pasti.”
###
Alurnya masih santai?
Iya. Karena Othor masih berusaha menyelipkan banyak misteri tentang masa lalu Lizie. 🙏🏻