Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Pak Dosen Killer

Suamiku Pak Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.

Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.

Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kopi Dari Citra

Kehidupan pernikahan rahasia memang selalu punya cara sendiri untuk menguji ketahanan mental Nadhira. Namun, dari sekian banyak situasi menegangkan yang pernah ia alami dalam seminggu terakhir, tidak ada yang bisa menandingi krisis tingkat dewa yang terjadi pada Selasa siang pukul dua ini.

Semuanya bermula sekitar sepuluh menit yang lalu.

Nadhira sengaja mendatangi ruangan kerja Reyhan untuk menyerahkan revisi draf sketsa Tipografi yang tenggat waktunya sore ini.

Karena suasana kantor dosen sedang sepi, Reyhan mengizinkan Nadhira masuk sebentar untuk mendiskusikan koreksinya.

Baru saja Nadhira meletakkan lembar karyanya di atas meja besar sang suami, suara ketukan sepatu berhak tinggi yang melangkah mantap terdengar dari arah koridor. Disusul oleh ketukan pintu yang tegas dua kali.

"Reyhan? Kamu di dalam? Ini aku, Citra."

Suara itu, suara Bu Citra, dosen muda mata kuliah Manajemen Desain yang terkenal cantik, pintar, dan paling elegan se-fakultas, seketika membuat seluruh pasokan udara di paru-paru Nadhira tersedak.

Kepanikan hebat langsung melanda. Tidak ada lemari yang cukup besar untuk bersembunyi, dan pintu belakang sama sekali tidak ada. Dalam hitungan detik yang sangat kritis, Reyhan dengan sigap namun tenang mencengkeram bahu Nadhira dan mendorong gadis itu untuk berlutut di bawah meja kerja kayu berukuran besarnya.

"Sembunyi dan jangan bersuara," bisik Reyhan sangat pelan namun tegas tepat di telinga Nadhira yang mendadak gemetar.

Kini, di sinilah Nadhira berada.

Gadis berusia dua puluh satu tahun itu meringkuk kaku di celah sempit di bawah meja kerja Reyhan. Kedua lututnya ditekuk erat mendekati dada, kedua tangannya menutup mulut rapat-rapat, dan dadanya naik turun menahan napas yang memburu.

Posisinya amat sangat berbahaya. Jarak antara kening Nadhira dengan bagian depan celana kain hitam yang dikenakan Reyhan hanya terpaut beberapa sentimeter. Kedua kaki Reyhan yang panjang membuat space di bawah meja berkurang dan membuat Nadhira meringkuk di bawah sana.

Klek.

Suara pintu diputar. Langkah sepatu berhak tinggi itu melangkah masuk ke dalam ruangan. Aroma parfum floral mahal yang lumayan menyengat langsung menyapu indra penciuman Nadhira dari celah bawah meja.

"Sore, Rey. Maaf ya kalau aku mengganggu waktu kamu," suara Citra terdengar amat lembut dan manis, bernada sangat akrab.

"Sore, Citra. Ada perlu apa?" sahut Reyhan dari atas. Suaranya terdengar sangat tenang, datar, dan profesional sama sekali tidak mengindikasikan bahwa di bawah kakinya ada sang istri yang sedang meringkuk.

"Aku cuma mau antar ini," ujar Citra. Dari celah kayu meja, Nadhira bisa melihat sekilas bayangan Citra yang kini sudah berdiri sangat dekat di depan meja kerja Reyhan.

"Aku tadi sempat keluar ke kafe sebelah kampus, terus ingat kamu suka Americano tanpa gula. Jadi sekalian aku beliin."

"Terima kasih, Citra. Tapi sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot," balas Reyhan sopan.

"Sama sekali nggak repot, Rey. Kita kan udah kenal dari zaman kuliah S2 dulu, masa beliin kopi aja dibilang repot sih?" kekeh Citra manis.

Nadhira yang meringkuk di bawah meja langsung memutar bola matanya malas. "Dih, pakai ungkit-ungkit masa S2 segala," batin Nadhira menggerutu kesal.

Rasa panas dingin mendadak menyerang tubuh Nadhira. Bukan cuma karena rasa takut setengah mati jika sampai ketahuan persembunyiannya, tetapi juga ada perasaan aneh yang bergejolak di dalam dadanya perasaan panas, kesal, dan cemburu yang tiba-tiba meletup saat mendengar nada bicara Citra yang kelewat perhatian pada suaminya.

"Silakan duduk dulu, Citra," kata Reyhan santai.

"APA?! DISURUH DUDUK!" mata Nadhira membelalak lebar di kegelapan bawah meja. "Pak Reyhan gila ya? Ngapain disuruh duduk lama-lama sih," ucap Nadhira membatin.

Suara gesekan kursi terdengar saat Citra mendaratkan tubuhnya di kursi tamu yang terletak tepat di depan meja kerja Reyhan. Jarak antara sepatu high heels merah milik Citra dengan ujung sepatu kets milik Nadhira di bawah meja kini tidak sampai setengah meter.

"Kelihatannya kamu sibuk banget beberapa hari ini, Rey," tutur Citra sambil menyilangkan kakinya. "Aku perhatiin kamu sering banget memproses berkas mahasiswa DKV sampai sore. Nggak kecapekan?"

"Sudah menjadi kewajiban," jawab Reyhan pendek.

Di bawah meja, Nadhira mulai merasa kakinya kesemutan hebat. Meringkuk dalam posisi kaku selama beberapa menit tanpa boleh menggeser tubuh se-milimeter pun benar-benar merupakan siksaan fisik yang nyata. Nadhira mencoba menggeser sedikit posisi kakinya agar tidak kram.

Namun, karena panik, gerakan kecil ujung sepatu kets Nadhira secara tidak sengaja menyenggol bagian dalam betis Reyhan.

Deg!

Nadhira membeku seketika. Ia meratapi kecerobohannya dalam hati.

Di atas meja, tubuh Reyhan sedikit tegang, namun dengan sangat lihai pria itu tetap mempertahankan raut wajah dinginnya. Tanpa mengubah posisi duduknya yang tegap, kaki kanan Reyhan perlahan bergerak ke bawah meja.

Pria itu menyenggol pelan sepatu Nadhira, lalu secara tersembunyi menekankan bagian samping sepatunya untuk menahan kaki Nadhira agar tidak bergeser lagi.

Sentuhan tersembunyi dari kaki suaminya di bawah sana sukses membuat jantung Nadhira serasa mau melompat keluar dari dada. Wajah Nadhira seketika merona merah padam dalam kegelapan di bawah meja.

"Oh ya, Rey," lanjut Citra, suaranya terdengar makin antusias.

"Soal seminar internasional bulan depan di Bali... kamu jadi ambil bagian sebagai pembicara mewakili fakultas kita, kan?"

"Masih saya pertimbangkan, Citra. Jadwal mengajar saya lumayan padat," jawab Reyhan.

"Ambil aja, Rey. Kan sayang banget kalau dilewatkan," desak Citra dengan nada membujuk yang amat manis.

"Lagian... kalau kamu ikut, kita bisa berangkat barengan. Aku juga ditunjuk Dekan buat jadi panitia di sana. Nanti di Bali kita bisa sekalian jalan-jalan santai setelah acara selesai, kayak zaman kita magang dulu."

Nadhira yang mendengar ucapan itu langsung mengepalkan kedua tangannya erat-erat. "Jalan-jalan di Bali barengan? Enak aja, langkahin dulu mayat gue!" batin Nadhira mengamuk hebat.

Rasa kesal yang membumbung tinggi membuat Nadhira lupa diri sejenak. Dengan sengaja, jemari tangan Nadhira terulur ke depan dalam kegelapan bawah meja. Ia meraih bagian kain celana bahan hitam Reyhan di dekat lutut, lalu mencubitnya cukup keras.

Di atas meja, alis Reyhan menukik tajam seketika. Pria itu menahan napasnya secara refleks saat merasakan cubitan maut sang istri tepat di kain celananya. Jemari Reyhan yang sedang memegang pulpen di atas meja mencengkeram alat tulis itu hingga buku-buku jarinya memutih.

"Rey? Kamu kenapa? Kok muka kamu mendadak kaku gitu?" tanya Citra heran melihat perubahan ekspresi singkat pada wajah kawan dosennya.

Reyhan berdehem keras, menetralisir rasa nyeri dari cubitan Nadhira di bawah sana. "Tidak apa-apa, Citra. Hanya sedikit pegal di area kaki."

"Oalah... makanya jangan terlalu diforsir kerjanya," ujar Citra penuh perhatian. Citra lalu menggeser cangkir kopi karton berisi Americano itu ke tengah meja. "Diminum dulu kopinya, Rey. Mumpung masih hangat."

Reyhan melihat cangkir kopi pemberian Citra tersebut, lalu melirik sedikit ke celah bawah mejanya. Ia bisa merasakan hawa emosi dan kekesalan yang terpancar kuat dari sosok Nadhira yang masih meringkuk di bawah sana.

"Terima kasih, Citra. Tapi sepertinya saya tidak bisa minum kopi ini sekarang," tolak Reyhan dengan nada suara yang amat halus namun tegas.

Citra menaikkan alisnya bingung. "Lho? Kenapa? Kamu biasanya suka Americano tanpa gula kan?"

"Saya sedang mengurangi konsumsi kafein atas saran... seseorang di rumah," ujar Reyhan.

Mendengar kata 'seseorang di rumah', tubuh Nadhira di bawah meja seketika membeku. Cubitan jemarinya di celana Reyhan mendadak mengendur.

Citra mengerutkan dahi, tampak kaget dengan pernyataan itu. "Seseorang di rumah? Siapa, Rey? Asisten rumah tangga kamu?"

Reyhan menyunggingkan garis senyum tipis yang teramat datar. "Bukan. Hanya... seseorang yang sangat cerewet kalau melihat saya minum kopi terlalu banyak."

Deg, deg, deg.

Dada Nadhira berdebar begitu kencang hingga suaranya serasa memenuhi tengkorak kepalanya sendiri. Ucapan Reyhan barusan, biarpun disampaikan dengan gaya kaku khasnya terdengar begitu manis dan tajam, sukses memukul mundur perhatian Citra secara halus sekaligus menghangatkan hati Nadhira yang tadinya terbakar cemburu.

Raut wajah Citra berubah sedikit canggung dan kecewa, meski wanita anggun itu berusaha tetap tersenyum ramah. "O-oh... begitu ya. Yaudah kalau gitu, disimpang aja dulu buat nanti."

Citra lalu melirik jam tangan mewahnya dan berdiri dari kursi. "Yaudah deh, Rey. Aku balik ke ruangan aku dulu ya. Masih ada materi kuliah yang harus aku rapikan."

"Baik, Citra. Terima kasih sekali lagi untuk kopinya," jawab Reyhan ikut berdiri dari kursinya.

"Sama-sama, Rey. Jangan lupa pikirkan soal acara seminar di Bali itu ya!" kata Citra sebelum memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan kerja Reyhan.

Klek. Cklek.

Pintu ruangan kerja akhirnya tertutup rapat dan terkunci kembali dari dalam.

Suasana ruangan mendadak hening total.

Reyhan menghela napas panjang yang sangat berat, lalu menarik kursinya ke belakang. Pria itu membungkukkan tubuhnya dan menatap ke dalam celah bawah meja.

"Sudah aman. Kamu bisa keluar sekarang, Nadhira," kata Reyhan pelan.

Nadhira yang sudah kesemutan setengah mati merangkak keluar dari bawah meja dengan susah payah. Rambutnya agak berantakan dan wajahnya dipenuhi rona merah padam gabungan antara panas, panik, dan emosi yang meluap-luap.

"Aduuuh kaki saya kram semua!" ringis Nadhira sambil memegangi lututnya yang lemas begitu berhasil berdiri di samping meja kerja Reyhan.

Reyhan meraih pergelangan tangan Nadhira, membantunya berdiri tegak agar tidak terjatuh karena kaki yang kesemutan. "Kamu tidak apa-apa?"

Nadhira secara brutal menepis pelan tangan Reyhan, lalu menatap suaminya itu dengan tatapan mata membelalak galak penuh kecemburuan.

"Nggak apa-apa gimana? Saya hampir mati berdiri di bawah sana, Pak!" cerocos Nadhira heboh dengan suara yang ditahan agar tidak terdengar sampai koridor.

"Mana Bu Citra perhatian banget lagi, dibawain kopi hangat lah, diajakin jalan-jalan ke Bali lah. Wah, luar biasa ya kenangan masa-masa S2 kalian?"

Reyhan menatap ekspresi galak istrinya dari balik kacamata. Bukannya merasa terganggu, mata pria dingin itu justru memancarkan kilat kehangatan yang amat dalam.

"Kamu cemburu, Nadhira?" tanya Reyhan singkat, suaranya tenang namun sarat godaan.

"Siapa yang cemburu?!" elak Nadhira dengan nada suara naik dua oktav, berpaling muka dengan napas memburu. "Saya cuma kesal. Kenapa harus saya yang disuruh merangkak di bawah meja kayak buronan, sementara Bapak enak-enakan di atas disenyumin sama dosen tercantik se-fakultas!"

Reyhan melangkah mendekati Nadhira, memotong jarak di antara mereka hingga Nadhira terdesak bersandar pada tepi meja kayu besar itu. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Nadhira yang sedang marah-marah.

"Saya menolak kopinya, kan?" bisik Reyhan pelan, nada suaranya berubah menjadi sangat lembut.

Nadhira menyipitkan matanya, menahan desir aneh di dadanya akibat jarak mereka yang terlalu dekat. "T-tetap aja, lagian kenapa bilang 'seseorang di rumah' ke Bu Citra? Kalau dia curiga gimana?"

"Saya tidak berbohong," balas Reyhan tenang, jemari tangannya terulur merapikan beberapa helai rambut Nadhira yang agak berantakan di dekat keningnya. "Di rumah saya memang ada seseorang yang sangat cerewet soal kesehatan saya. Dan seseorang itu sedang berdiri di depan saya sekarang."

Sentuhan lembut jemari Reyhan di keningnya sukses membungkam seluruh kalimat omelan yang sudah tersusun di bibir Nadhira. Wajah mahasiswi DKV itu seketika makin membara, merah sampai ke ujung telinganya.

"B-Bapak... pinter banget ya ngelesnya," cicit Nadhira salah tingkah setengah mati, mendorong dada bidang suaminya pelan agar memberi jarak.

Ia meraih cangkir kopi karton pemberian Citra yang tergeletak di atas meja, lalu membuangnya langsung ke dalam tong sampah di sudut ruangan tanpa ragu sedikit pun.

Melihat yang baru saja dilakukan Reyhan, rasa kesal dan cemburu Nadhira pada Bu Citra menguap begitu saja, berganti dengan perasaan hangat yang kian menegaskan bahwa di balik sikap dingin dan kakunya, Reyhan Arkananta Wijaya memang lelaki yang tahu batasan.

...Bersambung... ...

1
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,saya suka keren,lnjutka
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,dilnjut ya
Suhirno Cilok
lanjut
Rian Moontero
mampiiirr
Hajjah Mahniati
lanjut siip
Ivana Putri
lanjut lagi dong ka seru banget
Hajjah Mahniati: ceritanya bagus keren ,lanjukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!