Indonesia
NovelToon NovelToon
SHADOWS OF THE THRONE

SHADOWS OF THE THRONE

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Iblis / Tamat
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: IΠD

Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Red Daughter

Beberapa bulan berlalu sejak kepergian sang permaisuri. Malam itu, aula megah Istana Hikari dipenuhi oleh cahaya ribuan lilin kristal yang memantulkan kemewahan dari pilar-pilar pualam. Perjamuan besar digelar, mengundang seluruh kalangan bangsawan tinggi yang datang mengenakan gaun serta setelan terbaik mereka.

​Di tengah ruangan yang bertahtakan ukiran Barok, Putri Miyura berdiri anggun di antara sekumpulan putri bangsawan terkemuka, bercengkrama dengan senyuman manis dan tawa ringan yang menghidupkan suasana. Di dunia gemerlap itu, bayang-bayang kematian sang ratu seolah telah terkikis habis, dilupakan begitu saja oleh waktu dan ambisi pesta.

​Tak jauh dari kerumunan para bangsawan, di deretan belakang dekat dinding pilar, Aragoto berdiri tegak dengan seragam pelayan hitamnya. Ia bercampur di antara barisan pelayan pribadi para bangsawan yang turut mengawal majikan mereka. Aragoto hanya diam menyimak jalannya perjamuan, sorot matanya tajam mengawasi setiap gerak-gerik di sekitarnya.

​Sesekali, Aragoto melirik ke samping, mendengarkan bisikan-bisikan dan obrolan antarpelayan yang berdiri di dekatnya untuk mencari tahu informasi atau sekadar menguping gosip istana yang beredar.

​"Wah, lihatlah Putri Miyura malam ini," bisik seorang pelayan wanita berambut ikal kepada rekan di sebelah kanannya. "Semenjak ibunya tiada, ia tampak semakin memegang kendali penuh atas istana ini. Tidak terlihat sedikit pun kesedihan di wajahnya."

​Pelayan pria di sebelahnya mengangguk setuju sambil melirik sinis ke arah kerumunan bangsawan. "Tentu saja. Di istana ini, kesedihan adalah kemewahan yang tidak berguna. Sang Raja juga sepertinya sengaja menggelar perjamuan besar ini agar semua orang cepat melupakan masa berkabung dan kembali fokus pada kekuasaan."

​Aragoto yang mendengarkan percakapan itu hanya menarik napas pelan, mempertahankan ekspresi wajahnya yang datar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

​Sementara itu, di sisi lain aula yang lebih tinggi, Sang Raja yang kini telah termakan usia duduk bersanding di meja kehormatan bersama para petinggi bangsawan senior lainnya. Wajah tua Sang Raja tampak tenang, menikmati alunan musik klasik yang dimainkan para pemusik istana, seolah kematian istri yang mendampinginya selama puluhan tahun tidak pernah meninggalkan bekas apa pun di hatinya.

​Semua orang di ruangan itu larut dalam kemeriahan, merayakan pesta di atas puing-puing kenangan yang sengaja dibiarkan terkubur rapat.

Di sudut lain aula perjamuan yang gemerlap, seorang wanita muda berambut merah pendek dengan gaun beludru merah tua beraksen renda klasik tampak berdiri santai di dekat deretan meja pelayan. Ia tengah bercengkrama ringan dengan beberapa pelayan istana, tersenyum ramah seolah ia bukan bagian dari kaum bangsawan tinggi yang kaku, menciptakan kontras yang menarik di tengah keramaian pesta.

​Saat Putri Miyura berjalan melintasi area tersebut untuk menghampiri para tamu terhormat, langkah sang ratu muda terhenti sejenak. Miyura menolehkan kepalanya, melirik tajam ke arah wanita berambut merah itu dengan sorot mata merendahkan dan penuh selidik, mengisyaratkan ketidaksukaan instan terhadap seseorang yang tampak terlalu bebas di dalam istananya.

​Mendapat tatapan sinis yang sarat akan keangkuhan dari Putri Miyura, Youra—wanita berambut merah itu—langsung menghentikan percakapannya. Ia membalas tatapan tersebut dengan garis wajah yang mengeras. Di balik senyuman tipis yang ia pasang di hadapan para pelayan tadi, Youra bergumam dalam hati dengan penuh kebencian.

​“Pandanglah sesukamu dari singgasana tinggimu itu, Miyura... nikmati semua kemegahan palsu ini selagi kau bisa,” batin Youra tajam, menggertakkan giginya perlahan.

​Youra menahan gejolak emosi dan amarah yang bergemuruh di dadanya, mengepalkan kedua tangannya di balik lipatan gaunnya. Ia bersumpah dalam diam, menanamkan dendam kesumat, dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti ia akan menjatuhkan Putri Miyura dari puncak kekuasaan dan meruntuhkan seluruh Kerajaan Hikari sampai ke akar-akarnya.

Sembari menahan gejolak amarah dan kebencian yang membakar di dadanya, Youra mengalihkan pandangannya dari sosok Putri Miyura, mengamati sekeliling aula perjamuan yang dipenuhi oleh kemewahan para elite istana. Namun, tak lama kemudian, manik matanya menangkap siluet seorang pelayan pria berjas hitam rapi yang berdiri tegak di deretan belakang, tak jauh dari tempatnya berdiri.

​Youra tertegun sejenak. Ia menyipitkan matanya, mengamati struktur wajah, garis rahang, serta postur tubuh pelayan pribadi Miyura itu yang tampak begitu familier dan mirip dengan seseorang yang ia kenal. Seketika, kening Youra berkerut dalam, diliputi rasa kebingungan yang mendadak.

​Namun, Youra dengan cepat menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menepis pikiran yang melintas di benaknya dan menyadarkan dirinya sendiri bahwa hal itu adalah sebuah ketidakmungkinan.

​"Ah, tidak mungkin... mana mungkin ada orang yang semirip itu di tempat kumuh atau bahkan di dalam istana ini," gumam Youra lirih pada dirinya sendiri, mencoba mengabaikan keanehan yang ia rasakan.

​Tidak ingin membuang waktu atau menarik perhatian para pengawal kerajaan, Youra segera menarik napas panjang untuk meredakan ekspresinya. Ia kembali memasang senyuman ramahnya, lalu berbalik dan melanjutkan obrolan santainya dengan para pelayan istana serta beberapa rakyat kelas bawah yang diundang khusus dalam perjamuan tersebut.

​"Maaf membuat kalian menunggu," ucap Youra manis kepada para pelayan dan rakyat biasa di dekatnya, kembali melebur ke dalam kerumunan.

​Salah seorang pelayan wanita tersenyum sopan. "Tidak apa-apa, Nona Youra. Kami justru senang bisa mengobrol dengan seseorang dari kalangan bangsawan yang begitu ramah dan tidak sombong seperti Anda."

​Youra tertawa kecil, meskipun di dalam hatinya ia tengah merencanakan strategi besar. "Ah, jangan berkata begitu. Kita semua ini hanyalah bidak-bidak di atas papan catur yang sama, hanya saja mengenakan pakaian yang berbeda. Benar begitu, kan?"

​Para pelayan dan rakyat yang mendengar ucapan itu mengangguk setuju, sama sekali tidak tahu bahwa di balik kehangatan dan senyuman wanita berambut merah itu tersimpan niat berbahaya untuk merobohkan singgasana Kerajaan Hikari.

Di tengah keramaian aula perjamuan yang dihiasi cahaya lampu gantung kristal, Youra masih asyik bercengkerama dengan beberapa pelayan istana dan sejumlah rakyat biasa yang turut diundang dalam perjamuan megah tersebut. Salah seorang pelayan pria yang berdiri di dekatnya tampak menatap takjub ke arah gaun beludru mewah yang dikenakan Youra, lalu tersenyum canggung.

​"Nona Youra, cara Anda berbicara dan keanggunan yang Anda miliki sungguh luar biasa," puji pelayan pria itu dengan nada segan. "Bahkan beberapa bangsawan tinggi tidak seramah Anda. Sungguh suatu kehormatan bisa berbincang dengan seorang putri bangsawan terhormat seperti Anda di malam perjamuan ini."

​Mendengar pujian itu, Youra langsung menggelengkan kepalanya pelan. Ia tersenyum kecil—seulas senyum yang menyembunyikan kepahitan di balik tatapan matanya. Ia merapikan lipatan kain gaunnya sejenak sebelum memberikan jawaban yang mengejutkan orang-orang di sekitarnya.

​"Kau salah paham, kawan," ucap Youra dengan nada suara yang tenang, lembut, namun terdengar sangat jujur. Ia menatap lekat-lekat pelayan pria dan rakyat biasa di hadapannya satu per satu. "Jangan terkecoh oleh gaun mahal atau kain beludru mewah yang membalut tubuhku malam ini. Aku bukan seorang putri bangsawan, dan aku sama sekali bukan bagian dari para penguasa istana."

​Pelayan wanita di sebelah Youra membelalakkan matanya karena terkejut. "E-eh? Bukan bangsawan? Tapi Nona, gaun dan perhiasan yang Anda kenakan..."

​"Ini hanya topeng," potong Youra halus namun tegas. Ia menghela napas pelan, membiarkan tatapannya menyapu sekeliling aula tempat para petinggi kerajaan bersenang-senang di atas penderitaan rakyat. "Kenyataannya, aku ini sama seperti kalian. Aku hanyalah seorang rakyat biasa yang kebetulan berhasil menyelinap masuk ke sarang serigala ini. Aku lahir dari tanah yang sama, menghirup udara yang sama, dan merasakan kepahitan hidup di bawah tirani Kerajaan Hikari ini."

​Suasana di sekitar kelompok kecil itu mendadak hening. Para pelayan dan rakyat biasa saling berpandangan dengan rasa ngeri bercampur kagum mendengar keberanian wanita berambut merah di hadapan mereka.

​Seorang pria paruh baya dari kalangan rakyat jelata yang hadir di situ memberanikan diri untuk bersuara, suaranya bergetar cemas. "T-tapi Nona... jika pengawal istana atau keluarga kerajaan mendengar apa yang baru saja Anda katakan, nyawa Anda bisa melayang dalam sekejap! Kenapa Anda mengambil risiko sebesar ini dengan datang ke tempat seperti ini?"

​Youra tersenyum tipis, kali ini senyuman itu menyiratkan tekad yang teramat kuat dan dingin. Ia mendekatkan sedikit tubuhnya, berbicara dengan nada berbisik namun penuh penekanan yang menusuk hati siapa pun yang mendengarnya.

​"Justru karena aku adalah rakyat biasa, aku tahu persis bagaimana busuknya istana ini," jawab Youra penuh keyakinan. "Mereka hidup bermegah-megahan di atas keringat dan darah kita, mengabaikan kematian, dan menari di atas penderitaan rakyat. Seseorang harus menghentikan mereka. Dan jika para bangsawan tinggi itu mengira mereka bisa berkuasa selamanya dengan menindas kita... maka mereka salah besar."

​Youra menatap lurus ke arah kerumunan istana di kejauhan, tempat Putri Miyura berdiri dengan angkuh. "Aku tidak takut pada mahkota atau singgasana mereka. Suatu hari nanti, rakyat biasa yang mereka remehkan inilah yang akan meruntuhkan seluruh istana ini hingga rata dengan tanah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!