Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Keanu berdiri terpaku, jemarinya mengepal teramat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang memerah menatap kosong ke arah lembaran dokumen di atas meja, seolah menolak mempercayai deretan angka dan nama yang tertera di sana.
"P...papah... tidak mungkin sejahat itu..." bisik Keanu lirih, suaranya terdengar sangat rapuh dan serak.
"Keanu, sadarlah!" bentak Jordan sembari menepuk meja dengan keras. "Pria itu bukan lagi ayahmu, dia monster! Semua serangan di Belitung, teror yang dialami Bunga selama ini, hingga kematian Azka dan Riki Sanjaya, semuanya bermuara pada satu nama, yaitu Tuan Alexander!"
Di samping Keanu, Bunga tersungkur di atas sofa dengan tangisan yang membisu. Seluruh tubuhnya berguncang hebat. Bayangan malam berdarah saat kedua orang tuanya terbunuh, ingatan tentang kematian Azka, hingga kehangatan sandiwara Tuan Alexander yang selama ini menyambutnya dengan senyuman hangat, semuanya menghantam benaknya bagaikan mimpi buruk yang paling mengerikan.
Keanu perlahan berlutut di hadapan Bunga. Dengan jemarinya yang gemetar, ia merengkuh kedua pipi istrinya dan menghapus air mata yang terus mengalir deras.
"Bunga... Bunga, lihat aku," tutur Keanu lembut dengan mata berkaca-kaca. "Demi Tuhan, aku tidak pernah tahu... Aku tidak tahu kalau Papah sebejat ini..."
Bunga mendongak, menatap matanya Keanu yang dipenuhi rasa bersalah dan kehancuran. Bunga menggelengkan kepalanya cepat, lalu menggerakkan jemarinya secara tergesa dengan isyarat yang begitu jelas:
"Ini bukan salahmu, Kak Keanu... Ini bukan salahmu..."
Setelah memberi isyarat itu, Bunga menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya Keanu, memeluk leher suaminya erat-erat seraya meluapkan kepedihannya. Keanu merengkuh tubuh mungil istrinya, menyandarkan dagunya di puncak kepalanya Bunga seraya memejamkan mata rapat-rapat. Rasa marah, kecewa, dan dorongan untuk melindungi membakar seluruh jiwanya Keanu.
Ia mengalihkan pandangannya pada Adrian dan Jordan yang berdiri menanti keputusan.
"Lalu... apa rencana kita sekarang?" tanya Keanu dengan nada suara yang mendadak berubah sangat dingin, tegas, dan sarat ancaman. "Aku tidak akan biarkan iblis itu menyentuh sehelai rambut pun dari istriku... apalagi calon anak kami."
Jordan menyunggingkan senyum tipis, senyuman seorang pemburu yang siap menerkam mangsanya.
"Tuan Alexander saat ini mengira kalian berdua masih berada dalam kendalinya," ujar Jordan. "Kita akan gunakan keuntungannya itu. Kita berpura-pura bahwa kau dan Bunga tidak tahu apa-apa dan tetap mengikuti permainannya, sampai kita berhasil memancingnya keluar ke permukaan bersama seluruh petinggi komunitas Cleopatra Holding."
Adrian melangkah maju, menyerahkan sebuah alat kecil berupa flashdisk hitam.
"Malam lusa, Tuan Alexander akan mengadakan acara jamuan pesta tahunan keluarga besar dan kolega bisnis elit di kediaman utamanya," kata Adrian. "Itu adalah momen di mana seluruh kroni pemuja Dewa Dedun akan berkumpul. Kita akan perjelas semua bukti ini di depan umum dan menghancurkan kekuasaannya malam itu juga."
Keanu berdiri tegak, menggenggam erat benda tersebut lalu menarik Bunga ke dalam pelukannya. Tatapan matanya kini memancarkan keberanian yang mutlak.
"Baik," ucap Keanu mantap. "Kalau begitu, mari kita akhiri sandiwara monster itu."
*
*
Di sebuah ruangan bawah tanah yang gelap, dingin, dan berbau lembap tanah, Clarissa terbaring kaku di atas lantai semen. Kedua tangan dan kakinya terikat erat oleh tali tambang yang kasar, sementara mulutnya disumpal erat dengan lakban hitam. Airmata ketakutan meluncur deras melintasi pipinya yang pucat.
"Papah... tolong aku... aku tidak mau menjadi tumbal! Rupanya benar apa katamu, keluarga Alexander adalah keluarga iblis!" jerit Clarissa di dalam hati dengan kepanikan yang membuncah.
Terlihat jelas penyesalan mendalam di matanya. Pria yang selama ini disembahnya sebagai calon mertua ternyata tak lebih dari sosok iblis yang tega menjadikan dirinya korban persembahan berikutnya.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Clarissa berusaha menggeser tubuhnya dan melonggarkan ikatan tali tambang pada pergelangan tangannya. Namun, dalam kegelapan yang pekat, gerakan kakinya tak sengaja menyenggol sesosok tubuh yang berada tak jauh di sampingnya.
Deg!
Clarissa tersentak hebat. Ketika matanya perlahan menyesuaikan diri dengan temaram cahaya lilin di sudut ruangan, ia mendapati sesosok pria berbadan sangat kurus kering dengan wajah menyeramkan yang ditumbuhi kumis serta jenggot tebal tak terawat. Clarissa ketakutan setengah mati hingga tubuhnya gemetar hebat.
Pria tua itu menatap Clarissa dengan pandangan yang dalam dan menakutkan dari balik bayang-bayang. Ia bergerak merayap mendekat. Clarissa yang panik berusaha menggeser tubuhnya mundur untuk menghindar, tetapi keterbatasan gerakannya membuat pria itu berhasil menggapainya.
Dengan jemarinya yang gemetar dan kurus, pria tua itu secara perlahan melepaskan lakban yang menutupi mulut Clarissa.
"Aaarrrkkkhhhh.... tolong aku...!" teriak Clarissa histeris begitu mulutnya bebas dari sumpalan.
"Sssstttt... diamlah, aku tidak akan menyakitimu!" ucap pria paruh baya berjanggut tersebut dengan suara serak dan pelan.
Mendengar suara lembut itu, histeria Clarissa perlahan mereda. Pria itu memang bertubuh sangat kurus, namun entah kenapa garis wajahnya terasa begitu familiar di ingatan Clarissa. Ia terus memperhatikan wajah pria tersebut dari ujung rambut sampai ke kaki.
Saat pandangannya jatuh ke area bawah, matanya Clarissa membelalak. Kedua kaki pria berjanggut itu ternyata dipasangi rantai besi tebal bertautan dengan bola besi berat yang menguncinya di pilar beton. Rasa takut di dada Clarissa seketika luntur, berganti menjadi rasa kasihan yang mendalam.
"Pak... kenapa kedua kaki Anda sampai dirantai seperti itu?" tanya Clarissa dengan suara bergetar dan prihatin.
Si pria berjanggut mengulas senyum tipis yang penuh kepahitan ke arahnya.
"Nanti akan saya ceritakan, tapi tidak sekarang. Saya takut nanti aku dan kamu celaka... Semakin banyak kau tahu tentangku, maka nyawamu berada di ujung tanduk!" bisik pria itu penuh penegasan.
Mendengar peringatan itu, Clarissa justru menyunggingkan senyum tipis yang dipenuhi keputusasaan.
"Cepat atau lambat, aku pun pasti akan mati di sini, Pak Tua..." tutur Clarissa seraya menahan kebas di lengannya. "Aku tidak habis pikir, pengorbanan Papahku hanya sia-sia belaka membela pria iblis itu."
Pria berjanggut itu menatap Clarissa dengan matanya yang redup, menangkap kebenaran pahit bahwa mereka berdua hanyalah tawanan yang menunggu giliran dieksekusi oleh sang 'monster'.
Bersambung....
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander