Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Menuju Katedral Agung
Katedral Agung berdiri di ibu kota keuskupan tertinggi Benua Manusia, sebuah kota bernama Solenne yang jauh lebih megah dari Aurelian sekalipun—menara-menara emasnya bisa terlihat dari puluhan kilometer jauhnya, berkilau di bawah sinar matahari seperti mercusuar yang menandakan pusat kekuasaan spiritual seluruh benua.
Perjalanan dari Aurelian memakan waktu hampir dua minggu, melewati jalan-jalan besar yang ramai dengan peziarah dari seluruh penjuru benua, semuanya menuju arah yang sama—tempat suci yang konon menjadi titik pertama di mana Dewa Agung pernah menampakkan diri di Astral, ribuan tahun lalu.
"Ramai sekali," Saviera berkomentar, mengamati rombongan peziarah yang berjalan beriringan di sepanjang jalan, beberapa membawa spanduk kecil bertuliskan doa-doa, yang lain berjalan tanpa alas kaki sebagai bentuk pengabdian.
"Katedral ini pusat kepercayaan seluruh benua," Sasuke menjelaskan, mengingat penjelasan Pastor Elric. "Wajar kalau ramai."
Elaina, yang berjalan di antara mereka sambil menggenggam tangan masing-masing, menatap sekeliling dengan mata lebar penuh rasa ingin tahu. "Kenapa mereka semua mau ke tempat yang sama, Papa?"
"Mereka percaya tempat ini suci," Sasuke menjawab. "Bagi banyak orang, mengunjunginya adalah impian seumur hidup."
"Kalau Papa percaya nggak?" Elaina bertanya polos, membuat Sasuke terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya dengan hati-hati.
"Aku percaya ada kekuatan besar di balik semua ini," Sasuke akhirnya menjawab jujur. "Tapi aku belajar untuk tidak langsung percaya begitu saja pada segala sesuatu yang terlihat suci di permukaan."
---
Semakin dekat mereka ke Solenne, semakin terasa perbedaan suasana dari kota-kota kecil yang biasa mereka singgahi. Penjagaan di setiap gerbang kota jauh lebih ketat, prajurit-prajurit Gereja berzirah putih berdiri tegak di setiap sudut, mengawasi setiap orang yang lewat dengan mata terlatih.
Di gerbang utama Solenne, seorang prajurit menghentikan mereka, matanya menyapu ketiganya dengan curiga sebelum tertuju pada Kartu Guild Sasuke.
"Peringkat Besi?" prajurit itu bertanya, alisnya terangkat heran. "Urusan apa yang membawamu ke Solenne, Petualang?"
"Aku punya undangan langsung dari Uskup Agung," Sasuke menjawab tenang, mengeluarkan surat yang dikirim Uskup Valemont sebagai bukti.
Prajurit itu membaca surat itu dengan saksama, wajahnya berubah dari curiga menjadi waspada dengan cara yang berbeda—lebih formal, lebih hati-hati. "Tunggu di sini," ia berkata, memanggil salah satu rekannya untuk memverifikasi lebih lanjut.
Beberapa menit kemudian, seorang pendeta senior datang tergesa-gesa dari dalam gerbang, membungkuk sopan begitu melihat surat itu. "Tuan Uchiha. Kami sudah menunggu kedatangan Anda. Mohon maaf atas ketidaknyamanan tadi—prosedur keamanan standar."
Mereka diizinkan masuk dengan pengawalan khusus, melewati jalan-jalan Solenne yang dipenuhi bangunan-bangunan batu putih yang berkilau, menuju kompleks Katedral Agung yang menjulang di pusat kota seperti gunung buatan manusia.
---
Malam sebelum pertemuan resmi mereka dijadwalkan, mereka menginap di sebuah wisma tamu khusus yang disediakan Gereja untuk pengunjung penting, jauh lebih mewah dari penginapan-penginapan sederhana yang biasa mereka tempati sepanjang perjalanan.
Elaina melompat-lompat riang di atas ranjang empuk kamar mereka, terpesona dengan kemewahan yang jarang mereka rasakan. "Kasurnya empuk banget, Papa! Kayak awan!"
Sasuke tersenyum kecil melihat kegembiraan sederhana itu, meski pikirannya sendiri dipenuhi kewaspadaan menjelang pertemuan besar esok hari.
"Kau gugup," Saviera berkata, duduk di sampingnya sambil mengawasi Elaina yang masih asyik melompat-lompat.
"Sedikit," Sasuke mengakui. "Bukan soal kekuatan yang mungkin kuhadapi. Tapi soal apa yang akan kupelajari besok—apakah itu akan mengubah segalanya yang kupikir kupahami tentang misiku, tentang dunia ini."
Saviera menggenggam tangannya, memberikan kekuatan tanpa kata-kata. "Apa pun yang terjadi besok, kita hadapi bersama. Dan setelahnya, kita akan tetap memiliki ini—" ia menoleh ke arah Elaina yang akhirnya kelelahan dan merebahkan diri di tengah ranjang, tertawa kecil menatap langit-langit kamar yang dihias ukiran indah, "—apa pun jawaban yang kita temukan."
Sasuke mengangguk, menghirup dalam-dalam ketenangan yang diberikan kehadiran mereka berdua, menyimpan kekuatan itu untuk menghadapi apa pun yang menanti keesokan harinya.
Di luar jendela wisma tamu, menara-menara emas Katedral Agung berkilau diterangi cahaya bulan, megah namun entah kenapa terasa menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang pernah ditunjukkan permukaannya yang berkilauan.
---
*Bersambung ke Bab 33: Uskup Agung*
jangan lupa mampir ya ke novel saya judulnya : di bawah nama yang di pilih Takdir 💪💪