Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: DINDING KAMAR YANG MENIPIS DAN PERTANYAAN DI TENGAH MALAM

Hujan deras yang mengguyur sejak sore tadi baru benar-benar reda saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam. Sisa-sisa air hujan masih menetes teratur dari tepian genteng, menciptakan irama monoton yang memecah keheningan kompleks perumahan yang sunyi. Udara dingin merayap masuk lewat celah-celah jendela, membawa hawa basah yang menusuk hingga ke tulang.

Di dalam kamar berukuran empat kali empat meter di lantai atas, Aluna duduk bersila di atas karpet bulu berwarna krem. Di hadapannya, lembaran-lembaran kertas tugas Sejarah dan Ekonomi bertebaran di atas meja lipat kayu. Lampu meja berwarna kuning hangat memancarkan cahaya lembut, menyorot wajah Aluna yang tampak kelelahan.

Aluna mengusap matanya yang mulai berat. Rambut panjangnya diikat asal-asalan menjadi bundelan kecil di belakang kepala, menyisakan beberapa helai anak rambut yang menjuntai di sekitar leher dan pelipisnya. Jarum jam terus berputar, tetapi satu halaman rumus perpajakan di depannya masih belum selesai.

Ia mendesah pelan, menyandarkan punggungnya pada tepi tempat tidur. Rumah ini terasa begitu sepi tanpa kehadiran Ayah Danu dan Ibunya. Keduanya sedang menghadiri seminar manajemen di luar kota selama tiga hari. Meskipun rumah ini tergolong mewah dan aman, keheningan di malam hari selalu berhasil memicu rasa canggung yang tersimpan rapi di dalam dada Aluna.

Terutama karena di balik dinding kamar di sebelah kanannya—hanya berjarak satu tembok semen yang tak begitu tebal—ada Devan.

Aluna menolehkan kepalanya menatap tembok putih polos itu. Tak ada suara apapun dari balik sana. Apakah Devan sudah tidur? Atau cowok itu masih sibuk berkutat dengan soal-soal latihan masuk perguruan tinggi negeri yang selalu menumpuk di meja belajarnya?

Kruuuk...

Cacing di perut Aluna mendadak memprotes. Aluna meringis kecil sambil memegangi perutnya. Bekal sandwich yang diberikan Devan di sekolah tadi sore memang sempat mengganjal lapar, tetapi konsentrasi belajar selama tiga jam berturut-turut telah menguras seluruh energinya.

"Turun ke dapur sebentar kali ya, bikin mi instan atau teh hangat..." gumam Aluna pada dirinya sendiri.

Aluna beranjak berdiri, merapikan sedikit kaus oversized warna pastel dan celana kain panjangnya. Ia membuka pintu kamar pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara decitan yang keras. Lorong lantai dua tampak remang-remang, hanya diterangi oleh lampu dinding berdesain klasik di dekat tangga.

Namun, saat langkah kaki telanjangnya menyusuri lorong, ia melihat celah sinar lampu yang terang memancar dari bawah pintu kamar Devan. Pintunya tidak tertutup rapat, menyisakan celah beberapa sentimeter.

Aluna menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar itu. Ia tidak berniat mengintip, tetapi dorongan penasaran dan rasa hangat yang tak masuk akal mendadak menahan kakinya di lantai. Dari celah pintu, Aluna bisa melihat Devan sedang duduk di depan meja belajar besarnya.

Devan mengenakan kemeja kaus abu-abu tanpa lengan yang memperlihatkan garis otot bahunya yang tegas. Kacamata berbingkai hitam tipis—yang hanya dipakai Devan saat belajar serius—menengger dengan anggun di pangkal hidungnya. Tangannya memegang pena hitam, mencoret-coret lembar kalkulasi dengan konsentrasi penuh. Wajah Devan dari samping terlihat begitu tampan, tegas, dan... terjangkau sekaligus jauh.

Aluna menahan napasnya. Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan lagi. Perasaan ini, perasaan terlarang yang terus membisikkan rasa kagum berlebihan pada pria yang kini menyandang status sebagai 'kakak tiri'-nya, selalu berhasil membuatnya merasa bersalah sekaligus bahagia di saat yang bersamaan.

Tiba-tiba, Devan menghentikan coretan penanya. Tanpa menoleh ke arah pintu, ia bersuara dengan nada rendah yang mantap.

"Kalau mau masuk, masuk aja, Na. Jangan berdiri di luar, nanti masuk angin."

Aluna tersentak kaget! Pipinya langsung menyala merah padam. Bagaimana bisa Devan tahu ia sedang berdiri di luar pintu? Padahal langkah kakinya sama sekali tidak bersuara!

Dengan jemari yang gemetar, Aluna mendorong pintu kayu itu perlahan. Pintu terbuka memperlihatkan kamar Devan yang rapi dan harum. Kombinasi aroma kayu cendana, buku baru, dan wangi sabun pria langsung menyergap indera penciuman Aluna.

"K-Kak Devan... kok tahu aku di depan?" tanya Aluna gugup, bertengger canggung di ambang pintu.

Devan melepas kacamatanya, meletakkannya di atas meja belajar, lalu berbalik memutar kursi rodanya menghadap Aluna. Ada binar kehangatan dan sedikit rasa geli yang tersembunyi di balik matanya yang teduh.

"Bayangan kaki kamu kelihatan dari bawah celah pintu," jawab Devan tenang. Tangannya menyandar di pegangan kursi, menatap Aluna dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kenapa belum tidur? Udah mau jam sepuluh malam."

"Aku... mau ke dapur. Laper," jujur Aluna sambil menunduk kecil, tidak berani menatap langsung mata cokelat gelap milik Devan. "Lagian tugas Ekonomi belum selesai."

Devan terkekeh pelan. Suara kekehannya yang renyah dan jarang terdengar itu bagaikan alunan musik manis yang menyapu hawa dingin di dalam ruangan. Devan berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Aluna. Posturnya yang tinggi menjulang membuat Aluna secara alami mendongak saat jarak mereka bertambah dekat.

"Ya udah, yuk turun. Aku juga laper," ajak Devan.

"Kakak belum makan malam juga?" tanya Aluna terkejut.

Devan menggeleng pelan. "Tadi sore pas pulang hujan-hujanan, aku cuma sempat mandi terus langsung ngerjain Try Out online. Yuk."

Suasana dapur di lantai bawah terasa sangat hangat ketika lampu gantung di atas meja bar dinyalakan. Devan bergerak dengan cekatan. Tanpa bertanya pada Aluna, ia mengambil dua bungkus mi instan rasa kaldu ayam dari dalam lemari penyimpanan dan menyalakan kompor gas.

Aluna duduk di atas kursi bar yang tinggi, memperhatikan gerakan punggung Devan yang begitu lihai mengocok telur dan memotong beberapa lembar sawi hijau. Ada pemandangan yang begitu domestik dan intim dari cara Devan memasak di dapur malam-malam begini.

"Kak Devan biasa masak sendiri?" tanya Aluna memecah keheningan yang dibungkus suara air mendidih.

"Dulu sebelum Ayah nikah sama Ibu kamu, kita sering tinggal berdua aja karena Ayah sibuk dinas," Devan menjelaskan tanpa menoleh, tangannya sibuk memasukkan mi ke dalam panci. "Jadi kalau nggak beli makanan di luar, ya aku yang masak."

Aluna mengangguk-angguk paham. "Pasti sepi ya, Kak?"

Devan menghentikan gerakannya sejenak. Ia mematikan kompor, lalu menuangkan mi instan yang sudah matang ke dalam dua mangkuk keramik berwarna putih. Ia membawa kedua mangkuk itu ke meja bar, meletakkannya tepat di hadapan Aluna, lengkap dengan sendok dan garpu.

Devan duduk di kursi bar tepat di samping Aluna. Jarak mereka kini hanya terpaut satu sikut.

"Dulu emang sepi," Devan menatap mangkuknya sebentar sebelum mengalihkan pandangannya tepat ke manik mata Aluna. "Tapi sekarang enggak lagi. Sejak ada Ibu... dan ada kamu."

Aluna membeku di tempatnya. Cara Devan menyebut kata 'kamu' terdengar begitu lembut, bergetar dengan ketulusan yang menusuk langsung ke dalam dadanya. Aluna memegang garpunya erat-erat, mencoba mengalihkan gejolak perasaan di dadanya dengan memakan mi instan di depannya.

Uap panas mi menguar di antara mereka. Mereka makan dalam keheningan yang manis selama beberapa menit. Hanya ada suara denting garpu yang menyentuh mangkuk keramik dan tiupan angin malam dari luar jendela dapur.

"Na," panggil Devan tiba-tiba.

Aluna menoleh dengan mulut yang masih menyisa helai mi. "Ya, Kak?"

Devan terseyum tipis, tangan kanannya terulur secara alami. Ibu jarinya yang hangat dan sedikit kasar menyapu sudut bibir Aluna, mengusap setetes kuah mi yang tertinggal di sana. Sentuhan fisik yang begitu mendadak itu membuat seluruh tubuh Aluna menegang seketika. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia takut Devan bisa mendengarnya di dalam keheningan dapur ini.

Devan tidak langsung menarik tangannya. Ibu jarinya bertahan sejenak di dekat pipi Aluna yang kini bersemu merah heboh.

"Makan yang pelan-pelan. Nggak ada yang mau rebut mi kamu," bisik Devan dengan suara yang berubah sangat dalam dan hangat.

"K-Kak Devan..." desis Aluna pelan, suaranya hampir hilang terbawa angin. "Jangan gini..."

"Jangan gimana?" tanya Devan, matanya menatap lekat-lekat bibir Aluna sebelum kembali terkunci pada mata perempuan itu.

"Jangan... bikin aku makin bingung," aku Aluna jujur. Perasaan yang dipendamnya selama tiga minggu terakhir terasa menumpuk hingga ke batas ketahanan batinnya. "Kita ini saudara tiri, Kak. Orang tua kita baru aja nikah. Kalau orang-orang tahu, kalau Ayah dan Ibu tahu—"

"Aku tahu, Aluna," potong Devan cepat. Ia menarik tangannya pelan, lalu menyandarkan kedua tangannya di tepi meja bar, menatap lurus ke depan dengan raut wajah yang berubah serius dan emosional.

"Aku tahu batasnya," lanjut Devan. "Tiap kali aku ngelihat kamu di rumah ini, tiap kali aku nganterin kamu sekolah, aku selalu ngingetin diri sendiri kalau aku ini kakak kamu sekarang. Tapi jujur... rasa ini datang sebelum aku sempat menahannya."

Aluna menahan napasnya. "Maksud Kak Devan?"

Devan menoleh kembali pada Aluna, menatapnya dengan tatapan pasrah yang penuh kepedihan manis.

"Aku udah perhatiin kamu dari jauh bahkan sebelum Ayah ngenalin Ibu ke aku, Na. Pas kamu ikut lomba melukis antar SMA dua bulan lalu di gedung kesenian. Kamu berdiri di depan kanvas sambil senyum pas megang kuas... di situ aku udah jatuh cinta sama kamu."

DEG!

Dunia Aluna seolah berhenti berputar seketika. Mangkuk mi di hadapannya tak lagi menarik. Pengakuan Devan bagaikan petir di siang bolong yang meruntuhkan seluruh logika dan dinding pertahanan yang dibangunnya selama ini.

Devan sudah menyukainya... bahkan sebelum mereka tahu bahwa orang tua mereka saling mencintai dan memutuskan untuk menikah.

"Jadi pas Ayah bilang mau nikah lagi dan calon adiknya itu kamu..." Devan tersenyum pahit, menunduk menatap jemarinya sendiri. "Aku nggak tahu harus bahagia atau sedih. Di satu sisi aku senang bisa berada di dekat kamu tiap hari, bisa ngejaga kamu. Tapi di sisi lain... takdir langsung ngasih tembok setinggi langit di antara kita."

Air mata Aluna menetes tanpa bisa dibendung lagi. Setetes air mata bening jatuh membasahi pipinya, menetes ke atas meja kayu. Pengakuan Devan terlalu jujur, terlalu emosional, dan terlalu dalam untuk ditanggung oleh hatinya yang rapuh.

Melihat Aluna menangis, Devan panik seketika. Ia bergeser mendekat, tangannya terulur mengusap air mata di pipi Aluna dengan penuh kelembutan dan penyesalan.

"Maaf... maafin aku, Na. Aku nggak maksud bikin kamu menangis," bisik Devan panik, nadanya terdengar begitu bersalah. "Aku harusnya simpan perasaan ini sendiri. Harusnya aku nggak ngomong apa-apa."

Aluna menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tangannya yang mungil memberanikan diri terulur, menggenggam pergelangan tangan Devan yang masih berada di pipinya.

"Bukan... bukan gitu, Kak," bisik Aluna terbata-bata di antara isak tangisnya yang tertahan. "Bukan cuma Kak Devan yang ngerasa gitu..."

Devan terpaku. Matanya melebar tak percaya. "Na? Kamu..."

"Aku juga suka sama Kak Devan," aku Aluna akhirnya, menumpahkan seluruh rahasia terbesar yang menyiksa dadanya setiap malam. "Tiap kali Kak Devan senyum, tiap kali Kak Devan melindungin aku di sekolah, tiap kali Kak Devan ada di samping aku... aku selalu pengen Kak Devan jadi milik aku. Tapi aku takut... aku takut bikin Ibu sama Ayah kecewa. Judul hubungan kita ini salah, Kak..."

Devan menatap Aluna dengan binar mata yang campur aduk—antara kebahagiaan luar biasa karena perasaannya terbalas, dan rasa perih yang teramat sangat karena kenyataan pahit yang mengurung mereka.

Perlahan, Devan menarik tubuh mungil Aluna ke dalam pelukannya. Ia memeluk adik tirinya itu erat-erat di tengah keheningan dapur malam itu. Aluna menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devan, meremas kain kaus abu-abu pria itu sambil menangis pelan. Devan mengusap lembut kepala Aluna, mengecup puncak kepala perempuan itu dengan kehangatan dan rasa protektif yang begitu membuncah.

"Kalau memang mencintai kamu itu sebuah kesalahan..." bisik Devan lembut tepat di telinga Aluna, suaranya bergetar penuh tekad. "...maka salahkan aku, Na. Biar aku yang menanggung seluruh dosanya. Kamu cuma perlu tetap di samping aku."

Di bawah pendar lampu dapur yang temaram, di antara dua mangkuk mi yang mulai dingin, dua hati anak remaja itu akhirnya saling bersentuhan. Hubungan mereka mungkin terlarang oleh garis keluarga baru yang mengikat mereka, tetapi perasaan di dalam dada mereka terlalu murni dan terlalu kuat untuk dipadamkan begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!