Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Sinyal Darurat di Sektor Utara dan Ujian Ketabahan Ibu Komandan

BAB 31: Sinyal Darurat di Sektor Utara dan Ujian Ketabahan Ibu Komandan

Matahari baru saja terbit menembus celah gorden ruang tengah kediaman dinas Komandan Batalyon. Aroma kopi hitam hangat menyatu dengan harum minyak kayu putih yang diusapkan Mayang ke leher suaminya.

Setelah dinamika ujian sengketa lahan dan persiapan inspeksi Mabes yang berhasil diselesaikan kemarin, pagi ini suasana Mako Batalyon seharusnya kembali tenang.

Namun, ritme kehidupan militer selalu menyimpan kejutan yang tak pernah memberi kompromi.

Pukul 06.30 WITA, dering telepon darurat dari Ruang Olah Data Pasi Ops memecah ketenangan pagi.

Aris yang sedang merapikan lidah baret hijaunya di depan cermin refleks bergerak cepat menyambar gagang telepon.

"Danyon di sini. Ada berita apa?" suara Aris memotong udara dengan ketegasan mutlak.

Di ujung saluran, suara Kapten Galih terdengar bergetar namun panik.

"Lapor, Danyon! Baru saja diterima sinyal Distress Beacon dan radio darurat dari Tim Patroli Sektor Utara di area hutan perbatasan. Helikopter pemantau wilayah udara melaporkan adanya insiden tanah longsor hebat akibat curamnya curah hujan semalam yang menimbun pos perbatasan! Dua prajurit dilaporkan terluka berat, dan satu pos pemantau terisolasi total akibat akses jalan melingkar tertutup material batu!"

Garis rahang Aris seketika mengeras. Manik matanya berkilat memancarkan aura komando yang dingin sekaligus penuh kalkulasi taktis.

"Siapkan Tim Satuan Tugas Reaksi Cepat (SRC) Batalyon sekarang juga! Instruksikan Regu Kesehatan, Tim SAR, dan kendaraan taktis penembus medan berat berkumpul di lapangan apel lima belas menit dari sekarang!"

"Siap, Danyon!"

Panggilan terputus. Aris berbalik memandang Mayang yang berdiri mematung di dekat meja makan. Tangan wanita muda itu gemetar pelan saat memegang cangkir kopi yang hendak disajikan. Pengalaman perpisahan penugasan mendadak satu tahun lalu kembali berkelebat di benak Mayang, membawa rasa cemas yang menghimpit dada.

Aris melangkah lebar mendekati istrinya. Dengan gerakan mantap namun dipenuhi kelembutan, perwira menengah itu menangkup kedua pipi Mayang.

"Mayang, dengarkan saya," bisik Aris, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya dari balik lensa kacamata Mayang.

"Tugas kemanusiaan dan evakuasi memanggil di Sektor Utara. Anggota saya tertimpa musibah di perbatasan, dan selaku Komandan, saya harus memimpin langsung operasi penyelamatan ini."

Mayang menelan ludahnya yang terasa pahit. Rasa takut akan bahaya medan berat perbatasan berkecamuk di hatinya. Namun, menatap keteguhan di wajah suaminya, jiwa seorang Ibu Komandan yang tegar perlahan menguasai kesadarannya.

Mayang menarik napas panjang, mengaitkan jemarinya pada seragam lapangan (PDL) yang dikenakan Aris.

"Mas Aris harus berangkat sekarang... Janji sama Mayang, bawa seluruh prajurit kembali dengan selamat, dan Mas Aris sendiri juga harus pulang tanpa luka sedikit pun."

Aris mendaratkan kecupan hangat dan dalam di kening Mayang. "Janji, Istriku. Pegang kendali internal Persit di Mako selama saya bergerak di lapangan."

Lima belas menit kemudian, raungan sirine kendaraan taktis dan deru mesin truk angkut pasukan membelah keheningan lapangan apel Mako Batalyon. Aris berdiri di atas jip komando, memimpin konvoi Satuan Tugas Reaksi Cepat membelah pekatnya jalur menuju perbatasan Sektor Utara.

Sementara itu, di Mako Batalyon, atmosfer mendadak mencekam. Berita insiden longsor dan terisolasinya pos perbatasan menyebar cepat di lingkungan asrama. Beberapa istri prajurit yang suaminya tergabung dalam patroli Sektor Utara mulai panik dan mendatangi aula Persit dengan wajah pucat serta mata berkaca-kaca.

Di sinilah peran nyata Mayang diuji. Membelakangi rasa khawatirnya sendiri terhadap Aris, Mayang melangkah masuk ke aula Persit dengan langkah tegap dan anggun. Ia mengenakan seragam hijau Persit lengkap, memancarkan ketenangan yang sangat dibutuhkan oleh para anggotanya.

"Selamat pagi, Ibu-Ibu sekalian," sapa Mayang dengan suara jernih dan stabil, menenangkan kegaduhan di dalam ruangan.

"Saya paham kecemasan yang dirasakan Ibu-Ibu semua saat ini. Suami kita sedang bertaruh nyawa menjalankan tugas mulia di perbatasan. Namun, panik tidak akan mengubah keadaan."

Mayang berdiri di depan podium kecil, menatap satu per satu wajah para istri prajurit.

"Saat ini Pak Danyon memimpin langsung Tim Reaksi Cepat di lapangan bersama tim medis terbaik. Tugas kita di sini adalah menjadi benteng doa yang kokoh, menyiapkan posko logistik bantuan, dan menjaga stabilitas mental keluarga di Mako. Mari kita buka posko informasi resmi dan doa bersama sekarang."

Ketenangan dan kepemimpinan taktis yang ditunjukkan Mayang seketika menyalurkan kekuatan luar biasa. Ibu-ibu Persit yang tadinya panik mulai teratur, membagi tugas untuk menyiapkan konsumsi posko serta mengumpulkan perlengkapan medis darurat.

Di Sektor Utara, medan operasi berjarak lima puluh kilometer dari Mako menyajikan pemandangan yang amat mencekam. Hujan deras masih mengguyur deras, mengubah lereng tebing menjadi lumpur pekat berarus deras. Jalur utama terputus total oleh bongkahan batu tebal dan pohon-pohon tumbang yang menutup jurang.

Aris turun langsung dari jip komando, mengenakan mantel hujan militer dan helm tempur. Di tengah guyuran air dan ancaman longsor susulan, Aris memimpin personelnya membuka jalur menggunakan gergaji mesin dan tali evakuasi.

"Pasi Ops! Pasang tali pengaman di sisi tebing kanan!" teriak Aris membelah deru hujan dan suara gemuruh tanah. "Tim Medis, siapkan tandu taktis! Kita harus tembus ke pos pemantau dalam waktu tiga puluh menit sebelum suhu dingin memicu hipotermia pada korban!"

"Siap, Danyon!" seru para prajurit dengan semangat membara melihat komandan mereka bertaruh nyawa di garis depan.

Dengan koordinasi presisi tinggi dan keberanian tanpa batas, Aris menyeberangi jalur lumpur curam setinggi pinggang, menuntun tim evakuasi merangkak mendekati pos pemantau yang tertimbun sebagian material tanah.

Jeritan minta tolong samar-samar terdengar dari balik reruntuhan dinding kayu pos.

"Tahan! Ratakan material secara manual! Gunakan sekop taktis!" perintah Aris tegas. Jemari kekar sang Mayor ikut merobek puing-puing kayu dan bongkahan tanah basah tanpa memedulikan jemarinya yang mulai terluka.

Satu per satu prajurit yang terjebak berhasil dievaluasi. Dua prajurit yang mengalami patah tulang dan pendarahan langsung mendapat penanganan cepat dari tim medis di bawah komando Aris.

Namun, ancaman belum berakhir. Gemuruh hebat kembali terdengar dari atas bukit—longsor susulan skala besar mengincar posisi mereka!

"Evakuasi korban ke jip sekarang! Bergerak! Bergerak!" seru Aris lantang, mengawal prajurit paling belakang saat tebing di atas mereka mulai runtuh meratakan sisa struktur bangunan pos.

Menjelang pukul 17.00 WITA, langit Mako Batalyon tampak redup tertutup awan mendung. Di aula Persit, Mayang tak henti-hentinya memutar tasbih di tangannya seraya memantau radio komunikasi markas.

Tiba-tiba, suara deru mesin kendaraan taktis dan raungan sirine ambulans terdengar memasuki gerbang utama. Seluruh pengurus Persit dan prajurit piket berlari menuju halaman depan.

Mobil jip komando yang dipenuhi lumpur berhenti tepat di depan posko kesehatan. Pintu jip terbuka, menampakkan Mayor Aris yang keluar dengan seragam PDL berlumur tanah basah.

Wajahnya tampak lelah dan coretan lumpur mengotori pipinya, namun sorot matanya tetap tajam dan tegap.

"Lapor Ibu Komandan! Seluruh personel Satgas Sektor Utara berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat!" ujar Aris dengan suara bariton yang menggema di halaman markas.

Tangis haru pecah di halaman Mako Batalyon. Para istri prajurit berlari memeluk suami mereka yang baru kembali dari medan maut.

Mayang berdiri mematung beberapa langkah di depan Aris. Air mata kebahagiaan tak lagi mampu ditahannya, menetes perlahan di balik lensa kacamatanya.

Aris melangkah mendekat, lalu tanpa peduli dengan pakaian tugasnya yang kotor oleh lumpur medan perang, pria itu merengkuh tubuh Mayang ke dalam dekapannya yang erat dan hangat di hadapan seluruh anggota Batalyon.

"Saya pulang, Mayang... sesuai janji saya," bisik Aris tepat di telinga istrinya.

Mayang membalas pelukan itu dengan seluruh kerinduan dan kepasrahan jiwanya.

Perjuangan mencekam hari itu berakhir dengan kemenangan manis sebuah bukti keteguhan cinta dan pengabdian abadi sang Danyon beserta Ibu Komandan di Markas Batalyon.

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!