Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Penyergapan di Lembah Kematian
Hujan badai mengamuk dengan brutal di wilayah pegunungan Provinsi Tiannan. Petir menyambar liar, menerangi jalanan beraspal sempit yang membelah tebing jurang yang curam.
Di tengah guyuran hujan lebat, tiga mobil SUV lapis baja milik Konsorsium Naga Ye teronggok dalam kondisi mengenaskan. Asap hitam mengepul dari kap mesin yang hancur. Mobil terdepan dan terbelakang telah terbelah dua, seolah dipotong oleh pisau raksasa yang turun dari langit.
Di sekitar mobil yang tersisa di tengah, sepuluh pria berlumuran darah berdiri membentuk formasi melingkar. Mereka adalah Master Tang Zhenhai dan sembilan Grandmaster Sejati dari Pasukan Bayangan Istana Naga. Napas mereka memburu, tubuh mereka dipenuhi luka sayatan dalam yang merembeskan darah, bercampur dengan air hujan.
Di dalam mobil SUV tengah yang masih utuh, Su Yuhan duduk dengan wajah pucat pasi. Tangannya mencengkeram erat kalung Giok Hetian di dadanya, yang kini memancarkan tirai cahaya keemasan berbentuk kubah, melindungi seluruh badan mobil.
"Bertahanlah pada formasi! Jangan biarkan satu pun dari mereka menyentuh Nyonya!" raung Master Tang. Seragamnya telah robek, memperlihatkan luka tebasan pedang yang memanjang dari dada hingga ke perut.
Di sekeliling mereka, di tengah kegelapan hutan pinus dan guyuran hujan, tujuh sosok berjubah hitam berkelebat dengan kecepatan yang nyaris tidak bisa ditangkap mata telanjang. Mereka bergerak layaknya hantu tanpa bobot, sesekali melesat masuk, menebaskan bilah pedang melengkung berwarna hitam legam, lalu kembali menghilang ke dalam kegelapan.
Mereka adalah Tujuh Bilah Hantu (Seven Ghost Blades), kelompok pembunuh elit dari Kuil Bayangan Hitam. Ketujuhnya berada di Puncak Alam Grandmaster, dilatih khusus dalam seni pembunuhan dan serangan kombinasi!
"Hahaha! Sepuluh Grandmaster? Pasukan pelindung yang lumayan untuk seorang wanita biasa," suara serak yang seolah datang dari segala arah menggema menembus rintik hujan. "Tapi kalian terlalu naif! Keluar dari Ibu Kota adalah kesalahan terbesar kalian!"
TRANG! SRETT!
Dua Bilah Hantu melesat bersamaan dari titik buta. Dua Grandmaster Istana Naga terlempar ke belakang sambil memuntahkan darah, bahu mereka terkoyak.
"Sialan! Formasi mereka terlalu rapi, dan racun di pedang mereka membuat Qi kita melambat!" kutuk Master Tang, menancapkan pedang lebarnya ke aspal agar tidak jatuh berlutut.
Meski Pasukan Istana Naga telah dilatih dengan Teknik Pernapasan Harimau Naga, mereka baru menembus tahap Grandmaster selama beberapa minggu. Menghadapi pembunuh veteran yang bekerja dalam tim, mereka kalah pengalaman.
Tiba-tiba, tawa menyeramkan terdengar dari atas bukit.
"Sudah cukup bermain-mainnya. Tangkap wanita itu, kita tidak punya banyak waktu sebelum Tetua Agung di Ibu Kota menyadari kepergiannya."
Sesosok pria tua berjubah abu-abu gelap turun dari atas pohon pinus layaknya daun kering yang jatuh. Begitu kakinya menyentuh aspal, genangan air hujan di sekitarnya seketika menguap menjadi kabut hitam.
Tekanan gravitasi yang luar biasa mengerikan langsung menekan seluruh jalanan pegunungan itu.
Alam Ilahi (Divine Realm)!
Master Tang dan kesembilan anak buahnya seketika jatuh berlutut. Tulang-tulang mereka berderit keras. Ini bukan tekanan Grandmaster; ini adalah kekuatan yang bisa meremukkan jiwa mereka!
Pria tua itu adalah Tetua Hantu, salah satu jenderal tingkat atas Kuil Bayangan Hitam.
"Kau..." Master Tang mendongak dengan mata memerah. "Jika kau berani menyentuh Nyonya Su, Tuan Ye akan... memusnahkan sekte kalian!"
"Ye Chen? Pemuda cacat yang sedang meregang nyawa karena memaksakan diri membunuh tiga Raja Iblis itu?" Tetua Hantu mencibir. "Raja Bayangan sedang menunggu naga kecil itu keluar dari sarangnya. Sekarang, enyah kau, Serangga."
Tetua Hantu mengibaskan lengan jubahnya. Sebuah gelombang energi hitam pekat menghantam Master Tang, melempar mantan jenderal itu sejauh belasan meter hingga menabrak tebing batu dan pingsan seketika.
Melihat pengawalnya tumbang, jantung Yuhan berdetak liar. Namun, Ratu Es itu tidak menjerit. Ia tetap duduk tegak di dalam mobil, menatap lurus ke arah Tetua Hantu yang kini berjalan mendekat.
Ye Chen... aku sudah mencoba menjadi perisaimu, tapi sepertinya kekuatanku di dunia bisnis tidak ada artinya di depan kekuatan monster seperti ini, batin Yuhan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Tetua Hantu berdiri tepat di depan mobil SUV. Ia melihat kubah cahaya emas yang melindungi Yuhan dan mendengus remeh.
"Formasi pelindung gaib? Sangat langka. Tapi di hadapan kekuatan Alam Ilahi, ini hanyalah cangkang telur!"
Tetua Hantu mengangkat tangan kanannya yang diselimuti kabut hitam pekat, lalu menghantamkannya dengan kekuatan penuh ke arah kubah emas!
BOOOOOM!
Ledakan energi membuat SUV itu tergeser mundur sejauh dua meter. Kubah cahaya emas bergetar hebat. Di dada Yuhan, kalung Giok Hetian itu retak!
KRAK.
Suara retakan itu persis seperti yang dirasakan Ye Chen di dalam Gua Nadi Naga.
"Oh? Masih bertahan? Cangkang yang lumayan keras. Mari kita lihat seberapa banyak hantaman yang bisa ia tahan!" Tetua Hantu tertawa kejam, bersiap meluncurkan pukulan kedua yang jauh lebih mematikan.
Namun, tepat sebelum tinju hitam itu menyentuh sisa-sisa kubah pelindung...
Langit malam Tiannan yang dipenuhi awan badai hitam tebal... mendadak terbelah!
Bukan oleh petir. Melainkan oleh sebuah tekanan raksasa yang turun dari atmosfer atas dengan kecepatan meteor!
WUSSSSSSSSS!
Suara ledakan sonik yang memekakkan telinga merobek gendang telinga ketujuh Bilah Hantu. Hujan yang turun di sekitar jalanan itu seketika tertahan di udara, kehilangan gravitasinya.
Tetua Hantu tersentak, secara refleks mendongak ke atas. Mata tuanya melebar dipenuhi horor absolut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Sebuah sinar keemasan yang begitu terang hingga mengubah malam menjadi siang meluncur turun dari langit. Di dalam sinar emas itu, sesosok bayangan manusia melesat dengan kecepatan melampaui suara.
"A-Apa i—"
BUMMMMMMMMM!!!!
Sosok emas itu menghantam bumi tepat di antara mobil SUV dan Tetua Hantu!
Bumi bergetar hebat layaknya gempa berskala 8 Richter. Jalanan aspal sepanjang seratus meter hancur berkeping-keping menjadi debu. Gelombang kejut dari pendaratan itu menyapu bersih hujan, pepohonan, dan bahkan melemparkan Ketujuh Bilah Hantu belasan meter ke udara sambil memuntahkan darah segar!
Asap dan debu aspal mengepul tebal menutupi lokasi pendaratan.
Di dalam mobil, Yuhan menahan napasnya, tubuhnya gemetar. Cahaya dari kalung gioknya perlahan meredup dan mati, namun ia tidak terluka sedikit pun. Seseorang baru saja mendarat dan menjadi tameng mutlak di depannya.
Saat debu mulai menipis, pemandangan yang terlihat membuat jiwa Tetua Hantu seolah ditarik keluar dari raganya.
Berdiri tepat di atas aspal yang hancur, adalah Ye Chen.
Namun, ini bukanlah Ye Chen yang biasa Yuhan lihat. Kemeja putihnya yang compang-camping memperlihatkan kulit yang memancarkan cahaya keemasan. Sepasang matanya kini berbentuk pupil vertikal yang menyala layaknya api emas murni. Aura yang memancar dari tubuhnya bukanlah manusiawi; itu adalah aura dewa purba yang turun ke bumi untuk menghakimi jiwa-jiwa fana.
Tangan kanan Ye Chen terulur ke depan, mencengkeram wajah Tetua Hantu dari Alam Ilahi itu seolah mencengkeram bola karet. Tubuh Tetua Hantu diangkat tinggi-tinggi dari tanah, kakinya menendang-nendang udara dengan panik.
"K-Kau... B-Bagaimana mungkin... Kau ada di Ibu Kota sepuluh detik yang lalu..." Tetua Hantu mencoba berbicara melalui sela-sela jari Ye Chen yang meremukkan tulang rahangnya. Jarak dari Ibu Kota ke Tiannan adalah ribuan kilometer! Bahkan jet tempur tercepat butuh waktu lebih dari sejam. Pemuda ini terbang melintasi langit layaknya dewa!
Ye Chen menoleh sedikit ke belakang, melihat Yuhan yang pucat namun selamat. Kilatan emas di matanya sedikit melembut saat melihat istrinya.
"Kau berjanji padaku tidak akan keluar dari Ibu Kota, Yuhan," bisik Ye Chen, suaranya terdengar normal namun menggema di seluruh lembah.
Yuhan menutup mulutnya, air mata kelegaannya tumpah. "M-Maaf... Aku... Aku ingin membantu..."
"Kita bicarakan itu nanti di rumah," Ye Chen kembali memutar kepalanya ke depan. Menatap Tetua Hantu yang masih meronta di tangannya.
Tatapan lembut itu seketika sirna, digantikan oleh kekejaman absolut.
"Kuil Bayangan Hitam," suara Ye Chen kini menyerupai geraman naga. "Aku berniat membiarkan kalian hidup sedikit lebih lama sampai aku selesai membereskan urusan keluargaku. Tapi kalian benar-benar bosan bernapas."
"T-Tunggu! Jika kau membunuhku, Raja Bayangan akan—"
"Aku tidak peduli siapa Rajamu. Jika Langit berani menyentuh istriku, aku akan membelah Langit itu. Apalagi hanya sekelompok tikus yang bersembunyi di gunung."
KREK.
Tidak ada ledakan energi. Tidak ada teknik rumit. Ye Chen hanya meremas tangan kanannya sedikit lebih kuat.
Kepala Tetua Hantu, seorang jenderal besar Alam Ilahi yang sangat ditakuti di dunia bawah tanah... hancur layaknya semangka busuk di tangan Ye Chen. Tubuh tanpa kepala itu jatuh ke tanah berdebu layaknya sampah.
Melihat pemimpin mereka dibunuh semudah memecahkan cangkang telur, ketujuh Bilah Hantu yang baru saja bangkit dari tanah langsung kehilangan akal sehat mereka.
Ketakutan tingkat genetik mengambil alih. Mereka berbalik dan berlari ke segala arah, mencoba masuk ke dalam kegelapan hutan hujan.
"Berani datang, namun mencoba lari?"
Ye Chen berdiri diam di tempatnya. Ia perlahan mengangkat tangan kirinya, lalu menunjuk ke arah langit malam yang masih menurunkan hujan badai.
"Mati."
Satu kata dari bibir Sang Naga yang telah mencapai Alam Ilahi adalah hukum alam semesta itu sendiri.
Seketika, puluhan ribu tetesan air hujan yang turun di atas kepala Ketujuh Bilah Hantu itu berhenti di udara. Atas perintah True Qi emas milik Ye Chen, tetesan air murni itu membeku menjadi ribuan jarum es yang lebih tajam dari pedang berlian.
WUSSS! SWOOSH!
Ribuan jarum es itu melesat jatuh layaknya hujan meteor miniatur, menembus tubuh ketujuh pembunuh Puncak Grandmaster itu tanpa ampun. Jeritan keputusasaan mereka hanya terdengar kurang dari dua detik sebelum tubuh mereka tercabik-cabik hingga tidak menyisakan daging utuh, menyatu dengan lumpur dan aspal pegunungan Tiannan.
Hening.
Hujan perlahan kembali normal, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Ye Chen menurunkan tangannya. Ia menarik napas panjang, dan pupil emas vertikalnya perlahan memudar, kembali menjadi mata hitam legam yang familier. Cahaya emas di kulitnya meredup dan menghilang. Ia menyembunyikan keilahiannya kembali ke dalam tubuh manusianya.
Ia melangkah mendekati mobil SUV, membuka pintu yang penyok, dan mengulurkan tangannya pada Yuhan.
Yuhan ragu-ragu sesaat, matanya masih terbelalak menatap pemandangan pembantaian gaib di sekitarnya. Pria di hadapannya ini... apakah dia manusia? Ataukah dewa?
Namun, saat melihat senyum hangat dan kelelahan yang tersirat di mata hitam Ye Chen, segala ketakutan Yuhan menguap. Ia menggenggam tangan suaminya dan melompat memeluknya erat-erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ye Chen.
"Ayo kita pulang, Yuhan," bisik Ye Chen, mengelus punggung istrinya sambil melihat Master Tang yang mulai sadar di kejauhan. "Pembersihan besar-besaran di daratan Utara baru saja dimulai."