Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buka kartu di depan Pagar
Matahari petang memancarkan sinar oranye keemasan yang menerobos celah-celah daun beringin tua, menimpa pagar besi tinggi PT Buana Raya. Hawa panas yang membakar kulit sejak siang tadi perlahan luruh, berganti dengan desir angin sepoi-sepoi yang membawa aroma karet ban dari jalan raya. Namun, di pelataran semen kantor depan gudang penyimpanan, atmosfer terasa jauh lebih membekukan daripada puncak musim dingin.
Pak Hendro berdiri kaku. Lutut pria berkulit gelap dan berperut buncit itu bergetar hebat di balik celana seragam kremnya. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, melintasi cambang tipisnya dan menetes ke lantai semen tanpa sempat ia usap. Ponsel pintarnya yang masih memancarkan layar hitam bekas panggilan darurat dari sang Direktur Utama serasa menjadi batu panas yang membakar telapak tangannya.
Di sampingnya, Bu Rini menyandarkan punggungnya ke tiang semen teras dengan wajah sepucat mayat. Papan jalan berdada besi yang sejak pagi diagung-agungkannya kini terkulai lemas di samping pahanya. Bibirnya yang berlipstik merah menyala terkatup rapat, tak ada lagi sisa-sisa kesombongan atau celaan tajam yang biasanya meluncur tanpa ampun dari mulutnya.
Devi sendiri berdiri mematung dua langkah di depan pintu kantor. Matanya yang sembap oleh sisa-sisa air mata menatap linglung ke arah pelataran. Gadis itu masih memegang erat amplop cokelat kecil berisi upah dua harinya yang terpotong.
Pikirannya benar-benar buntu. Ia mendengar dengan jelas teriakan murka dari sambungan telepon Pak Hendro tadi, namun otaknya yang lelah menolak untuk mencerna kata demi kata yang diucapkan sang Direktur Utama Pusat.
("Pratama Mega Konstruksi? Komandan Devan Pratama? Pemilik saham mayoritas?")
Di tengah keheningan yang mencekam itu, derit pelan standar samping sepeda motor bebek tua milik Devan berbunyi menggetarkan udara.
Kreeek ... Kletuk.
Devan melepaskan helm teropongnya tanpa terburu-buru. Rambut hitamnya yang agak berantakan disapu angin petang, memperjelas guratan rahang tegasnya dan bekas luka gores di pelipis kiri. Pria itu menyapu pandangan matanya ke sekeliling pelataran. Langkah kakinya yang terbalut sepatu bot kulit tua melangkah tenang di atas semen, menimbulkan suara "thud ... thud ..." yang mantap dan berwibawa.
Setiap satu langkah Devan mendekat, Pak Hendro dan Bu Rini refleks mundur satu tapak. Ketakutan yang terpancar dari wajah kedua pejabat lokal pabrik itu sungguh luar biasa; seolah-olah pria bersenjata lengkap yang paling ditakuti di negeri ini sedang melangkah menuju ke arah mereka.
Devan menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan Devi. Pria bertato naga itu sama sekali tidak melirik Pak Hendro atau Bu Rini. Pandangan matanya yang tajam mendadak melunak penuh perhatian saat menatap sosok gadis yang masih memeluk tas kain lusuhnya itu.
"Devi," panggil Devan dengan suara yang rendah, renyah, dan hangat, suara yang persis sama seperti saat ia menghibur Devi di bawah kegelapan kamar semalam. "Sudah selesai urusannya di dalam?"
Devi mengedipkan matanya berkali-kali, tenggorokannya yang kering dipaksa menelan ludah. "Mas D-Devan ... kamu ... kamu kenapa bisa ada di sini?"
Devan mengulas senyum tipis yang sangat menenangkan. "Saya kan suami kamu. Sudah kewajiban saya buat menjemput istri saya pulang kerja."
Kata suami kamu yang diucapkan Devan dengan begitu santai di hadapan semua orang membuat Bu Rini makin merinding. Wanita penyelia itu memejamkan mata rapat-rapat, meratapi nasibnya yang telah lancang menghina istri dari penguasa tertinggi tempatnya mencari nafkah.
Tiba-tiba, Pak Hendro melangkah maju dengan tubuh gemetar hebat. Pria buncit itu membuang seluruh harga dirinya ke dalam selokan. Ia membungkukkan badannya sembilan puluh derajat di hadapan Devan dan Devi, kedua tangannya mengatup rapat di depan dada.
"P-Pak Devan ... Pak Devan ... maaf saya, Pak!" seru Pak Hendro dengan suara yang hampir melengking panik, air mata kecemasan benar-benar merebak di sudut matanya yang sembab. "Saya tidak tahu! Demi Allah, saya sungguh tidak tahu kalau Mbak Devi ini adalah Nyonya Besar ... istri dari Bapak Pemilik Saham Utama!"
Devi tersentak kaget, melangkah mundur satu tapak karena bingung melihat atasannya yang arogan mendadak menyembah-nyembah di hadapannya. "P-Pak Hendro ... Bapak bicara apa sih?
"Mbak Devi ... tolong saya, Mbak!" tangis Pak Hendro pecah, ia kini menatap Devi dengan wajah memelas yang amat sangat. "Tolong katakan pada Pak Devan dan Pak Dirut Pusat kalau saya cuma salah paham! Tolong jangan pecat saya, Mbak! Saya punya istri dan tiga anak yang masih sekolah!"
Bu Rini yang tidak mau kalah panik ikut memajukan tubuhnya, membungkuk-bungkuk kaku hingga papan jalannya terjatuh ke tanah. "Mbak Devi ... saya juga minta maaf, Mbak! Mulut saya memang kurang ajar dari pagi tadi! Tolong ampunkan saya, Mbak Devi ... Saya janji Mbak Devi tidak akan dibikin susah lagi di pabrik ini! Mbak Devi mau jadi kepala bagian atau mau duduk-duduk saja digaji utuh juga boleh, Mbak!"
Devi makin linglung. Kepalanya mendadak pusing melihat perubahan drastis dua orang yang lima menit lalu begitu bengis mencaci maki dan membuangnya bagaikan sampah.
Devan merentangkan tangannya pelan, melangkah satu tapak hingga posisinya berada tepat di samping Devi, sebuah posisi melindungi yang secara tak sengaja menegaskan kekuasaannya. Pria bertato itu menatap Pak Hendro dan Bu Rini dari ketinggian tubuhnya, matanya kembali menyipit dingin.
"Gaji utuh tanpa kerja?" bisik Devan, suaranya pelan namun sanggup menghentikan ratapan kedua orang itu seketika. "Kalian pikir istri saya ini pengemis yang butuh belas kasihan dan uang buta dari kalian?"
"T-tidak, Pak! Bukan begitu maksud saya—" Bu Rini terbata-bata.
"Istri saya datang ke pabrik ini buat kerja halal," potong Devan dengan nada tegas yang memotong udara. "Dia datang dengan niat baik buat bantu berobat ayahnya. Tapi apa yang kalian berikan sejak pagi tadi? Cemoohan? Fitnah? Penghakiman sepihak berdasarkan desas-desus warung sayur?"
Pak Hendro tertunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata Devan sedikit pun.
"Pak Hendro," panggil Devan dingin.
"S-siap, Pak Devan ..." sahut Pak Hendro gemetar.
"Surat pemecatan yang kamu buat untuk Devi tadi ..." Devan menggantung kalimatnya, melirik amplop cokelat di tangan Devi, "... saya minta kamu robek di depan mata seluruh buruh gudang ini sekarang juga."
"Siap! Siap dilaksanakan sekarang juga, Pak!" pekik Pak Hendro tanpa ragu sedikit pun. Pria itu berbalik lari tergesa-gesa masuk ke dalam kantor untuk mengambil dokumen tersebut.
Devan kemudian beralih menatap Bu Rini yang masih gemetaran di tempatnya. "Dan kamu, Bu Rini ..."
"S-saya, Pak?" Bu Rini menelan ludah dengan susah payah.
"Besok pagi, sebelum jam kerja dimulai," ucap Devan dengan raut wajah tanpa ampun, "kamu harus berdiri di atas panggung presensi depan, lalu minta maaf secara terbuka di hadapan seluruh buruh wanita atas fitnah dan cemoohan yang kamu sebarkan dari pagi. Kalau sampai besok pagi saya tidak mendengar laporan bahwa kamu sudah minta maaf pada Devi secara terhormat ... surat pemecatanmu yang akan saya tandatangani sendiri sore harinya."
Bu Rini mengangguk-angguk cepat bagaikan ayam mematuk beras. "Siap, Pak! Siap! Saya akan minta maaf besok pagi! Saya janji, Pak!"
Devi menatap Devan dengan tatapan tak percaya yang membuncah. Seluruh teka-teki yang menyelimuti pria bertato di sampingnya ini mendadak meledak menjadi pertanyaan raksasa yang menuntut jawaban. ("Siapa laki-laki ini sebenarnya? Kenapa bos besar gudang ini begitu takut padanya? Kenapa dia dipanggil Komandan dan Pemilik Saham?")
Devan berpaling menatap Devi. Tatapan matanya yang tadi sedingin es seketika mencair kembali menjadi kehangatan yang lembut. Ia mengambil tas kain lusuh dari genggaman Devi dengan gerakan yang pelan dan protektif.
"Ayo pulang, Devi," ajak Devan halus. "Ibu sama Bapak sudah nunggu di rumah."
semoga aja Devi mencerna baik baik
ingat loh, anak gadis di arak telanjang
kek manaa coba
rasanya mau bunuh diri saja
devan sudah menyelamatkan anak gadismu
dari pada keliling desa
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja