Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: 'Iya, sayang?'
"Mas, lepaskan..." pinta Aura seraya berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari dekapan erat yang mengunci tubuhnya.
Suaranya terdengar cicit dan bergetar di antara rasa malu dan degup jantung yang berpacu liar.
Namun, Fadil justru mengulas senyum yang amat menawan. Sorot matanya dipenuhi pendar kehangatan dan kejahilan yang memabukkan. Bukannya melonggarkan cengkramannya, lengan kokoh pria itu makin merapatkan pinggang Aura ke dadanya.
"Kamu yang datang sendiri, mana bisa dilepas begitu saja," balas Fadil dengan suara berbariton rendah yang terdengar begitu renyah.
Sebelum Aura sempat membalas atau melayangkan protes baru, Fadil dengan cekatan membalikkan posisi tubuh mereka di atas kasur yang empuk.
Dalam satu gerakan mantap namun lembut, posisi mereka berganti total. Aura kini berada terlentang di bawah tubuh tegap Fadil, dan terkunci rapat oleh tumpuan kedua lengan suaminya di kiri dan kanan kepalanya.
Rambut panjang Aura terurai berantakan di atas bantal putih. Pipinya yang mulus kini merona merah sempurna, bagaikan kelopak bunga mawar yang baru mekar disiram embun pagi.
Fadil perlahan menundukkan kepalanya. Ia memiringkan wajahnya, dan merapatkan bibirnya tepat di celah ceruk leher sensitif milik Aura.
Hembusan napas panas suaminya menyapu permukaan kulit leher Aura, hingga membuat bulu kuduk wanita itu meremang seketika.
Lalu, Fadil berbisik dengan amat pelan, "Semalam juga berani, kenapa sekarang jadi malu-malu?"
"Mas...!" pekik Aura. Tangannya terangkat dan mendorong dada bidang Fadil, lalu berusaha menyembunyikan wajahnya yang makin panas membara. "Jangan bahas yang semalam!"
Namun, benteng pertahanan Aura sama sekali tak berdampak bagi Fadil. Pria yang sudah dilingkupi rasa cinta, kepemilikan, dan gairah murni itu tidak berniat mengakhiri momen manis ini begitu saja.
Tatapan Fadil yang sayu menatap lurus ke dalam iris mata Aura yang bening, seolah meminta haknya kembali sebagai seorang suami, lalu mengajak istrinya mengulang kembali kehangatan penyatuan seperti malam tadi.
"Aku mau lagi... Boleh?"
Aura menggigit bibir bawahnya dan merasa sangat malu. Ia hendak mengutarakan alasan tentang tugas dapur atau Mbok Nah yang mungkin sudah menunggu di bawah, namun Fadil tidak memberikan ruang sedikit pun untuk menolak.
Dengan lihai, Fadil mulai mendaratkan kecupan-kecupan lembut yang menggoda di garis rahang, sudut bibir, hingga menelusuri leher Aura.
Sentuhan jemari Fadil yang hangat menyusuri lekuk tubuhnya, hingga menyebarkan gelombang rangsangan yang begitu halus namun memabukkan.
Setiap usapan dan bisikan Fadil melumpuhkan seluruh logika serta daya tahan Aura. Rasa malu yang semula membelenggunya perlahan lebur, berganti menjadi kepasrahan dan desiran cinta yang tak lagi bisa ia pungkiri.
Aura akhirnya pasrah, lalu melingkarkan jemarinya di tengkuk Fadil dan membalas ciuman suaminya dengan kehangatan yang sama.
Penyatuan di pagi yang bening itu pun berlangsung dengan begitu membara dan penuh rasa kasmaran. Fadil memanjakan setiap inci tubuh istrinya tanpa terburu-buru, hingga membawa Aura dalam gelombang gairah yang berulang kali tercipta.
Tidak hanya satu kali, rasa haus akan kehangatan Aura membuat Fadil enggan melepaskan istrinya begitu saja.
Mereka pun hanyut dalam perc*mbuan beberapa ronde berturut-turut, hingga membuat Aura benar-benar kewalahan, dan terkulai lemas dengan napas yang terengah dalam dekapan hangat suaminya.
Hingga...
Matahari sudah naik cukup tinggi di ufuk timur ketika keheningan melingkupi kamar tersebut. Sinar fajar yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden, membiaskan cahaya ke atas permukaan tempat tidur yang berantakan.
Aura menyandarkan kepalanya yang terasa agak pening di dada bidang Fadil. Tubuhnya terasa begitu lemas dan sengal, seluruh tenaganya seolah terkuras habis oleh intensitas gairah suaminya pagi ini.
Suara detak jantung Fadil yang teratur di bawah telinganya menjadi irama penenang yang mengalun lembut.
Fadil mengelus lembut rambut panjang Aura yang sedikit basah oleh keringat, lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan rasa kasih sayang.
"Lemas, hm?" goda Fadil, suaranya terdengar sangat serak dan seksi.
Aura menepuk dada Fadil tanpa tenaga, lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. "Mas Fadil parah... Ini sudah jam berapa? Mbok Nah pasti bingung mencari kita di bawah."
Fadil terkekeh renyah. Suara tawanya bergetar, seolah menyebarkan rasa hangat yang menenangkan di hati Aura. Pria itu lalu menyusupkan jemarinya ke sela-sela jari Aura, dan menguncinya erat.
"Biarkan saja. Mbok Nah pasti mengerti kalau pengantin baru butuh waktu istirahat lebih lama," sahut Fadil santai tanpa beban.
Pipi Aura pun kembali memerah mendengarnya. Ia lalu mengangkat wajahnya sedikit, dan menatap garis wajah Fadil yang tampak begitu bahagia dan santai, sangat berbeda dengan sosok dingin dan berjarak yang ia kenal beberapa bulan lalu.
"Mas..." panggil Aura, dengan yang sedikit ragu.
"Iya, Sayang?" sahut Fadil, seraya menatap iris mata Aura dengan pendar cinta yang jujur. Panggilan ‘Sayang’ yang meluncur alami dari bibir Fadil membuat jantung Aura kembali melonjak kencang.
Aura menatap suaminya lekat-lekat, dan mencoba mencari kepastian di tengah kebahagiaan yang terasa bagaikan mimpi ini. "Apa Mas... benar-benar bahagia bersamaku?"
Gerakan tangan Fadil yang mengelus rambut Aura terhenti sejenak. Pria itu menatap Aura lalu mengecup bibir Aura sekilas.
"Jangan pernah meragukan hal itu lagi, Aura," ujar Fadil dengan nada tegas dan penuh kesungguhan. "Setiap detik yang aku lewati bersamamu, melihatmu tertawa, merawatku, dan berada di pelukanku seperti ini... adalah kebahagiaan paling nyata yang pernah aku rasakan. Kamu bukan lagi sekadar masa lalu atau takdir yang terpaksa. Kamu adalah istriku, pemilik hatiku yang sebenarnya."
Air mata keharuan menggenang di sudut mata Aura. Pengakuan jujur dan tulus dari Fadil meruntuhkan sisa-sisa ketakutan dan rasa bersalah yang selama ini menghantuinya sebagai pengantin pengganti.
Aura pun tersenyum sangat manis, lalu mengikis jarak untuk mengecup pipi Fadil dengan penuh kehangatan. "Terima kasih, Mas Fadil... Terima kasih sudah menerimaku."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣