Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.
Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.
Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.
"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.
Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Hampir Tertangkap Basah
Malam beranjak larut saat kawasan bisnis utama kota menyisakan pendar lampu-lampu neon dari gedung pencakar langit.
Di lantai tiga sebuah bangunan kantor sewa jangka pendek yang megah, kantor Nusantara Development Group milik Baskora Wijaya masih menyala terang.
Di seberang jalan, di dalam sebuah van serbaguna bernon-deskriptif yang terparkir di bawah naungan pohon rindang, Intan Saputri duduk menatap layar monitor pemantau.
Di sampingnya, Rendra Wijaya sigap mengendalikan sinyal frekuensi dari perangkat pemindai jarak jauh, sementara Maya mengawasi perimeter luar melalui komunikasi radio.
"Pria bernama Baskora ini jauh lebih rapi dari Ardiansyah."
Ujar Rendra seraya menunjuk grafik pergerakan data di layarnya.
"Situs perusahaannya terdaftar resmi, kantornya menyewa ruang di kawasan elit, dan stafnya berpakaian sangat profesional."
"Tapi alur kas proyek resort tiga miliar yang dia tawarkan pada Katering Barokah sore tadi sama sekali tidak tercatat di bursa pengadaan nasional."
Intan menatap ke arah jendela kantor lantai tiga yang membiaskan bayangan Baskora.
"Dia tahu cara memberikan umpan yang sulit ditolak."
"Tapi tawaran uang muka lima puluh persen tanpa jaminan itu justru menjadi cacat terbesar dari skenario manisnya."
"Malam ini dia menjadwalkan pertemuan tertutup dengan dua calon investor asing."
Sela Maya dari kursi kemudi.
"Ini kesempatan kita untuk mengambil foto salinan dokumen konsorsium asli yang disimpan di dalam brankas ruang kerjanya sebelum dia mengubah nama-nama entitas penampungnya."
Intan mengangguk mantap.
"Saya yang akan turun."
"Kamu yakin, Intan?"
Tanya Rendra, menoleh menatap murid Maya yang kini bertransformasi pesat tersebut.
"Security di gedung itu memakai kartu akses enkripsi digital."
"Pemberitahuan resmi dari Katering Barokah tentang pengantaran sampel menu malam untuk staf lembur Baskora sudah disetujui sekretarisnya satu jam lalu."
Sahut Intan seraya mengangkat sebuah kotak sampel katering eksklusif.
"Saya masuk sebagai perwakilan bisnis yang mengantarkan berkas susulan dan sampel makanan."
Intan merapikan blazer abu-abu gelapnya, menyematkan kamera pin mini di kerah bajunya, lalu melangkah keluar dari van.
Sepatu tumit rendahnya mengetuk trotoar dengan irama yang mantap dan tenang.
Ia melewati pos pemeriksaan lobi gedung tanpa hambatan.
Penampilan anggun dan pembawaannya yang berwibawa membuat petugas keamanan langsung membukakan pintu lift khusus eksekutif.
Begitu tiba di lantai tiga, lorong kantor tampak lengang.
Suara pendingin udara yang berdengung halus menjadi satu-satunya latar suara. Intan melangkah menuju ruang kerja utama Baskora.
Dari celah pintu kayu jati yang terbuka sedikit, terdengar suara Baskora yang sedang berbicara di telepon dengan nada tinggi dan dominan.
"Jangan cemas."
"Perwakilan Katering Barokah itu cuma wanita muda dari daerah"
Suara Baskora terdengar terkekeh dari dalam ruangan.
"Dia cuma bertindak sok hati-hati."
"Begitu dia lihat draft cek atas nama perusahaannya besok pagi, dia pasti langsung menandatangani pelimpahan aset proyek Zona Empat sebagai jaminan garansi."
Intan yang berdiri di balik bayangan lorong memicingkan matanya. Jadi itu skenario sebenarnya.
Baskora bukan cuma mau membawa lari uang katering, tetapi mengincar aset garansi operasional Zona Empat yang baru saja didapatkan Katering Barokah dari pemerintah!
Intan menunggu hingga suara langkah kaki Baskora terdengar menjauh menuju ruang rapat samping. Saat suasana ruangan utama hening, Intan menyelinap masuk secara halus.
Ruang kerja Baskora sangat luas, didominasi meja kayu mahoni besar dan sebuah brankas besi di sudut dinding dekat rak buku.
Intan bergerak cepat tanpa suara. Sesuai petunjuk Rendra, ia menghampiri meja kerja Baskora, mengambil ponsel pintar khusus pemindai dari saku blazernya, dan mulai memotret lembar-lembar berkas konsorsium fiktif yang tergeletak di atas meja.
Jemarinya bergerak cekatan, matanya fokus memindai setiap halaman yang memuat nomor rekening cangkang di luar negeri.
Namun, di tengah aksinya...
Klek.
Suara engsel pintu ruang rapat samping mendadak berbunyi! Percakapan Baskora dan rekannya terdengar makin mendekat kembali ke ruang kerja utama!
"Saya ambil dokumen sertifikatnya dulu di meja kerja, Pak."
Suara Baskora terdengar tinggal beberapa langkah dari ambang pintu.
Jantung Intan berdesir hebat. Waktunya terlalu sempit untuk melarikan diri ke pintu keluar utama!
Jika ia tertangkap basah di dalam ruang kerja pribadi Baskora saat malam hari sambil memegang berkas rahasia perusahaan, seluruh posisi hukum yang selama ini mereka bangun akan hancur seketika.
Baskora bisa menuduhnya melakukan penyusupan industri dan pencurian dokumen.
Di dalam situasi kritis tersebut, tempaan pengalaman bersama Maya menyelamatkan Intan dari kepanikan.
Dengan gerakan secepat kilat namun tanpa menimbulkan suara, Intan mengembalikan berkas ke posisi semula di meja, menyelipkan ponsel pemindainya ke saku dalam blazer, dan mengambil kotak sampel katering eksklusif yang dibawanya. Ia berdiri tegak di depan meja tepat saat pintu kayu jati terbuka lebar.
Baskora melangkah masuk bersama seorang pria asing berjas hitam. Langkah Baskora seketika terhenti saat melihat sosok wanita berdiri tepat di samping meja kerjanya.
Mata Baskora membelalak penuh kejutan dan kecurigaan yang mendalam.
"Mbak Intan?!"
"Bagaimana kamu bisa ada di dalam ruangan saya?!"
Suasana di dalam ruangan seketika berubah membeku. Pria asing di samping Baskora memasukkan tangannya ke dalam jas, menatap Intan dengan raut curiga.
Intan berada di ambang bahaya terekspos—ia hampir tertangkap basah di jantung pertahanan sang musuh baru.
Namun, alih-alih menunjukkan wajah panik, terpancar aura ketenangan yang teramat dingin dari paras Intan.
Ia mengulas senyuman bisnis yang teratur, mengangkat kotak sampel katering di tangannya dengan gestur yang sangat profesional.
"Selamat malam, Pak Baskora."
Sapa Intan dengan suara yang jernih, tenang, dan tanpa sedikit pun getaran.
"Maaf jika kehadiran saya mengejutkan Anda."
"Sekretaris Anda di depan memberitahukan bahwa Anda sedang rapat, dan beliau mengizinkan saya menunggu di dalam untuk menyerahkan sampel menu eksklusif serta berkas konfirmasi audit Katering Barokah."
Intan melangkah satu tapak ke depan secara terbuka, meletakkannya kotak sampel katering itu di meja dengan sangat sopan tepat di samping berkas Baskora—seolah-olah ia baru saja meletakkannya detik itu juga.
Baskora memicingkan matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Intan, mencoba mencari sedikit saja celah kebohongan atau gestur ketakutan dari wanita muda tersebut.
"Sekretaris saya?"
Tanya Baskora dengan nada curiga yang masih tebal.
"Betul, Pak."
Sahut Intan mantap seraya menunjukkan bukti pesan singkat konfirmasi masuk di layar ponsel operasionalnya.
"Saya sengaja mengantarkannya malam ini agar Pak Baskora bisa mencicipinya langsung bersama mitra bisnis Anda sebelum kesepakatan besok pagi ditandatangani."
Baskora menatap layar ponsel Intan, lalu menatap kotak makanan yang tertata rapi.
Senyuman penuh kecurigaan di wajah pria tua itu perlahan meleleh, berganti menjadi raut lega yang tertutup oleh keramahan palsunya kembali.
"Ah... Mbak Intan ini betul-betul dedikatif"
Ujar Baskora seraya tertawa pelan untuk menutupi ketegangannya sendiri.
"Tapi lain kali, harap tunggu di lobi depan, ya."
"Tentu, Pak Baskora."
"Saya mohon maaf atas kekurangnyamanan ini."
Pamit Intan seraya membungkuk sopan.
"Saya permisi dulu. Sampai bertemu di sesi penandatanganan besok."
Intan berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Baskora dengan irama kaki yang stabil dan tegap.
Saat pintu lift eksekutif tertutup dan membawanya turun ke lantai dasar, Intan bersandar pada dinding kaca lift.
Ia menghembuskan napas panjang, meresapi desiran adrenalin yang baru saja memuncak.
Ia merogoh saku dalam blazernya, menyentuh ponsel yang kini telah berisi foto-foto bukti rekening cangkang milik Baskora.
Di luar gedung, Intan melangkah masuk ke dalam van penyamaran. Maya dan Rendra menyambutnya dengan helaan napas lega yang panjang.
"Gila... kamu hampir saja tertangkap basah, Intan."
Bisik Rendra seraya memeriksa data foto yang otomatis terunggah ke laptopnya.
"Tapi ketenanganmu di depan Baskora tadi luar biasa."
Intan menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman penuh tekad dari seorang pemburu yang berhasil lolos dari celah paling sempit.
"Baskora mengira dia berhasil mengintimidasi saya malam ini."
Kata Intan seraya menatap ke arah lantai tiga gedung yang menyala.
"Tapi dia tidak tahu, bukti yang saya dapatkan malam ini adalah kunci untuk membongkar seluruh jaringan penipuan Nusantara Development Group besok pagi."
*
*
*
Jangan lupa like, komen dan subscribe 🤗
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya