Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka bisa melihat gerbang raksasa Kota Ciangsa.
Dindingnya menjulang tinggi, kokoh, dengan ukiran tujuh pedang.
Dari kejauhan saja, aura kekuasaan dan kemegahan kota ini sudah terasa.
‘Jadi ini kota yang dihuni Clan besar?’ Ryan menatap gerbang yang megah itu. ‘Ayah dan ibuku orang-orang berpengaruh dari dua Clan berbeda. Aku harus menemui mereka. Dan lihat, reaksi apa yang akan aku terima saat mereka melihat ku pulang.’
Kereta kuda terus bergerak, tapi berhenti tepat di depan barisan penjaga.
Para penjaga itu bukan pendekar biasa.
Mereka adalah pendekar berseragam hitam dan putih, dengan lambang Aliansi Pedang Tujuh Langit yang terpampang di dada mereka.
“Berhenti!” seru salah seorang penjaga dengan suara lantang. “Siapapun yang masuk akan diperiksa! Tidak ada pengecualian!”
Satu per satu orang turun dari kereta dan diperiksa dengan ketat.
Para pedagang diminta membuka barang bawaannya, sementara para pendekar ditanyai asal usulnya.
Ketika giliran Ryan tiba, seorang pendekar mendekat, tatapannya penuh curiga. “Kau seorang pendekar? Dari Clan mana kau berasal?!”
Ryan mengeluarkan sebuah kalung emas dengan ukiran kabut putih.
“Apa kalung ini cukup menjelaskan?” tanyanya datar.
Mata penjaga itu melebar. “Ka-kalung Clan Kabut Dingin?! Kau… kau dari salah satu Clan besar?!” Suaranya berubah terbata.
Sesaat kemudian sikapnya langsung berbalik seratus delapan puluh derajat.
Ia menunduk hormat. “Maafkan kelancangan kami, Tuan! Silakan masuk. Kami tidak akan berani menghalangi.”
Ryan menyelipkan kembali kalung itu ke dalam jubahnya, lalu berjalan melewati gerbang dengan langkah tenang.
‘Sepertinya reputasi Clan Kabut Dingin memang cukup tinggi di sini. Bahkan para penjaga pun segan.’
Begitu melewati gerbang, pemandangan kota terbentang luas.
Jalanan ramai dipenuhi pedagang, penjual makanan, seniman jalanan, dan anak-anak berlarian dengan tawa riang.
Rumah-rumah batu kuno berdiri megah, dihiasi lentera merah dan ukiran kayu yang indah.
Warga tampak sejahtera, wajah mereka berseri.
Ryan berhenti sejenak, menatap sekeliling. ‘Kota kuno yang indah. Jika dibandingkan dengan kota modern di kehidupanku yang dulu… aku lebih suka kota seperti ini.’
‘Baiklah. Pertama aku harus menemui ibuku. Aku akan menuju Clan Kabut Dingin.’ Langkahnya dipercepat, menyusuri jalan utama kota.
Dalam perjalanan, Ryan melewati dinding besar yang penuh dengan poster buronan.
Wajah-wajah para penjahat, pembunuh, dan pemberontak terpampang jelas dengan harga kepala berbeda.
‘Hm… ada poster kepala Komandan Risman? Ternyata Dia cukup tangguh. Harga kepalanya lima belas ribu keping emas.’ Ryan menatap poster itu dengan tenang.
‘Untung saja aku membantai Clan Taring Naga tanpa ada satu pun saksi. Jika ada yang melihatku waktu itu, pasti wajahku sudah terpampang di sini. Itu akan sangat merepotkan.’
Ryan berbalik, melanjutkan perjalanan. Namun tiba-tiba...
Buk!
Seseorang menyenggol bahunya dengan kasar. Namun Tubuh orang itu justru terlempar ke tanah.
“keparat! Jalan pakai mata! Apa kau sengaja menyenggolku, hah?!” teriak pria itu sambil bangkit, wajahnya merah padam.
Kerumunan langsung menoleh, suasana jalan mendadak hening.
Ryan menatapnya datar. “Ho… menarik. Jadi kau sedang mencari korban pendatang baru untuk diperas?” gumamnya tenang.
Pria itu semakin marah. “Bajingan sialan! Apa kau tidak tahu siapa aku?! Aku Gibran! Putra dari ketua Clan Ular Kasur! Berani menantangku sama saja mencari mati!”
Beberapa orang langsung berdiri di belakang Gibran, jelas sekali mereka sudah merencanakan sandiwara ini untuk menjebak orang luar.
Ryan menyipitkan mata. “Clan Ular Kasur? Hm… terdengar seperti sekumpulan orang-orang berotak udang. Atau mungkin kalian semua memang bodoh?” ucapnya dingin, seolah meremehkan.
“APA?!” Gibran hampir melompat karena murka. “Bajingan! Kau menghina Clan kami!”
Seketika, para pengikutnya mencabut pedang mereka, mengarahkannya ke Ryan.
Kerumunan semakin riuh. Warga berbisik-bisik, sebagian menutup mulut mereka dengan tangan.
“Lagi-lagi Clan Ular Kasur mencari masalah…”
“Dasar pemeras, setiap minggu ada saja korban baru…”
“Kasihan pendatang itu, kalau melawan mereka biasanya berakhir di penjara…”
Ryan menatap tajam. 'Di kehidupan dulu ataupun sekarang. Orang-orang IQ minus selalu membuat masalah. Mereka tidak pernah berpikir dan selalu melakukan sandiwara untuk menjilat atau berbohong'
“Ayo Serang dia!” teriak Gibran dengan wajah merah padam. “Dia tidak mau meminta maaf pada kita! Ajari dia sopan santun!”
Enam orang pengikutnya langsung berlari serentak, pedang terhunus, melompat ke arah Ryan.
WUUSSH! WUUSSH!
Namun Ryan hanya berdiri diam, mata dingin menatap mereka seperti melihat sekumpulan sampah masyarakat.
Begitu mereka mendekat...
PLAK! PLAK! PLAK!
Satu ayunan tangan Ryan menghantam beruntun. Tamparannya begitu cepat, seolah udara ikut meledak.
BRAAAAK! BAAARAK! BRAAAK!
Keenam orang itu terpental keras, tubuh mereka menabrak dinding batu rumah di tepi jalan. Retakan besar langsung menjalar dari titik benturan, debu beterbangan.
Kerumunan yang sejak tadi menonton terperangah.
Ada yang menutup mulut karena kaget, ada pula yang takjub.
“Ti-tidak mungkin…!” Gibran terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. “Kau… kau mengalahkan mereka hanya dengan satu tamparan?! Itu… itu benar-benar tidak masuk logika!”
Ryan menoleh padanya. “ Kau beruntung karena kita sedang berada di dalam kota. Jika nanti kau bertemu denganku di luar… sebaiknya kau lari secepat mungkin.”
Seketika itu juga...
BUAAAK!
Kaki Ryan menghantam wajah Gibran dengan keras.
Tubuh pemuda sombong itu melayang bagai karung kosong, melesat beberapa meter, lalu menghantam dinding rumah.
DHUAAAR!
Dinding itu runtuh, debu menutupi jalan.
Gibran tak sadarkan diri, sementara para pengikutnya hanya bisa merintih.
Ryan tidak menoleh lagi. Dia melangkah tenang, meninggalkan kerumunan yang masih terpaku.
'Sial, ada-ada saja kerjaan orang tolol seperti mereka' gumam nya kesal.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Ryan sampai di sebuah kawasan besar yang dipagari tembok tinggi.
Pintu gerbangnya megah, dijaga ketat oleh para pendekar bersenjata tombak perak.
Di atas gerbang, bendera dengan lambang kabut putih berkibar.
‘Jadi ini… rumah milik ibuku? Wilayah Clan Kabut Dingin Besar sekali. Aku bisa merasakan aura para pendekar kuat dari dalam.’ Ryan berdiri tegak, menatapnya dalam-dalam.
Ia melangkah ke depan, lalu berbicara pada penjaga.
“Apa aku bisa bertemu dengan Nyonya Zenith?”
Penjaga itu langsung menatap curiga. “Ada urusan apa kau mencari Nyonya besar? Dan siapa kau sebenarnya?!”
Ryan menarik napas pelan. “Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi orang tua asuhku memberikan kalung ini, katanya aku putra dari Clan Kabut Dingin.” Ia mengeluarkan kalung emas itu lagi.
Mata penjaga itu langsung melebar. Ia tahu, kalung itu hanya dimiliki oleh keturunan langsung garis darah Clan.
“Sa-salam, Tuan Muda!” Penjaga itu terkejut lalu segera berlutut. “Maafkan kecerobohan saya! Mohon ampun atas kebodohan saya!”
Ryan mengangkat alis. ‘Apa-apaan ini? Mengapa dia tiba-tiba bersujud padaku?’ pikirnya bingung.
“Silakan masuk, Tuan Muda,” lanjut penjaga itu dengan suara penuh hormat. “Saya akan mengantar Anda ke ruang khusus, lalu memberitahu Nyonya besar mengenai kedatangan Anda.”
Ryan pun melangkah masuk.
Begitu melewati gerbang, suasana langsung berubah drastis.
Jika di luar kota penuh keramaian, maka di dalam wilayah Clan Kabut Dingin terasa begitu damai.
Pohon-pohon tinggi menjulang, taman rimbun dengan bunga berwarna-warni, suara air mengalir dari kolam ikan, udara sejuk seperti pegunungan.
‘Jadi ini tempat Clan Kabut Dingin?’ pikir Ryan sambil menyusuri jalan setapak. ‘Aku tidak tahu apakah ibuku akan mengakuiku sebagai putranya atau justru menolakku. Tapi apa pun yang terjadi… aku tidak peduli’
Penjaga itu berhenti di depan rumah kayu besar yang tampak sederhana. “Anda bisa menunggu di sini, Tuan Muda. Saya akan segera melaporkan ini pada para tetua dan Nyonya besar.”
Ryan duduk di teras rumah kayu itu.
Seorang pelayan muda datang membawa minuman hangat, menunduk hormat saat menyajikannya.
Ryan mengambil cangkir Teh itu. ‘Baiklah… ayo kita lihat orang tua dari tubuh bocah ini.’ pikir nya.