"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat dadakan
"Kenanga tahu, tapi mereka yang akan berkunjung ke sini, dengan alasan silaturahmi, di sana juga orang yang punya kekurangan secara fisik akan di anggap sebagai manusia tidak berguna, jadi kami sepakat menyembunyikan Kenanga di sini" jawab Karman
"Padahal kalau di kota, anak anak yang bisu dan tuli itu masih dapat perlakukan yang sama loh pak, bahkan mereka di ajari bagaimana cara membaca dan menulis dengan cara mereka sendiri, untuk yang tuna rungu, di kota banyak di jual alat bantu dengar, kalau di tangani sejak dini, mereka akan bicara normal seperti kita kita" ungkap Lintang
"Kami tidak percaya semua itu di sini nak, sejak dulu kampung ini menutup jalan masuk untuk dunia luar, tidak boleh ada yang masuk kemari kecuali untuk tujuan pendidikan, seperti kamu yang ada tugas dari kampus kamu kan" ungkap Karman
"Iya" jawab Liam dan Lintang tersenyum kaku karena mereka berbohong.
"Kami harus pulang pak, anak anak mungkin sudah ada di sekolah, saya harus ke sana" ucap Liam
"Kenapa tidak libur saja, tubuh kamu kelelahan" ucap Karna
"Anak anak sedang semangat belajar, apalagi Kemarin lusa kami sudah memberikan buku panduan membaca pada mereka, dan kami akan mulai mengajarkan itu hari ini, sambil belajar menulis huruf juga angka" Jawab Hamka
"Aini sebenarnya ingin ikut sekolah, tapi dia harus mengurus Kinanti, dulu dia sempat sekolah sampai kelas dua SD" ucap Karna
"Kalau begitu bisa ikut saat kak Aini ada waktu saja, kalau Kinanti anteng juga tidak apa apa di bawa ke sana" jawab Liam
"Kamu mau Aini?" tanya Karna
"Kalau Kinanti sedang anteng saja kang, apa tidak apa apa?" tanya Aini
"Tentu tidak apa apa" jawab Liam ikut senang karena ada satu orang lagi yang sadar kalau pendidikan itu juga penting.
"Lian"
kenanga sudah mulai lancar memanggil nama Liam, tapi hanya itu saja yang bisa dia katakan dari mulutnya, kata kata lain lebih ke samar atau sering terpotong potong.
"Liam bukan Lian"
"Lian"
"Kalau kamu panggil aku Lian, nanti kamu kebiasaan panggilnya Lian, dan di sangka orang orang kamu bukan istriku" ucap Liam
"Lian"
"Aakkhh geregetan" gemas Liam sampai menguyel pipi Kenanga membuat semuanya tertawa.
"Hahaha.. Sabar bang" bujuk Lintang karena Liam menghela nafas panjang
Liam akhirnya pamit pulang dengan Kenanga yang masih menempel padanya seperti lem, benar kata Lintang dan Hamka, mereka memang pasangan lem, karena setiap berdua selalu saja menempel.
*********
Di Jakarta.
"Sayang, kamu lihat dasiku tidak? Miqdam katanya mengajakku untuk ikut rapat perusahaan" tanya Langit.
"Ada di laci yang, kan kamu sudah tidak kerja di kantor lagi jadi semuanya aku simpan di sana, masa ke pasar pakai dasi" jawab Aurora
"Aku juga tidak tahu kenapa Miqdam mengajakku, bukan Laut atau Miqdad" jawab Langit
"Mungkin Om Miqdam mau buat para pemimpin divisi takut kalau lihat kamu" jawab Aurora terkekeh lalu memasangkan dasi di leher Langit
"Pasti ada tikus lagi di kantor Daddy" ucap Langit memeluk Aurora
"Nanti antar Lyra dulu sekolah, katanya hari ini dia mau menginap di rumah Om Haris" ucap Aurora
"Berdua lagi dong kita" keluh Langit tapi tangannya terus mengusap dua bongkahan kenyal milik Aurora.
"Lepas! Sudah sana berangkat" ucap Aurora
"Jadi malas kalau tahu kita hanya berdua di rumah, aku telpon Miqdad deh minta batalin rapatnya ya" ucap Langit
"Jangan macam macam yang, nanti kamu di marahi Opa lagi" jawab Aurora karena memang Langit sering di marahi Mandala karena sering membuat ulah di kantor ataupun pasar tempat dia bekerja.
"Aku tidak membuat ulah sayang, aku hanya memberi sedikit pelajaran pada mereka" jawab Langit
"Pelajaran bagaimana caranya masuk rumah sakit lewat jalur Langit Arka Danendra? Awas kalau begitu lagi" ucap Aurora
"Iya deh iya, aku berangkat dulu ya, nanti aku pulang cepat, Kamu pakai baju yang aku belikan Kemarin" jawab Langit
"Iya sayang" jawab Aurora mengecup bibir Langit
"Lagi"
Cup. Cup. Cup.
"Udah"
"Daddy! Lyra kesiangan ini! Kenapa lama banget!" teriak Lyra dari lantai satu.
"Perasaan kamar ini kedap suara deh, kenapa dia bisa terdengar di sini ya suaranya" gerutu Langit
"Itu karena Lyra itu istimewa yang" jawab Aurora terkekeh
Langit berangkat bersama Lyra ke sekolah, dia juga mampir sebentar ke pasar untuk ijin pada Arjuna karena Arjuna yang sekarang menggantikan peran pak Hendra di pasar. Setelahnya baru dia berangkat ke kantor Danendra grup.
"Ada apa?" tanya Langit ketika dia sudah masuk ke ruangan Miqdam
"Ada yang kesurupan" jawab Miqdam membuat Langit terduduk lemas, karena dia sudah tampil begitu rapi menggunakan jas dan dasi, tapi Langit ternyata di panggil karena ada yang kesurupan.
"Sengaja Lo ya!" umpat Langit dan Miqdam tertawa
"Sorry bang, gue beneran pusing karena setiap hari ada saja yang kesurupan di tempat pengemasan barang" jawab Miqdam.
"Sudah berapa lama kejadiannya?" tanya Langit
"Tiga harian lah ada" jawab Miqdam serius
"Ayo ke sana, supaya gue bisa lihat apa yang terjadi, kenapa tiba tiba di sana jadi angker"
"Apa gue juga harus ikut bang?" tanya Miqdam
"Iya, Lo harus ikut, siapa tahu itu setan mau masuk ke tubuh Lo yang kelakuannya juga kaya setan" sinis Langit
Miqdam membawa Langit ke tempat pengemasan barang yang sekarang sudah ada di lahan yang sama dengan tempat pengiriman, jadi setelah di kemas, barang barang itu tinggal di sortir dan di tentukan jadwal pengirimannya sesuai dengan catatan yang sudah di jadwalkan penanggung jawab pengiriman.
"Kenapa tempat ini jadi suram sekarang? Lima tahun lalu masih bagus" ucap Langit yang melihat aura gelap dari tempat itu, terutama di sudut ruangan paling belakang, tempat Kadus kardus dan juga tempat yang terkena cahaya berada.
"Nah itu masalahnya, sejak beberapa bulan ini jadi begini, tepatnya saat seorang pekerja dari resort datang, kan ada yang lulusan SMA, bang Gara minta di tempatkan di sini, tapi malah jadi banyak yang kesurupan" jawab Miqdam.
"Kampung Mahoni lagi, pasti itu karena pengaruh dari sana makanya jin di sini merasa terancam" ucap Langit kembali berkeliling untuk memeriksa tempat pengemasan barang itu.