Indonesia
NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Capo

Tawanan Sang Capo

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Yesenia Stefany Bello González

Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.

Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.

Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.

Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.

Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?

Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terakhir Kalinya

Fabiano

"Jadi?"

Kuhempaskan tubuhku ke sofa di samping jendela besar kantorku dan kututup wajahku dengan lengan bawah.

"Sehebat itu, ya?" desak Mattheo, dan tanpa menatapnya pun aku tahu ia sedang tersenyum.

"Diam," gumamku.

"Kamu harus ceritakan padaku… kamu berutang itu padaku. Lagipula, seharusnya akulah yang memberinya ciuman pertama."

"Akan kupotong kejantananmu," balasku.

"Para wanita Milan takkan memaafkanmu."

"Itu katamu."

"Itu kata mereka. Ayolah, ceritakan semuanya."

Aku duduk dan menatap tanganku. Tangan yang sama yang beberapa detik lalu berada di tubuh Alessia.

"Bagaimana mungkin itu ciuman pertamanya?" tanyaku tanpa mengharapkan jawaban. "Itu ciuman terbaik dalam hidupku yang sialan ini."

"Fabiano…"

"Aku tidak bohong," ucapku. "Itu… aku bahkan tak tahu cara menjelaskannya."

"Fabiano…"

"Kamu pernah merasakan ciuman yang menghentikan waktu? Atau setidaknya ciuman yang membuatmu berharap waktu berhenti?" tanyaku.

Bibir Mattheo terangkat dalam senyum, seolah ia sedang mengingat sesuatu, tapi kemudian wajahnya mengeras.

"Kamu tak boleh lupa bahwa Alessia hanya sementara di sini. Alasan dia berada di sini adalah untuk merebut Cloe kembali. Tidak lebih."

"Aku tahu, tapi…"

"Tak ada tapi, Fabiano. Kita harus membawa Cloe pulang. Setiap detik yang kamu habiskan untuk bermain dengan gadis Castelli itu, Cloe sedang menderita."

Seluruh tubuhku menegang.

Mattheo benar. Tentu saja ia benar.

Adikku adalah hal yang terpenting.

"Aku tidak sedang bermain dengannya."

"Justru itulah yang membuatku khawatir."

Kuangkat pandanganku.

Mattheo tak lagi punya senyum mengejek seperti beberapa menit lalu. Ia benar-benar serius.

"Kamu tahu apa masalah pria seperti kita?" Aku menggeleng. "Kita mengira punya banyak waktu." Aku mengerutkan kening. "Kita berpikir bisa membereskan semuanya besok. Bahwa akan ada percakapan lain. Ciuman lain. Kesempatan lain. Lalu suatu hari kamu sadar bahwa orang yang rela kamu korbankan segalanya untuknya… sudah tak ada lagi."

Aku menatapnya beberapa saat.

"Kamu bicara soal apa?"

Ia menggelengkan kepalanya sedikit.

"Bukan apa-apa."

Aku tak percaya. Aku terlalu mengenalnya untuk tak menyadari kilau aneh yang muncul sedetik di matanya, yang lenyap secepat kedatangannya.

"Rebut saja adikmu kembali," katanya akhirnya. "Yang lain bisa menunggu."

Aku mengangguk pelan.

"Akan kulakukan."

"Berjanjilah padaku."

"Aku berjanji."

Mattheo mengambil komputernya dan berjalan ke arah pintu.

Sebelum keluar ia berhenti.

"Dan satu hal lagi."

"Apa?"

"Jangan cium dia lagi."

Aku melepaskan tawa kering.

"Takkan kulakukan."

"Fabiano," panggilnya, berbalik untuk menatapku dari balik bahunya. "Kurasa kamu tak punya kekuatan untuk menghindarinya… tapi cobalah. Demi Cloe."

Saat ia meninggalkanku sendirian, aku berharap punya cukup kekuatan untuk tetap menjauh dari bahaya bernama Alessia Castelli.

* * *

Rumah benar-benar hening.

Sudah lebih dari satu jam aku berbaring dengan mata terbuka… Menatap langit-langit.

Kata-kata Mattheo terus terngiang berulang-ulang di kepalaku.

"Rebut saja adikmu kembali."

Ia benar.

Semua ini dimulai karena Cloe.

Alessia tak seharusnya menjadi apa pun selain alat untuk membawanya pulang.

Kupejamkan mata.

Aku mencoba berkonsentrasi.

Pada Lucio.

Pada jalur laut.

Pada perusahaan-perusahaan itu.

Pada rencana.

Tapi ingatanku adalah seorang pengkhianat. Yang muncul bukan kapal atau kontrak.

Yang muncul adalah sepasang mata biru langit.

Tawa yang mustahil.

Sebuah "wow" yang benar-benar tulus… Dan sepasang bibir yang masih bisa kurasakan di bibirku.

Aku menggeram dan berguling di atas ranjang.

Sialan.

Aku harus berhenti memikirkannya.

Aku harus ingat siapa diriku, apa yang dipertaruhkan, apa yang kujanjikan pada Mattheo… Tapi yang terpenting, aku harus membawa Cloe pulang.

Adikku.

Keluargaku.

La Corona.

Hanya itu yang penting.

Kalau begitu… Kenapa rasanya seperti sebuah kebohongan?

Kurapatkan rahangku.

Aku tak pernah membutuhkan siapa pun.

Tidak untuk tidur. Tidak untuk bernapas. Tidak untuk terus maju. Dan, meski begitu… Ada kekosongan aneh di ranjang ini.

Kekosongan yang baru muncul setelah aku mencium Alessia.

Ini bukan hasrat. Kalau begitu terlalu sederhana. Ini… Kebutuhan.

Aku butuh mendengar embusan napasnya yang tenang.

Aku butuh tahu bahwa ia baik-baik saja.

Aku butuh melihatnya tidur dengan kening berkerut sambil memeluk bantal seolah itu boneka beruang.

Aku butuh…

Ketukan pelan di pintu memotong pikiranku.

Jantungku berjungkir balik secara konyol. Aku sudah tahu siapa itu bahkan sebelum bertanya.

"Masuk."

Pintu terbuka hanya beberapa sentimeter dan muncullah surai pirang yang benar-benar berantakan.

"Fabiano?"

Suaranya nyaris hanya bisikan.

"Ya, Castelli kecil?"

Ia menunduk menatap kakinya sendiri.

"Aku tidak bisa tidur."

Aku tahu seharusnya kusuruh ia pergi, tapi tidak kulakukan. Aku tetap diam tak bergerak.

Ia pun begitu.

Dengan gaun sutra menggoda itu dan rambut pirang yang benar-benar berantakan.

Ia tampak seperti gadis kecil yang baru terbangun dari mimpi buruk.

Dan, di saat yang sama… Wanita yang seharian mengacaukan duniaku.

"Aku tidak bisa tidur," ulangnya dengan suara nyaris tak terdengar.

Kupejamkan mata sejenak.

Mattheo akan membunuhku.

"Kemarilah."

Bibirnya melengkung dalam senyum begitu kecil hingga nyaris tak tampak.

Ia masuk perlahan dan menutup pintu di belakangnya.

"Hanya malam ini," ucapku sambil mengangkat seprai agar ia bisa berbaring. "Ini terakhir kalinya."

Ia mengangguk dengan sangat khidmat.

"Terakhir."

Kami berdua tahu aku berbohong. Dan, lebih buruk lagi… Kami berdua tahu ia juga berbohong.

Ia menyamankan diri di sampingku dan selama beberapa detik tetap diam sepenuhnya. Terlalu diam… Sampai, dengan sangat perlahan, ia mendekat beberapa sentimeter.

"Less…"

"Ya?"

"Kurasa ini bukan ide yang baik."

Ia mengangkat kepala untuk menatapku. Mata biru langitnya bersinar penasaran dan penuh keinginan.

"Aku sudah berpikir."

Aku menelan ludah.

Setiap kali Alessia berpikir, hidupku jadi rumit.

"Soal apa?"

Senyum nakal muncul di mulutnya.

"Guru macam apa kamu kalau cuma memberiku satu pelajaran."

Aku tak bisa menahannya.

Aku tertawa.

Tawa rendah, lelah, dan nyata.

"Oh, ya?"

Ia mengangguk dengan sangat yakin.

"Guru yang baik melakukan tindak lanjut."

Aku menggeleng.

"Tindak lanjut?"

"Tentu saja."

Ia mengangkat satu jari, seolah sedang menjelaskan teori terpenting di dunia.

"Bagaimana kalau aku lupa materinya?"

"Sudah berapa lama… ya?… Lima jam?"

"Ingatanku sangat buruk."

Ekspresinya begitu serius hingga mustahil tidak menuruti permainannya.

"Itu mengkhawatirkan."

"Sangat sekali."

"Mungkin kamu harus cari guru lain."

Ia mengernyitkan hidung.

"Tidak."

"Tidak?"

"Aku sudah menemukan yang terbaik."

Senyumku lenyap.

Bukan karena kata-katanya berani, tapi karena ia mengucapkannya dengan ketulusan yang membuatku tak punya pertahanan.

Itu dia lagi.

Keheningan itu.

Saat di mana segala hal lain tak lagi penting.

Perang.

Lucio.

Janji yang kubuat pada Mattheo.

Bahkan Cloe.

Semua memudar.

Hanya ada dia.

Hanya tatapan bersih yang memercayaiku dengan cara yang tak kupantas.

"Fabiano…"

Ia membisikkan namaku seolah itu sebuah pertanyaan. Seolah ia masih memberiku kesempatan untuk berhenti.

Seharusnya kulakukan.

Seharusnya kumatikan lampu dan kuucapkan selamat malam padanya.

Seharusnya aku menjauh. Sebagai gantinya… Kuangkat satu tangan dan kusingkirkan hati-hati satu helai rambut pirang dari pipinya.

Ia tak bergerak sesentimeter pun.

Ia hanya terus menatapku. Menunggu. Dan itu membuatku paham bahwa aku menciumnya bukan karena kehilangan kendali. Aku menciumnya karena aku membutuhkannya. Karena, sejak ia keluar dari kamar pagi ini, sebagian diriku merasa ada yang hilang.

Aku membungkuk perlahan.

Bibir kami kembali bertemu.

Kali ini tak ada terburu-buru.

Tak ada rasa takut.

Hanya keheningan luas yang seolah menyelimuti kami berdua.

Dan, untuk sesaat yang terlalu singkat… Sisa dunia berhenti ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!