Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Keheningan yang tersisa di dalam kamar utama Istana Blackwood terasa begitu sarat emosi. Bunyi gesekan renda gaun Ratu Lizzeebeeth yang gemetar dan desah napas Baxeena yang tertahan menjadi satu-satunya suara yang mengisi udara.
Koper-koper kulit yang terbuka di tengah ruangan tak lagi tampak sebagai simbol penolakan atau perlarian, melainkan saksi bisu dari pertahanan batin yang runtuh.
Baxeena perlahan bangkit dari tepi ranjang. Perutnya yang membuncit tua membuat pergerakannya lambat, namun keanggunan dan kehangatan yang terpancar dari dirinya tidak berkurang sedikit pun. Ia menapakkan kakinya di atas karpet beludru, melangkah mendekati sosok wanita bergaun megah yang kini tampak begitu kecil di balik segala keangkuhannya.
Air mata masih menetes di pipi Ratu Lizzeebeeth, membasahi garis-garis wajahnya yang selalu ia jaga agar terlihat sempurna dan tak tersentuh. Ratu menahan napas saat Baxeena berhenti tepat di hadapannya.
"Yang Mulia Ibu Ratu..." suara Baxeena terdengar sangat lembut, bagai usapan angin malam yang menenangkan kepedihan. "Cinta seorang anak pada ibunya dan cinta seorang pria pada istrinya bukanlah dua hal yang saling menghancurkan. Keduanya tidak pernah saling meniadakan."
Baxeena mengulurkan tangannya yang hangat, secara perlahan menggenggam jemari sang Ratu yang dingin dan gemetar. Ratu Lizzeebeeth terperanjat kecil, matanya membelalak menatap jemari mereka yang bersentuhan. Tak pernah ada seorang pun di istana ini yang berani menyentuhnya tanpa protocol aristokrat—apalagi memegang tangannya dengan ketulusan yang murni.
"Saya datang dari Los Angeles bukan untuk merebut Alistair dari Anda," lanjut Baxeena dengan pelupuk mata yang basah oleh air mata haru. "Saya hadir karena Alistair mencintai saya, dan saya mencintainya. Tapi sejak awal, saya tidak pernah ingin menjadi dinding yang memisahkan seorang putra dari ibu yang telah melahirkannya."
Baxeena memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Ratu yang menyimpan luka belasan tahun.
"Alistair kaku di hadapan Anda bukan karena ia tidak mencintai Anda, Yang Mulia..." bisik Baxeena parau. "Ia kaku karena ia takut tidak bisa menjadi putra mahkota yang sempurna sesuai harapan Anda. Ia menghormati Anda begitu tinggi hingga ia lupa cara menjadi anak kecil di depan ibunya sendiri."
Kata-kata Baxeena bagai telaga penawar yang mengalir di atas tanah gersang dada Sang Ratu. Ratu Lizzeebeeth meremas jemari Baxeena balik, bibirnya bergetar hebat saat isakan parau kembali lolos dari tenggorokannya.
Alistair membeku di tempatnya berdiri. Mendengar penuturan istrinya, ingatan Alistair terlempar ke puluhan tahun lalu.
Ia teringat masa kecilnya di lorong-lorong dingin istana—bagaimana ia selalu menahan keinginan untuk memeluk ibunya karena takut dinilai lemah, bagaimana ia selalu menegakkan punggungnya saat Ratu berjalan mendekat karena ingin membuat ibunya bangga. Tanpa disadarinya, jarak yang dibentuk oleh aturan dan ketakutan itu telah ditafsirkan oleh ibunya sebagai kepedihan dan penolakan.
Alistair melangkah pelan. Sepatu militernya tak lagi berderap keras, melainkan menginjak lantai dengan penuh kepasrahan emosional. Ia berhenti di samping Baxeena dan Ratu.
"Ibu..." suara Alistair yang biasanya berat dan berwibawa kini terdengar pecah, menyimpan kerapuhan seorang putra yang merindukan ibunya.
Ratu Lizzeebeeth menengadah, menatap putra tunggalnya dengan mata yang sembab.
Alistair berlutut di hadapan ibunya—tindakan yang belum pernah ia lakukan di luar etiket formal kerajaan. Ia meraih tangan ibunya yang satunya, menempelkan jemari Ratu yang dingin itu ke pipinya sendiri.
"Maafkan aku..." bisik Alistair dengan air mata yang akhirnya menetes membasahi pipi tegasnya. "Maafkan aku karena membuat Ibu merasa terasingkan di dalam hatiku sendiri. Aku tidak pernah berhenti mencintai Ibu sebagai ibu kandungku. Selama ini, aku hanya terlalu takut mengecewakan Ibu sebagai seorang Pangeran."
Ratu Lizzeebeeth tak mampu lagi menahan bendungan emosi di dadanya. Ia melepaskan genggaman tangannya dan menungkupkan kedua telapak tangannya di pipi Alistair. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sang Ratu memeluk kepala putranya yang berlutut, membenamkan wajah Alistair ke pelukannya sembari menangis terisak-isak.
"Putraku... putra kecilku..." tangis Ratu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. "Maafkan Ibu... Maafkan kesombongan dan kebencian yang menyelimuti mata Ibu selama ini..."
Violet, yang menyaksikan seluruh adegan tersebut dari sudut ruangan, tak mampu menahan rasa haru. Gadis remaja itu mengusap air matanya yang menetes pelan, tersenyum tipis melihat dinding es yang menyiksa keluarga mereka selama berbulan-bulan akhirnya mencair sepenuhnya.
Baxeena menatap suami dan ibu mertuanya yang saling memeluk di atas tanah kehampaan istana. Ia mengusap perut besarnya, merasakan kehangatan yang tak ternilai harganya menyelimuti seluruh ruangan.
Ratu Lizzeebeeth perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap Alistair dan Baxeena bergantian dengan pandangan penuh penyesalan. Ia mengusap sisa air mata di wajahnya, lalu mengalihkan tatapannya pada koper-koper yang berada di tengah lantai.
"Jangan pergi..." moHon Ratu dengan suara parau yang kini dipenuhi kerendahan hati. "Jangan tinggalkan istana ini. Izinkan... izinkan Ibu belajar menjadi seorang ibu yang benar untukmu, Alistair. Dan izinkan Ibu belajar menjadi seorang ibu mertua dan nenek yang layak untuk Baxeena, Violet, dan calon cucu Ibu ini."
Alistair mendongak, menatap Baxeena seolah menyerahkan keputusan akhir pada wanita yang paling dicintainya. Baxeena mengangguk pelan dengan senyuman paling tulus di bibirnya, menghapus seluruh jejak kesedihan yang sempat menguasai hatinya.
"Kami tidak akan pergi, Ibu..." ucap Alistair lembut, menyebut kata 'Ibu' tanpa gelar kebangsawanan.
Sore itu, di balik kabut tebal Inggris yang mulai menipis dipukul sinar matahari terbenam, Istana Blackwood menyaksikan takhta kemegahan berganti menjadi takhta kasih sayang. Badai perang politik dan kemurkaan telah usai, menyisakan jalinan benang emas yang merajut kembali sebuah keluarga yang sempat retak oleh kesepian dan ambisi.
untung lawan nya xeena 😝
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭