Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Tanpa Sisa

Pintu paviliun menutup di belakang mereka.

Bram tidak langsung mencium Laras. Ia mengambil kartu kamar dari tangannya, menyalakan semua lampu, lalu memeriksa jendela dan pintu menuju taman kecil.

"Apa lagi?" tanya Laras. "Mau cari jalan keluar darurat karena kamu takut tersesat di kamar?"

Bram mengabaikan ejekan itu. "Haidnya sudah selesai?"

"Sudah."

"Masih sakit?"

"Tidak."

"Hari ini nggak ditampar, nggak demam, dan nggak dipaksa siapa pun?"

Laras menyilangkan tangan. "Kamu sedang membuat daftar bencana kita?"

"Aku memastikan nggak ada alasan kamu menyalahkanku besok."

"Saya selalu bisa menemukan alasan."

"Bagus. Berarti yang ini jangan dipakai."

Bram mengulurkan tangan. Laras menyerahkan dua ponselnya. Bram menambahkan ponselnya sendiri, mematikan ketiganya, dan memasukkannya ke laci. Ia menekan tombol jangan ganggu di panel kamar, menonaktifkan bel, serta memastikan tirai tertutup.

"Kamu berlebihan."

"Malam pertama ada telepon. Malam kedua kamu demam. Malam tahun baru kita ke rumah sakit." Bram mendekat. "Malam ini aku nggak mau berbagi kamu dengan siapa pun."

Kalimat itu menghapus senyum Laras.

Bram berhenti tepat di depannya. "Masih mau?"

Laras menyentuh kerah kemejanya. "Kalau saya bilang tidak?"

"Kita pesan makan dan tidur."

"Kalau saya bilang iya?"

"Aku kunci pintu sekali lagi."

Laras menariknya untuk mengecup bibir. "Berisik."

Malam itu tidak memiliki rasa terburu-buru. Mereka telah melewati takut, rasa sakit, dan kunjungan ke unit gawat darurat. Yang tersisa adalah kepercayaan yang tidak pernah mereka beri nama.

Bram tetap memeriksa setiap perubahan napasnya. Laras tidak lagi bersembunyi di balik lelucon setiap kali membutuhkan jeda. Mereka berpindah dari kamar tidur ke ruang duduk ketika lampu di sana terasa lebih hangat, lalu ke kamar mandi setelah suara hujan buatan dari pancuran menghapus sisa kebisingan dunia.

Tidak ada telepon. Tidak ada keluarga yang mengetuk. Tidak ada calon suami di layar.

Untuk satu malam, Laras bukan pewaris Wirasena, bukan pianis Vesper, dan bukan perempuan yang tanggal akadnya dihitung orang lain. Ia hanya dirinya sendiri, dengan pilihan yang didengar sampai tuntas.

Di kamar tidur, Bram sempat berhenti ketika Laras tanpa sadar menutupi bekas merah di telapak tangannya, luka kecil dari kuku sendiri saat dipaksa menjawab lamaran. Ia mencium bagian itu, sangat pelan, lalu mengambil cincin berlian yang masih tersimpan di kotak tas Laras.

"Boleh aku buang?"

"Tidak. Itu bukti betapa mahalnya cara Radit membeli jawaban."

"Kalau begitu simpan di brankas. Jangan dipakai di sini."

Laras seharusnya menolak nada perintah tersebut. Namun ia membiarkan Bram memasukkan kotak itu ke laci bersama ponsel, jauh dari pandangan. Setelahnya, ia sendiri yang menarik lelaki itu kembali. Pilihan kecil itu terasa lebih jujur daripada semua tepuk tangan malam tahun baru.

Di ruang duduk, mereka sempat tertawa karena Bram hampir menjatuhkan vas saat mundur. Laras menyebutnya ceroboh. Bram membalas bahwa pianis terkenal pun menabrak meja jika terus menatap wajah orang. Setiap perpindahan bukan pengejaran tanpa arah, melainkan jeda untuk bertanya, minum, dan memastikan tubuh Laras tetap nyaman setelah kejadian di rumah sakit.

Ketika Laras meminta berhenti, Bram berhenti. Ketika ia menyentuhnya lagi, lelaki itu bertanya ulang. Justru karena tidak ada tuntutan, Laras berani memberi lebih banyak daripada yang pernah ia kira bisa ia berikan.

Bram juga tidak tampak seperti putra kedua Adiwangsa yang gemar berpesta. Ia sabar, penuh perhatian, dan kadang terlalu serius sampai Laras harus menarik rambutnya agar senyum nakal itu kembali.

"Kamu minum sesuatu?" tanya Laras setelah mereka berhenti untuk mengambil napas.

"Air mineral."

"Mustahil."

"Kamu menghina stamina alami."

"Saya sedang mempertimbangkan laporan ke badan pengawas obat."

Bram tertawa dan menutup mulutnya dengan ciuman.

Ketika malam akhirnya benar-benar tenang, Laras berbaring di tepi bak mandi dengan mata setengah tertutup. Bram masuk ke air, mengangkatnya tanpa protes, lalu membungkus tubuhnya dengan handuk hangat.

"Saya bisa jalan."

"Kemarin bilang begitu juga."

"Kemarin saya sakit."

"Sekarang kamu capek. Sama saja."

Ia mengeringkan rambut Laras perlahan, mengenakan jubah mandi pada tubuhnya, dan membawa perempuan itu kembali ke ranjang. Laras sempat melihat tato sayap berwarna biru gelap di sisi pinggangnya. Ujung bulunya mengikuti lekuk kulit, menutupi bagian yang selalu Bram hindarkan dari sentuhan terlalu lama.

Di bawah cahaya kamar mandi, satu bagian di tengah tato tampak sedikit lebih timbul daripada kulit sekitarnya. Laras mengira itu bekas gambar lama atau kesalahan jarum. Bram menggeser tubuh sebelum ia bisa melihat jelas.

"Kenapa sayap?" tanyanya.

"Karena gambar lemari terlalu besar."

"Jawaban bodoh."

"Pertanyaannya datang di waktu yang salah."

Laras menyentuh ujung tato. Bram menegang sesaat, lalu menggenggam tangannya dan mengecup buku-buku jarinya. Ia tidak menjelaskan lebih jauh.

Laras terlalu lelah untuk mendesak.

Sebelum tidur, Bram mengoleskan pelembap pada bekas tekanan di pergelangan tangannya dan memastikan tidak ada nyeri baru. Laras mengejeknya seperti petugas klinik. Bram menjawab bahwa pasien paling bandel membutuhkan pengawasan khusus. Mereka tertidur saling membelakangi, lalu bangun dengan tangan Bram tetap berada di pinggangnya.

Ia bangun mendekati tengah hari karena pinggangnya pegal dan salah satu kakinya kesemutan. Ketika mencoba berdiri, lututnya melemah. Bram yang sudah bangun menangkap siku Laras sambil menahan tawa.

"Jangan," ancam Laras.

"Aku belum bilang apa-apa."

"Wajahmu bicara."

"Katanya kamu bisa merasakan wajahku."

Laras mengambil bantal dan melemparkannya. Bram menghindar, lalu menelepon layanan kamar untuk memesan bubur, telur, buah, kopi, dan dua porsi nasi goreng.

"Dua nasi goreng untuk siapa?"

"Aku."

"Kamu punya lubang hitam di perut."

"Aku kerja keras semalam."

Bantal kedua tepat mengenai kepalanya.

Bram menangkap bantal itu dan menaruhnya di belakang pinggang Laras. Gerakannya membuat pegal berkurang. Ia juga menyodorkan air sebelum kopi dan memaksa Laras memakan buah lebih dulu.

"Kamu selalu begini setelah bersama perempuan?" tanya Laras.

Tangan Bram yang sedang membuka bungkus gula berhenti. "Nggak ada perempuan lain."

"Maksud saya sebelum ini."

"Jawabannya tetap sama."

Laras menatapnya. Pengakuan bahwa mereka sama-sama tidak berpengalaman pernah muncul pada malam pertama, tetapi mendengarnya lagi setelah hubungan mereka berubah membuat dada Laras terasa hangat.

"Jangan salah paham," lanjut Bram. "Standarku tinggi."

"Ternyata seleramu buruk."

"Seleraku cuma satu."

Laras menunduk pada gelas agar Bram tidak melihat reaksinya.

Sambil menunggu makanan, Bram menghidupkan ponsel. Puluhan pemberitahuan muncul. Ada pesan Radit menanyakan posisi untuk rapat mendadak, Yoga mengirim data vendor, dan Bimo mengirim foto kembang api yang buram.

"Mas Radit juga menginap di sini," kata Laras. "Apa dia tidak mencari kamu?"

"Dia terlalu sibuk mengenal manajer humasnya."

"Kamu tidak merasa bersalah?"

Bram menatapnya. "Kamu merasa bersalah?"

Laras tidak menjawab. Rasa bersalah ada, tetapi bukan kepada Radit. Ia merasa bersalah kepada dirinya sendiri karena pernah hampir menerima hidup tanpa cinta hanya agar semua orang lain merasa nyaman.

Ponselnya kembali menyala. Pesan dari Rakai berada paling atas.

Besok mendarat 15.40. Langsung dari London. Jangan telat, Kak.

Sebuah foto tiket elektronik menyusul. Laras tersenyum tanpa sadar. Adiknya tidak hadir saat pertunangan tahun lalu karena jadwal kuliah dan proyek akhir. Sekarang ia pulang untuk menghadiri akad yang justru sedang Laras rencanakan untuk batalkan.

Bram mencoba melihat layar. Laras langsung membalik ponsel.

"Siapa?"

"Bukan urusanmu."

"Laki-laki?"

"Mungkin."

"Nomor berapa?"

Laras teringat tuduhannya malam tahun baru. "Seribu dua."

"Berarti aku seribu satu?"

"Kamu sendiri yang membuat daftar."

Bram mendekat, menarik pinggangnya sampai Laras duduk di pangkuan. "Seribu satu itu unik."

"Itu cuma angka setelah seribu."

"Tetap satu-satunya yang sampai ke kamar."

Kalimat tersebut terdengar terlalu mirip tuntutan untuk sebuah pengakuan. Laras bangkit tepat ketika ketukan layanan kamar terdengar.

Mereka makan di ruang duduk yang menyimpan jejak malam tanpa perlu disebutkan. Bram beberapa kali mengambilkan air dan memindahkan sambal jauh dari Laras. Sikapnya begitu alami hingga Laras harus mengingatkan diri bahwa besok ia kembali menjadi calon pengantin Radit di depan keluarga.

Di layar televisi tanpa suara, berita hiburan masih memutar ulang lamaran Radit. Bram mengambil remote dan mematikannya sebelum wajah Laras muncul penuh. Tidak ada komentar sinis. Diamnya justru membuat pertanyaan yang belum pernah mereka bahas terasa hadir di antara piring: berapa lama hubungan tanpa nama ini bisa bertahan ketika tanggal akad terus mendekat?

Laras belum punya jawaban. Yang ia punya hanya rencana Tiara, bukti dalam cloud, dan keyakinan bahwa kali ini ia tidak akan naik ke panggung keluarga tanpa menyiapkan pintu keluar.

"Menginap satu malam lagi," kata Bram setelah piring kosong.

"Tidak bisa."

"Karena seribu dua?"

"Besok saya ada urusan penting."

"Batalkan."

"Tidak. Saya sudah janji menjemput dia."

Tatapan Bram langsung menyipit. "Menjemput?"

Laras mengambil tas, menikmati akibat dari rahasia kecil yang tidak berbahaya ini. "Laki-laki liar nomor seribu dua mendarat besok sore. Saya tidak boleh terlambat."

Ia berjalan keluar tanpa menjelaskan.

Di belakangnya, Bram masih duduk di sofa dengan satu lengan yang baru saja kehilangan tubuh Laras. Ia menatap pintu tertutup, lalu melihat sweater merah muda bermotif aneh yang dibelikan Laras terlipat di tas belanjanya.

Untuk pertama kalinya, angka seribu dua terasa seperti seseorang yang benar-benar harus ia temukan dan nilai sendiri mulai sekarang juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!