Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN DUA PULUH SATU
Di dalam GOR terlihat kedua tim basket yang akan bertanding , yaitu SMA Merah Putih dan SMA Bakti Utama sudah berada ditengah lapangan. Hanya saja, SMA Merah Putih baru dihadiri oleh 9 orang saja, kurang 1 orang yaitu Langit. Setibanya kedalam GOR Langit melihat timnya sudah berada ditengah lapangan, segera Langit menurunkan Rindu dan berlari ketengah lapangan. Sesaat akan berlari Rindu menarik tangan Langit.
"Nih minum dulu, tadi katanya haus, apalagi lu tadi abis gendong gue, sekalian siniin tas lu gue pegangin masa lu mau bawa-bawa tas tanding basket" Rindu menawari Langit minum.
Langit menyerahkan tasnya kepada Rindu dan menerima botol minuman yang diberikan Rindu. Langit segera meminumnya , karena kehausan Langit meminumnya hingga abis, dan segera berlari ketengah lapangan. Ditengah lapangan , rekan-rakan Langit menyambut kehadiran Langit yang sudah ditunggu dari tadi.
"Kemana aja sih lu, untung aja belum mulai, kalau udah kan lu nggak bisa ikut" tegas Ferry kepada Langit yang baru saja tiba dibarisan tim basketnya.
"Sorry abis beli minum gue diluar" jawab Langit
"Yakin cuma beli minum? Tadi gue liat lu datengnya gendong si Rindu, gue aneh sama lu, di Jakarta lu berantem mulu, disini kayak orang pacaran" ledek Rizky.
"Udah jangan dibahas, yang penting gue udah ada disini sekarang" ujar Langit.
Kelima pemain cadangan masing-masing tim meninggalkan lapangan menuju tempatnya masing-masing. Langit yang selalu menjadi pemain dalam perebutan bola pertama kali , berdiri ditengah lapangan bersama seorang pemain tim lawan dengan dibatasi seorang wasit yang melemparkan bola keudara, seketika disambut Langit dan seorang tim lawan dengan lumpatan secara bersama dan perebutan bola di udara.
Pertandingan berlangsung dengan sangat kerasnya, setiap pemain menjaga agar tim lawan tidak memasukkan bola kedalam keranjangnya. Berulang kali Langit mencoba menyerang dibantu dengan rekannya, namun selalu gagal dan bola berhasil direbut tim lawan, begitu pula sebaliknya. Beberapa kali pemain terjatuh dilapangan namun semua bersih bukan pelanggaran. Hingga setelah dianggap permainan mulai memanas, masing-masing tim mencetak angka secara bergantian.
Dari tribun SMA Merah Putih, terlihat Rindu beberapa kali memberikan semangat kepada Langit, apalagi setiap Langit memasukkan bola kedalam keranjang, Rindu selalu memberikan senyuman dan lambaian tangan kepada Langit disaat menoleh kearahnya. Keringat terlihat terus mengalir disekujur tubuh Langit disaat memasuki babak-babak akhir. Wasit terlihat meniupkan peluitnya menandakan babak ketiga telah usai, seluruh pemain bergerak menuju pinggir lapangan untuk sekedar minum dan menyusun rencana di babak terakhir.
Langit terlihat duduk meluruskan posisi kakinya sambil sesekali menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan mungkin dengan maksud menghilangkan rasa pegal pada tubuhnya. Dari atas tribun terlihat Rindu bangkit dari posisi duduknya dan segera turun dengan membawa sebuah botol minuman berwarna merah muda. Dengan sedikit berlari Rindu melewati teman-temannya, tiba disisi lapangan Rindu berniat memberikan botol minuman tersebut kepada Langit, tapi itu tidak dibolehkan. Rindu memanggil Allisya yang berada tepat dilukasi tim basket sedang beristirahat dan sedang sedikit mengoleskan obat luka ke kaki kanan Ferry.
"Allisya... Allisya" panggil Rindu sambil menepuk tangan.
Allisya yang mendengar namanya dipanggil segera menghentikan kegiatannya dan segera menoleh kearah sumber suara tersebut. Allisya melihat Rindu yang melambai-lambaikan tangan kepadanya, dia bingung apakah benar dia yang dipanggil oleh Rindu. Dengan wajah penuh kebingungan Allisya menunjuk-nunjuk dirinya sendiri menandakan "apakah dirinya yang dipanggil" , Rindu membalas dengan anggukan kepala. Setelah yakin benar dirinya yang dimaksud oleh Rindu, Allisya berlari kearah Rindu.
"Kakak manggil aku? Ada apa kak?" tanya Allisya.
"Ini Sya, nitip ini dong buat Langit, kakak mau ngasih sendiri tapi kan nggak boleh, kalau kamu kan bisa, kan kamu medis" pinta Rindu.
"Iya kak, yaudah kak siniin biar aku kasih" jawab Allisya.
"Oh iya sya, sekalian kasih ini ke Langit , bilang aja jimat keberuntungan biar juara" pinta Rindu lagi sambil memberikan sebuah gelang yang terbuat dari benang-benang dengan tulisan "Promise".
Allisya menerima semua yang diberikan Rindu, dengan cepat dia pergi meninggalkan Rindu kembali ke tempat tim basket sedang beristirahat. Sementara Rindu berdiri menunggu hingga semua diterima Langit. Dari arah Rindu terlihat Allisya memberikan botol minuman kepada Langit, Langit terlihat membaca tulisan yang terdapat dibotol tersebut yaitu kata "Semangat".
Seolah memberi tahu, Allisya menunjuk ke arah Rindu, seketika itu juga Langit melihat kearah Rindu dan tersenyum sambil menunjukkan botol minuman yang telah dipegangnya, Rindu membalasnya dengan senyuman juga. Langit segera meminum minuman yang diberikan Rindu hingga habis tak bersisa, selesai minum Langit terlihat sedang memakai gelang pemberian Rindu ditangan kirinya, sekali lagi mereka berdua saling membalas senyuman diselingi Langit yang mengecup gelang tersebut dengan bibirnya. Rindu yang melihat hal tersebut tertawa dan mengacungkan jempolnya, Langit pun ikut tertawa dan meledek Rindu dengan menjulurkan lidahnya keluar.
Wasit terdengar meniupkan kembali peluitnya, menandakan waktu istirahat telah selesai dan para pemain diharapkan kembali ketengah lapangan. Kedua tim pun segera berlari ketengah lapangan, disela dalam larinya Langit menoleh kearah Rindu, dan dari tempatnya berdiri Rindu berteriak dengan lantangnya.
"Semangat ya !!!" teriak Rindu menyemangati..
Sambil tetap menuju lapangan, Langit hanya membalas ucapan Rindu dengan sebuah senyuman dan acungan jempol tangan kanannya. Rindu senang pemberiannya dikenakan Langit, dengan wajah penuh rasa senang Rindu pergi meninggalkan posisinya kembali menuju tribun SMA Merah Putih.
Di tengah lapangan, dengan wajah-wajah penuh ambisi memperoleh kemenangan, kedua tim siap melanjutkan pertandingan kembali. Dengan selisih angka yang tidak terlalu mencoluk, kedua tim berharap di babak terakhir ini mereka tidak terlalu banyak kemasukkan angka melainkan memasukkan angka dengan sebanyak-banyaknya.
Peluit telah dibunyikan menandakan babak terakhir dari pertandingan semi final antar SMA Merah Putih dengan SMA Bakti Utama telah dimulai. Kedua tim terlihat tidak mau mengalah sama sekali, bola kini berada di tim SMA Merah Putih, dari tangan Rizky bola diumpan kearah Robby , dengan berhasil melewati 2 pemain tim lawan yang menghadangnya, Rizky mengumpan kembali bola tersebut ke Langit, kemudian Langit langsung melempar bola kearah keranjang lawan , tim lawan berusaha melumpat menghadang bola itu namun gagal, dan akhirnya bola berhasil masuk dan menambah angka untuk tim SMA Merah Putih. Serempak dari tribun SMA Merah Putih para siswa bersorak melihat angka bagi SMAnya kembali bertambah.
Kini giliran SMA Bakti Utama yang berusaha melakukan serangan, operan demi operan dilakukan untuk melewati pemain SMA Merah Putih. Ferry berusaha menghalangi setiap langkah pemain tim lawan yang bergerak mendekati keranjang timnya. Rizky yang berada diposisi belakang siap melumpat menghalangi lemparan tim lawan, beberapa kali berhasil walau terkadang gagal.
Setiap tim bekerja keras mengimbangi permainan dari tim lawannya, setiap detik sangat berharga untuk mereka mencetak angka atau sekedar menjaga agar angka tim lawan tidak bertambah. Wasit telah melihat kearah jam, menandakan waktu pertandingan akan segera berakhir, disisa-sisa waktu yang ada Langit berusaha memanfaatkan semaksimal mungkin mempertahankan keunggulan angka yang telah diperoleh atau bahkan menambahkan jika mampu.
Hingga akhirnya sang pengadil lapangan meniupkan peluitnya, dengan perolehan angka 127 melawan 113 menunjukkan kemenangan bagi SMA Merah Putih. Langit beserta temannya terlihat senang bahkan Ferry terlihat menitikan air mata karena terharu, tak menyangka sekolahnya dapat memasuki final melawan sekolah tuan rumah yaitu SMAN 2 Bandung yang terkenal dalam olahraga basketnya.
Dari tribun SMA Merah Putih terlihat seluruhnya bersorak atas kemenangan ini, Rindu bangkit dari tempat duduknya dan bergegas berlari menuruni tribun. Di lapangan Langit beserta temannya bergerak meninggalkan lapangan, selangkah Langit berada disisi lapangan langsung disambut oleh pelukan dan ucapan selamat dari Rindu.
"Selamet ya Langit, tuh kan bener kata gue , lu pasti menang" puji Rindu sambil memeluk Langit.
"Iya , makasih ya Rin, udah ah nggak enak diliatin yang lain, nanti gue dikira genit" jawab Langit sambil melepaskan pelukan Rindu.
"Eh iya maaf, jadi malu gue, yang penting selamat ya" Rindu tersipu malu mendengar ucapan Langit.
"Hehehe ini kan berkat gelang pemberian lu" ucap Langit sambil menunjukkan gelang yang telah dikenakan.
Di saat Langit dan Rindu sedang asik berbincang, tiba-tiba dipotong dengan kedatangan teman-teman Langit yang langsung merangkul pundak Langit, sontak itu membuat Langit terkejut dan Rindu seketika menjadi malu mengetahui kehadiran teman-teman Langit.
"Ehm ehmm sorry ya kalu gue ganggu, habisnya lu malah pada pacaran aja, nggak tau apa ini Langit kecapean, bukannya lu pijitin kek Rin, kan pegel-pegel tuh Langit" sindir Ferry.
"Tahu lu Rin, dipeluk mah nggak ngilangin pegelnya, hahaha peace, just kidding" sambung Rizky ikut meledek
"Apaan sih lu pada, ya udah deh gue pergi, gue kan cuma sekedar ngucapin selamet tadinya, emang salah ya?" marah Rindu dengan cemberut.
"nggak kok Rin , lu nggak salah Cuma lu meluk Langitnya itu luh, bikin si Rizky ngiri maklum udah berapa lama dia nggak dipeluk cewek, lu liat aja sampe lumutan gitu" jawab Robby
"Lah kenapa jadi gue yang kena?" tanya Rizky
Langit dan yang lain hanya terlihat tertawa mengomentari ucapan Robby tersebut. Melihat Langit dan yang lainnya sedang asik dengan kegiatannya, Rindu segera pergi meninggalkan Langit menuju ke tribun SMA Merah Putih kembali. Langit yang menyadari kepergian Rindu segera menyusulnya, sebelum Rindu naik ke tribun, Langit akhirnya mampu mengejarnya dan segera menangkap tangan Rindu dari belakang. Rindu terkejut ada yang memegang tangan nya dari belakang, sontak membuat dirinya menoleh dan melihat siapa gerangan.
"Langit? Ada apa ? nggak enak tau dilihat sama yang lain" tanya Rindu.
"Lu marah ya? Maafin gue deh kalau tadi ucapan gue atau temen-temen gue ada salah omongan ke lu" Langit mempertanyakan kenapa Rindu pergi.
"nggak Langit, gue nggak marah, sumpah dah, gue kan cuma nggak enak aja kalau nanti disekolah kita jadi bahan omongan, apalagi kalau sampai ke telinga temen-temen gue" jawab Rindu.
"Iya juga sih, apalagi temen-temen lu itu yang segeng kan pada ember" ucap Langit.
"Nah itu lu tau, tapi nggak usah pake kata ember juga kali , emang gue seember itu apa" balas Rindu.
Langit dan Rindu berjalan bersama menuju tempat duduknyamasing-masing menunggu pengumuman dari panitia. Rindu lebih dahulu tiba ditempat duduknya, sedangkan Langit sesaat akan tiba ditempat duduknya, dia terlihat memegangi pergelangan kaki kanannya seperti menahan rasa sakit. Teman satu sekolah Langit yang melihat hal tersebut langsung bangun dari duduknya dan memanggil tim medis atau anak ekskul PMR dengan menepukkan kedua tangannya. Anggota PMR yang diwakili oleh Allisya dan seorang siswa laki-laki langsung segera menuju ke tempat Langit berada.
"Kenapa kak?" tanya Allisya.
"nggak tahu nih de, kayaknya terkilir deh tadi pas lumpat salah mendaratnya" jawab Langit sambil menahan sakit.
Anggota PMR yang datang bersama Allisya langsung melihat kaki Langit, dengan sedikit mengurut dan menggerakkan pergelangan kaki Langit secara perlahan dia berusaha menyembuhkan, ditengah itu Langit terlihat menahan sakit saat beberapa kali pergelangan kakinya itu digerakkan kekiri dan kekanan.
"Tahan ya kak, biar cepet enakkan" pinta siswa laki-laki anggota PMR.
Langit tidak menjawab perkataannya, dia hanya terlihat menganggukkan kepalanya sambil terus menahan rasa sakit. Setelah sekian waktu pergelangan kaki langit di urut, pergelangan kaki itu langsung dililit dengan perban elastis.
"Makasih ya, udah sedikit enakkan kok" ucap Langit.
"Iya kak kan emang udah tugas aku, kakak jangan pakai sepatu dulu ya, nanti pulang minta dibopong sama kak Rindu aja, hehehe" ucap Allisya sambil meledek.
"Huh kamu sya, kenapa jadi nyambung ke Rindu sih , mana mau dia juga bopong kakak" jawab Langit.