Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 PERJANJIAN ITU

Malam setelah pertemuan itu terasa seperti mimpi yang mengambang, rentetan gambar yang Maya sendiri tak yakin apakah benar-benar ia alami atau hanya buah pikirannya yang mencipta agar ia terlindung dari keputusasaan.

Bara Prakoso tak memberinya waktu untuk menyesal.

"Masuk," katanya tadi, sambil membuka pintu Maserati dengan gerakan singkat, nyaris jemu, seakan menawarkan uang lima ratus juta rupiah demi seorang istri adalah hal yang ia lakukan setiap hari.

Maya pun masuk. Ia tak tahu kenapa. Mungkin karena kakinya sudah tak menurut. Mungkin karena rasa takut ditinggal sendirian di jalan sepi itu lebih besar daripada rasa takut naik ke mobil seorang mafioso. Bagian dalam Maserati beraroma kulit mahal dan wangi maskulin, sesuatu yang berbau kayu, dengan sentuhan tembakau dan sesuatu yang lebih kelam, yang tak bisa Maya kenali.

Bara menyetir dalam diam sepanjang perjalanan. Kedua tangannya yang besar dan penuh kapalan menggenggam kemudi dengan ketenangan seekor kucing besar. Kota berlalu di balik kaca jendela bagai coretan cahaya dan bayangan.

Mereka keluar dari kawasan selatan, melintasi pusat kota, lalu memasuki daerah yang Maya kenal betul: kawasan utara, tempat berdirinya mansion-mansion kaum bangsawan lama. Rumah-rumah milik mereka yang berduit sungguhan, bukan uang gaduh milik orang kaya baru, melainkan uang yang senyap, yang diwarisi turun-temurun, yang tak pernah dipamerkan.

Namun Bara tak berhenti di satu pun mansion itu. Ia terus melaju, menuju perbukitan, ke arah jalan-jalan yang berubah menjadi kawasan pribadi dan gerbang-gerbang elektrik menjaga properti yang bahkan tak tercantum di peta mana pun.

"Di mana kita tinggal?" tanya Maya, dan kata "kita" terasa seperti pengkhianatan di lidahnya.

"Anda yang akan tinggal," koreksi Bara tanpa menoleh. "Saya sudah tinggal di sana."

Mereka tiba di gerbang besi tempa, begitu tinggi hingga Maya harus mendongak untuk melihat ujungnya. Bara menempelkan telapak tangan pada pemindai biometrik, gerbang terbuka tanpa suara, dan mobil meluncur menyusuri jalan berbatu yang diapit deretan pohon cemara berusia ratusan tahun.

Mansion itu muncul tiba-tiba, bagai penampakan, bagai kastel yang keluar dari sebuah film Eropa. Bukan mansion mencolok milik seorang bandar narkoba, dengan pilar-pilar berlapis emas dan air mancur yang norak.

Ini sesuatu yang lain. Sebuah bangunan tua dari batu kelabu, dengan jendela-jendela raksasa dan sebuah menara bundar di salah satu ujungnya. Tampak berusia berabad-abad, meski Maya tahu itu mustahil. Rumah itu seperti kediaman seorang adipati, bukan seorang mafioso yang lahir dari jalanan.

"Ini... luar biasa," ujar Maya, dan itu bukan pujian basa-basi. Itu sebuah pengakuan.

Bara mematikan mesin.

"Saya tak peduli apa pendapat Anda tentang rumah saya. Yang saya pedulikan adalah pendapat Anda tentang kontraknya."

"Kontrak?"

Ia sudah membuka pintu dan turun dari mobil tanpa menunggu Maya. Maya mengikutinya, sepatu balet usangnya terbenam ke dalam kerikil di sepanjang jalan. Malam beraroma melati, tanah basah, dan sesuatu yang tak bisa ia beri nama namun mengingatkannya pada taman-taman di masa kecilnya.

Di dalam, mansion itu terasa lebih megah lagi. Ruang penerima setinggi dua lantai, tangga marmer putih yang bercabang dua, lampu-lampu kristal menjuntai dari langit-langit bagai rasi bintang pribadi. Namun semuanya terasa dingin. Tak ada foto di dinding. Tak ada bunga di dalam vas. Tak ada kehidupan. Rumah itu kosong, sebuah cangkang kemewahan tanpa hati.

Seorang pengacara sudah menunggu mereka di perpustakaan. Laki-laki berusia lanjut, berambut kelabu dan berkacamata bergagang penyu, mengenakan setelan abu-abu tanpa cela. Ia tak tersenyum ketika Maya masuk. Ia hanya mengangguk sekali, seolah ini sekadar satu urusan lagi dalam kariernya yang panjang mengabdi pada Bara Prakoso.

"Silakan duduk, Nona Adiwangsa," katanya sambil menunjuk kursi kulit di depan sebuah meja kayu mahoni. "Ada banyak yang harus kita telaah."

Maya duduk. Berkas-berkas sudah tersusun di atas meja, tertata dalam sebuah map kulit hitam. Sang pengacara membentangkannya satu per satu, menjelaskan setiap pasal dengan suara datar yang nyaris menghipnotis.

Perjanjian pernikahan. Perjanjian kerahasiaan. Perjanjian tinggal bersama. Pasal-pasal tentang harta, tentang warisan, tentang apa yang akan terjadi bila mereka berpisah. Maya tak paham separuh dari yang ia baca, tapi ia tetap menandatanganinya. Ia teken tiap halaman tanpa membaca, dengan tangan gemetar, memakai pulpen perak yang disodorkan sang pengacara.

"Besok pagi-pagi sekali kami serahkan uang jaminannya," ujar Bara, yang sedari tadi berdiri mengamati dari jendela, memunggunginya. "Begitu ayah Anda bebas, kita langsung menuju kantor catatan sipil. Pesta besarnya kita adakan belakangan. Upacara keagamaan, resepsi, segala yang diharapkan keluarga Anda. Tapi suratnya harus sudah diteken sebelum paman Anda bergerak."

Maya mengangkat pandangan.

"Ibu saya?"

"Ibu Anda akan tinggal di sini. Saya rasa beliau takkan bertahan lama di sarang kecoak tempat Anda menampungnya sekarang. Saya sudah menyiapkan satu sayap penuh untuk beliau. Dokter pribadi, perawat, apa pun yang beliau perlukan."

Bara mengatakan semua itu tanpa menoleh, tanpa secuil pun emosi dalam suaranya. Seolah ini sekadar rencana bisnis, satu transaksi lagi. Dan mungkin memang begitu.

Seorang perempuan tua masuk ke perpustakaan saat itu. Usianya kira-kira enam puluh tahun, rambutnya digelung ketat, mengenakan seragam hitam tanpa cela. Ia tak memakai topi maupun celemek, tapi tampak jelas bahwa ia kepala rumah tangga dari caranya memandang rumah itu, seakan setiap sudutnya adalah miliknya.

"Tuan Prakoso," katanya, dengan logat yang tak bisa Maya tebak asalnya, "kamar-kamarnya sudah siap."

"Terima kasih, Marta. Ini Nona Adiwangsa. Mulai besok, ia akan tinggal bersama kita."

Marta memandangnya dari atas ke bawah. Bukan tatapan yang terang-terangan bermusuhan, tapi ada kecurigaan mutlak di dalamnya, sebuah penilaian dingin yang membuat Maya merasa seperti penyusup, seperti pencuri yang baru saja menyelinap ke wilayah orang lain.

"Selamat datang, Nona," ujar Marta, dan kata-kata itu terdengar lebih sebagai peringatan ketimbang sambutan.

Maya mengangguk, tanpa tahu harus menjawab apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!