Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukungan Anne
Marcella menunjuk wajah Viktor menjawab jika dia lah yang ia panggil paman, Viktor termenung melihat seorang anak kecil memanggilnya paman, ini kedengaran aneh mungkin karena ia tak pernah berinteraksi dengan anak kecil sebelumnya.
"Dengarkan kami ya adik kecil, tuan Viktor ini bukan penculik dia adalah bos kami yang akan menangkap penculik itu." Vin yang ada di belakang Viktor pun memberi pengertian pada Marcella.
"Ah, begitu." Marcella menggumam.
"'Apakah kalian polisi?" Matteo bertanya
menyelidik.
Vin menatap anak laki-laki di sebelah Marcella, "bukan, tapi kami akan membawa pria itu ke polisi."
"Ah, kalau begitu terimakasih paman, beri dia hukuman karena dia sudah membuat adikku takut." balas Matteo lagi.
"Ya, kalau begitu. Di mana orang tua kalian? kami harus berterimakasih karena adik-adik sudah menangkap orang ini." kata Vin, dia kelihatan lebih mahir berinteraksi kepada anak kecil ketimbang Viktor.
"Kami dengan mami, tadi mami ada di-," Marco gantian menyahut dan menatap ke tempat Anne tadi berdiri, namun kini ia tak melihat siapapun disana.
"Sepertinya mami sudah pulang." Tambahnya lagi.
Vin termenung sejenak, "ah ya sudah kalau begitu terimakasih ya adik-adik, kalau begitu salah satu paman akan mengantar kalian pulang."
Marcella, Marco dan Matteo pun mengangguk.
Vin pun lalu mengantar mereka berjalan menuju pintu keluar.
Viktor hanya terdiam menatap ketiga bocah itu pergi, dia lantas menyuruh anak buah nya yang lain untuk membawa Nier, sebelum itu dia terkejut karena tubuh Nier terikat dengan tali sepatu anak kecil tadi.
"Kalian benar-benar sudah kalah dengan
nak kecil tadi!" gerutu Viktor yang merasa kagum dengan kecerdikan mereka.
Anak buahnya hanya tertunduk merutuki
diri sambil menarik tubuh Nier.
"Bawa dia ke ruang interogasi, dan tekan dia agar dia buka suara, jika tidak maka
lempar dia ke kandang buaya." perintahnya.
"Baik tuan." balas anak buahnya.
Nier tampak tercengang, namun tubuhnya terasa lemas saat ini.
***
Ketiga anak itu berjalan di depan gerbang taman lalu mereka melihat Anne tengah terduduk sedih di bawah sebuah pohon, dia tampak sedang menangis.
Sontak saja Marcella berteriak, "itu mami!"
Vin yang mengantar tadi pun menoleh ke sana, namun tubuh Anne yang membelakangi serta topi yang menutup wajahnya membuat pria itu tak dapat mengenali wajah Anne dengan jelas.
"Paman, sampai di sini saja. Kami akan pulang bersama mami, rumah kami tidak jauh dari sini." ucap Matteo pada pria itu.
"Baiklah, kalau begitu kalian tetap hati-hati ya. Jangan pergi sendiri tanpa pengawasan orang tua." peringat Vin.
"Baik paman, kalau begitu terimakasih telah mengantar kami." ucap Matteo kepada Vin.
Vin pun mengangguk, mereka bertiga lalu menjauh mendekati Anne.
Vin mengawasinya hingga mereka bertemu lagi dengan Anne.
Setelah itu barulah ia kembali untuk menemui bos nya.
"Mami!" teriak Marcella pada Anne.
Anne yang sedang menangis sesenggukan seperti orang gila di pinggir trotoar itu menoleh kebelakang dan melihat tiga anaknya berjalan dalam keadaan baik-baik saja.
Sontak saja Anne mengusap air matanya
dan memeluk mereka dengan perasaan girang, "kalian selamat! syukurlah mami sangat senang. Siapa yang sudah menyelamatkan kalian?" cecar Anne.
Mereka bertiga pun bingung karena melihat gelagat maminya yang aneh, "mami menangis?" tanya Matteo.
"Ah ya, mami sangat takut tadi ada orang
yang bilang ada bom yang akan meledak di taman ini, jadi mami di paksa keluar, mami tak sempat mencari kalian. Maafkan mami ya." ujar Anne merasa bersalah dia lalu mencium pipi Marcella, Marco, dan Matteo.
Ketiganya terhenyak mendengar cerita Anne.
"Tadi memang ada penculik yang akan menculik Marcella, tapi kami sudah menangkapnya dan seorang paman kaya yang wajahnya galak akan membawa dia ke kantor polisi, mungkin penculik itu yang sudah membawa bom." terang Matteo menjelaskan.
Anne terkesiap mendengarnya, ia jadi sangat khawatir saat ini setelah tahu akan ada yang menculik putri nya yang menggemaskan ini.
Tapi setelah anaknya menyebut paman
kaya yang wajahnya galak ia jadi teringat dengan sosok Viktor.
Tadi Viktor juga sempat menanyakan
seseorang padanya, sepertinya sosok penculik itu adalah buruan bosnya.
"Yasudah kalau begitu kita pulang saja saat ini, ya. ajak Anne.
Ketiga anaknya pun manut, mereka segera pulang dari sana.
Mungkin menghabiskan akhir pekan dengan makan-makan jauh lebih menyenangkan dari pada pergi keluar tapi membahayakan.
***
"Bagaimana apa kau sudah mengantar
anak kecil tadi pulang?" tanya Viktor pada Vin ketika mereka telah tiba di dalam mobil.
"Sudah, tuan."
Ketika itu Vin jadi teringat dengan wajah mereka, "mereka sangat menggemaskan lebih lagi mereka juga pintar." ucap Vin.
"Ya. Sepertinya mereka kembar." sahut Viktor.
Vin pun menoleh ke arah bosnya, dan tak menyangka bosnya yang tidak begitu menyukai anak kecil itu akan menyetujui
pernyataannya tadi.
Viktor kembali membayangkan gadis kecil tadi dan hatinya terenyuh ketika dia terlihat imut, pipinya besar, dengan kulit putih dan rambut ikat kuda, jarang sekali dia merasakan kekaguman ini.
***
Anne membaringkan tubuhnya di atas kasur, tubuhnya cukup lelah seharian ini, meski sebetulnya lelah tidur, karena setelah olahraga pagi dan makan dia hanya menghabiskan waktunya untuk istirahat.
la kemudian meraih ponselnya yang sudah seharian ini ia lewatkan dan terfikir jika akhir pekan esok ia akan memanfaatkan waktunya untuk mengenalkan ketiga anaknya pada kakeknya saja.
Ya, barang kali dengan itu ayahnya akan segera sadar.
Ketika dia menyalakan ponselnya tapi ia belum menerima transferan dari pria itu.
Sementara kini sudah pukul sepuluh malam, jika kemarin di jam segini dia telah mentransfernya kenapa hari ini belum? Anne pun berinisiatif untuk mengiriminya pesan, "bagaimana dengan hari ini?"
Tidak lama dia mendapatkan balasan, "hari ini sepi, aku tidak mendapatkan orderan."
Anne menatap gelisah, jangan sampai pria itu tiap hari akan seperti ini, karena jika itu terjadi maka bisa-bisa dia akan berhenti setor uang kepadanya.
Anne pun segera memutar otaknya dan
memberi dia beberapa saran.
Dia pun lalu menelepon pria itu.
"Halo!" sapa Anne, yang di beri balasan berupa deheman dari pria itu.
"Sepertinya kamu harus merubah penampilanmu malam ini, kamu juga jangan terlalu cuek pada tante-tante girang di sana, kamu harus lebih genit dan pandai menggoda." ucap Anne dia berpikir balasan cuek pria itu yang membuat wanita enggan memesannya.
"Buka bajumu dan perlihatkan dada juga
perut berototmu. Mungkin kamu juga harus memberi diskon untuk menarik pelanggan, pokoknya kamu harus bisa merayu dia." lanjut Anne dia lalu memberi kiat-kiat dalam melakukan marketing yang pernah dia pelajari semasa sekolah dulu.
"Kamu harus memberi tahu mereka, bahwa kamu memiliki stamina yang bagus, kekuatan yang tinggi dan ketahanan yang lama."
"Ketahanan yang lama?" Viktor memotong perkataan Anne dengan cepat.
"Ya." balasnya.
"Sepertinya kesanmu padaku di malam itu sangat mendalam sampai kamu masih ingat jika aku tahan lama." balas Viktor dengan suara dingin.
Anne memerah malu dia segera menggeleng, "tidak, tidak, waktu itu aku tidak sadar jadi bagaimana aku bisa mengingatnya?"
"Sudahlah jangan meledekku, sebaiknya
kamu terapkan apa yang aku katakan itu. Dan jangan pilih-pilih pelanggan, meski pun wanita itu gemuk."
Viktor terdiam dengan raut wajah gelap.
"Sudahlah, aku akan menyusulmu kesana. Sebagai bos yang baik memang harus mengontrol bawahannya bukan?" kata Anne dia lalu mematikan sambungan itu tanpa ingin mendengar balasan Viktor dahulu.
Anne pun bersiap-siap malam ini, ketiga
anaknya telah tertidur.
Dia berpenampilan dengan celana jeans juga kaus berwarna biru muda yang memperlihatkan perut rampingnya.
Dia menghentikan sebuah taksi kemudian pergi, namun sebelum itu dia mampir ke sebuah toko obat untuk membeli pengaman juga obat kuat, ia tersenyum geli menatap benda-benda itu di tangannya, namun ini semua demi kebaikannya, karena malam ini pria itu harus menghasilkan.
Dia begitu penuh tekad.
Setiba di dalam bar, Anne segera melangkah kan kakinya menuju ruang
dan benar di sana sudah ada pria itu sedang duduk dengan tenang disana masih dengan topengnya, sambil menyesap anggur nya.
Seperti biasanya pria itu selalu terlihat dingin dengan aura penuh penindasan.
Anne menepuk bahu pria itu setelah tiba di sana, dan duduk di sampingnya.
Viktor pun menoleh ke samping, penjaga
nya yang ada di pintu pun sudah paham
mereka harus membiarkan Anne masuk tiap kali kesini.
"Hei, dengarkan aku kenapa penampilan
mu masih saja seperti ini? tante girang ingin mencari kepuasan tapi jika raut wajahmu seperti ini siapa yang akan melihatmu?"
"Terserah ada yang mau melihatku atau
tidak." Viktor tampak acuh hingga membuat Anne makin geram.
"Kamu tidak bisa seperti ini terus, jika kamu pasrah maka bagaimana dengan nasibmu juga hutangmu padaku?"
Viktor menoleh menatapnya Anne, Dia memang perhatian dengannya tapi perhatian itu hanya serta merta untuk ia
menghasilkan uang untuknya.
"Jadi kanmu harus semangat lagi, oh ya aku membawa obat kuat juga beberapa kotak pengaman untukmu." Anne mengeluarkan benda itu dari tasnya dengan rasa malu-malu.
"Nah ini, kamu harus minum ini ku yakin
setelah ini stamina mu pasti pulih."
Viktor menatap botol obat yang di julurkan Anne dan melengkungkan senyum tipsnya, "aku tidak butuh obat kuat lagi, staminaku bagus." dia lalu mendekati wajah Anne dan berbisik di depan matanya.
"Bukankah kamu sudah pernah merasakannya?"
Anne terhenyak seketika saja pipinya merona.
Dia pun segera menjauhkan wajahnya.
la jadi kikuk namun kemudian dia tetap
bersikap tenang, "ah, ... um,... itu kan dulu, mungkin sekarang sudah berbeda."
"Jadi kamu meremehkan kekuatan ku?" Viktor kembali mendekatkan wajahnya pada gadis itu dan membuat Anne merinding merasakan embusan nafas darinya.
"Ti... tidak begitu, aku tidak meremehkanmu tapi aku peduli, jadi tolong hargai perjuangan ku." balasnya.
"Kamu mau aku menghargaimu berapa?" Viktor berbisik.
Anne kikuk, "em... dengan memberi setoran padaku malam ini saja sudah cukup." Jawabnya dia menopang tubuhnya dengan telapak tangan yang besandar di belakang tubuhnya ketika Viktor menatapnya begitu dekat seperti ini.
Merasakan aura intimidasi ini Anne pun berusaha untuk mengalihkan pembahasan.
Dia melirik ke segala arah dan melihat dua gelas anggur, bekas minuman milik Vin yang belum di bereskan.
"'Apakah barusan ada pelanggan datang?"
"Ya, tapi aku menolaknya. Dia sudah tua
dan sangat gendut. Aku tidak ingin mati di tempat tidur." balasnya.
Sontak saja Anne terkekeh puas, "kamu sangat kuat tidak mungkin mati semudah itu."
Viktor memicingkan matanya, lalu menarik tangan Anne yang menopang tubuhnya hingga membuat ia refleks terjatuh ke dalam dadanya.
Manik mata tajam Viktor menyorotnya
dalam, "mengapa tidak kamu saja yang
mencoba kekuatan ku dulu." godanya.
"Ah, tidak. Kamu jangan aneh-aneh denganku. Atau aku akan melaporkan mu
pada polisi malam ini juga."
Viktor mendekatkan wajahnya ke depan
telinga gadis itu dan menarik pinggang
rampingnya menempel pada tubuhnya.
"Laporkan saja." dia langsung mengecup daun telinga Anne dan melumatnya.
Anne terkejut dia melenguh dan merasakan sensasi yang menggelitik di tubuhnya.
"Laporkan saja, aku tidak takut, karena jika aku di penjara hutangku lunas!" imbuhnya.
Bola mata Anne membulat sempurna mendengarnya, "kau ..."
Belum sempat protes cumbuan Viktor
berpindah ke bibir Anne dan melumatnya, gadis itu terkesiap dia memukul dada pria itu dan ciuman itu malah berpindah ke lehernya.
"Engh..." Anne terkesiap saat merasakan
sentuhan itu seperti sengatan listrik yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Menjauhlah jangan kurang ajar!" Anne mendorong wajah pria itu, dan Viktor pun terkekeh puas setelah mengakhiri cumbuan itu.