Indonesia
NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

 

"Apa? Katakan saja."

"Kita kan belum pernah keluar makan bersama dengan keluarga lainnya. Kalau malam nanti kita makan di luar saja, ajak keluarga dan Tante Martha sekalian dengan putrinya. Gimana, Paman?"

Sean terdiam sejenak, mencerna maksud dan rencana gadis itu. Sean menduga, kalau Sera sedang merencanakan cara mengeluarkan kakaknya dari rumah sana.

"Baiklah. Makan malam nanti kita makan di luar," jawab Sean akhirnya.

"Paman itu baik sekali sama aku! Makasih ya, Paman!" bisik Sera bahagia, lalu menarik tangannya perlahan dari bahu Sean. "Aku keluar dulu ya, Paman." Dia tersenyum manis dan langsung bergegas keluar dari ruangan itu.

Aku hampir saja tertipu olehmu, Sera. Seandainya aku tidak menikahimu, pasti aku belum tahu kalau kau sebenarnya bukan Sarah, batin Sean.

Sera buru-buru langsung turun ke kamar pembantu di lantai bawah. Di sana, dia melihat kakaknya yang masih terbaring dan belum membuka mata. Dia mengambil ponsel, menekan nomor Dion.

Tut… Tut… Tut…

Dion yang sedang bertugas di rumah sakit melihat panggilan dari Sera, langsung mengangkatnya.

"Halo, Sera? Kamu di mana?"

"Pokoknya jangan banyak tanya, Dion. Malam nanti kau harus membantuku!"

"Membantu apa, Sera? Oh ya, kok aku hubungi nomor Sarah berkali-kali tidak bisa tersambung? Sudah tiga hari ini lho aku coba hubungi dia…"

"Itu dia masalahnya. Nanti aku jelasin. Sekarang kakakku terperangkap lagi di rumah neraka ini!"

"Apa? Bagaimana bisa Sarah—"

"Nanti kita bahas. Yang pasti, malam ini sekitar jam tujuh, kau harus datang ke kediaman Tuan Sean."

"Kenapa ke sana?"

"Kakakku sekarang sedang sekarat, Dion! Kakakku disiksa di sini… Dan kakak sepertinya benar-benar trauma, sampai-sampai aku saja dia tidak mengenalnya!" Suara Sera mulai serak. "Kakak harus keluar dari sini dan harus mendapat perawatan yang baik sebelum ada yang mengetahuinya. Tolong ya, malam ini kau harus bertindak!"

"Baik! Aku tidak masalah. Sebenarnya aku masih punya jadwal, tapi tidak apa-apa, aku akan tinggalkan buat kamu. Pokoknya kasih tahu aku kapan waktunya aku bisa masuk."

"Baiklah. Oh ya, satu lagi—tolong hubungi temanmu itu, dan suruh dia cari tahu bagaimana keadaan perusahaan Kak Sarah sekarang. Aku ingin tahu semua detailnya."

"Baik, aku akan segera melaksanakannya."

"Terima kasih. Aku tutup dulu ya."

Sera buru-buru menutup panggilannya, lalu keluar lagi dari kamar pembantu.

Dia berjalan cepat mencari Bianca—salah satu orang yang selalu menyiksa kakaknya. Tak lama kemudian, dia melihat Bianca yang sedang bersantai di dapur, membaca majalah sambil bersandar di kursi.

Sera diam-diam masuk tanpa Bianca sadari. Dia membawa sebuah kotak kecil yang berisi pil obat tidur.

Gadis itu melihat botol air minum Bianca yang biasa wanita itu gunakan—botol berwarna biru muda yang selalu dia taruh di rak kulkas. Sera tahu itu milik Bianca, karena dia sering melihat wanita itu minum menggunakan botol tersebut.

Mengeluarkan pil obat tidur dari kotak, lalu membuka tutup botol air Bianca dengan hati-hati.

Dia memasukkan pil itu ke dalam botol dan menggoyangkan sedikit agar pilnya larut. Setelah itu, dia menutup tutup botol kembali dan meletakkan lagi di rak kulkas semula, sama seperti posisi sebelumnya.

_____

"Bu, Ibu nggak merasa aneh ya dengan Paman Sean? Kok tumben-tumbennya dia mengajak kita semua makan di luar?" tanya Raisa sambil merias wajahnya di kamar ibunya.

"Ibu juga merasa aneh dengannya. Selama ini dia tidak pernah peduli dengan kita semua."

"Apa Paman Sean sedang merencanakan sesuatu ya?" tanya Raisa lagi, rasa penasaran.

Rika menggeleng. "Tidak mungkin. Meskipun Ibu tidak akrab dengan anak itu, Sean bukan jenis orang yang suka mengurusi sesuatu yang bukan urusannya."

"Terus, kok tiba-tiba ya?"

"Sudahlah, jangan dipikirkan. Mungkin dia salah makan obat saja."

Tak lama kemudian, mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga. Adrian terlihat malas untuk pergi, tapi karena tidak berani membantah Sean, mau tidak mau dia harus menurut.

"Tumben Paman Sean ajak kita keluar makan malam," tanya Adrian.

"Jangan tanya Ibu, Ibu juga tidak tahu," jawab Rika ketus.

"Ada apa dengan Tuan Sean? Bahkan aku dengan putriku juga diajak," ujar Martha yang baru keluar dari kamar pembantu di bagian belakang rumah.

Berbeda dengan putrinya, Alena—yang memang diistimewakan dan tinggal di lantai atas.

Tak lama kemudian, Sean muncul di ruang tengah.

"Jadi kita mau berangkat?" tanya Adrian.

"Hm." Pria itu hanya berdehem singkat.

Sera pun baru muncul, hanya memakai pakaian santai yang sederhana. Raisa langsung menatapnya dari atas sampai bawah, lalu dari bawah kembali ke atas dengan tatapan merendahkan.

"Kak, kamu tahu nggak kita itu mau makan di restoran mewah lho? Kamu pakai baju kayak gitu? Yang benar saja, malu-maluin tahu nggak!" Ketus Raisa.

Sera menunduk melihat pakaiannya sendiri. "Nggak kok, ini sudah bagus."

"Jangan bercanda deh, Kak! Mending Kakak nggak usah ikut deh, malu-maluin!"

Sera tiba-tiba memegangi perutnya dengan wajah meringis. "Aduh… Aku kayaknya mules deh… Gimana ya… Aku kayaknya nggak bisa ikut…" Sera mulai memberi alasan.

"Segera ke toilet. Kalau kau tidak ikut, berarti makan malam ini dibatalkan," datar Sean tegas, membuat Sera terperanjat kaget.

Sial… Sepertinya dia tidak membiarkanku tinggal sendirian… Baiklah…

Sera buru-buru berbalik. "Aku ke toilet dulu!" Dia sengaja memperlambat waktunya.

"Semua berangkatlah dulu. Nanti aku susul di belakang. Kalian juga tahu kan mau ke mana?" ujar Sean.

"Ya, Paman," jawab Adrian.

Mereka pun berangkat bersama-sama meninggalkan rumah.

Gadis ini… Sean menggelengkan kepala melihat kelakuan Sera yang terlalu banyak bersandiwara. "Max," panggilnya.

"Ya, Tuan?"

"Ayo kita tunggu diluar,"

"Baik, Tuan."

Sesampainya di luar gerbang, Sean menyuruh Max memarkir dan menyembunyikan mobil di tempat yang agak jauh.

Dia ingin melihat dengan matanya sendiri apa yang akan dilakukan Sera setelah semua orang pergi.

Benar saja, selang beberapa menit, Sera terlihat keluar melalui gerbang. Dia berjalan menuju pos penjagaan.

"Pak? Pak?" panggilnya sembari membuka pintu pos satpam. Ternyata kosong. Tidak ada siapa-siapa.

"Kok tumben tidak ada orang?" gumam Sera dengan wajah bingung. Dia merasa aneh, lalu kembali masuk ke dalam rumah. Dia melangkah ke tengah ruangan, melihat sekeliling.

"Kok bisa ya… Sunyi sekali… Benar-benar tidak ada orang…" gumam Sera tanpa dia mengetahui, kalau Sean yang sengaja mengosongkan rumah itu.

Sera segera menghubungi Dion, memintanya masuk sekarang juga. Tak lama kemudian, Dion tiba dengan mobilnya.

"Dion!" panggil Sera berbisik saat melihat pria itu memarkir mobilnya tepat didepan pintu utama. "Ayo cepat! Kakakku ada di dalam sini!"

"Ayo!" Cepat Dion tidak punya waktu untuk menoleh ke sekeliling.

Sera menarik pergelangan tangan Dion, bergegas menuju kamar pembantu di bagian belakang.

Namun karena sedikit lalai, Sera tidak menyadari satu hal—Bianca ternyata belum meminum obat tidur yang tadi dia campurkan ke dalam air minum wanita itu.

Bianca justru sedang berada di sana, dan melihat dengan jelas saat Sera menarik seorang laki-laki masuk ke dalam kamarnya.

"Sarah?!" Bianca melotot tak percaya. "Berani-beraninya dia selingkuh dari Adrian!"

Dion segera mendekati kasur itu dan membuka selimut yang menutupi tubuh Sarah. Dia terperanjat, matanya tak percaya melihat kondisi Sarah yang penuh luka dan lebam.

"Astaga… Apa yang sudah terjadi dengannya? Mereka benar-benar sudah keterlaluan!" ujar Dion dengan nada geram.

"Iya… Mereka memang sudah keterlaluan, Dion. Ayo cepat, angkat dia sebelum kita ketahuan!" desak Sera cemas.

Dion segera menutup kembali tubuh Sarah dengan selimut tipis itu, lalu berniat mengangkatnya. Namun tiba-tiba suara lantang terdengar dari arah pintu.

"Sarah! Kamu selingkuh!"

Sera dan Dion serentak menoleh ke pintu. Di sana, Bianca sudah berdiri tegak dengan wajah penuh kemarahan, menatap mereka dengan tatapan tajam.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!