Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan apa-apa dipendam sendiri...
“Kak Ardan…”
Naresa mengguncang pelan bahu suaminya, berusaha membangunkan lelaki itu yang masih terlelap. Padahal, jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, tetapi Ardan belum juga membuka mata.
Sebelumnya, sekitar pukul 5 tadi, Naresa sudah lebih dulu membangunkannya. Ardan bahkan sempat mengiyakan panggilannya dengan suara lirih. Mengira suaminya benar-benar akan segera beranjak dari tempat tidur, Naresa pun turun ke lantai bawah membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan.
Sebagian besar pekerjaan sudah diselesaikan ART, sehingga ia hanya menata meja makan dan menemani ibu mertuanya membuat jus belimbing dan seledri, minuman yang hampir selalu tersedia setiap pagi di rumah itu.
Begitu semuanya selesai, Naresa kembali ke kamar dengan harapan Ardan sudah bersiap. Namun harapan itu pupus begitu mendapati suaminya masih meringkuk nyaman di balik selimut, seolah tak pernah berjanji akan segera bangun.
“Kak!” panggil Naresa lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras. Ia kembali mengguncang bahu Ardan. “Bangun, ih. Mommy udah nunggu.”
Karena tak juga mendapat respons, Naresa mengembuskan napas pelan. Ia membungkukkan badan hingga bibirnya berada tepat di sisi telinga sang suami.
“Kak… ayo bangun.”
Ardan hanya menggeliat pelan. Melihat itu, sudut bibir Naresa perlahan terangkat. Tanpa banyak berpikir, ia meniup pelan daun telinga suaminya beberapa kali.
“Kak Ardan…”
Kali ini reaksi Ardan jauh lebih kentara. Lelaki itu meringis kecil sambil mengangkat tangan untuk mengusap telinganya, lalu perlahan memijat pelipisnya sendiri seolah denyut di kepalanya belum juga mereda.
Melihat akhirnya ada respons, Naresa segera berdiri tegak. Tatapannya tak lepas mengikuti setiap gerak-gerik suaminya.
“Sayang…” gumam Ardan dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
“Iyaa… sayangku, cintakuu…” sahut Naresa datar, seolah sudah hafal betul kebiasaan suaminya setiap kali membuka mata.
Kekehan pelan lolos dari bibir Ardan. Dengan sedikit susah payah, ia mendorong tubuhnya hingga duduk, lalu menyandarkan punggung dan kepalanya pada kepala ranjang. Raut lelah masih tergambar jelas, tetapi senyum lebarnya mengembang begitu matanya menemukan sosok sang istri yang berdiri di samping ranjang. Bibirnya baru saja terbuka, hendak mengatakan sesuatu.
“Iya, iya, nanti aja,” potong Naresa lebih dulu sambil menyingkap selimut. “Sekarang mandi dulu yang cepet. Mommy udah nungguin kita di bawah."
Ardan terdiam beberapa saat seakan sedang mengumpulkan nyawa sebelum akhirnya menatap istrinya dengan wajah yang dibuat seserius mungkin. Alisnya sengaja bertaut, bahkan sorot matanya tampak begitu fokus, seolah benar-benar hendak menegur sang istri.
“Masa kamu nyuruh Mommy nunggu?” katanya pelan. Ia menggeleng beberapa kali, masih mempertahankan raut serius yang nyaris tak bercelah. “Ihh, nggak boleh tahu…”
Seketika tangan Naresa yang sedari tadi melipat selimut berhenti. Ia menoleh cepat ke arah Ardan dengan wajah yang perlahan dipenuhi kepanikan.
“Terus gimana dong?” tanyanya lirih. “Tapi kan tadi Mommy sendiri yang nyuruh aku bangunin Kak Ardan dulu.”
Berbagai kemungkinan langsung memenuhi kepalanya. Jangan-jangan memang seharusnya ia mempersilahkan ibu mertuanya makan lebih dulu. Atau mungkin, tanpa sadar, ia sudah melakukan sesuatu yang kurang sopan?
Dengan raut memelas, Naresa kembali duduk di tepi ranjang sambil membelakangi suaminya. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Bahunya ikut merosot, seolah tak tahu lagi harus berbuat apa.
“Kak Ardan sih… pakai telat bangun segala,” gumamnya pelan. “Jadi serba salah, kan.”
Melihat istrinya benar-benar termakan umpannya, Ardan tak lagi mampu mempertahankan ekspresi datarnya. Sudut bibirnya perlahan terangkat sebelum kekehan pelan lolos begitu saja.
Tanpa banyak bicara, Ardan merapat dari belakang lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Naresa. Dagunya bertumpu santai di bahu sang istri. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup wangi sampo yang masih tertinggal di rambut Naresa, bercampur dengan aroma bersih kulit perempuan itu.
Selalu begini. Memeluk Naresa selalu membuatnya ingin lebih lama menikmati kedekatan itu. Namun, ia sadar, ada batas yang belum ingin ia lewati sebelum istrinya benar-benar siap.
“Bercanda, ya, sayangku...” bisiknya lembut di dekat telinga Naresa.
Bibirnya bergeser perlahan dari telinga menuju sisi leher perempuan itu. Sebuah kecupan hangat mendarat di sana, sengaja dibiarkan singgah beberapa saat sebelum ia memberi gigitan kecil yang jahil.
“Kebiasaan, ih!” protes Naresa sembari buru-buru berdiri. Telapak tangannya refleks mengusap bekas ciuman di leher, sementara Ardan tertawa kecil melihat reaksi istrinya.
“Buruan mandi!” Naresa menarik pergelangan tangan Ardan, berusaha menyeretnya turun dari ranjang. “Mommy udah nungguin.”
“Pelan-pelan, sayang,” rengek Ardan sambil terkekeh. “Aku masih pusing, loh.”
Naresa hanya menggeleng kecil. Setelah memastikan suaminya benar-benar masuk ke kamar mandi dan pakaian suaminya telah diletakkan di atas ranjang, ia pun keluar dari kamar.
Langkahnya menuruni tangga, tetapi pikirannya masih dipenuhi berbagai kemungkinan yang sejak tadi mengganggunya.
Karena terlalu larut dalam pikirannya sendiri, Naresa tak menyadari langkahnya berakhir membentur seseorang.
“Aduh.”
Pandangannya refleks jatuh pada lengan seseorang yang baru saja ditabraknya. Guratan tato yang tampak di sana seketika menarik perhatiannya. Baru setelah itu ia mendongak.
“Aduh… maaf ya, Kale. Aku nggak sengaja,” ucapnya cepat begitu menyadari orang di hadapannya adalah adik iparnya.
“Hmm.” Kale hanya berdeham pelan sebelum melangkah menuju ruang makan.
Melihat itu Naresa hanya mengusap dahinya, lalu ikut melangkah di belakangnya. Entah mengapa, pembawaan Kale selalu terasa berbeda dari Ardan.
“Ardan nya sudah bangun, Res?” tanya ibu mertuanya begitu melihat Naresa memasuki ruang makan.
“Udah kok Mom. Kak Ardan nya lagi mandi,” jawab Naresa sambil menarik kursi yang berada di samping kursi Ardan, tempat yang selalu ia tempati setiap kali makan bersama keluarga itu.
“Di sini saja, Res.” Ibu mertuanya menepuk pelan permukaan meja di depan kursi kosong di sebelahnya.
Gerakan Naresa terhenti. Ia menoleh ke arah kursi yang dimaksud, lalu tersenyum canggung. “Ini kan tempat Kak Ardan, Mom.”
“Ya ampun, Res… Memangnya ini kursi bakal ngambek kalau kamu dudukin?”
“HAHAHA!”
Kale langsung terbahak. Tawa renyahnya memenuhi ruang makan hingga membuat Naresa refleks menoleh. Lelaki itu bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepala sambil sesekali menepuk permukaan meja.
“Ada-ada aja sih, Mom,” katanya begitu tawanya mulai mereda.
Sang ibu hanya tersenyum kecil. “Udah, duduk aja.”
“Iya, Mom,” jawab Naresa pelan sebelum akhirnya menarik kursi itu dan duduk di samping ibu mertuanya. Kini posisinya tepat berhadapan dengan Kale. Pandangannya sekilas jatuh pada piring kosong di hadapan ibu mertuanya.
“Mommy tadi makan duluan. Sebentar lagi harus berangkat, soalnya ada jam pagi.” Beliau berdiri dari kursinya. “Jusnya ada di kulkas. Nanti kamu kasih ke Ardan, ya. Sekalian kamu juga minum.”
“Oh, iya. Makasih banyak.”
“Mau dianter nggak, Mom?” tanya Kale sambil menoleh.
“Nggak usah. Mommy bisa sendiri. Kamu juga jangan lupa minum jusnya.”
“Iya. Hati-hati di jalan.”
Mendengar itu, Naresa ikut beranjak dari duduknya, berniat mengantar ibu mertuanya sampai depan rumah. Namun baru saja berdiri, beliau lebih dulu mengangkat tangan, menghentikan niatnya.
“Nggak usah diantar, Res. Makan aja.”
“Oh, iya.”
Naresa kembali duduk sambil memperhatikan ibu mertuanya berjalan meninggalkan ruang makan hingga sosoknya menghilang di balik pintu.
“Chill aja, kali.”
Naresa kembali mengalihkan pandangannya. Ia hanya membalas dengan senyum kecil yang terasa canggung.
“Kalau pembawaan lo sekaku itu, orang-orang malah jadi segan sama lo,” ujar Kale santai sembari menyuap makanannya. Tatapannya tetap tertuju pada Naresa. “Dalam hubungan sosial itu santai aja. Nggak semua hal harus dibawa tegang.”
“Keliatan banget, ya?”
“Banget.” Jawaban itu meluncur begitu saja tanpa ragu. “Dari gerak-gerik lo aja udah keliatan. Lo tuh terlalu mikirin semuanya. Cara ngomong, cara duduk, bahkan tadi mau nganter Mommy aja kayak takut salah.”
Kale kembali menyuap makanannya sebelum melanjutkan. “Kalau gitu terus, lama-lama lo capek sendiri.”
Naresa hanya mengangguk. Ucapan Kale memang tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, ia tidak terlalu suka jika ada orang yang merasa sudah memahami dirinya hanya dari apa yang tampak.
“Lagi ngobrolin apa, nih?”
Suara Ardan yang tiba-tiba terdengar membuat kepala Naresa spontan menoleh. Entah mengapa, melihat suaminya muncul saat itu juga menghadirkan sedikit rasa lega.
“Duduk, Kak.” Ia menepuk pelan kursi kosong di sampingnya.
Sebelum menarik kursi, Ardan lebih dulu mengusap lembut puncak kepala Naresa. Sentuhan singkat itu membuat sudut perempuan tersebut terangkat tipis sebelum Ardan akhirnya duduk di sisinya.
Naresa segera mendorong segelas air putih ke hadapannya suaminya. “Minum dulu.”
Ardan menurut tanpa banyak bicara. Setelah itu Naresa mengambil piring kosong di hadapannya, lalu menyendokkan nasi hangat beserta lauk pauk yang sudah tersedia di meja.
“Kamu juga makan, sayang.” Kata Ardan begitu melihat piring Naresa masih kosong. “Apa mau aku suapin?” godanya sambil tersenyum usil.
“Iya.”
Jawaban Naresa tetap datar, tetapi yang ia maksud adalah ucapan Ardan sebelumnya agar ia ikut makan. Tangannya justru sibuk mengambil nasi ke piringnya sendiri, seolah pertanyaan jahil suaminya memang tak perlu ditanggapi lebih jauh.
Ardan hanya terkekeh kecil. Ia sudah terlalu mengenal istrinya untuk tahu bahwa perempuan tak pernah benar-benar nyaman menunjukkan kemesraan di hadapan orang lain, tak terkecuali adik iparnya sendiri.
Tak lama kemudian, mereka menikmati sarapan masing-masing. Suara sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring mengisi keheningan hingga akhirnya Kale kembali membuka percakapan.
“Lo semalem kenapa?” Tatapannya beralih kepada sang kakak. “Bisa-bisanya lo pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.” Katanya lalu meneguk segelas air putih.
Ardan menghentikan kegiatan makannya. Ia meletakkan sendok itu di atas piring, lalu menatap adiknya. “Kayak lo nggak pernah aja.”
“Ck.” Kale berdecak lalu mengalihkan pandangannya sekilas. “Beda, Bang.”
Ia mengambil sepotong buah pir sebelum kembali melanjutkan. “Lo harusnya inget, Papi baru aja pergi beberapa hari yang lalu. Kalau Mommy sampai liat kondisi lo semalam, gimana?”
Ardan tak langsung menjawab.
Kale menyandarkan punggungnya pada kursi. Nada bicaranya tetap datar, tetapi tak terdengar menghakimi. “Makannya, jangan apa-apa dipendem sendiri.” Pandangannya bergeser sekilas ke arah Naresa, lalu kembali kepada sang kakak.
“Sekarang lo udah punya istri. Kasihan istri lo kalau terus dibiarin nebak-nebak sendiri.”