Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Tamat
Popularitas:254.4k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.

Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.

Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.

Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?

_____________

"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PARA PENJILAT

Nico segera melangkah mendahului untuk membukakan pintu ruang rapat utama, begitu pintu itu terbuka lebar, suara riuh perdebatan para menteri dan bangsawan tinggi langsung terdengar berdengung memenuhi ruangan.

"Yang Mulia Kaisar memasuki ruangan!" seru Nico lantang.

Seketika itu juga, ruangan yang tadinya penuh dengan suara protes mendadak senyap seketika.

Seluruh menteri dan petinggi kekaisaran langsung membungkuk hormat dalam-dalam dengan wajah tegang.

"SALAM YANG MULIA KAISAR ZANE CALIBER!"

Kaisar Zane melangkah masuk dengan angkuh, jubah hitamnya berkibar pelan mengikuti setiap ayunan kakinya.

Pria itu berjalan langsung menuju kursi utama di ujung meja panjang, lalu duduk tanpa mempersilakan siapa pun berdiri.

"Kalian boleh berdiri," ucap Kaisar Zane datar, suaranya yang berat langsung menekan udara di dalam ruangan.

Para menteri dan petinggi dewan mengangkat tubuh mereka secara serempak.

Seorang menteri senior berjanggut putih, memberanikan diri maju beberapa langkah dengan raut wajah cemas yang dibuat-buat.

"Yang Mulia... mohon maaf atas kelancangan kami mendatangi Anda pagi-pagi begini," ucap salah satu menteri dengan nada gemetar tapi terkesan mendesak.

"Selama bertahun-tahun, kalian sibuk menjilat Luis, membiarkan dia bertingkah bodoh, dan menutup mata atas semua kesalahannya karena kalian pikir dia bakal jadi boneka yang gampang diatur di atas takhta!" ucap Kaisar Zane telak, membuat semua orang yang ada di sana langsung bungkam.

"Sekarang, begitu sampah itu kubuang, kalian mendesak ku mencari pengganti? Apa kalian pikir mencari seorang Putra Mahkota itu semudah membalik telapak tangan, hah?!" bentak Kaisar Zane keras, membuat meja rapat bergetar kecil akibat tekanan auranya yang meluap.

Seluruh menteri langsung menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tidak ada yang berani membuka mulut atau sekadar mendongak menatap Kaisar.

"Dengar baik-baik, para penasihat yang terhormat," ucap Kaisar Zane dengan suara berat yang menekan dada setiap orang di ruangan itu.

"Soal siapa yang akan menjadi pewaris takhta, itu adalah urusanku sepenuhnya! Bukan urusan kalian untuk mendikte atau mengatur siapa yang harus ku dudukkan di istana ini!" lanjut sang Kaisar penuh penekanan.

"Tapi, Yang Mulia..." cicit seorang menteri kecil di barisan belakang.

Kaisar Zane langsung melayangkan tatapan tajam membunuhnya hingga menteri itu langsung menelan ludahnya dan menutup mulut rapat-rapat.

"Kalau kalian masih berani mengatur-ngatur urusan pribadiku dan keluarga kerajaan, aku pastikan kepala kalian menyusul Luis ke penjara bawah tanah!" ancam Kaisar Zane tanpa ampun.

"Keluar dari sini sekarang!" perintah Kaisar Zane melambaikan tangannya pelan.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, para menteri dan petinggi kekaisaran langsung membungkuk kaku, lalu berhamburan keluar dari ruang rapat dengan langkah terburu-buru, ketakutan, menghadapi kemarahan sang penguasa.

Nico yang berdiri di sudut ruangan mengembuskan napas lega setelah para tikus istana itu pergi.

"Sekelompok orang tua yang cuma tahu cara cari muka," gerutu Kaisar Zane dingin.

"Nico," panggil Kaisar Zane tiba-tiba.

"Saya, Yang Mulia?" sahut Nico sigap.

"Bagaimana laporan mata-mata soal keluarga Velis?" tanya Kaisar Zane, dingin.

Nico menegakkan posisinya, lalu melaporkan dengan cepat.

"Keluarga Velis saat ini sedang diusir dari kediaman mewah mereka karena memiliki utang ratusan keping emas setelah status bangsawan mereka dicabut, Yang Mulia," lapor Nico.

Kaisar Zane menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya, bayangan mata tajam Aura kembali melintas di kepalanya.

Kaisar Zane bersedekap dada, menatap keluar jendela ruang rapat dengan pandangan dingin yang sulit diartikan.

"Bagus, biarkan mereka membusuk dalam kemiskinan," ucap Kaisar Zane singkat.

"Bagaimana dengan Lady Aura, Yang Mulia? Apakah perlu saya menugaskan pengawal rahasia untuk mengawasinya?" tanya Nico memastikan.

Kaisar Zane terkekeh pelan, tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Tidak perlu," jawab Kaisar Zane datar.

"Gadis itu punya cakar yang cukup tajam untuk mengoyak musuh-musuhnya sendiri. Mengawasinya hanya akan membuat dia tersinggung," lanjut sang Kaisar, teringat bagaimana Aura menatapnya tanpa rasa takut sedikit pun di balkon tadi.

Sementara itu, kereta kuda berukir lambang keluarga Luminar sedang bergerak pergi meninggalkan area istana.

"Nona! Akhirnya kita pulang juga!" seru Sora setengah berbisik.

"Saya tadi di bawah sudah keringat dingin, Nona! Takut sekali tiba-tiba ada prajurit yang turun membawa kepala Nona!" lanjut Sora dengan wajah dramatisnya.

Aura tidak bisa menahan tawa kecilnya, ia menoleh pelan sembari menggelengkan kepala melihat tingkah pelayannya itu.

"Sora, ketakutanmu itu benar-benar tidak masuk akal," sahut Aura santai.

"Kamu pikir Kaisar Zane itu eksekutor keliling yang hobi memenggal kepala orang sembarangan?" lanjut Aura terkekeh.

"Ya... habisnya aura beliau itu seram sekali, Nona!" cicit Sora menundukkan kepala.

"Kita tidak langsung kembali ke kediaman, pergi ke kediaman Velis," ucap Aura, pada kusir kereta kuda nya.

"Baik Lady," jawab nya sopan.

Kereta kuda dengan lambang keluarga Duke Luminar itu bergerak dengan kecepatan sedang, menuju kediaman Baron Kenny Velis.

Sementara itu, suasana di depan kediaman keluarga Velis benar-benar kacau.

Puluhan penagih utang, pedagang, hingga rakyat biasa berkumpul menutup jalanan.

Pintu gerbang rumah mewah itu sudah roboh dihantam paksa, barang-barang berharga di dalam rumah diseret keluar secara brutal.

"Bayar utang kalian, Baron Velis!" teriak salah satu pedagang kaya dengan wajah merah padam.

"Iya! Jangan sok pura-pura kaya lagi! Status bangsawan kalian sudah dicabut Kaisar!" timpal penagih utang lainnya sembari melempar pot bunga di halaman hingga hancur.

Brak

Baron Kenny dan Baroness Olivia berdiri gemetar di tengah halaman, berusaha melindungi beberapa peti perhiasan yang tersisa dengan wajah pucat pasi.

Elisabeth bersembunyi di belakang ibunya, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, gaun mewahnya kotor terkena debu dan lumpur.

"Ibu... aku takut..." bisik Elisabeth menangis sesenggukan, menutup kedua telinganya dari makian orang-orang.

"Diam, Elisabeth! Pegang perhiasan ini erat-erat!" bentak Baroness Olivia panik.

Brak

Sebuah kereta kuda mewah berukir lambang keluarga Duke Luminar mendadak berhenti tepat di depan kediaman yang sedang dijarah itu.

Kerumunan orang yang tadinya riuh mendadak berbisik-bisik dan pelan-pelan memberi jalan.

"Kereta keluarga Duke Luminar?" bisik salah satu warga.

"Wah, Lady Aura datang!"

Pintu kereta terbuka. Aura turun dengan sangat anggun, mengenakan gaun birunya yang mempesona, dipayungi oleh Sora dengan sikap angkuh.

Langkah kaki Aura yang terdengar berketuk di atas batu jalanan seolah menghentikan seluruh keributan di tempat itu.

Elisabeth mendongak, matanya membelalak lebar melihat siapa yang berdiri di depan gerbang.

"Au... Aura?!" bisik Elisabeth terbata-bata, rasa benci dan malu meledak seketika di dadanya.

Aura melangkah mendekat dengan santai, menghentikan langkahnya beberapa meter di depan keluarga Velis yang bersimbah debu.

1
Meigha
akhirnya selesai juga baacax,moga ada lg, cerita yg baru💪🥰
Restu
kaisar lasung 🤭🤭
Inonk_ordinary
aneh,,ntar balik lagi..terlalu percaya diri bgt si ini mah
Inonk_ordinary
btw nyonya catte unir berapa??? kaisar umur berapa???kok kaya tua bgt yaaa
Restu
good
Restu
wow🤭🤭🤭🤭
Meigha
mampir thor,mumpung ceritax sdh tamat,tak bakalan nunggu berhari hari 🤣🤣🙏
Zakia Ulfa
kalau aura sama kaisar,berasa nikah sama bapaknya g sih.usianya beda jauh kaaan
MissCuek🍂
halooo Authorrrr, Lama ga baca karya²mu🥹
Ayu Rahayu
/Drool//Drool//Drool/
Kikin
ok
Ica Oca
seru kayax
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
bagus sekali kak aku suka, tokoh utama wanita tegas sat set tidak menye² mantaplah pokoknya.
Maryati Yati
kaisar nya gercep🤭👍
ryuka
mantaaabb auraaa 👍👍👍👍👍
sasa adzka
isss pengen liat dech gimana Badas nya aura jiwa modern yg rada rada 😄😄😄 harus bisa d jerat itu musuh musuhnya..
ehh kangen jiwa iblisnya Elijah dn kawan kawan nya.. tapi lupa siapa gitu yg nulisnya kemarin lupa d favorit kan
semangat kak othor nulisnya😍😍😍😍
miss blue 💙💙💙
ini yg di maksud ibu kandungnya julian apa di yg dulu 🤔🤔🤔
miss blue 💙💙💙: laahh, napa aq komen di lapak ini 🤣🤣🤣 perasaan td masih di sono 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣
total 1 replies
miss blue 💙💙💙
otw kak
Putri Kemuning
bagus banget
hampir terkecoh pas endingnya
Septi Wijaya
siaaaaapp akak 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!