Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
“Mau kabur ke mana kau? Apa kau pikir bisa lolos di hadapanku?” ucap Azril.
BOOOOOOM!
Aura hitam menggelegar dari tubuh Azril, meluap-luap seperti badai.
Tekanan itu menghantam dinding hingga bergetar, membuat udara berdesis seperti terbakar.
Namun Risman justru tertawa rendah. Wajahnya dipenuhi senyum sinis. “Azril… kau bahkan tidak mengenal siapa aku. Jika aku mau… aku bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri!”
BOOOOOOOM!
Kali ini aura biru menyala dari tubuh Risman.
Cahaya itu meluap-luap, liar, dan anehnya terasa lebih menekan daripada milik Azril.
Ryan menaikkan alisnya. ‘Aura ini… bahkan lebih kuat dari Panglima? Jadi, selama ini dia hanya berpura-pura lemah?’
Azril menatap tajam, tatapannya penuh rasa ingin tahu. “Mengesankan… jadi kau menyembunyikan kekuatanmu selama ini. Siapa sebenarnya kau, Risman?”
Risman mengangkat kepalanya, tatapannya sombong. “Aku tidak punya kewajiban menjawabmu.”
Azril tersenyum tipis, sinis. “Oh… biar kutebak. Apa mungkin kau salah satu dari Ordo Cahaya Senja?”
Risman mendengus, wajahnya langsung berubah garang. “Bajingan sialan! Jangan berani-beraninya kau menyebut nama itu dengan mulut busukmu!”
BOOOM!
Kedua aura kembali bertabrakan, hitam melawan biru, menghancurkan meja, kursi, bahkan dinding di sekitar mereka.
Kilatan energi membuat ruangan itu seolah berada di tengah badai.
Ryan hanya berdiri di sudut dengan tenang, matanya menyala penuh minat.
‘Baiklah… ini menarik. Aku akan menyaksikan pertarungan para monster ini. Aku akan mengukir seberapa kuat mereka ini’
-----------
Detik berikutnya...
WUUSSSHH!
Tubuh Azril dan Risman menghilang seolah ditelan kegelapan.
Dalam sekejap keduanya sudah bertemu di tengah ruangan.
TRAAANG! DHUAAAR!
Benturan pedang mereka menggemuruh, seperti petir meledak di dalam markas Kultus Iblis.
Gelombang kejut menghantam dinding batu, membuat beberapa bagian gua retak dan tanah bergetar.
“AZRIL! Akan kubunuh kau!! Aku sudah lama muak dengan mu!” teriak Risman.
Tubuhnya dialiri energi air yang mengalir deras, membuat setiap tebasan pedangnya tampak seperti gelombang laut yang menghantam karang.
TRANG! TRANG! WUUSS! DHUAR!
Serangan Risman begitu cepat, pedangnya bergetar ribuan kali dalam satu tarikan nafas.
Namun Azril tetap tenang, setiap gerakan pedangnya kokoh dan dingin. “Risman… kau bodoh. Menyusup ke jantung Kultus Iblis adalah kesalahan terakhirmu. Di sini aku akan menguburmu.”
WUUSS!
Pedang Azril dipenuhi aura hitam pekat, lalu aura itu memanjang, berputar, membentuk bayangan seekor ular raksasa yang meliuk-liuk dengan buas.
“Teknik Pedang Ular — Ular Menerkam!”
HISSSHH!
Serangan pedang Azril bergerak tidak wajar, berkelok-kelok seperti ular berbisa, melompat dari satu arah ke arah lain, mustahil ditebak jalurnya.
‘Bajingan! Teknik ular ini… sangat merepotkan!’ Risman menyeringai masam, tangannya bergetar menahan tebasan itu.
CLAAANG!
Dia menangkis dengan pedangnya, tapi…
WUUSS!
Pedang Azril tiba-tiba melengkung, mengitari pedang Risman, lalu…
SRAAAK!
Bilah hitam itu menembus dada Risman.
BYUR!
Namun tubuh itu pecah menjadi air, menciprat ke segala arah.
Sosok Risman langsung muncul di belakang Azril.
WUUSS!
“MATI KAU!” Risman menebas cepat.
TRAAAANG!
Pedangnya terhenti.
Jenderal Gopin, salah satu tangan kanan Azril, sudah muncul dan menahan serangan itu.
“Risman,” ucap Gopin dengan suara dingin. “Jangan lupa… kau sedang ada di markas Kultus Iblis. Musuhmu bukan hanya satu orang.”
SHIIING!
Dari sisi lain, jenderal Sugeng melompat maju.
Pedangnya berkilat tajam, memancarkan aura yang menusuk.
“Teknik Pedang Duri — Duri Penembus Baja!”
SRAAK! SRAAK! SRAAK!
Serangannya menghujani Risman dari segala arah, menusuk tubuhnya berkali-kali hingga tercabik-cabik.
Namun…
BRUAAASH!
Tubuh Risman kembali pecah menjadi air.
Gelombang air itu berputar, lalu menyatu kembali menjadi wujud Risman.
“Teknik Pedang Neptunus — Tebasan Gelombang Air!” Risman mengayunkan pedangnya.
WUUSSSHHHH!!!
Seketika, gelombang air raksasa muncul, deras dan menghantam bagai tsunami.
Gua bergetar keras, lantai dipenuhi arus liar yang siap menelan siapa saja.
Azril, Gopin, dan Sugeng saling menatap singkat, lalu serentak menghunus pedang mereka.
SRAAK! SRAAK! SRAAK!
Ketiga pedang itu menebas bersamaan, membelah gelombang air yang mengamuk.
DZZZZZTTT! DHUAAAR!
Air terbelah dan pecah, menyisakan uap dingin yang menutupi seluruh ruangan.
Namun ketika uap itu hilang, Risman sudah menghilang.
‘Sial!’ pikir Risman yang kini berlari di lorong bawah tanah. ‘Aku tidak bisa melawan mereka semua sekaligus! Jika memaksa melawan, aku pasti mati! Aku harus kabur, lalu memberi sinyal pada Aliansi Pedang Tujuh Langit. Biarkan mereka menyerang markas ini… biar mereka saling membantai!’
WUUSSHHH!
Dalam sekejap, Risman sudah menerobos keluar dari goa markas Kultus Iblis.
Ia berlari ke dalam hutan, napasnya terengah tapi langkahnya cepat.
‘Bagus! Aku berhasil lolos! Tinggal sedikit lagi, aku akan aman!’ gumamnya dengan senyum sinis.
Namun tiba-tiba…
WUUSSSHHHH!
Sebuah kabut dingin melesat dari balik pepohonan, bergerak seperti makhluk hidup, mengejarnya dengan kecepatan luar biasa.
‘Apa itu?! Ini Bukan aura Azril! Bukan Gopin ataupun Sugeng! Sial, siapa yang mengejarku?!’ Risman terbelalak, jantungnya berdebar.
Kabut itu menukik, lalu…
TRAAAANG!
Risman berhasil menangkis serangan yang muncul dari dalam kabut.
Tapi hantaman itu membuat tubuhnya terpental jauh, menghantam pohon raksasa.
DHUUAAAR!
Batang pohon pecah, roboh menghantam tanah.
Risman terhempas ke tanah, darah mengalir dari mulutnya.
“Uhkk… ohoookh!!” Ia memuntahkan darah, wajahnya pucat. “Keparat!! Siapa kau?! Tidak ada anggota Kultus Iblis yang menggunakan kabut dingin seperti ini!!”
Kabut itu perlahan menggumpal, lalu membentuk sosok seorang pemuda.
Matanya dingin, auranya menusuk tulang.
“Komandan Risman,” suara itu tenang. “Apa kau sudah melupakanku? Mengapa kau begitu cepat melupakan orang yang membuatmu marah?”
Wajah Risman berubah pucat pasi. “Kau… Ryan?! Tidak mungkin!! Bagaimana bisa kau menggunakan aura Kabut Dingin milik Clan Kabut Dingin?! Siapa kau sebenarnya?!”
Ryan melangkah maju, pedangnya di tangannya bergetar halus, menebar hawa dingin yang membuat udara membeku. “Apa perlu kujelaskan? Aku adalah keturunan Clan Kabut Dingin… dan kesalahanmu adalah tidak membunuhku sejak awal. Sekarang… aku yang akan menghabisimu.”
“Bocah sialan!!” Risman bangkit dengan wajah beringas. “Apa kau pikir bisa mengalahkanku? Kau baru lulus pelatihan, kemampuanmu tak seberapa! Kau bukan lawanku, Ryan! Jika kau memaksa bertarung… aku akan mencincangmu hidup-hidup!!”
Ryan tersenyum tipis, penuh tantangan. “Menarik… ayo kita buktikan siapa yang mampu bertahan. Aku ingin tahu seberapa kuat anggota Ordo Cahaya Senja. Ini pertama kalinya aku mendengar kelompok kalian.”
Risman meraung marah, aura biru meledak dari tubuhnya.
BOOOOM!
Hutan berguncang, pepohonan terhempas oleh tekanan auranya.
“Baiklah, bocah! Jika kau ingin mati, aku akan mematahkan tulangmu satu per satu!”
Ryan menurunkan tubuhnya ke posisi kuda-kuda, kabut dingin menyelimuti seluruh tubuhnya.
Senyum dingin terukir di wajahnya. “Aku sudah siap, komandan Risman. Mari kita selesaikan ini… sebelum orang lain datang.”
Keduanya saling menatap tajam. Aura dingin dan air biru beradu, membuat hutan bergetar.
Pertarungan baru akan dimulai
Ryan melawan Risman, duel hidup dan mati.