Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Diterima
Tristan hanya bisa menghela napas panjang ketika suara pintu toilet yang dibanting Olivia masih terdengar di telinganya. Dia berdiri seorang diri di ruang keluarga, menatap pintu yang kini sudah tertutup rapat.
Pertengkaran itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Selama beberapa tahun terakhir, hubungan mereka memang semakin jauh. Namun malam ini berbeda. Untuk pertama kalinya, Tristan merasa lelah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dia menundukkan kepala sambil mengusap wajah.
"Kenapa kita jadi seperti ini?"
Tidak ada jawaban. Dari balik pintu toilet pun tidak terdengar suara Olivia. Tristan akhirnya memilih tidak mengejarnya. Dia tahu, percakapan mereka tidak akan menghasilkan apa-apa jika dilanjutkan dalam keadaan seperti itu.
Tristan mengambil ponselnya dan berjalan menuju lantai atas. Namun ketika melewati kamar utama, langkahnya berhenti. Dia menatap pintu kamar tersebut beberapa saat.
Biasanya, kamar itu adalah tempat mereka beristirahat bersama. Sekarang, ruangan tersebut justru terasa asing. Tristan kemudian berjalan menuju kamar Denis. Dia membuka pintu perlahan. Lampu tidur masih menyala. Denis tertidur pulas dengan posisi memeluk boneka kesayangannya.
Tristan berdiri di ambang pintu cukup lama sebelum akhirnya masuk. Dia duduk di sisi tempat tidur, lalu mengusap rambut putranya.
"Setidaknya Ayah masih punya kamu."
Tristan tersenyum tipis. Malam itu dia memutuskan tidur di kamar Denis. Bukan karena ingin menghindari Olivia semata, tetapi karena hanya ketika berada di dekat putranya, pikirannya terasa sedikit lebih tenang.
...***...
Hari demi hari berlalu. Nayla menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi bekerja, siang mengurus berbagai pekerjaan kecil, dan malam membantu keluarganya di rumah.
Namun ada satu hal yang selalu dia lakukan setiap kali memegang ponsel. Memeriksa email. Setiap kali ada notifikasi masuk, jantungnya langsung berdebar. Sayangnya, beberapa hari pertama tidak ada kabar dari Nebula.
"Belum juga," gumam Nayla suatu sore. Dia baru saja selesai mengemas pesanan pelanggan daring ketika membuka kotak masuk emailnya.
Nayla menghela napas. Mungkin mereka memang membutuhkan waktu untuk menentukan kandidat terbaik. Dia mencoba tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan kembali bekerja.
Hari berikutnya pun sama. Sampai akhirnya, pada suatu pagi, ketika Nayla sedang menyapu halaman rumah, ponselnya berbunyi.
Notifikasi email. Nayla mengusap tangannya yang sedikit kotor ke celemek sebelum mengambil ponsel.
Begitu melihat nama pengirimnya, matanya langsung membesar. Nebula Fashion Group.
Jantung Nayla berdegup kencang.bDia buru-buru membuka email tersebut. Beberapa detik kemudian, mulutnya terbuka lebar.
"Ya Tuhan..."
Tangannya menutup mulut. Dia membaca kalimat pertama sekali lagi. Kemudian sekali lagi.
Nayla dinyatakan diterima sebagai sekretaris direktur utama Nebula Fashion Group.
"AKU DITERIMA!"
Teriakannya membuat ibunya yang berada di dalam rumah langsung keluar.
"Kenapa, Nayla?"
Nayla berlari menghampiri ibunya. "Bu! Aku diterima!"
Ibunya sempat terdiam sebelum wajahnya berubah cerah.
"Benarkah?"
Nayla mengangguk berkali-kali.
"Benar! Aku diterima kerja di Nebula!"
Air mata bahagia langsung menggenang di sudut matanya. Selama ini dia sudah berkali-kali mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Berkali-kali pula dia menerima penolakan karena pendidikan terakhirnya hanya SMA.
Namun kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya, sebuah perusahaan besar memberinya kesempatan.
Ibunya memeluk Nayla. "Syukurlah..."
Nayla membalas pelukan itu dengan erat.
"Aku bisa membantu Ibu sekarang."
"Kamu sudah banyak membantu Ibu."
"Tapi nanti akan lebih banyak."
Nayla tertawa kecil sambil menyeka air matanya. Dia kemudian kembali membaca email tersebut dari awal sampai akhir. Namun senyum di wajahnya perlahan berubah menjadi bingung.
"Apa ini?"
Nayla mengernyit. Ada beberapa catatan tambahan dari pihak HR. Salah satunya mengenai penampilannya.
Perusahaan menyampaikan bahwa sebagai sekretaris direktur, Nayla diharapkan menyesuaikan penampilan agar terlihat lebih profesional, rapi, dan sesuai dengan standar lingkungan kerja perusahaan.
Nayla membaca bagian tersebut berulang kali. "Berarti aku harus bagaimana?"
Dia menatap pakaiannya sendiri. Selama ini dia memang tidak terlalu memperhatikan dunia tata rias atau fashion. Baginya, selama pakaian bersih dan pantas, sudah cukup.
Namun kini pekerjaannya berbeda. Dia akan bekerja langsung di bawah seorang direktur perusahaan besar.
Nayla mulai panik. "Kalau aku datang seperti biasanya, apa nanti mereka menyesal menerimaku?"
Dia segera menghubungi sahabatnya, Yuli. Tidak sampai satu jam kemudian, mereka bertemu di sebuah tempat yang biasa mereka gunakan untuk nongkrong.
Yuli membaca email tersebut.
"Jadi kamu diminta memperbaiki penampilan?"
"Bukan memperbaiki, katanya menyesuaikan agar lebih profesional."
"Bedanya apa?"
Nayla mengangkat bahu. "Aku juga enggak tahu."
Yuli tertawa. "Kalau soal make-up, kamu salah bertanya kepadaku."
"Kamu enggak bisa?"
"Aku bahkan pakai bedak saja kalau ada acara penting."
Nayla ikut tertawa. "Lalu bagaimana?"
Yuli berpikir sebentar. "Aku punya teman yang bekerja di salon."
"Salon?"
"Iya. Namanya Cila."
"Dia bisa membantu?"
"Harusnya bisa. Dia sudah lama bekerja di sana. Kalau cuma mengajarimu tata rias sederhana dan membantu memilih gaya rambut untuk kantor, pasti bisa."
Nayla terlihat ragu. "Berapa biayanya?"
Yuli langsung menatapnya. "Jangan pikirkan biaya dulu."
"Tapi..."
"Aku bilang jangan."
Yuli menepuk bahu Nayla. "Kamu baru saja dapat pekerjaan yang selama ini kamu cari. Anggap ini investasi."
Nayla tersenyum kecil. "Baiklah."
Sore itu, Nayla dan Yuli pergi ke sebuah salon yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.
Begitu memasuki salon, aroma khas produk perawatan rambut langsung menyambut mereka. Beberapa pelanggan sedang duduk di depan cermin, sementara para pegawai sibuk melayani mereka.
Seorang perempuan muda segera menghampiri. "Yuli?"
Yuli langsung tersenyum.
"Cila!"
Mereka berpelukan sebentar.
"Ini Nayla, teman yang pernah aku ceritakan."
Cila memandang Nayla.
"Yang mau kerja di perusahaan besar itu?"
Nayla tersenyum malu.
"Iya."
"Selamat!"
"Terima kasih."
Cila kemudian meminta Nayla duduk di depan cermin.
"Jadi kamu mau penampilan seperti apa?"
Nayla terlihat bingung.
"Yang cocok untuk sekretaris."
Cila tertawa. "Jawaban paling aman."
Dia memperhatikan wajah Nayla melalui cermin. "Kalau begitu, kita tidak perlu berlebihan."
Nayla mengangguk. "Aku memang tidak biasa memakai make-up."
"Bagus."
"Bagus?"
"Justru lebih mudah."
Cila mengambil beberapa perlengkapan dari meja. "Kita hanya perlu membuatmu terlihat lebih segar dan profesional."
Nayla mengangguk lega.
Cila kemudian mulai menjelaskan beberapa hal sederhana mengenai tata rias yang cocok untuk lingkungan kerja. Dia menunjukkan bagaimana menggunakan riasan tipis, memilih warna yang tidak mencolok, dan menjaga agar penampilan tetap terlihat natural.
Sementara itu, Yuli duduk di kursi sebelah sambil memperhatikan.
"Kalau aku mau belajar juga bisa?"
Cila tertawa.
"Bisa. Tapi kamu harus sabar."
"Aku sabar."
Nayla tertawa kecil. "Dia tidak sabaran, Cil."
"Heh!"
Suasana salon menjadi lebih santai. Setelah selesai merapikan wajah Nayla, Cila beralih pada rambutnya.
"Untuk kantor, sebaiknya jangan terlalu rumit. Rambutmu bisa ditata sederhana."
Nayla mengangguk. "Aku biasanya cuma diikat."
"Justru itu bisa dibuat lebih rapi."
Cila mulai menata rambut Nayla dengan gaya sederhana dan profesional. Setelah beberapa waktu, dia mundur selangkah dan melihat hasilnya.