Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:69.6k
Nilai: 5
Nama Author: eli_wi

Tit... Tit... Tit...

"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.

Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.

Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelang

"Aruna sayang, tolong cucikan baju milikku ya." Kafka yang melihat istrinya sedang memunguti pakaian kotor pun segera menyerahkan kemeja kerjanya.

"Oh... Iya, Mas."

Senyum Aruna terlihat terpaksa saat disuruh mencucikan kemeja milik Kafka. Namun dia ingin suaminya itu berpikir bahwa Aruna tidak curiga kalau sudah tahu rencana Kafka. Walaupun begitu, Kafka tampak aneh dengan sikap dari Aruna yang tak seperti dua hari ini. Aruna terlihat lebih santai dan tak mau membahas tentang rumah atau pekerjaan Kafka. Tak ayal juga dia sangat bahagia kalau Aruna mau kembali dekat dengannya.

"Nah... Gini dong. Rumah kan jadi tentram, nyaman, dan bahagia. Nggak ada teriakan atau bagaimana. Apalagi kita marahan karena uang. Suamimu ini manager, soal uang ya nggak akan kekurangan lah." ucap Kafka dengan raut wajah berbinar cerah.

"Ini uang lima puluh ribu untuk beli sembako. Satu minggu cukup lah ya," lanjutnya sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribu di meja.

"Lebih baik Mas Kafka saja yang belanja ke warung atau pasar depan. Beli sembako dengan uang 50 ribu itu. Aruna mau mencuci dulu, keburu siang. Panas..." suruh Aruna balik yang kemudian pergi ke sumur belakang rumah untuk mencuci pakaian.

"Oke deh. Nanti kembaliannya, aku kasihkan kamu buat jajan." seru Kafka yang malah senang disuruh membeli sembako untuk kebutuhan rumah.

"Nggak usah, ambil saja kembaliannya." seru Aruna sambil menggelengkan kepalanya.

"Makan tuh uang kembalian," gumamnya sambil memindahkan pakaian kotor ke ember yang lain.

Biar saja kalau Kafka itu mau belanja sembako ke warung dengan uang 50 ribu. Nanti lihat saja, uang lima puluh ribu mendapatkan apa. Aruna tak mau lagi membelanjakan uang pemberian dari Kafka. Biarkan Kafka belanja dan tahu berapa kebutuhan rumah yang seharusnya diberikan. Aruna pun memeriksa saku seragam Nasya dan kemeja milik Kafka. Untuk mengantisipasi agar tidak ada barang yang tercuci.

"Apa ini?" gumamnya saat memeriksa saku kemeja Kafka.

"Gelang?" Aruna mengambil barang yang terasa sangat mengganjal. Ternyata saat diambil, itu adalah gelang emas beserta suratnya.

"Atas nama Mas Kafka," gumamnya sambil melihat lebih jeli pada gelang tersebut.

Aruna... Aruna...

"Kenapa lagi itu orang?" gerutunya yang kemudian menyimpan gelang itu ke dalam sakunya dan segera pergi menemui suaminya.

"Ada apa sih, Mas?" tanya Aruna pada suaminya yang tampak marah.

"Coba kamu tanya Bu Laili. Ini harga sembako yang tak beli sudah benar atau belum? Kok mahal banget sih? Masa cuma beli beras, telur, minyak, kecap, dan kopi saja habis seratus ribu lebih. Ini belum lauknya lho," seru Kafka sambil meletakkan belanjaannya.

Kafka tidak mungkin protes atau minta penjual warung yang bernama Ibu Laili itu untuk memeriksa kembali hitungan belanjaannya. Gengsinya begitu tinggi. Kafka khawatir kalau nanti malah dicap sebagai manager yang tidak punya uang dan tak berniat belanja. Sehingga dia memilih membayar dan meminta Aruna untuk memastikan lagi. Aruna pun melihat sembako yang dibeli oleh suaminya.

"Mas, ini beras lima kilo aja harganya udah 50 ribu lebih. Belum telur dan lainnya. Ya wajar lah kalau totalnya seratus ribu lebih," ucap Aruna sambil mendengus sebal.

"Masa sih? Ini kan kita belinya di warung, pasti lebih murah dibandingkan minimarket." ucap Kafka yang belum menerima fakta ini.

"Berarti kalau aku tadi kasih kamu lima puluh ribu, nggak dapat sebanyak ini ya?" tanyanya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Baru sadar kan? Uang 50 ribumu di jaman sekarang ini tidak berarti apa-apa. Apalagi yang 20 ribu selama 3 hari," sindir Aruna kemudian mengambil sembako yang dibeli oleh Kafka untuk diletakkan di dapur.

Kafka masih terdiam dengan pikirannya sendiri. Rasanya masih tidak percaya dan menyangkal bahwa uang yang diberikan pada Aruna itu tidak cukup untuk membeli sembako. Antara rasa malu dan gengsi untuk mengakui apa yang diucapkan oleh Aruna itu benar adanya. Aruna menatap sinis suaminya yang berdiri seperti orang linglung.

"Mas, kamu mau kasih aku hadiah gelang ya?" tanya Aruna tiba-tiba. Kafka yang tadinya melamun pun langsung saja mengalihkan pandangannya.

"Gelang?" tanya Kafka dengan raut wajah bingungnya.

"Iya. Ini pasti gelang hadiah untukku kan? Apa untuk Nasya atau Ibu?" tanyanya sambil mengambil gelang dari saku dasternya.

Deg...

"Kamu menemukan ini dimana?" tanya Kafka gelagapan sambil memeriksa kantong celana dan kemejanya.

"Di saku kemeja yang tadi kamu minta cuci. Jadi benar kan gelang ini untukku?" tanya Aruna lagi dengan mata berbinar cerah.

"Ah... Iya, itu untukmu. Mau kasih surprise, tapi keburu kamu menemukannya."

Kafka terlihat terkejut melihat gelang yang ada di tangan Aruna. Gelang itu akan dia gunakan untuk memberi hadiah kepada Silvy. Namun malah sudah ditemukan oleh Aruna terlebih dahulu. Jika Kafka mengatakan itu bukan untuk Aruna, sudah pasti istrinya akan curiga. Namun dia juga memikirkan hadiah untuk Silvy. Aruna terlihat bahagia mendapatkan gelang itu. Padahal dalam hati dan pikirannya, tengah meledek Kafka. Aruna tahu bahwa hadiah ini tak mungkin untuk dia, Nasya, atau Ibu Salma.

"Manisnya suamiku ini. Pakaikan dong, Mas." Aruna mengulurkan tangannya kemudian meminta Kafka memakaikan gelang itu.

"Cantiknya. Iya kan, Mas?" tanya Aruna meminta persetujuan.

"Iya, cantik sangat." ucap Kafka dengan nada gugupnya.

"Ayo foto, Mas. Langsung pasang story di aplikasi ijo. Pasti nanti warga sekitar sini pada heboh dan memuji kamu," ucap Aruna yang langsung meminta ponsel Kafka agar mengambil gambar gelang dan membuat story.

Ha?

Kafka masih mencerna apa yang terjadi. Namun sepertinya Aruna sama sekali tak memberikan jeda untuk Kafka berpikir. Aruna ingin membuat panas orang yang katanya dekat dengan suaminya itu. Apapun yang akan diberikan suaminya pada perempuan itu, dia harus mengambilnya. Perempuan itu tak boleh bahagia dan menikmati uang milik Kafka. Sedangkan untuk Kafka, Aruna takkan membiarkan hidupnya tenang. Selalu dalam masalah, rasa cemas, dan tekanan hidup.

"Nggak perlu sampai bikin story, Aruna sayang. Nanti dikiranya kita mau pamer," tolak Kafka yang tampak gelagapan dengan permintaan Aruna. Padahal istrinya itu sejak dulu hampir tidak pernah mau foto dan membuat story tentang hadiah begini.

"Ini kan harganya murah, Mas. Waktu itu Mas Kafka beli mobil juga dijadikan story kok, malah lebih mahal daripada gelang ini." ucap Aruna lagi mendesak Kafka agar menuruti keinginannya.

"Biar semua orang tahu kalau istrinya yang kemarin nggak bisa beli token listrik ini ternyata karena uang Mas Kafka buat dibelikan emas untuk Aruna," lanjutnya.

Baik lah,

Cekrek...

Cepat posting, Mas. Sekalian kasih caption mesra dan manis,

Mas Kafka, itu kan gelang yang aku inginkan.

1
Muft Smoker
eeh udh end aj kak ,,
tp makasih buat ceritanya yx kak ,, dtggu karya selanjutnya kak
Dewiendahsetiowati
terima kasih untuk ceritanya dan ditunggu karya selanjutnya yang ada bodelnya
E F
tq thor🙏😍
smangatttt lanjutty yg lbh seruuuu💪😄
Muft Smoker
akhirnya kafka juga ktemu ma jodoh ny ,,
inget pesan ibu mu kafka ,, kesalahan jgn d ulangi lgii ,,
jgn sok ganteng km😒😒😒😒🤭🤭🤭😂😂😂
Sari Nilam
tinggal di kolong langit aja sensk.lo gak pske biaya 🤣🤣
Sari Nilam
bagus mantap
Sari Nilam
laki2 mokondo belagu srlingkuh pula buang aja ke laut
Muft Smoker
waah pak bos udh kode2an niih ,, 🤭🤭😆😆😆
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
akhirnya ny mereka udh sah ,, semoga bahagia selalu Haruna ,,
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
pengacara seklek anda Gavin ,,
Muft Smoker
si Gaviin mh ad udang di balik bakul ,,
Muft Smoker
jd rumit gini masalah ny ,, dan gx nyangka kalo gaviin bisa bersikap begitu ,, 😒😒😒😒
Lee Mba Young
Aruna itu kecepeten gk sih, baru juga cerai sdh dkat dng laki.
maksud ku focus besar in anak dulu setelh itu baru mikir laki.

ini baru juga cerai dah deket laki aja, kayak gatel gitu lo.
kayak gk bisa hidup tanpa laki.
Elizabeth
mampus lo. Kafka🤣🤣🤣
Elizabeth
bukan main ternyata bu salma ga kaleng" duitnya👍👍
Siti Nurjanah
ayo gavin kamu kurang gercep. q setujunya aruna itu ma gavin
PengGeng EN SifHa
Bau² temen duka bahagia bersama ini si cerrybell
Siti Nurjanah
nahhhh diapa apakah itu gavin?
E F
😄😄
lanjutttt😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!