Indonesia
NovelToon NovelToon
Assassin Terkuat Di Dunia Murim

Assassin Terkuat Di Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bonggiw01

Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!

Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.

ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Esok paginya… Udara pagi terasa sejuk.

Di atas salah satu dahan pohon besar yang menghadap langsung ke sungai, Ryan terbangun perlahan. 

Matanya setengah terbuka, Namun pandangannya segera tertarik pada pemandangan di bawah.

Di tepi sungai, Bella sedang mandi, dia melepaskan semua pakaian dan masuk ke dalam sungai.

Air mengalir membasuh kulitnya yang putih bersih. 

Rambut hitamnya tergerai, sebagian menempel di bahunya yang ramping. 

Setiap gerakannya terlihat alami namun… menawan.

Ryan terpaku. ‘Ada apa dengan tubuh ku ini? Kenapa gejolak hebat sangat terasa saat aku melihat Bella mandi di sungai?!’ pikirnya heran.

Pandangan matanya tetap terkunci pada Bella yang tanpa sadar terus memamerkan pesonanya di bawah sinar matahari pagi.

'Terakhir kali aku melakukan nya sekitar 40 tahun lalu. Aku bahkan sudah mulai melupakan rasa nya tidur dengan seorang wanita' pikir Ryan.

Namun Tiba-tiba....

KOAK! KOAK!

Seekor gagak hitam melintas cepat di antara pepohonan dan hinggap tepat di bahu kiri Ryan. Di kakinya, terikat gulungan surat kecil.

Ryan melepaskan ikatan itu, membuka suratnya, dan membaca pesan singkat dari komandan Risman.

("Jika pengkhianat itu benar-benar ada, maka kau harus berhati-hati. Dia mungkin akan menargetkanmu sebagai orang terkuat, Ryan. Aku akan mencari cara untuk menemukan pengkhianat itu. Untuk sekarang, bersiaplah.") Pesan dari Komandan Risman.

Ryan mengernyit. ‘Dia terdengar sangat tenang. Mungkin dia punya rencana, tapi aku tidak akan menunggu. Aku juga akan mencari informasi tentang pengkhianat itu.’

Beberapa saat kemudian, Bella naik ke pohon dan berdiri di hadapan Ryan, air masih menetes dari ujung rambutnya.

“Ryan, kamu sudah bangun…” ucapnya sambil tersenyum manis. “Apa kita akan melanjutkan perjalanan kita sekarang?”

Ryan menatapnya, dan untuk sesaat ia menyadari betapa cantiknya Bella. 

'Jika di perhatian dengan seksama. Bella ternyata sangat cantik... Aku baru menyadari nya'

Cahaya matahari pagi membuat mata Bella berkilau, pipinya tampak merona karena udara dingin, dan tubuh nya tercium sangat harum.

TUING!

Kebanggaan nya berdiri kokoh.

‘Sial… apa yang kupikirkan? Ini pasti pengaruh hormon tubuh anak remaja ini!’ Ryan mencoba mengusir pikiran yang mulai melenceng.

Di kehidupan sebelumnya, bahkan gadis paling cantik sekalipun tak mampu menggoyahkan hatinya. 

Tapi sekarang tubuhnya bereaksi berbeda.

Dia merasa seolah ingin memeluk dan mencium Bella.

“Ayo kita lanjutkan perjalanan, kita harus segera pulang ke rumah masing-masing,” ucap Ryan akhirnya sambil berdiri.

Namun pandangan Bella tidak terlepas ke bawah. 'Ya ampun... Apa yang ada di balik celana itu?! Aku tidak salah lihat kan?! Itu pasti sangat besar!' pikir Bella terkejut.

-------

Di persimpangan jalan setapak, langkah Ryan dan Bella terhenti. 

Bella menatap Ryan. “Ryan… Apa… aku boleh bertemu denganmu meskipun tidak ada misi? Maksud ku, mungkin aku hanya ingin bertemu dengan mu...”

Ryan menatapnya sebentar. “Tentu saja. Tempat kita tidak terlalu jauh. Kamu bisa datang ke tempatku kapan saja.”

Senyum manis menghiasi wajah Bella. “Kalau begitu… aku akan sering mengunjungi mu lagi, Ryan.”

Ryan mengangguk tipis. “Baiklah. Tapi kau harus pulang dulu, bertemu dengan orang tuamu.”

Bella mengangguk. “Ryan… aku pulang dulu, ya. Kalau ada misi, beritahu aku. Aku siap melakukan misi apapun. Dan… kalau kamu ingin kencan—” Bella tersenyum malu, pipinya memerah, lalu menghentikan ucapannya dan cepat-cepat melangkah pergi ke arah berlawanan. "Dah! Aku pergi!"

Ryan memandang punggungnya yang menjauh. ‘Kenapa dia tidak menyelesaikan kata-katanya?’

Ia menarik napas panjang. ‘Sebenarnya aku tidak tahu siapa orang tua tubuh anak ini. Tapi di kepalaku masih ada samar-samar ingatan bocah ini. Mungkin kalau aku pergi ke desa, aku akan mengingatnya.’

Langkahnya mantap menuju Desa Binhar. 

Jalanan berbatu kecil, dikelilingi rerumputan hijau, membawa Ryan ke sebuah desa kecil yang hanya dihuni puluhan orang.

Anak-anak berlarian sambil menenteng pedang kayu, tertawa riang. 

Orang dewasa sibuk menanam padi di sawah dan berkebun di halaman rumah mereka. 

Suara ayam berkokok, anjing menggonggong dari kejauhan.

Namun begitu Ryan melangkah masuk ke desa, langkah orang-orang tiba-tiba berhenti. 

Semua menoleh ke arahnya. 

‘Kenapa semua orang menatapku seperti ini?’ pikirnya heran.

Tiba-tiba, dari arah sumur desa, seorang gadis cantik berusia sekitar 17 tahun muncul sambil membawa ember berisi air. 

Saat matanya bertemu pandang dengan Ryan, tubuhnya terpaku. 

Ember yang dibawanya terlepas. 

Brug! 

Air tumpah membasahi tanah.

“Kak Ryan…? Kau benar Kak Ryan, kan?! Apa aku tidak salah lihat?!” serunya dengan suara bergetar.

Ryan membeku. ‘Siapa gadis ini? Apa Dia mengenalku? Kenapa aku tidak mengingatnya?’

Gadis itu berlari, matanya berkaca-kaca. “Kak Ryan! Akhirnya Kakak pulang! Syukurlah! Aku benar-benar merindukanmu! Ku pikir kakak tidak akan pernah kembali lagi!”

Sebelum Ryan sempat bereaksi, gadis itu memeluknya erat. 

Kehangatan tubuhnya membuat Ryan terdiam.

‘Apa ini…? Perasaan apa lagi ini? Apakah ini rasanya memiliki keluarga? Atau perasaan karena ada orang yang menunggu ku pulang?’

Di kehidupan sebelumnya, Ryan hidup tanpa keluarga, dia sejak kecil di latih menjadi seorang Assassin. Lalu setelah paruh baya dia hanya mengurus beberapa anak didik untuk dia latih menjadi assassin. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasakan ada orang yang menunggu nya pulang.

“Ryan, kau sudah tumbuh sangat besar!” seru seorang pria paruh baya dari kejauhan.

“Benar! Kau sekarang terlihat sangat kuat!” sahut seorang wanita tua sambil tersenyum lebar.

“Kau sudah menjadi pemuda gagah, Ryan,” ujar yang lain sambil menepuk bahunya.

“Apa kau sekarang seorang pendekar? Ini terlihat keren” tanya seorang pemuda desa dengan mata berbinar.

Satu per satu warga mengerubunginya, menepuk bahu, menyalaminya, mengajaknya bicara. 

Senyum mereka tulus, penuh rasa bangga.

Ryan berdiri di tengah kerumunan, bingung harus merespons seperti apa. 

‘Sial… apa yang harus kulakukan? Aku tidak pernah tahu rasanya mendapat perhatian seperti ini. jadi di dunia ini ada perasaan semacam ini?'

Akhirnya, ia hanya tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya. 

-------------

Di sebuah gubuk sederhana di tepi Desa Binhar. 

Ryan berdiri kaku di depan pintu, matanya menelusuri setiap sudut rumah yang terasa asing.

Seorang wanita paruh baya, berwajah teduh dengan keriput halus di sekitar mata, tiba-tiba memeluknya erat. 

“Syukurlah, Nak! Kamu kembali! Apa kamu tidak apa-apa! Ibu sangat mengkhawatirkanmu, Ryan!” Air mata mengalir di pipinya, membasahi bahu Ryan.

Ryan terpaku. 'Apa dia ibu anak ini?' pikirnya. 'Apa yang harus aku lakukan? Sial.. ini perasaan sangat aneh'

Akhirnya, ia memaksakan senyum tipis. “Aku kembali, Ibu,” ucapnya pelan namun cukup untuk membuat mata wanita itu berbinar.

“Selamat datang kembali, Ryan.” jawabnya sambil mengusap pipi Ryan dengan kedua tangan.

Ia menoleh ke arah gadis yang berdiri di sudut ruangan. “Luna, ambilkan air minum untuk kakakmu ini.”

“Baik, Bu,” jawab gadis itu cepat. 

Ia bergegas mengambil kendi tanah liat, menuangkan air ke gelas bambu, lalu menyodorkannya kepada Ryan.

'Jadi gadis itu adikku, dan namanya Luna' pikir Ryan sambil menerima gelas itu.

Puan, wanita yang memeluknya tadi, menatap Ryan dalam-dalam. “Ryan… kamu sekarang sudah dewasa. Umurmu sudah 18 tahun. Ibu… sangat khawatir saat kamu menghilang lima tahun lalu. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?”

Ryan menyesap sedikit air, lalu menjawab tenang. “Ada seorang ahli pedang yang membawaku berlatih. Aku mengikutinya untuk mendapatkan ilmu pedang yang dia ajarkan.”

Puan menghela napas lega. “Kalau begitu, Ibu senang. Selama ini Ibu tidak pernah tenang… setiap malam Ibu bertanya-tanya, apakah kau masih hidup atau sudah…” suaranya tercekat.

“Jangan khawatir, Bu. Aku sudah kembali,” balas Ryan sambil menampilkan senyum yang terasa asing baginya.

Namun tiba-tiba, nada suara Puan berubah serius. “Ryan, Luna… Ibu mau bicara pada kalian.”

Keduanya saling memandang.

“Kalian sudah dewasa. Dan Ibu sudah janji pada seseorang untuk memberitahukan kebenaran.” Tatapan Puan tegas, namun matanya menyimpan kesedihan.

Ryan diam, menunggu. Luna memiringkan kepala, penasaran.

“Sebenarnya… Ibu ini bukan ibu kandung kalian,” ucap Puan akhirnya.

Deg!

“Apa?!” Luna berseru kaget. “Tidak mungkin, Bu! Ibu itu ibu aku!”

Ryan hanya menyipitkan mata, mengamati.

1
Endi Tu Endy
dari awal lagi kah
Terserah
gass thor 🍻
V.MaryGrace
lanjut thorr
Terserah
ninggalin jejak dulu
Ed Troivan
update terus💪👍
The Rizki: kenalan yuk
total 1 replies
Ed Troivan
Lumayan ceritanya thorku 💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
xebeck D ron
awal lagi nih?
ZAHRANI
keren mantap jiwa thor👍👍
Heroik gg
katanya season 2 bang kok balik season 1
Anonim
👍
Betesyon Betesyon
ini cerita nya di mulai dari awal lagi kah?
RR
lagi pindahan atau lagi tes ombak nih bang😁, semangat terus pokonya dahh
ZAHRANI: bang jangan sampek hiatus😭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!