Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. SANG PUTRI DAN SANG ASISTEN
Pukul tiga pagi. Waktu di mana Kediaman Duke Dravenhart seharusnya menjadi tempat paling sunyi, disiplin, dan khidmat di seluruh Kerajaan Valdoria.
Konon, di bawah atap puri batu hitam ini, bahkan suara detak jarum jam pun enggan mengganggu ketenangan sang Serigala Perang. Para pengawal berpatroli dengan langkah teratur, udara malam berembus tenang, dan para pelayan tidur dengan damai setelah menyelesaikan tugas mereka.
Namun, mitos tentang kediaman yang damai itu hancur berkeping-keping malam ini.
Suara teriakan bernada tinggi mirip pekikan burung hantu yang sedang kesurupan mendadak menggema dari lantai dasar, disusul oleh suara dentuman keras seolah-olah seseorang sedang membanting batu gilingan ke lantai marmer putih.
Di ruang tamu utama, kekacauan berada di puncaknya.
Virelia Valdoria, sang Putri Mahkota yang di siang hari tadi berguling-guling di rumput halaman kini berdiri tegak di atas sofa berbulu domba impor dari utara. Ia mengenakan gaun tidur putih panjang yang sudah tercoreng noda tinta hitam di bagian ujungnya, tetapi di kepalanya bertengger sebuah tudung lampu antik berbahan tembaga, lengkap dengan sehelai bulu merak yang diselipkan di sela-selanya sebagai mahkota agung. Di tangan kanannya, ia memegang sutil kayu dapur sebesar pedang pendek, mengarahkannya ke udara hampa dengan gestur seorang panglima perang yang sedang berpidato di hadapan ribuan pasukan gaib.
"Dengarkan aku, para lebah penjaga istana! Jika kalian berani mencuri madu dari kerajaan awan milikku, aku akan memanggil pasukan ikan paus terbang untuk menenggelamkan istana kalian ke dasar kuali sup beracun!" teriak Virelia lantang, matanya melotot tajam menatap kosong ke arah dinding kosong di sudut ruangan, sementara rambut pirangnya tergerai liar berantakan.
BRAK!
Sebuah vas kristal berharga mahal meluncur bebas dari tangan kirinya, menghantam dinding batu dan pecah berkeping-keping menjadi ribuan serpihan kecil.
Di hadapan pemandangan horor domestik tersebut, berdiri seorang pria berambut perak pendek dengan kacamata berbingkai emas bertengger sempurna di pangkal hidungnya. Ia mengenakan setelan jas formal hitam yang disetrika tanpa cela, kancingnya terkunci rapat sampai ke leher, bahkan di jam-jam rawan seperti ini.
Dia adalah Julian, tangan kanan kepercayaan Duke Kael Dravenhart. Sebagai kepala staf militer sekaligus ajudan pribadi sang Duke, Julian terkenal sebagai pria paling tenang, dingin, kaku, dan tidak pernah goyah dalam situasi genting apa pun di medan perang. Menghadapi ribuan pasukan musuh dengan panah berapi? Julian bisa menyeduh teh sambil menyusun strategi mundur tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.
Namun, menghadapi seorang putri bermahkota tudung lampu yang mengamuk karena urusan lebah dan paus terbang? Itu adalah jenis medan perang yang sama sekali tidak ada di dalam buku panduan akademi militer manapun.
"Astaga," ucap Julian tak percaya dengan yang ia lihat.
Julian berdiri kaku dengan jarak persis tiga meter dari sofa. Buku catatan kecil kulitnya terbuka di tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang pensil dengan posisi menulis yang sangat rapi. Wajahnya datar, tetapi otot di pelipisnya berkedut hebat, menahan rasa frustrasi yang luar biasa.
"Yang Mulia Putri Virelia, jam menunjukkan pukul tiga lewat dua belas menit pagi. Berteriak mengenai paus terbang, mendeklarasikan perang pada lebah, dan memecahkan barang antik peninggalan leluhur keluarga Dravenhart sama sekali tidak termasuk dalam anggaran perawatan rumah tangga bulanan. Mohon segera turun dari sofa impor tersebut sebelum kainnya kotor," ucap Julian dengan nada birokratisnya yang sangat kaku.
Virelia menurunkan sutil kayunya perlahan. Ia menatap Julian dari atas tudung lampunya dengan tatapan sinis, merendahkan, sekaligus penuh curiga.
"Pria berkacamata bermata empat! Kau bukan penasihat istana! Kau adalah mata-mata dari kaum kepiting darat yang menyamar! Jangan mendekat, atau aku akan melemparkan kutukan kutu air bercahaya hijau ke seluruh rambut rapi milik majikanmu!" geram Virelia, menunjuk tepat ke wajah Julian menggunakan ujung sutil kayu.
Julian menghela napas panjang, helaan napas yang terdengar sangat lelah. Ia mendorong kacamatanya ke atas dengan punggung jari telunjuk, lalu menatap lurus ke mata Virelia tanpa rasa takut sedikit pun.
"Pertama, saya adalah kepala staf militer dan asisten Duke bukan kepiting darat, Yang Mulia. Kedua, kutukan kutu air tidak memiliki dasar ilmiah maupun magis di daratan Valdoria. Dan ketiga, jika Anda terus meneruskan aksi teater musikal tengah malam ini, saya terpaksa harus mengikat Anda dengan tali dan melaporkannya kepada Yang Mulia Duke dengan lampiran tagihan ganti rugi sebesar dua ratus keping emas ke istana," balas Julian dengan nada penuh ancaman nyata.
Mendengar ancaman denda uang, mata Virelia melotot semakin lebar. Ia mendengus kesal, lalu melompat turun dari sofa dengan gerakan yang cukup mengejutkan untuk ukuran orang yang dikabarkan tidak waras. Ia mendarat tepat di depan Julian, menubrukkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal saja.
"Dua ratus keping emas?! Kau merampokku, Tuan Kacamata! Uang sebanyak itu bisa dipakai untuk membeli sepuluh ton kubis fermentasi dan lima ratus ekor bebek peliharaan untuk dijadikan menteri kabinetku! Kau pasti antek-antek kerajaan yang ingin membuatku bangkrut!" pekik Virelia histeris, mencengkeram kerah jas Julian dengan kedua tangannya dan mengguncang-guncangkan tubuh pria itu dengan kuat.
"Yang Mulia, kubis fermentasi tidak memiliki hak suara dalam pemerintahan, dan bebek tidak bisa diangkat menjadi menteri. Selain itu, jika Anda terus merusak kancing jas saya, saya akan menaikkan tagihannya menjadi tiga ratus keping emas ditambah biaya binatu," jawab Julian tenang, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Virelia dengan gerakan halus.
"Kau ini benar-benar menyebalkan! Aku akan menyuruh pasukan cacing tanah raksasa untuk memakan seluruh dokumen militer di meja kerjamu sampai berlubang!" jerit Virelia frustrasi, melepaskan cengkeramannya lalu meninju dada Julian pelan meski pukulannya lebih mirip pukulan anak kecil yang ngambek.
"Silakan saja, Yang Mulia. Cacing tanah Anda hanya akan mengalami sakit perut kronis karena tinta militer kami mengandung racun herbal khusus," balas Julian tanpa gentar sedikit pun, merapikan kembali kerah jasnya yang sedikit kusut.
Virelia tertegun sejenak, menatap Julian dengan mulut terbuka lebar, kehabisan kata-kata untuk mendebat logika birokratis yang kelewat dingin itu.
Di ambang pintu ruang tamu, berdiri Kael Dravenhart.
Sang Duke mengenakan jubah tidur beludru hitam yang dibiarkan terbuka di bagian dada, menampakkan otot perutnya yang atletis dan bekas luka goresan pedang yang melintang di bahunya.
Wajah Kael tampak sangat suram. Lingkaran hitam samar menghiasi bawah matanya adalah bukti nyata bahwa dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam sejak pertunangan paksa ini, beban mentalnya meningkat drastis melebihi seluruh tekanan selama tiga tahun perang di perbatasan utara melawan monster es.
Kael melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini tampak persis seperti kapal pecah usai badai besar. Pecahan kristal porselen, kelopak bunga mawar, dan bantal sofa berserakan di lantai marmer.
"Julian?" panggil Kael dengan suara beratnya yang dingin, memecah perdebatan sengit antara ajudannya dan sang istri.
Julian segera berbalik dengan gerakan sigap, membungkuk hormat sembilan puluh derajat kepada atasannya.
"Yang Mulia. Mohon maaf atas pemandangan yang tidak senonoh ini. Saya baru saja tiba dari pos pemeriksaan perbatasan utara dan mendapati kediaman kita telah bermetamorfosis menjadi suaka margasatwa," tukas Julian.
Kael tidak langsung menjawab. Sepasang mata birunya yang tajam menatap lurus ke arah Virelia.
Melihat kedatangan sang Duke, alih-alih mereda, Virelia justru mengubah target amukannya. Ia menghentakkan kakinya ke lantai, lalu berbalik dan menunjuk tepat ke wajah Kael dengan sutil kayu di tangannya.
"Ah! Monster serigala hitam! Kau datang untuk menculikku ke sarangmu dan menjadikanku santapan malam bersama anak-anak serigalamu, kan? Tidak akan! Aku tidak mau menjadi lauk pauk!" teriak Virelia histeris, menatap Kael dengan mata terbelalak lebar seolah melihat makhluk paling mengerikan di muka bumi.
Kael menghela napas panjang. Helaan napas itu terdengar begitu berat, seolah seluruh lelah di dunia tertumpuk di dadanya.
"Kurasa aku akan mati muda karena dia," kata Kael dengan sisa energi di dirinya.
"Jangan mati dulu! Kau belum memberikanku bulan!" seru Virelia.
Julian menahan tawa ketika melihat Duke Kael yang selalu memenangkan perang kini justru kewalahan menghadapi satu perempuan.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣