Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Darah di Ruang Bawah Tanah
Suara alarm berfrekuensi tinggi meraung memekakkan telinga di dalam bungker rahasia bawah tanah. Lampu merah berkedip rotasi, menyinari wajah pucat pasi Lin Ye dan sisa-sisa pengawalnya. Bungker dengan dinding beton setebal dua meter yang diklaim mampu menahan serangan rudal balistik itu, kini terasa seperti peti mati yang tertutup rapat.
DUAARRR!!
Ledakan dahsyat menghancurkan pintu baja utama berkode biometrik di ujung lorong. Asap kelabu pekat bergulung masuk, membawa serta aroma mesiu dan kematian. Dari balik kabut asap tersebut, puluhan titik laser inframerah menyapu ruangan layaknya mata merah dari iblis-iblis neraka yang kelaparan.
"Tembak! Tembak mereka semua!!" jerit Feng, kepala intelijen Lin Ye, sambil menembakkan senapan mesin ringannya secara membabi buta ke arah kepulan asap.
Selusin pengawal terakhir Lin Ye ikut melepaskan tembakan, memuntahkan ratusan peluru hingga selongsong kuningan berserakan menutupi lantai beton. Namun, tembakan mereka hanya mengenai ruang kosong.
Dalam sekejap mata, dari sudut-sudut buta dan langit-langit lorong, bayangan-bayangan hitam melesat maju. Pasukan Bayangan tidak bertempur layaknya tentara konvensional; mereka membantai dengan efisiensi algojo. Pisau Karambit merobek jakun, tangan kosong mematahkan tulang leher, dan senapan berperedam suara menembus tengkorak musuh dengan presisi mematikan.
Hanya dalam waktu empat puluh lima detik, suara tembakan mereda. Keheningan yang menakutkan kembali mengambil alih. Selusin pengawal elit Lin Ye telah menjadi mayat yang terkapar di genangan darah mereka sendiri.
Feng jatuh berlutut, menatap ngeri pada sebilah belati Kukri hitam yang menancap tembus di dada kirinya. Ia terbatuk memuntahkan darah, sebelum akhirnya ambruk tak bernyawa di depan sepatu bot militer milik Komandan Yuan.
Di tengah ruangan, Lin Ye berdiri gemetar. Jas mahalnya basah oleh keringat dingin. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia menarik kerah baju Su Ming dan menodongkan pistol tepat ke pelipis paman Su Yuhan itu.
Su Ming menangis tersedu-sedu, wajah bengkaknya basah oleh air mata, ingus, dan genangan air seni yang membasahi celananya karena teror murni.
"Mundur!! Perintahkan pasukanmu mundur, Yuan!!" raung Lin Ye histeris, suaranya pecah oleh keputusasaan. Matanya melotot liar menatap sosok raksasa Yuan yang melangkah santai mendekatinya. "Pria ini adalah paman kandung istrimu! Jika kau melangkah satu inci lagi, aku akan meledakkan kepalanya, dan Lin Fan akan dibenci oleh istrinya seumur hidup!"
Komandan Yuan berhenti. Ia mengibaskan sisa darah dari belatinya dengan gerakan pelan dan penuh perhitungan. Dari balik topeng taktisnya, terdengar suara tawa bariton yang sangat dingin dan merendahkan.
"Kau benar-benar tidak menyimak perkataan Nyonya Besar kami di video tadi, bukan?" ucap Yuan datar. "Di mata Keluarga Lin, pria tua penjilat ini bukanlah keluarga. Dia hanyalah lintah yang kebetulan memiliki nama keluarga yang sama."
Yuan menatap lurus ke mata Lin Ye. "Silakan tarik pelatuknya, Lin Ye. Kau justru akan menyelamatkanku dari tugas mengurus sampah ini."
Mendengar bahwa nyawanya tidak ada harganya sama sekali, Su Ming menjerit histeris. "T-Tuan Yuan! Tolong saya! Saya paman Yuhan! Saya yang merawatnya saat kecil! Kalian tidak bisa membiarkanku mati!"
Menyadari bahwa kartu truf terakhirnya benar-benar tidak berguna, kewarasan Lin Ye hancur berantakan. Tangannya yang memegang pistol perlahan turun. Pistol itu terlepas dari genggamannya dan jatuh berdenting di lantai beton.
Yuan melangkah maju. Tanpa memedulikan Lin Ye yang kini jatuh terduduk dengan tatapan kosong, Yuan berjalan menghampiri Su Ming yang masih terikat di kursi baja.
Su Ming menatap Yuan dengan penuh harap, mengira bahwa gertakan Yuan tadi hanyalah trik psikologis dan ia kini akan diselamatkan.
"T-terima kasih... T-Tuan Lin Fan pasti menyuruhmu membawaku pulang, kan?" isak Su Ming dengan senyum bodoh yang dipaksakan.
Yuan menunduk menatap Su Ming. Matanya tidak memancarkan belas kasihan, melainkan keadilan yang kejam. Ia membacakan daftar dosa Su Ming dengan suara berat:
Pengkhianatan Internal: Bekerja sama dengan musuh untuk menjatuhkan perusahaan keponakan sendiri.
Pencurian Aset: Mencoba memalsukan tanda tangan untuk merampas dana 500 Miliar Yuan milik Ratu Keluarga Lin.
Penghinaan Berkelanjutan: Menghina dan merendahkan Sang Naga secara terus-menerus selama tiga tahun masa pengasingan.
"Tuan Muda Lin Fan tidak pernah membunuh keluarga dari Nyonya Besar agar tidak menodai karma istrinya," ucap Yuan dingin. "Namun, setiap pengkhianatan di kerajaan ini memiliki harga yang harus dibayar lunas."
Yuan mencengkeram kedua pergelangan tangan Su Ming yang terikat.
"Tangan kotor ini mencoba mencuri stempel perusahaan Nyonya Besar," bisik Yuan.
KRAK! KRAK!
Dengan satu remasan brutal bertenaga dalam, Yuan meremukkan tulang-tulang di kedua telapak dan pergelangan tangan Su Ming hingga hancur menjadi serpihan di bawah kulit. Tangan itu tidak akan pernah bisa menggenggam apa pun lagi, apalagi mencuri.
Jeritan kesakitan Su Ming mengalahkan suara alarm bungker, sebelum akhirnya matanya bergulir ke atas dan ia pingsan.
"Kemas babi tua ini," perintah Yuan pada dua prajurit bayangan di belakangnya. "Kirim dia ke tambang batu bara Siberia. Satukan dia dengan Chen Fei dan Zhao Tian. Biarkan dia mati perlahan menggali batu bara dengan giginya."
Eksekusi di Dasar Neraka
Kini, ruangan itu hanya menyisakan Lin Ye dan sang Komandan.
Lin Ye merangkak mundur hingga punggungnya menabrak meja besi. Kesombongan sebagai pewaris kedua Keluarga Lin telah menguap tanpa sisa. Ia mendongak menatap Yuan, mencoba satu trik terakhir yang paling menyedihkan: Penyuapan.
"Y-Yuan... dengarkan aku," Lin Ye tergagap, air mata ketakutan membasahi wajahnya. "Lin Fan tidak akan pernah memberimu kekuasaan sejati! Dia hanya menganggapmu anjing penjaga! Jika kau melepaskanku malam ini... aku akan memberimu setengah dari aset pribadiku! Triliunan Yuan! Aku akan menjadikanmu Jenderal Tertinggi, bukan sekadar komandan bayangan! Kita bisa lari ke luar negeri dan membangun kerajaan baru!"
Yuan berdiri menjulang di atas Lin Ye. Bayangannya menutupi seluruh tubuh gemetar pria itu.
"Triliunan Yuan?" Yuan mencibir, suaranya dipenuhi rasa jijik yang luar biasa. "Kesetiaan Pasukan Bayangan tidak dibeli dengan mata uang busukmu. Kami mengabdi pada kekuatan absolut dan kehormatan Sang Naga. Kau? Kau hanyalah cacing tanah yang mencoba memakai mahkota."
Yuan mencabut pistol kaliber besar dari sarung di pahanya dan menodongkannya tepat ke dahi Lin Ye.
Menyadari bahwa kematiannya sudah mutlak, Lin Ye menangis meraung-raung, merangkak memeluk sepatu bot Yuan. "T-TIDAK!! Ampuni aku! Tolong sampaikan pada Lin Fan, aku menyerah! Aku akan menjadi budaknya! Jangan bunuh aku!!"
Yuan menatap lurus ke arah mata Lin Ye yang memerah karena teror.
"Tuan Muda menitipkan satu pesan terakhir untukmu," bisik Yuan, menarik pelatuknya hingga setengah jalan. "Dia berkata: 'Terima kasih telah menjaga kursiku agar tetap hangat selama tiga tahun, Sepupu. Sekarang, tidurlah di neraka.'"
DOR!
Suara tembakan tunggal menggema memekakkan telinga di dalam bungker tertutup itu. Tubuh Lin Ye terempas ke belakang dan ambruk ke lantai beton. Matanya terbelalak terbuka, menatap langit-langit bungker yang suram, membawa seluruh ambisi licik dan keserakahannya menuju kematian yang hina. Sang parasit ibu kota akhirnya berhasil dicabut hingga ke akarnya.
Yuan memasukkan kembali pistolnya ke dalam sarung dengan gerakan efisien. Ia menekan tombol komunikator di telinganya.
"Lapor, Tuan Muda," lapor Yuan, menatap mayat Lin Ye dengan dingin. "Bungker telah dibersihkan. Target utama dieksekusi. Tidak ada lagi halangan yang tersisa untuk upacara penobatan Anda besok pagi."
Dari seberang saluran, hanya terdengar jawaban singkat yang dipenuhi otoritas absolut.
"Kerja bagus, Yuan.