Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13 Mencari keberadaan Luna
Meskipun hidup Luna terasa lebih aman di kediaman Leon, bayang-bayang trauma masa lalu masih kerap membayangi pikirannya. Luna sadar betul tabiat serakah keluarga angkatnya yang tidak akan berhenti begitu saja sebelum memeras habis dirinya.
Di sudut kota yang kusam, pasangan suami-istri angkat Luna mulai kebingungan karena Luna menghilang tanpa jejak. Menghadapi desakan utang dan kejaran penagih utang yang kian beringas, mereka mulai mendatangi tempat-tempat kerja lama Luna, meneror teman-temannya, hingga menyebar ancaman untuk menemukan keberadaannya.
"Ini semua salah kamu juga! kalau kamu tidak kasar sama Luna pasti dia tidak akan kabur dari sini!" ucap ayah angkat Luna pada istrinya itu yang sedang duduk sambil memegangi kepalanya yang sudah pusing mencari-cari keberadaan Luna kesana kemari.
"Jangan hanya aku yang disalahkan! Kamu juga salah, terakhir kali kamu yang sangat kasar memukulnya malam itu sebelum akhirnya dia pergi dan tidak kembali sampai saat ini, kalau sudah begini bagaimana dengan nasib kita...! Kita sudah kehilangan mesin uang kita....di mana lagi kita akan mencarinya...!" teriak ibu angkat Luna sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Sudah, sudah kita pikirkan lagi caranya untuk menemukan dia kembali,"ucap ayah angkat Luna membuat istrinya berhenti memukuli kepalanya itu.
"Bagaimana caranya?" tanya ibu angkat Luna pada suaminya yang pemalas itu.
"Besok kita coba hubungi ponsel Luna lagi, siapa tahu sudah aktif," ucap ayah angkat Luna tersenyum pada istrinya dan ibu angkat Luna pun tersenyum seperti menemukan harapan baru.
Tiba-tiba saja pasangan suami istri itu di kejutkan oleh dua orang preman yang nyelonong masuk ke dalam rumah mereka tanpa permisi "Bayar hutang kalian sekarang juga! kalau tidak ingin kami bakar rumah ini!!" bentak salah satu dari preman itu pada kedua orang tua angkat Luna.
"Jangan! jangan bakar rumah kami...kami janji akan membayar hutang-hutang kami secepatnya tapi tolong beri kami waktu sebentar saja untuk mendapatkan uang itu," ibu angkat Luna bersujud di kaki kedua preman itu sambil menangis.
"Cih..! Janji-janji terus yang kalian ucapkan tapi kenyataannya kalian tidak bisa membayar sampai sekarang hah..!" salah satu preman itu menjambak rambut ayah angkat Luna dengan keras.
"I_iya kami janji akan kami bayar segera," ucap ayah angkat Luna memohon pada preman-preman itu.
"Apa jaminannya!" bentak preman itu mendekatkan wajahnya pada ayah Luna yang ada di bawah kaki preman itu.
"Aku punya anak gadis, bagaimana kalau dia yang menjadi jaminannya?" ucap ibu angkat Luna dengan cepat sambil tersenyum pada preman itu.
Tiba-tiba muncul seseorang yang duduk di kursi roda menyeruak dari belakang kedua preman itu dan berhenti di hadapan kedua orang tua angkat Luna, dia adalah kepala preman bos dari kedua preman tadi. Orang itu sudah berumur kepalanya botak, gendut dan cacat kakinya.
Orang itu mengarahkan kursi rodanya di hadapan kedua orang tua Luna yang masih duduk bersimpuh di lantai "Bawa anak gadismu kepadaku, buat dia mau menikah dengan aku dengan begitu aku akan menganggap lunas hutang kamu yang berjumlah lima ratus juta itu, bagaimana?" kepala preman itu menatap licik pada kedua orang tua Luna.
"Baiklah aku setuju!" ucap ibu angkat Luna spontan dan tanpa berpikir panjang lagi.
"Kalau begitu cepat bawa dia padaku, aku beri waktu satu Minggu kalau tidak kalian akan tahu sendiri akibatnya!" bentak kepala preman itu menodongkan pistolnya di pelipis ibu angkat Luna.
"B_baik, saya akan segera kirim dia pada bos," ucap ibu angkat Luna ketakutan.
Kepala preman itupun keluar dari rumah orang tua angkat Luna beserta anak buahnya.
"Bagaimana ini...?" tanya suami ibu angkat Luna pada istrinya dengan panik.
"Diam...! Aku akan cari keberadaan anak brengsek itu sekarang juga dan membawanya pada bos Bruno.
...----------------...
Pagi ini di mansion Leon terlihat Luna sedang sibuk sekali membantu Emily memakai seragam sekolahnya " Nah sudah selesai memakai seragam, sekarang tinggal pakai sepatunya, Emily duduk di kursi ini ya mami Luna akan pakaikan sepatunya."
Luna duduk berjongkok di hadapan Emily untuk memasangkan sepatunya "Sudah selesai..." ucap Luna tersenyum pada Emily.
"Makasih mami Luna..." Emily mencium pipi Luna dengan lembut, Luna tersenyum merasakan ciuman tulus dan sayang dari Emily kecil.
"Sama-sama sayang," Luna mengusap lembut kepala Emily.
Leon yang tidak sengaja melintas di depan kamar putrinya itu tiba-tiba saja tertegun melihat kehangatan yang tercipta antara Emily dan Luna. Leon buru-buru melangkah pergi dari kamar Emily dan bergegas berjalan menuju ke ruang makan saat mendengar Luna mengajak Emily keluar kamar.
"Yuk sayang kita sarapan dulu," ajak Luna pada Emily sambil menggandeng tangan mungil Emily berjalan ke arah ruang makan.
Dan setibanya di ruang makan, Luna melihat Leon yang sudah duduk di kursi ruang makan itu menunggu Emily dan dirinya, seperti biasa Luna menyapa Leon terlebih dahulu.
"Pagi tuan," ucap Luna sembari menganggukkan kepalanya hormat pada Leon.
"Pagi," jawab Leon pendek.
Luna duduk di kursi makan di sebelah Emily, kemudian Luna mengambil sepotong roti tawar dan mengolesnya dengan selai coklat yang ada di atas meja makan itu.
"Mami Luna, aku tidak mau selai coklat," ucap Emily pada Luna.
"Maaf sayang, tadi mami Luna lupa tidak tanya Emily dulu," Luna meletakkan setangkup roti tawar yang sudah di olesi selai coklat itu ke piring kecil miliknya.
"Emily mau selai apa...?" tanya Luna dengan sabar pada Emily.
"Emily mau selai strawberry, mami Luna," ucap Emily semangat.
"Oke, sayang," kemudian Luna mengambil toples kecil yang berisi selai strawberry itu dan mengoleskannya pada roti tawar yang ada di tangannya dan setelah selai menutupi roti tawar itu Luna pun mengambil selembar roti tawar lagi dan menutupkannya pada roti tawar yang sudah di olesi selai tadi.
"Ini sayang rotinya," Luna meletakkan piring kecil yang berisi roti tawar isi selai strawberry di hadapan Emily.
"Makasih mami Luna," ucap Emily menoleh pada Luna yang duduk disampingnya itu, Luna tersenyum "Iya sayang."
Meski tidak memperhatikan sikap Luna saat melayani Emily tapi Leon bisa mendengar dari ucapan Luna pada Emily yang ternyata sesabar itu Luna menghadapi Emily yang terkadang sangat manja dan merepotkan, Leon menyadari ketulusan Luna dalam mengasuh Emily putri semata wayangnya itu.
"Tuan. Tuan mau saya buatkan roti selai juga?" tanya Luna tiba-tiba yang membuat Leon terhenyak dari lamunannya.
"Em, iya," Dengan spontan Leon menjawab iya pada Luna padahal selama ini dia tidak pernah mau di layani oleh Luna.
Luna sempat mengernyitkan alisnya mendengar jawaban dari Leon tapi dia tepiskan begitu saja sambil bertanya lagi pada Leon "Mau selai apa Tuan," tanya Luna.
"Blueberry," jawab Leon tanpa melihat pada Luna.
Kemudian Luna mengambil toples yang berisi selai blueberry dan mengoleskannya pada roti punya Leon "Silahkan Tuan," Luna meletakkan piring kecil yang berisi setangkup roti tawar selai blueberry itu di depan Leon "Terimakasih," ucap Leon tanpa ekspresi.
"Iya Tuan," kemudian Luna dan Emily pun menyelesaikan sarapan pagi mereka.
"Ayo Emily segera berangkat ke sekolah," perintah Leon pada putrinya itu.
"Papa, Emily mau ke sekolah tapi di antar sama mami Luna..." ucap Emily pada Leon.
"Tidak usah, kamu biasanya mandiri hanya di antar jemput sama pengawal papa kan?" ucap Leon tegas membuat Emily takut membantah.
"Em...Tuan, tidak apa-apa saya akan antar Emily berangkat ke sekolah hari ini," ucap Luna yang sepertinya tahu keinginan hati gadis kecil itu.
Leon diam dia tidak ingin merusak mood Emily pagi ini dan akhirnya Dia pun membiarkan Luna mengantar Emily ke sekolah.