Indonesia
NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:434
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menenun Kembali Sketsa Yang Retak

Sejak kejadian sore itu, keheningan yang asing mendadak membentang di barisan bangku paling belakang kelas 7-B. Jarak antara meja Auren dan Evan yang biasanya hanya berkisar beberapa sentimeter, kini terasa sejauh bermil-mil. Auren lebih banyak diam, memalingkan wajahnya ke arah jendela, atau sibuk mencatat dengan buku agenda barunya tanpa sekali pun melirik ke arah kanan.Evan tahu ia telah melakukan kesalahan besar. Kata-kata kasarnya yang terlanjur terucap hari itu telah menggores hati Auren, membuat sketsa persahabatan yang baru mereka bangun selama sebulan ini mendadak retak.Membujuk seorang Auren ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selama dua hari berturut-turut, Evan mencoba segala cara. Mulai dari menaruh sekotak susu cokelat di kolong meja Auren, hingga sengaja meminjamkan rautan pensil tanpa diminta. Namun, Auren hanya mengembalikan barang-barang itu dengan anggukan formal dan wajah sedatar dinding semen sekolah.

Hingga akhirnya, hari Sabtu tiba. Hari di mana jam pelajaran berjalan lebih pendek dan koridor sekolah langsung sepi begitu bel pulang berbunyi.Auren baru saja menyampirkan tas ranselnya di bahu ketika sebuah bayangan tinggi mencegat langkahnya tepat di ambang pintu kelas 7-B."Ren, tunggu sebentar. Tolong, jangan menghindar lagi," ucap Evan. Suaranya terdengar serak, tidak ada lagi nada santai atau penuh canda yang biasa ia gunakan. Matanya menatap Auren dengan pancaran rasa bersalah yang amat mendalam.Auren menghentikan langkahnya, namun ia tetap menolak untuk menatap mata Evan. Ia memilih memandangi lantai ubin koridor. "Ada apa lagi, Van? Kalau soal urusan pengurus kelas, semua agenda minggu ini sudah selesai aku catat dan aku serahkan ke Putra.""Ini bukan soal pengurus kelas, Ren," potong Evan cepat. Ia maju satu langkah, lalu perlahan menyodorkan sesuatu yang sejak tadi ia sembunyikan di balik punggungnya.Itu adalah sebuah buku sketsa baru bersampul tebal dengan warna biru langit yang sangat indah. Di bagian sudut kanannya, ada sebuah gantungan kunci kecil berbentuk pulpen gel hitam—mirip dengan pulpen yang pernah Evan hadiahkan kepadanya tempo hari.

"Gue tahu kata maaf aja gak bakal bisa langsung menghapus cara gue menuduh lo kemarin," kata Evan, suaranya melunak, penuh ketulusan yang membuat pertahanan di dada Auren perlahan mulai goyah. "Tapi semalam gue mikir, sketsa lama lo mungkin sudah rusak gara-gara kesalahpahaman itu. Jadi... gue beliin ini. Biar lo bisa mulai menggambar sketsa baru lagi di dalamnya."Evan menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Gue pengin kita menenun kembali apa yang sempat retak kemarin, Ren. Gue gak mau kehilangan sekretaris—sekaligus teman sebangku—terbaik gue cuma karena ego gue yang bodoh."Mendengar kalimat terakhir Evan, Auren akhirnya memberanikan diri untuk mendongak. Ia menatap sepasang mata Evan yang tampak sangat cemas, menunggu jawabannya dengan raut wajah tegang. Keheningan koridor sore itu seolah menjadi saksi bagaimana rasa kesal yang menggumpal di dada Auren selama dua hari ini mendadak meleleh begitu saja.

Auren mengembuskan napas panjang, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk menerima buku sketsa biru tersebut. Sentuhan jemarinya pada sampul buku itu terasa seperti awal dari babak yang baru."Jangan diulangi lagi ya, Van," bisik Auren pelan, namun sebuah senyuman tipis yang sangat manis akhirnya kembali terukir di wajahnya.Evan yang melihat senyuman itu langsung mengembuskan napas lega yang amat panjang, seolah seluruh beban berat di pundaknya baru saja diangkat. Ia tertawa kecil, lalu secara refleks mengetuk pembatas koridor sekolah dua kali dengan jemarinya—gestur khasnya yang menandakan bahwa dunianya dan Auren kini telah kembali baik-baik saja.

Langkah kaki Auren terasa jauh lebih ringan saat menuruni anak tangga semen sore itu. Di dalam dekapannya, buku sketsa bersampul biru langit pemberian Evan terasa hangat. Sesekali ia melirik ke samping, mendapati Evan yang berjalan dengan gaya santainya yang biasa—satu tangan di saku celana, tangan lainnya memegang tali ransel. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekik seperti beberapa jam lalu."Jadi," Evan membuka suara saat mereka hampir sampai di gerbang sekolah, memecah keheningan sore yang mulai jingga. "Buku itu jangan cuma disimpan di lemari ya, Ren. Gue tagih gambar pertama lo hari Senin besok."Auren menoleh sambil mendengus kecil, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan. "Iya, bawel. Nanti aku gambar karikatur kamu yang paling aneh biar kamu kapok.""Wah, parah. Masa cowok seganteng ketua kelas 7-B mau digambar aneh-aneh," canda Evan sambil tertawa lepas. Ketukan langkah sepatu mereka yang beriringan di atas aspal jalanan sore itu terdengar seperti irama yang harmonis. Langkah mereka yang sempat canggung kini kembali searah.Namun, kedamaian di antara mereka hari itu hanyalah ketenangan sebelum badai remaja berikutnya datang.Keesokan harinya, tepatnya hari Minggu siang, handphone Auren bergetar di atas meja belajar. Sebuah pesan singkat masuk ke aplikasi obrolan grup pengurus inti kelas 7-B. Pesan itu datang dari Balisya.“Teman-teman pengurus, besok Senin jam pertama kan jam kosong karena guru-guru ada rapat dinas. Tolong besok pagi-pagi banget sebelum bel, kita kumpul di ruang OSIS ya. Ada hal penting banget soal laporan keuangan kas bulanan yang mau aku tunjukin ke Evan dan Putra. Auren juga harus datang sebagai sekretaris buat catat mutasinya. Makasih.”Auren menatap layar handphone-nya dengan perasaan yang mendadak tidak enak. Kalimat Balisya terasa terlalu formal, bahkan terkesan menuntut. Setelah taktiknya dibongkar oleh Putra hari Jumat lalu, Auren mengira Balisya akan menarik diri atau setidaknya merasa canggung. Namun, melihat pesan ini, Balisya tampaknya justru sedang merencanakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih matang untuk membalikkan keadaan.

Hari Senin pagi pun tiba. Kabut tipis sisa hujan semalam masih menyelimuti halaman sekolah saat Auren melangkah melewati gerbang. Jam baru menunjukkan pukul 06.15 WIB, sekolah masih sangat sepi.Auren berjalan menyusuri koridor lantai dua yang sunyi menuju ruang OSIS. Begitu ia mendorong pintu kayu ruangan tersebut, ia terkejut karena ternyata semua orang sudah berkumpul di sana.Evan duduk di ujung meja rapat dengan wajah yang tampak serius. Putra berada di sebelahnya, dahi Wakil Ketua Kelas itu tampak berkerut dalam sambil memandangi selembar kertas di atas meja. Dan di hadapan mereka, Balisya sudah berdiri tegak. Jilbab putihnya seperti biasa tegak sempurna tanpa cela, membingkai wajahnya yang kini tidak lagi memancarkan rasa bersalah, melainkan keyakinan yang mutlak."Nah, Auren akhirnya datang," suara Balisya memecah keheningan ruang OSIS begitu melihat kehadiran Auren di ambang pintu. Ia melemparkan senyum tipis—bukan senyuman manis tiruan seperti biasanya, melainkan senyuman dingin yang membuat bulu kuduk Auren meremang."Ada apa ini, Sya?" tanya Auren pelan sambil menutup pintu di belakangnya dan berjalan mendekati meja rapat.Balisya tidak langsung menjawab Auren. Ia justru menoleh ke arah Evan, lalu mengetuk-ngetuk jarinya di atas selembar kertas laporan yang terletak di tengah meja."Evan, sebagai Ketua Kelas, kamu harus lihat ini baik-baik," ujar Balisya, suaranya terdengar sangat santun namun penuh dengan racun yang siap menyebar. "Hari Jumat kemarin, Putra emang bawa buku rekap resmi yang katanya ditulis sama Auren. Tapi setelah aku periksa ulang seluruh rincian pengeluaran kelas dan aku bandingin sama nota asli bulanan yang aku pegang... ada selisih dana yang lumayan besar. Dan anehnya, catatan yang salah itu persis sama dengan apa yang ditulis Auren di buku agenda pribadinya sebelum dipindah."Balisya menjeda kalimatnya sejenak, lalu memutar tubuhnya menghadap Auren. Matanya menyipit tajam di balik jilbab putihnya. "Aku gak mau menuduh sembarangan lagi kayak kemarin. Tapi kali ini, datanya hitam di atas putih. Catatan Auren bikin uang kas kelas kita tekor hampir seratus ribu. Dan sebagai bendahara, aku gak bisa tinggal diam kalau ada pengurus yang gak jujur sama uang anak-anak kelas."Mendengar tuduhan baru yang jauh lebih berat itu, ruangan OSIS mendadak terasa sedingin es. Auren mematung, dadanya bergemuruh hebat. Kali ini, Balisya tidak sedang menyerang tanggung jawabnya, melainkan sedang menghancurkan harga diri dan kejujurannya di depan Evan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!