Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
***
Seminggu berlalu begitu cepat, menggenapkan waktu tepat satu bulan sejak Alana melangkah masuk ke dalam sangkar emas Mansion Elard. Namun, bergantinya hari tidak membawa angin segar; justru ketegangan di dalam rumah megah itu kian memuncak saat hari pemeriksaan rutin tiba.
Pagi itu, atmosfer di ruang kesehatan pribadi mansion terasa amat membekukan. Nyonya Helena berdiri tegak dengan tangan bersedekap di dada, memperhatikan Dr. Maya yang baru saja menyelesaikan tes urin dan analisis sampel darah Alana. Di atas meja pemeriksaan, strip tes kehamilan tergeletak di samping alat medis.
Satu garis merah tegas tercetak di sana. Negatif.
Nyonya Helena melangkah mendekati meja, menatap strip tes itu dengan raut wajah yang menggelap. Matanya beralih menatap Alana yang terduduk lemas di tepi tempat tidur pemeriksaan, masih mengenakan gaun santai dengan wajah pucat dan mata membayang penuh ketakutan.
"Satu bulan, Alana," suara Nyonya Helena bergema dingin, memecah keheningan. "Satu bulan penuh kalian berhubungan, dan hasilnya masih nihil? Apakah rahimmu selemah ini sampai suplemen dosis tinggi pun belum membuahkan hasil?"
Alana meremas jemarinya di atas pangkuan, menunduk dalam-dalam. "Maafkan saya, Ibu... dokter..." bisiknya dengan suara gemetar.
"Keluarga Elard tidak butuh kata maaf," potong Nyonya Helena tanpa simpati. Ia menoleh ke arah Bibi Rika yang berdiri di dekat pintu. "Bawa ramuan herbal tradisional yang dipesan langsung dari ahli pengobatan keluarga."
Bibi Rika bergegas mendekat, menyodorkan sebuah mangkuk keramik tebal berisi cairan hitam pekat yang meluapkan aroma menyengat, pahit, dan menusuk hidung. Di samping mangkuk itu, Dr. Maya juga telah menyiapkan empat pil suplemen kesuburan berukuran besar—dosis ganda dari bulan sebelumnya.
"Minum ini semua sekarang," perintah Nyonya Helena tegas.
Alana menatap cairan hitam pekat itu dengan rasa mual yang mendadak melilit perutnya. "Ibu... bau ramuan ini sangat tajam... perut saya masih belum kuat—"
"Tidak ada alasan, Alana!" serak Nyonya Helena menekan, matanya berkilat penuh intimidasi. "Kakek Hendra sudah menanyakan perkembangan kehamilanmu pagi ini! Kamu pikir kami mengeluarkan puluhan miliar untuk keluarga Adhijaya hanya untuk menunggu keraguanmu? Minum di hadapan saya sekarang!"
Dengan bibir gemetar dan air mata yang merebak di pelupuk matanya, Alana mengangkat mangkuk berat itu. Ketika cairan pekat tersebut menyentuh lidahnya, rasa pahit dan perih yang teramat sangat membakar tenggorokannya. Alana tersedak pelan, namun paksaan tatapan dingin ibu mertuanya membuatnya terpaksa meneguk habis ramuan tersebut hingga tetes terakhir, disusul menelan empat butir pil besar sekaligus.
Rasa terbakar di dadanya dan kebas di lidahnya seolah meremukkan sisa-sisa martabat Alana. Tubuhnya gemetar hebat saat Nyonya Helena hanya mendengus dingin dan melangkah keluar kamar bersama Dr. Maya, meninggalkan Alana yang terkulai lemas menahan mual tiada tara.
**
Malam harinya, ruang makan utama Mansion Elard diselimuti ketegangan yang menyesakkan. Meja makan panjang dari kayu mahoni berukir itu dihiasi hidangan mewah dan peralatan makan perak yang berkilau di bawah lampu kristal. Namun, tak seorang pun di ruangan itu yang menikmati makan malam tersebut.
Kakek Hendra Elard duduk di ujung meja sebagai penguasa tertinggi. Di sisi kanannya, Ayah Bramantyo Elard menatap dingin ke arah Kenzo dan Alana yang duduk berhadapan dengan Nyonya Helena.
Laporan hasil tes kehamilan satu bulan pertama Alana yang dinyatakan negatif telah sampai ke tangan sang kakek sebelum makan malam dimulai.
Ting.
Kakek Hendra meletakkan pisau dan garpunya ke atas piring porselen dengan bunyi berdenting keras. Seketika, keheningan mencekam merayap di seluruh ruangan. Seluruh pelayan yang berdiri di sudut ruangan menundukkan kepala rapat-rapat, tak berani berhembus keras.
"Satu bulan," suara Kakek Hendra terdengar berat, dalam, dan dipenuhi aura intimidasi yang menekan. Matanya yang tajam bak elang menghujam lurus ke arah Kenzo dan Alana. "Keluarga Elard sudah menggelontorkan puluhan miliar untuk menyelamatkan perusahaan Adhijaya yang hampir membusuk di jurang kebangkrutan. Dan ini hasil yang kalian berikan?"
Bramantyo Elard ikut menegakkan punggungnya, menatap Kenzo dengan raut wajah kecewa. "Kenzo, rapat direksi dan para investor utama terus mempertanyakan kestabilan kepemimpinanmu. Saham Elard Group butuh kepastian dinasti! Kakekmu dan Ayah tidak membayar mahal untuk sebuah kegagalan."
Alana meremas jemarinya di bawah taplak meja. Bibirnya gemetar, dan rasa pahit dari ramuan herbal yang dipaksa minum oleh Nyonya Helena tadi siang masih menyengat dasar tenggorokannya. Wajahnya yang pucat pasi menunduk dalam-dalam.
Kenzo tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang tenang dan berwibawa, meski rahangnya mengeras menahan gejolak emosi. "Saya dan Alana sudah menjalankan kewajiban kami, Kakek, Ayah. Proses ini butuh waktu penyesuaian fisik."
"Kami tidak punya waktu untuk penyesuaian sia-sia!" potong Kakek Hendra tegas tanpa kompromi. Suaranya bergema memenuhi ruang makan yang luas. "Mulai malam ini, tidak ada lagi alasan lelah, sibuk dengan pekerjaan kantor, atau menunda-nunda!"
Kakek Hendra mengalihkan pandangannya pada Nyonya Helena. "Helena, panggil Dr. Maya besok pagi. Buat jadwal penyatuan rutin yang ketat untuk Kenzo dan Alana. Tiga kali dalam seminggu, pada jam-jam paling subur, kalian berdua wajib berada di dalam kamar utama dan menyelesaikan tugas itu di bawah pemantauan medis Dr. Maya!"
Jantung Alana serasa dihentikan seketika. Jadwal penyatuan yang dipantau dokter. Kata-kata itu menghantam dadanya seperti pukulan tak berbelas kasihan. Martabatnya sebagai seorang wanita kini benar-benar dilelang secara terbuka di meja makan ini.
"Dan kamu, Kenzo," sambung Bramantyo Elard dengan nada menuntut. "Batasi jam kerjamu di kantor jika perlu. Tugas utamamu saat ini adalah memastikan rahim Alana terisi sebelum evaluasi saham semester depan!"
Kenzo mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Sebagai seorang CEO yang biasa memerintah ribuan orang, teguran keras di depan istri dan ibunya sendiri ini menghantam gengsi dan harga dirinya. Namun, di hadapan Kakek Hendra, Kenzo tak punya celah untuk membantah.
"Saya mengerti, Kakek... Ayah," sahut Kenzo dengan suara berat yang menahan gejolak amarah.
"Bagus," ulas Kakek Hendra dingin. Pria tua itu berdiri dari kursinya tanpa menyelesaikan makan malamnya. "Ingat, Kenzo. Jika dalam beberapa bulan ke depan rahim Alana masih kosong, Kakek akan meninjau ulang posisi direktur utama yang kamu pegang saat ini."
Dengan langkah kaku, Kakek Hendra dan Ayah Bramantyo meninggalkan ruang makan, disusul Nyonya Helena yang hanya memberikan tatapan penuh tekanan pada Alana sebelum ikut melangkah pergi.
Bersambung...
Kasian kasian kasian....
Jadi Alana berat banget ya guys,, menjadi menantu di keluarga kaya tidak menjamin jadi bahagia huhuhu...
Happy reading semuanya 🕊️❤️