Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Ophelia

Takdir Sang Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

“...Lia?” 

Ophelia langsung tersadar kembali. “Ya?” 

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Airin pelan.

Ophelia menghela nafas. “Aku cuma kaget soalnya nggak ada berita apapun. Kenapa nggak dirayakan sama sekali? Sweet seventeen itu bukannya spesial?” 

“Mana bisa dirayakan disaat begini.” 

Ah ya. 

Orang terpenting bagi Kaiser masih sakit. 

“Tapi tahun depan pasti dirayakan ‘kan?” tanya Airin. Dia terlihat tidak sabar. “Aku pasti datang.” 

“Pastinya. Kami bahkan berencana melakukan open house.”

Ophelia mengangkat alis. “Open house?” 

“Pestanya akan dilakukan di kediaman utama keluarga Mahawirya,” jawab Kaiser. “Ini pertama kalinya dibuka untuk umum begitu.” 

“Tapi yang datang tetap keluarga terpilih saja ‘kan ya?” Ophelia menyimpan buku yang ia bawa di dalam nakas. Itu adalah rangkuman pelajaran selama satu minggu yang ia tulis untuk Airin.

“Kenapa? Takut tidak diundang?” Kaiser tersenyum sinis. “Yah wajar, keluarga Pratama belum se-terkenal itu untuk bisa diundang ke pesta sosialita tinggi.” 

Ophelia menggeram, dia ini kenapa? Ngajak berantem? 

“Airin kamu tahu?” jari telunjuknya mengarah pada Kaiser. “Orang ini, ketika akan membawa kita ke rumah sakit dia hampir menabrak seseorang. Aneh banget bisa dapat SIM padahal cara menyetirnya sembrono begitu.” 

“Namanya juga lagi panik, wajar kalau melakukan kesalahan,” bela Kaiser.

“Justru karena belum bisa tenang di situasi genting makanya jangan dulu dibiarkan menyetir.” 

Airin tertawa kecil, menghentikan perdebatan Ophelia dan Kaiser. Mereka  melihat ke arah yang sama kemudian ikut tersenyum.

“Tapi kalau itu Lia pasti diundang.” Airin memegang tangannya. “Kalau kamu tidak datang aku juga tidak mau datang.” 

Kaiser langsung protes. “Kenapa begitu? Yang ulang tahun nanti itu aku, kenapa malah Ophelia yang jadi penentunya?” 

“Karena Airin lebih sayang padaku, tentu saja.” Ophelia tersenyum dan balas memegang tangan Airin. “Ya ‘kan?”

“Iya~”

Ophelia kembali tersenyum sinis ketika melihat Kaiser kesal.

Tapi ia jadi berfikir, kalau sekarang keluarga Pratama bisa diundang kesana karena ia dekat dengan Kaiser, dulu kenapa mereka bisa datang?

Ia dan Kaiser tidak berteman, Chelsea juga yang merupakan teman sekelasnya tidak sedekat itu. Keluarga Pratama pun belum benar-benar sukses untuk bisa diundang secara resmi. 

Apa karena Yelena?

Apa mungkin Ibu angkatnya itu meminta pada kakaknya Kaiser jadi mereka bisa datang kesana? 

Bisa jadi.

Sekarang karena penyelamatan Airin sudah berhasil, Ophelia harus melangkah ke rencana lain. 

Perselingkuhan Ibu angkatnya. 

Ophelia tidak tahu Randi mengetahui ini atau tidak, tapi kalau ia punya bukti konkret ia bisa menggunakan itu untuk mengancam Yelena jika terjadi sesuatu. Masalahnya, ia tidak tahu apa-apa soal kakaknya Kaiser.

Informasi dari internet hanya mencantumkan hal biasa. Ophelia butuh sesuatu yang lebih dalam. 

“Soal open house itu,” mulainya. “Kenapa baru kali ini dilakukan? Memangnya waktu kakakmu dulu ulang tahun tidak pernah dirayakan disana?”

Airin dan Kaiser langsung bertatapan. 

Kaiser menyimpan ponselnya. “Bisa dibilang, dulu kakekku pernah mendapatkan percobaan pembunuhan di rumah itu dan diselamatkan oleh kakeknya Airin.” 

Ophelia mengangguk. Ia ingat cerita yang pernah Airin katakan. 

“Sejak saat itu dia seperti trauma dan tidak mau membiarkan orang luar masuk. Kami bahkan tidak pernah menerima tamu.” 

“...dan sekarang kalian tiba-tiba melakukan open house?” sambung Ophelia. “Kenapa?” 

Kaiser menjawab, “Kakek meninggal beberapa tahun lalu, jadi kakakku mengusulkan agar kami lebih terbuka sedikit dan akhirnya disetujui.” 

“Kamu belum pernah ketemu sama Kak Aiden ‘kan?” tanya Airin. 

“Belum, aku cuma pernah melihatnya beberapa kali dari kejauhan.” 

Mata gadis itu terlihat melembut. “Dia mirip denganmu.” 

“Mirip apanya?” 

“Bicara dalam sarkasme, senyum yang dipaksakan.” Kaiser menghitung dengan jarinya. “Manipulatif dan terkadang menyebalkan.” 

Airin mengangguk setuju. 

Tunggu, jadi selama ini begitu Ophelia di mata mereka?

“Aku tidak seburuk itu,” ucap Ophelia tidak terima.

“Tenang saja, kalau soal karakter kakakku masih jauh lebih buruk.” Kaiser menghela nafas. “Walau liciknya sama denganmu.” 

Ophelia menyipitkan mata. Informasi ini belum cukup. 

“Dia... kira-kira sudah punya calon pasangan atau belum?” 

Airin dan Kaiser—terutama, Kaiser langsung membulatkan mata. “Maksud dari pertanyaanmu itu apa?”  

Ekspresinya seakan ingin menelan Ophelia hidup-hidup. 

“Sebelum pikiranmu kemana-mana, aku tegaskan kalau aku tidak suka laki-laki yang lebih tua,” ujar Ophelia. “Aku cuma penasaran anak sosialita tinggi seperti kalian bebas berpacaran atau dijodohkan seperti di novel romansa.” 

Ekspresi Kaiser kembali melunak. “Oh.”

“Kak Aiden tidak pernah punya pacar ‘kan ya?” Airin balas bertanya pada Kaiser. 

“Dia punya beberapa mantan.” Kaiser mengusap rambutnya ke belakang. “Walau kebanyakan putus dalam waktu singkat karena mereka tidak tahan dengan sifatnya.” 

Ophelia memiringkan kepala dengan satu tangan menopang dagu. “Kalau tipenya? Mantan-mantannya itu bagaimana?” 

“Pertanyaanmu ini arahnya kemana sih?” 

“Dibilang cuma penasaran.” 

“Penasaran apanya?” Kaiser menyipitkan mata. 

Kaiser benar-benar mengira kalau Ophelia mengincar kakaknya ya? 

Kira-kira akan sekaget apa dia nanti kalau tahu kakaknya menjadi selingkuhan Ibu angkat Ophelia? Dia harap laki-laki malang ini tidak akan pingsan.

“Tipe kakakku bukan gadis sepertimu.” 

“Siapa juga yang mau jadi tipe kakakmu.”

Pintu ruang VIP itu terbuka, memperlihatkan seorang perawat yang masuk sembari mendorong sesuatu. Oh, ini jadwalnya Airin bersih-bersih.

“Kami tunggu di luar dulu.”

Ophelia berdiri tepat di luar kamar Airin dan menatap lorong panjang di depannya. Ia benar-benar tidak suka bau obat-obatan ini. 

“Hei Kaiser,” ucapnya.

“Kalau soal kakakku tidak akan kujawab.” 

Ophelia memutar mata. “Bukan itu, soal pembullyan di sekolah yang tiba-tiba berhenti, itu disebabkan olehmu ‘kan ya?”

Kaiser tidak menepis atau mengiyakan, dia memilih diam.

“...terima kasih.” dua kata itu keluar dengan pelan. 

Ada jeda sebelum laki-laki itu menurunkan ponselnya dan memalingkan wajah. “Hm.” 

...****************...

Siang harinya, hanya setengah jam setelah Ophelia pulang Kaiser terlihat melempar dan menangkap kunci mobilnya di parkiran.

Ia berniat pulang sebentar dan kembali lagi kesini sore nanti—hm?

Pemuda itu menghela nafas. “Kenapa kakak ada disini?” 

“Kakak niatnya mau menjenguk Airin.” Aidoneus tersenyum sembari bersandar di mobil yang kelihatan baru itu. “Tapi kalian terlihat sedang asik berbicara, makanya tidak jadi.” 

Kaiser hanya menatap kakaknya datar dan masuk ke dalam mobil. Ketika Aidoneus ikut masuk juga, pemuda itu menyipitkan mata. “Mobil kakak kemana?” 

“Dibawa pulang sama supir.” Aidoneus tersenyum. 

“Kenapa?” 

“Supaya kakak bisa melihatmu menyetir?”

Kaiser mendengus pelan dan menjalankan mobilnya. Terserah. Semakin diusir kakaknya ini semakin tidak mau pergi.

Baru beberapa menit berjalan, dia teringat sesuatu. “Gadis yang dibully itu, dia mengucapkan terima kasih.”

Aidoneus yang terfokus pada ponselnya tersenyum kecil. “Oh jadi temanmu itu yang ada di ruangan tadi? Kakak cuma melihat belakang punggungnya sih.” 

“Dia berterima kasih padaku,” gumam Kaiser. “Padahal kakak yang menghentikan pembullyan itu ‘kan ya?”

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!