Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BAWAH LANGIT YANG SAMA
Di dalam kabin bus antar-jemput penumpang menuju area landasan pacu, Kaito duduk membisu di dekat jendela.
Tiket pesawat menuju Milan sudah berada di genggaman tangannya yang membeku. Secara administratif, seluruh proses keberangkatannya telah selesai. Tinggal beberapa langkah lagi, roda pesawat akan membawanya menembus awan menuju benua Eropa yang jauh dan asing. Namun, makin dekat ia dengan pintu pesawat, semakin hening dan menyiksa dadanya.
Setiap detik yang berlalu justru terasa bagaikan siksaan abadi yang meremukkan batinnya. Bayangan Hana gadis dengan dunia yang sunyi tanpa suara, gadis yang sejak kecil selalu membutuhkan perlindungannya, dan gadis yang senyuman manisnya pernah menjadi satu-satunya alasan bagi Kaito untuk bertahan hidup terus berputar menghantui setiap sudut pikirannya.
Bagaimana bisa aku benar-benar meninggalkannya sendirian di kota ini?
Pertanyaan itu terus bergema di dalam kepala Kaito bagaikan petir yang menyambar-nyambar. Pikirannya melayang pada keterbatasan Hana, pada betapa rentannya gadis itu di tengah kerasnya dunia luar.
Bagaimana jika dia kesulitan dalam menjalani hari-harinya? Bagaimana jika ada bahaya yang mengancamnya dan tidak ada satu orang pun yang mengerti bahasa isyaratnya? Bagaimana jika dia menangis di tengah malam dan butuh tempat bersandar, tetapi aku sudah berada di belahan dunia lain yang tak mungkin bisa dia jangkau?
Rasa cemas, penyesalan, dan gelombang cinta yang begitu masif mendadak meletup di dalam dada Kaito, mengalahkan seluruh rasa takut, rasa sakit, serta ego yang berbulan-bulan ini ia pertahankan. Kaito menyadari satu hal dengan teramat sangat jelas: ia tidak sanggup pergi. Ia tidak akan pernah bisa benar-benar meninggalkan Hana, bahkan jika itu berarti ia harus terus membusuk dan terluka dalam kesendirian di Jepang.
Tepat sebelum pemindaian tiket terakhir di depan gerbang masuk pesawat, Kaito menghentikan langkah kakinya secara mendadak.
Ia membalikkan badan, menarik koper besarnya keluar dari antrean penumpang, dan mengurungkan niatnya untuk naik. Kaito membiarkan pesawat penerbangan nomor AZ 789 itu lepas landas menembus awan musim dingin tanpa kehadiran dirinya di dalam sana.
Sementara itu, di dalam aula terminal keberangkatan internasional Bandara Haneda, duniaku telah sepenuhnya hancur berkeping-keping.
Lututku tak sanggup lagi menopang beratnya rasa putus asa yang menghantam dadaku saat melihat papan informasi elektronik raksasa yang menunjukkan bahwa pesawat menuju Milan telah bertuliskan Departed. Ponsel yang sejak tadi kupegang dengan tangan gemetar terlepas dari genggaman, jatuh menghantam lantai marmer bandara yang dingin.
Aku merosot perlahan, terduduk lemas di atas lantai bandara di tengah hiruk-pikuk lalu lalang pejalan kaki dan lalu lintas penumpang yang sama sekali tidak memedulikanku. Aku menundukkan kepala sejadi-jadinya, merengkuh kedua lututku erat-erat, dan menangis histeris dalam keheningan duniaku yang pekat.
Bahuku bergetar hebat. Isak tangisku pecah tanpa suara. Air mata menetes begitu deras menelusuri pipiku yang membeku, membasahi lantai marmer tempatku terduduk. Aku meratapi keterlambatanku, meratapi kebodohanku yang telah membiarkan Kaito pergi melintasi benua dengan membawa luka mendalam yang diciptakan oleh rasa bersalahku sendiri.
Lama sekali aku menangis dalam posisi terpuruk seperti itu, sampai akhirnya seluruh keberanian, harapan, dan tenagaku terasa terkuras habis tanpa sisa. Duniaku terasa benar-benar hampa dan gelap.
Dengan dada yang masih terasa sangat memar dan mata yang sembap serta membengkak, aku mengusap air mataku secara perlahan menggunakan punggung tanganku yang dingin. Aku memaksakan tubuhku yang lemas untuk berdiri tegak kembali, memungut ponsel yang tergeletak di lantai, lalu berbalik arah untuk melangkah pulang dengan hati yang hancur dan hampa.
Namun, baru dua langkah aku membalikkan tubuhku... langkah kakiku terhenti seketika. Seluruh aliran darah di dalam tubuhku seolah-olah mendadak berhenti membeku.
Tepat beberapa langkah di hadapanku, di tengah riuhnya orang-orang yang melintas, berdiri seorang pria berpostur tinggi dengan jaket tebal cokelat dan sebuah koper besar di sampingnya.
Kaito.
Kaito berdiri mematung di sana, menatap lurus ke arahku. Wajahnya yang semula tampak datar dan kaku seketika berubah kaget luar biasa saat matanya yang memerah menangkap keberadaanku yang berdiri dengan mata sembap dan pipi yang basah oleh genangan air mata.
Rasa tidak percaya, terkejut, dan haru menyergap seluruh kesadaranku. Tanpa berpikir panjang, tanpa peduli pada rasa malu, tempat, atau pandangan asing ratusan orang di sekeliling kami, aku langsung berlari kencang menerjang ke arah Kaito.
Greb!
Aku memeluk tubuh Kaito dengan sangat erat. Aku menenggelamkan wajahku di dadanya yang hangat, meremas bagian belakang jaket tebalnya menggunakan jemariku yang bergetar hebat. Aku memeluknya sekuat tenagaku—sekuat yang kubisa—seolah-olah jika aku melonggarkan genggamanku sedikit saja, sosoknya akan menguap menjadi bayangan dan menghilang untuk selamanya.
Kaito yang sempat terpaku kaku karena syok, akhirnya tak sanggup lagi menahan runtuhnya seluruh benteng pertahanan batin yang dibangunnya selama berbulan-bulan ini. Ia merengkuh tubuhku kembali dengan sangat posesif, melingkarkan kedua lengannya yang kekuatannya gemetar di punggungku, memelukku begitu erat seolah-olah dunianya yang sempat hilang kini telah kembali secara utuh ke dalam pelukannya.
Lama sekali kami tenggelam dalam pelukan hangat itu di tengah dingin dan riuhnya terminal bandara. Tangisanku pecah kembali di atas dada Kaito, meluapkan seluruh rasa takut kehilangan yang sempat meremukkan jiwaku beberapa menit yang lalu.
Setelah pelukan kami perlahan-lahan merenggang, aku mengusap air mata yang tak kunjung berhenti menetes di pipiku. Dengan jemari yang masih bergetar tipis namun penuh dengan keteguhan hati, aku menatap lurus ke dalam mata Kaito yang memerah lekat-lekat, lalu mulai menggerakkan bahasa isyarat:
[Aku minta maaf, Kaito... Aku benar-benar minta maaf atas semuanya. Aku tidak mengerti perasaanmu, aku tidak tahu tentang perasaanmu selama ini, dan aku telah membuat hatimu hancur...]
Air mata kembali menetes menelusuri pipiku yang memerah saat jemariku bergerak kian emosional dan patah-patah:
[Aku meninggalkanmu sendirian... dan aku tidak menepati janji-janji masa kecil kita. Aku meninggalkan kamu dalam kesakitan sendirian. Aku minta maaf, Kaito... Aku benar-benar minta maaf...]
Kaito menatap setiap gerakan jariku dengan dada yang naik-turun menahan napas yang terasa sesak. Wajahnya membayangkan rasa haru yang amat luar biasa. Tanpa memberi jeda, aku melanjutkan gerak jariku untuk menyampaikan seluruh kebenaran yang selama ini terendam di balik dinding kebohongan Haruto:
[Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Haruto. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kami, karena saat aku bersamanya, pikiranku selalu ke arahmu. Aku selalu kepikiran kamu saat bersama Haruto... makanya aku memutuskan hubungan kami.]
Di akhir kalimatku, aku menatap matanya lekat-lekat menembus langsung ke dalam relung jiwanya lalu menggerakkan jemariku untuk bentuk isyarat terakhir yang teramat murni dan tulus:
[Aku mencintaimu, Kaito.]
Melihat gerakan jariku di udara, Kaito mematung total di tempatnya berdiri. Seluruh sendi di tubuhnya seolah-olah terkunci rapat.
Gelombang rasa terkejut, bahagia, dan haru yang amat besar menghantam dada Kaito tanpa ampun. Kepala dan batinnya mendadak bergemuruh hebat. Jadi... selama ini Hana masih mengingat seluruh janji-janji masa kecil mereka? Hana tidak pernah benar-benar melupakan masa lalu mereka? Dan selama berada di samping Haruto, Hana sebenarnya tidak pernah merasa bahagia karena bayang-bayang Kaito terus memenuhi seluruh isi pikiran dan hatinya?
Air mata yang sejak berbulan-bulan lalu dipasung Kaito dengan sekuat tenaga akhirnya pecah menelusuri pipinya yang tirus. Tanpa sanggup menahan ledakan emosi di dalam dadanya, Kaito kembali menarik tubuhku secara impulsif ke dalam pelukannya—sebuah pelukan yang jauh lebih hangat, lebih erat, dan dipenuhi oleh rasa syukur yang amat membuncah. Kaito menyembunyikan wajahnya di celah leherku, menumpahkan air mata kebahagiaan yang belum pernah ia perlihatkan pada siapa pun.
Setelah pelukan kedua itu perlahan terlepas, Kaito mengusap air mata di wajahku menggunakan ibu jarinya yang hangat dan lembut. Lalu, kedua tangan Kaito terangkat ke udara, membalas pesanku lewat gerakan bahasa isyaratnya sendiri yang amat telaten:
[Aku juga minta maaf, Hana... Aku minta maaf karena sudah pernah membentakmu di tangga waktu itu dan membuatmu sakit hati. Dan aku juga minta maaf karena tidak pernah mengatakan perasaanku kepadamu sejak dulu. Aku takut saat aku mengatakan perasaanku, hubungan kita hancur. Aku sangat takut kehilanganmu...]
Jemari Kaito berhenti sejenak di udara. Sorot matanya menatapku dengan seluruh ketulusan, kehangatan, dan cinta murni yang telah ia simpan erat-erat selama bertahun-tahun di dalam hatinya, sebelum ia melanjutkan gerakan jarinya untuk kalimat terakhir yang menyempurnakan duniaku:
[Aku lebih mencintaimu, Hana. Jauh sebelum Haruto ada... saat kita masih kecil dan bermain di taman belakang rumah, aku sudah mencintaimu.]
Mendengar dan membaca isyarat itu secara langsung dari tangannya, tangis bahagia tak lagi bisa kubendung sama sekali. Aku menangis sejadi-jadinya di hadapan Kaito—bukan lagi karena rasa bersalah, rasa putus asa, atau kepedihan yang menyiksa, melainkan karena rasa lega dan kebahagiaan yang amat luar biasa melingkupi seluruh jiwa dan ragaku.
Di tengah riuhnya suasana terminal Bandara Haneda pagi itu, dalam duniaku yang sunyi tanpa suara, seluruh kesalahpahaman dan kebohongan yang berbulan-bulan mengurung kami akhirnya runtuh tak berbekas. Dua hati yang sempat saling melukai, tersiksa dalam hening, dan terpisah oleh dinding ketakutan, kini telah saling menemukan kembali jalan pulangnya—menyampaikan perasaan murni yang selama ini terpendam, bersatu dengan utuh di bawah naungan langit yang sama.