Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6.Dunia Terasa Berhenti Saat Itu Juga
Sore itu, sisa jam perkuliahan seakan berjalan begitu lambat bagiku. Setiap menit terasa berjam-jam lamanya. Mataku sesekali melirik ke arah meja di depan, tempat sosok itu berdiri dan berbicara dengan tenang. Namun setiap kali tatapan kami tak sengaja berpapasan, seketika itu pula napasku tertahan. Wajahnya yang tenang, suaranya yang tegas, sorot matanya yang tajam namun menyembunyikan sesuatu yang tak terucapkan... semuanya begitu nyata, begitu dekat, namun terasa begitu jauh.
Aku mencengkeram kuat pena di tanganku hingga buku jariku memutih. Kepalaku serasa dipenuhi ribuan pertanyaan yang saling berdesakan. Bagaimana mungkin? Mengapa harus dia? Mengapa takdir mempertemukan kami dalam keadaan yang begitu mustahil kubayangkan sebelumnya? Pria yang baru saja kutemui sebagai calon suamiku kini berdiri tepat di hadapanku, mengenakan pakaian resmi, berdiri tegak dengan wibawa seorang pengajar, menatapku dengan tatapan yang sama namun dalam peran yang berbeda sepenuhnya.
Rasanya seakan bumi berhenti berputar tepat di bawah kakiku. Udara di dalam ruangan yang luas itu mendadak terasa menipis dan sesak. Napasku menjadi pendek, dadaku bergemuruh hebat seakan hendak meledak menampung kekagetan yang tak terlukiskan. Dunia di sekitarku seakan melambat. Suara teman-teman sekelas yang sesekali berbisik pelan, bunyi pena yang menari di atas kertas, hingga detak jam dinding yang berdentang terasa samar dan jauh, seakan berasal dari dunia lain. Sementara di hadapanku, hanya ada dia. Sosok yang membuat seluruh duniaku seakan berhenti berputar seketika itu juga.
Aku menatapnya lekat-lekat, berharap ada sedikit saja tanda yang menunjukkan bahwa ia pun sama terkejutnya denganku. Namun wajahnya tetap tenang. Tak ada sedikit pun keraguan atau kegugupan yang tampak di sana. Ia berdiri tegak, menjelaskan materi dengan lantang dan jelas, sesekali menunjuk papan tulis, menatap seluruh ruangan dengan pandangan yang setara dan adil. Saat matanya menyapu ke arahku, tatapannya tak berubah sedikit pun. Dingin. Tenang. Profesional. Seakan kami belum pernah bersalaman. Seakan kami belum pernah dipertemukan sebagai calon pasangan hidup. Seakan wajah yang begitu kukenal itu kini menjadi asing kembali bagiku.
Hati kecilku serasa dicabik-cabik oleh rasa takjub sekaligus kecewa. Bagaimana bisa ia setenang itu? Bagaimana bisa ia menyembunyikan perasaannya begitu sempurna? Apakah pertemuan kemarin sore itu hanyalah hal yang sepele baginya? Atau... apakah baginya, ikatan janji itu belum memiliki arti apa pun selain sebuah kewajiban yang harus dijaga dengan sikap yang sepatutnya?
Pikiranku melayang kembali pada pertemuan kami tempo hari. Saat itu, di ruang tamu yang asri, ia menatapku seakan ingin mengenali setiap sudut wajahku. Ada keraguan yang samar, ada rasa takjub yang tak tersembunyikan. Namun hari ini... di sini... di ruangan kelas ini... seakan tak ada apa pun yang pernah terjadi di antara kami. Ia adalah Pak Arga, dosenku. Dan aku hanyalah salah satu dari sekian banyak mahasiswinya.
Perasaan itu menimbulkan rasa perih yang perlahan menjalar ke segenap hatiku. Di satu sisi aku kagum pada keteguhan hatinya dan kemampuannya memisahkan urusan pribadi dengan kewajibannya. Namun di sisi lain, ada bagian hatiku yang merasa kecil dan tak berarti. Seakan apa yang kurasakan begitu hebatnya hari ini, baginya hanyalah hal biasa yang tak layak digegap-gempakan.
Dunia benar-benar terasa berhenti bagiku saat itu. Aku merasa seakan terjebak di dalam waktu yang terhenti. Tubuhku diam terpaku di kursi ini, namun jiwaku seakan berteriak meminta penjelasan. Mengapa kau berdiri begitu tenang di sana, sementara duniaku runtuh berantakan di sini? Mengapa kau tampak begitu tak tergoyahkan, sementara hatiku bergetar hebat menahan segala rasa yang berkecamuk?
Aku mencengkeram dadaku pelan, berusaha meredakan detak jantung yang tak menentu. Menatapnya sekali lagi, aku menyadari satu hal yang menyakitkan sekaligus menenangkan hatiku. Bahwa di ruangan ini, batasnya telah tergambar begitu tegas. Tak ada calon suami dan calon istri. Yang ada hanyalah dosen dan mahasiswi. Dan sekeras apa pun hatiku bergejolak, seakan dunia di sekitarku berhenti berputar, aku harus tetap berdiri tegak. Aku harus belajar menahan rasa, menyembunyikan kegugupan, dan bersikap seakan tak ada hal luar biasa yang baru saja kuserap dengan kedua mataku sendiri.
Saat bel pertanda berakhirnya jam kuliah akhirnya terdengar, Arga merapikan berkas di atas mejanya dengan tenang sekali lagi. Sebelum melangkah keluar pintu, matanya sempat melirik sekilas ke arahku—sangat singkat, sekejap mata, namun cukup untuk membuat napasku kembali tertahan. Lalu ia pergi begitu saja, meninggalkan aku yang masih terpaku diam, dengan perasaan yang masih berkecamuk hebat, menyadari bahwa dunialah yang berhenti berputar saat itu, sementara dunianya tetap berjalan tenang sebagaimana mestinya.
bersambung...