Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan awal
Keesokan paginya, seperti biasa, Cheeta bangun lebih awal. Ia merasa heran karena mendapati sebuah "patung" di sebelah kanannya. Ternyata, itu adalah Ely yang sedang duduk tegang. Gadis itu hampir tidak tidur semalaman.
"Pagi, Ely," ucap Cheeta sambil beranjak bangun.
"P… pagi," jawab Ely. Ia ikut bangkit dengan gerakan patah-patah mirip robot.
Setelah merapikan diri, mereka berdua turun ke bawah. Tidak lama kemudian, Leo dan Rheno terbangun lalu menyusul ke aula penginapan untuk sarapan bersama.
Pagi itu, suasana di meja makan terasa sangat canggung bagi Ely. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas dan menyedihkan. Parahnya lagi, ketiga temannya kompak berprasangka baik kepadanya. Biasanya prasangka baik itu bagus, tetapi tidak untuk situasi kali ini.
"Leo!" panggil Cheeta.
"Hah?" jawab Leo dengan mulut yang masih penuh makanan.
"Apakah Elf juga bisa terkena gangguan tidur?" tanya Cheeta, tampak khawatir melihat kondisi Ely.
Leo menghentikan suapannya dan menatap wajah Ely. Seketika itu juga, tubuh Ely bergetar hebat dari kaki hingga kepala.
"Hmm... kamu benar, Cheeta. Sepertinya dia memang kurang tidur," ucap Leo membenarkan.
"Bukan kurang tidur lagi, tapi memang tidak tidur sama sekali!" sahut Rheno polos, tanpa basa-basi.
"Bisa bahaya kalau dibiarkan. Gangguan tidur bisa mengganggu kesehatan," ungkap Leo—entah dari mana ia mendapatkan teori tersebut. "Bagaimana kalau nanti sebelum tidur kita pijat pundaknya? Supaya dia lebih rileks dan bisa cepat terlelap?" lanjutnya.
"Setuju!" ucap Cheeta dan Rheno kompak.
Di saat mereka bertiga begitu serius mengkhawatirkan kondisi Ely, mereka sebenarnya salah paham total tentang penyebab utama sang Elf tidak bisa tidur. Kerutan di dahi Ely semakin dalam mendengar vonis sepihak dari teman-temannya.
"Baik! Nanti malam biar—" Ucapan Leo terpotong.
"Aku mau kamar terpisah!" potong Ely dengan nada tinggi. Ia melayangkan protes keras sambil berdiri dari kursinya.
Seketika wajah Ely memerah padam karena seluruh pasang mata di aula langsung tertuju kepadanya.
"Emm...!" Leo bergumam, tetapi lagi-lagi dipotong.
"Pokoknya pisah kamar!" teriak Ely untuk kedua kalinya.
Sontak, bisik-bisik dari pengunjung lain mulai terdengar dari segala penjuru aula. Wajah Ely semakin matang karena malu hingga ia terduduk lemas.
"Ah, keributan suami istri," bisik salah satu orang di aula.
"Apa yang sudah dilakukan laki-laki itu semalam?" bisik yang lain.
"Sampai mau pisah ranjang segala," tambah pengunjung lainnya.
Dengan wajah bingung dan tanpa merasa bersalah, mereka pun menyetujuinya. Masalah ranjang maksudnya privasi kamar pun selesai.
Sementara itu di sudut aula, tepatnya di meja lain, Grim, Snap, Rocky, dan Mona sedang memperhatikan mereka.
“Lihat si bodoh itu,” ucap Grim. “Dia sangat sempurna. Dia adalah pencuri dengan fisik gesit dan aura magis yang sangat lemah,” terusnya.
“Bagaimana cara mengajaknya?” tanya Snap. “Dia bersama Elf, artinya dia pasti mendukung kedamaian antar-ras,” lanjutnya.
“Ah…! Tenang saja! Serahkan padaku!” ucap Grim penuh keyakinan bisa memanipulasi Leo. “Kita tidak perlu mengajaknya, dialah yang akan ikut dengan sendirinya,” lanjut Grim dengan senyum liciknya.
Grim pun berdiri dan berjalan melangkah menuju meja Leo, Cheeta, Rheno, dan Ely.
“Halo,” sapa Grim dengan ramah.
“Siapa, ya?” ucap Leo, benar-benar lupa.
“Grim, dasar bodoh…! Maksudnya, ini aku, Grim. Apakah kalian sudah ada rencana hari ini?” ucap Grim kesal di awal, lalu buru-buru berpura-pura ramah kembali.
“Oh, temannya si seksi Mona!” jawab Leo. “Sekarang kami baru mau memutuskan rencana.” Leo lalu menatap rekan-rekannya.
Dalam hati Grim menggerutu, ‘Giliran yang seksi malah ingat. Apa dia sedang meremehkan ku?’ Leo, Cheeta, dan Rheno memang terbukti selalu sukses membuat orang lain naik darah.
“Bagaimana jika ikut dengan kami? Kami mendapat permintaan dari seorang petani yang mau membayar untuk mengusir hama,” ajak Grim dengan ramah.
“Tunggu!” Leo menengok ke arah teman-temannya. “Apakah dia tadi bilang aku bodoh?” tanya Leo, samar-samar mengingatnya karena tempo bicara Grim tadi terlalu cepat.
Cheeta, Rheno, dan Ely hanya mengangguk, membenarkan bahwa Grim memang berkata demikian.
“Ahahahaha…! Iya, itu hanya gaya bicaraku saja,” ucap Grim panik, mengira ajakannya akan langsung gagal.
Namun di luar dugaan, Leo ternyata sangat tertarik dengan pekerjaan itu. Sebenarnya, mereka bertiga selalu bersemangat untuk bekerja. Hanya saja, entah kenapa selama ini tidak ada satu pun orang yang mau mempekerjakan mereka.
“Yoss…! Daripada menganggur, lagipula kegiatan ini menghasilkan uang, kami akan ikut!” ucap Leo mantap.
“Ahahaha… baguslah! (Bodohnya kebangetan, umpat Grim dalam hati). Oke! Siang nanti kita bertemu di depan penginapan. Kami juga baru saja tiba dan ingin sarapan dulu,” ucap Grim sambil berbalik. Ia berjalan pergi sambil melambaikan tangan, yang langsung dibalas dengan lambaian tangan ceria dari Leo.
Di meja makan, Leo dan Rheno terlihat sangat bersemangat. Namun di sisi lain, Cheeta dan Ely justru tampak khawatir. Mereka mulai mencurigai ada niat terselubung dari Grim dan kelompoknya.
***
Siang harinya, kelompok Leo dan kelompok Grim pergi ke ladang milik petani untuk menyelesaikan permintaan mengusir hama.
Di sana, mereka dihadang oleh kawanan babi hutan liar yang berukuran besar dan merusak tanaman. Saat Leo baru saja bersiap untuk menyerang salah satu babi hutan, ia langsung melesat maju.
"Sekarang giliranku! Hiaaa…” ucap Leo. Namun—
*SLEB!*
Dengan satu gerakan tebasan yang presisi, babi hutan itu langsung tumbang. Grim menyarungkan senjatanya kembali dengan gaya yang sangat keren, lalu menoleh ke arah Leo sambil tersenyum meremehkan.
"Maaf, Leo. Aku ambil targetmu," ucap Grim.
Sepanjang sore itu, Grim terus memamerkan keahlian bertarungnya yang hebat. Leo dibuat benar-benar kalah telak dalam hal kekuatan bertarung langsung. Di sisi lain, adu mekanik antara Leo dan Grim sukses membuat Snap, Rocky, Mona, serta Cheeta, Rheno, dan Ely menjadi penonton tanpa mendapatkan kesempatan untuk beraksi.
Ego Leo terluka parah. Wajahnya cemberut dan ia terus menahan kesal di sepanjang jalan pulang menuju penginapan.
“Grim sialan!” gerutu Leo setibanya di aula penginapan.
“Tenang, Leo!” ucap Rheno datar. “Meskipun kamu kalah cepat dari Grim, kamu selalu jadi yang tercepat bagiku,” lanjut Rheno, mengakui kekalahan Leo.
“Hibur aku sedikit!” seru Leo. “Lihat saja besok, aku akan buat dia malu!” ucap Leo penuh ambisi.
Because sudah malam, mereka pun naik ke kamar mereka yang sudah terpisah. Leo, Cheeta, dan Rheno berada di kamar yang lama, sedangkan Ely mendapatkan kamar barunya sendiri.
Ely mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Ia menghela napas lega karena akhirnya mendapatkan privasi yang ia dambakan. Namun, kelegaannya tidak bertahan lama.
Kamar itu sangat sunyi, berbeda jauh dengan Istana Elf miliknya yang selalu diiringi nyanyian pelan peri pohon dan gemercik air suci yang menenangkan. Di sini, di penginapan manusia yang murah, yang terdengar justru suara kayu atap yang berderit ditiup angin, suara tikus yang menggaruk dinding, dan sesekali suara tawa mabuk dari jalanan bawah.
*KREEEKK... Dug!*
Ely tersentak di atas ranjangnya. Matanya membelalak menatap langit-langit yang gelap. Tubuhnya gemetar lebih hebat daripada tadi pagi. Monster? Pembunuh bayaran? Atau hantu kota? Setiap suara kecil membuat jantung bangsawan Elf itu serasa mau copot.
Lima belas menit bertahan dalam ketakutan, Ely akhirnya menyerah.
Di kamar sebelah, Leo, Cheeta, dan Rheno baru saja akan memejamkan mata di satu ranjang besar yang sama, ketika tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dengan ritme yang cepat dan cemas.
*TOK! TOK! TOK!*
Leo membuka pintu, dan mendapati Ely berdiri di sana dengan gaun tidurnya. Wajah gadis Elf itu memerah padam, matanya berkaca-kaca, dan kedua tangan menyilang di dada, meremas lengannya sendiri untuk menyembunyikan badannya yang gemetar.
"Eh, Ely? Ada apa? Mau diantar ke toilet?" tanya Leo bingung.
"B-Bukan! Tentu saja tidak!" sentak Ely, membuang muka dengan cepat ke arah koridor yang sepi. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba memakai topeng wibawa kebangsawanan.
"Kamar sebelah... kasurnya terlalu empuk! Aku tidak terbiasa dengan fasilitas murahan seperti itu! Punggungku sakit!"
Cheeta melongok dari balik pundak Leo. "Oh, kalau begitu kamu mau tukar kamar dengan kami?"
"T-Tukar?! Maksudmu aku harus tidur sendiri lagi?!" teriak Ely spontan, membuat rahasianya hampir terbongkar. Menyadari suaranya kelepasan, ia berdehem keras dan melipat tangan di dada.
"M-Maksudku... sebagai bangsawan, aku harus mengawasi kalian para manusia biasa agar tidak bertindak ceroboh di kota asing ini! Ya, benar! Aku di sini hanya untuk mengawasi kalian!"
Ely menerobos masuk ke kamar mereka dengan langkah angkuh yang dipaksakan, lalu langsung melempar tubuhnya ke sudut ranjang, membelakangi mereka bertiga.
"Jangan salah paham, ya! Aku tidur di sini bukan karena aku takut atau apa! Pokoknya awas kalau kalian berisik!" gumam Ely ketat sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.
Leo, Cheeta, dan Rheno hanya bisa saling pandang. Rheno menguap lebar.
"Kamar terpisah yang sia-sia," bisik Rheno polos sebelum kembali mendengkur santai.
Bersambung