Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.
Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.
Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Kegelapan pekat yang sempat menelan seluruh ruangan gerbong Vanguard akibat letupan kecil sekring terminal berangsur-angsur sirna saat Gavin membanting saklar manual cadangan. Pendaran cahaya kuning temaram kembali hidup, menyinari wajah-wajah kru yang diliputi keheningan mencekam. Rekaman audio misterius dari masa lalu yang menyebut nama Ren dan peringatan tentang "kebohongan es" masih berdengung pelan di kepala mereka, tetapi waktu tidak memberikan ruang sedikit pun untuk merenungkan teka-teki itu lebih jauh.
Di luar jendela kabin, badai salju bawah tanah bergemuruh kencang, melemparkan serpihan kristal es yang menampar bodi baja kereta secara konstan. Mereka telah tiba di ambang batas wilayah paling mematikan di Sektor 7: pos pemeriksaan militer Frost-Guard.
Stasiun perbatasan itu tampak seperti monster besi dan beton yang tertidur lelap di tengah jurang es vertikal. Di sekelilingnya, dinding-dinding es menjulang tinggi setidaknya seratus meter, dipahat rapi oleh teknologi pemotong termal korporasi. Di titik-titik strategis, menara-menara pengawas baja berdiri kokoh, masing-masing dilengkapi dengan moncong meriam otomatis berkaliber besar yang dapat berputar secara mandiri, memindai setiap inci ruang kosong menggunakan sensor inframerah dan gelombang panas.
Vanguard berhenti total di dalam terowongan tersembunyi sekitar lima ratus meter dari gerbang utama perbatasan. Desis uap panas dari katup pembuangan mesin reaktor berbaur dengan udara dingin yang merangsek masuk.
Di dalam kabin utama, persiapan akhir tengah berlangsung dalam keheningan yang penuh konsentrasi.
Leo berdiri di samping konsol kendali utama, memastikan pelindung lapis baja titanium baru yang baru saja di moncongkan lokomotif telah terpasang dengan sempurna. Tangannya yang belepotan oli mengusap pelipisnya yang berkeringat, meskipun suhu di dalam ruangan sangat dingin.
"Modul perisai termal sudah disinkronkan dengan sisa Cryo-Core Fragment," bisik Leo dengan nada rendah, melirik ke arah Ren dan Soju yang berdiri di dekat pintu palka samping. "Tapi ingat, penutup ini hanya bisa menahan tembakan meriam otomatis selama beberapa detik pertama. Kalau Gavin gagal melumpuhkan jaringan pusat mereka tepat waktu, baja gerbong ini akan meleleh menjadi keju."
Gavin tidak menjawab dengan kata-kata. Pemuda berkacamata tebal itu sudah duduk membungkuk di depan terminalnya, jemarinya menari begitu cepat di atas papan tik virtual. Layar monitor utamanya dipenuhi oleh barisan kode biner yang bergerak liar, berusaha menembus tembok firewall militer tingkat tinggi dari jaringan Frost-Guard. Wajah Gavin pucat, lensa kacamatanya berembun oleh uap napasnya sendiri, menunjukkan tingkat stres mental yang luar biasa.
"Firewall lapis pertama berhasil di-bypass..." gumam Gavin tercekat, napasnya memburu. "Tapi sistem pertahanan internal mereka menggunakan enkripsi ganda berbasis biometrik penjaga. Aku butuh waktu untuk menyusup ke server pusat tanpa memicu alarm umum."
Ren berdiri tegap di hadapan palka samping. Mantel panjangnya berkibar pelan tertiup angin celah pintu yang mulai terbuka. Di balik kain pakaiannya, pendaran cahaya biru dari The Core Engine berdenyut mantap, memberikan kehangatan buatan yang mengalir ke seluruh otot tubuhnya. Di tangan kanannya, Rust-Bite Blade tergenggam erat, bilah pedangnya berdengung dalam frekuensi rendah, siap menyala kapan saja.
Di samping Ren, Soju mengecek tali busur balistiknya dengan gerakan cekatan yang nyaris tanpa suara. Gadis berambut kuning cerah itu mengenakan tudung mantelnya untuk menyembunyikan warna rambutnya yang terlalu mencolok di tengah kegelapan malam es. Ia melirik Ren sekilas, menyunggingkan senyuman tipis penuh percaya diri di sudut bibirnya.
"Jangan berjalan terlalu lambat, Kapten," bisik Soju setengah menggoda, mencoba mencairkan ketegangan udara di antara mereka berdua. "Aku tidak punya niat mati muda di tempat es menjijikkan ini hanya karena kau terlalu kaku untuk berlari."
"Fokus pada jalur ventilasi," balas Ren singkat, suaranya datar namun matanya menatap tajam ke arah tebing es vertikal di seberang rel.
"Baiklah, Tim Infiltrasi, dengarkan aku!" suara Gavin mendadak memecah keheningan melalui alat komunikasi mikrofon nirkabel yang terpasang di telinga Ren dan Soju. Nada suara Gavin terdengar tegang dan penuh urgensi. "Aku sudah membuka jalur pintas data melalui saluran pipa pembuangan limbah termal di sisi barat dinding pos perbatasan. Suhu di sana cukup tinggi, tapi sensor inframerah militer tidak akan mendeteksi keberadaan kalian."
Gavin mengetuk beberapa tombol terakhir dengan keras.
"Gerbang utama perbatasan akan kubuka secara manual lewat pengalihan sinyal palsu dalam waktu tepat lima menit dari sekarang. Saat gerbang itu terbuka, Leo akan langsung melaju membawa kereta menembus barikade. Tugas kalian adalah menyusup ke ruang kendali generator utama di menara utara dan melumpuhkan sistem meriam otomatis sebelum mereka menembaki Vanguard dari jarak dekat. Bergeraklah sekarang!"
Clank!
Palka samping gerbong bergeser terbuka sepenuhnya. Hantaman angin badai salju langsung menghantam wajah mereka dengan kejam, membawa butiran es tajam bagai ribuan jarum kecil.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ren melompat keluar lebih dulu. Tubuhnya meluncur ringan di atas tumpukan salju tebal, mendarat dengan sempurna di atas fondasi beton tua yang membeku. Soju mengikuti tepat di belakangnya, bergerak lincah bagai bayangan di antara pilar-pilar es yang menjulang tinggi.
Mereka berdua merayap di sepanjang dinding tebing barat, memanfaatkan bayangan gelap dari struktur bangunan pos pemeriksaan Frost-Guard yang menjulang megah di hadapan mereka. Di atas kepala mereka, baling-baling pencari panas dari menara pengawas berputar perlahan, memancarkan sorot cahaya merah terang yang menyapu permukaan salju secara berkala.
"Berhenti di balik dinding kontainer," suara Gavin terdengar melalui earpiece, memberikan instruksi secara real-time. "Patroli penjaga berjumlah tiga orang sedang melintas di jalur rel bawah. Tunggu sepuluh detik... sekarang, lanjutkan merayap ke arah pipa ventilasi di sebelah kanan!"
Ren memimpin di depan. Setiap langkah kakinya diatur dengan presisi militer, meminimalisasi suara gesekan sepatu bot di atas es. Di sampingnya, Soju bergerak tanpa suara, matanya yang jernih terus memindai setiap sudut area atas untuk memastikan tidak ada kamera tersembunyi yang terlewat.
Di dalam kabin gerbong, Leo memegang tuas kendali utama lokomotif dengan buku-buku jarinya yang memutih. Matanya terus menatap jam digital di panel utama yang menghitung mundur detik-detik pembukaan gerbang oleh Gavin.
"Lima... empat... tiga..." gumam Gavin di ruang server, jemarinya terus mengetik kode pemutus jaringan pertahanan menara.
Di luar tembok pangkalan, Ren dan Soju berhasil mencapai mulut pipa ventilasi pembuangan limbah termal yang dimaksud. Uap panas mengepul keluar dari lubang tersebut, berbau belerang dan karat besi yang pekat. Ren meraih jeruji pelindung besi yang berkarat, mencengkeramnya dengan tangan kosong, dan menggunakan kekuatan dari The Core Engine di dadanya untuk membengkokkan jeruji tersebut secara perlahan tanpa menimbulkan suara dentingan yang bising.
"Jalur terbuka," bisik Soju pelan kepada Ren, merunduk untuk masuk ke dalam lubang pipa yang gelap gulita.
Namun, tepat pada detik ketika Ren hendak menyusul Soju masuk ke dalam pipa, layar monitor kecil di hadapan Gavin di dalam gerbong mendadak berkedip dengan warna merah darah secara menyeluruh. Seluruh barisan kode hijau yang tadinya berjalan mulus tiba-tiba terhenti total, digantikan oleh peringatan sistem pertahanan otomatis yang menyala terang.
Di ruang server, mata Gavin terbelalak lebar, napasnya seketika tercekat di tenggorokan.
"Sial...!" teriak Gavin histeris melalui mikrofon, suaranya pecah oleh kepanikan luar biasa. "Itu bukan sistem keamanan biasa! Jaringan mereka... jaringan mereka dikendalikan oleh kecerdasan buatan pusat! Pengalihan sinyal kita telah terbaca!"
Sebelum Ren sempat bereaksi di depan mulut pipa ventilasi, seluruh menara pengawas di sekeliling pos perbatasan Frost-Guard mendadak berhenti berputar. Puluhan moncong meriam otomatis berkaliber besar serentak mengarahkan larasnya turun ke satu titik—tepat ke arah tempat di mana Ren dan Soju berdiri di luar dinding pangkalan.