Indonesia
NovelToon NovelToon
GADIS SANG PENYELAMAT ( APOCALYPSE )

GADIS SANG PENYELAMAT ( APOCALYPSE )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Zombie
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.

Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.

Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?

Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.

"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"

Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.

Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"

Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Pemimpin

Di malam hari Ruby sedang berkumpul dengan Keluarganya. Dia menanyakan apa yang terjadi setelah dia pergi.

"Ayah. Alat dan bahan bangunan itu dari mana?" Waktu itu, tidak bahan-bahan sama sekali.

"Oh. Kami berlima pergi ke Kota, kebetulan ada toko bangunan yang terbuka, tapi tidak ada orangnya!" jelasnya.

Tuan Edward pergi bersama dengan para pekerja di perkebunan. Dia sebagai Ayah, mana mungkin hanya tinggal diam melihat anaknya berjuang di luar sana.

"Benarkah? Jadi Ayah membunuh zombie-zombie itu?" tanya Ruby yang tampak sedikit terkejut.

"Hmm. Kami membunuhnya dengan tongkat besi! Setiap hari kami berangkat dan memuat dua truk setiap jalan. Ayah bergerak cepat, sebelum dimonopoli oleh pemerintah!"

Ruby mengangguk mengerti, "Kalau, begitu besok aku ikut. Selama beberapa hari di kota, aku sudah mengosongkan tiga toko bangunan!"

"Bagus! Tapi bagaimana kamu mengeluarkannya,? Orang-orang pasti bertanya-tanya tiba-tiba ada banyak tambahan!"

"Ayah tenang saja. Aku sudah punya cara, besok tinggal ajak 10 orang yang bisa nyetir!" kata Ruby.

"Oh baiklah!" Tuan Edward sudah sangat percaya dengan keputusan Ruby. "Sekarang, kamu jelaskan, bagaimana cara kalian masuk ke Rumah Sakit?"

Ruby akhirnya menjelaskan semuanya secara rinci. Dari awal dia masuk kota, sampai kejadian kecil juga dia ceritakan.

Tuan Edward terdiam sejenak, lalu berkata. "Lain kali, jangan melumuri darah zombie pada tubuh kalian, kalau nggak terdesak!"

"Ayah kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Ruby. Sampai saat ini, dia tidak menemukan ada yang aneh.

"Bagaimana jika ditubuh kalian ada luka dan terkena darah zombie? Nak, Menurutmu apa yang akan terjadi?"

"Haa? Maksudnya, dari luka itu bisa menularkan virus zombie?" Ruby tidak kepikiran sampai sana. Tapi, setelah dipikir-pikir masuk akal juga.

"Belum pasti, Setelah klinik Dokter Mira selesai, dia akan menelitinya!" ujar Tuan Edward.

Mata Ruby membulat, dia tersenyum cerah. "Wahh.. Ternyata bangunan itu adalah Klinik. Baguslah, sekarang kita juga nggak kekurangan Dokter.!"

"Ya. Jadi jangan lakukan itu lagi. Takutnya kalian benar-benar terinfeksi!" pinta Tuan Edward.

"Baik Ayah!"

"Nak, Kamu sudah lihatkan beberapa aturan yang Ayahmu terapkan. Menurutmu, apa masih ada yang kurang?" tanya Ibu Ruby.

"Untuk sementara, biarkan saja seperti ini dulu. Nanti kita lihat bagaimana kedepannya!" Ruby juga masih bingung. "Oh iya, bagaimana kondisi si kembar?"

"Baik-baik saja. Keduanya sehat, si bungsu juga sangat aktif!" Jelas Ibu Ruby. Mereka sempat khawatir dengan kondisi tubuhnya, tapi selama pemeriksaan, tidak ada keanehan yang lain.

"Hmm syukurlah!" Ruby beranjak, "Ayah temui mereka besok saja, biarkan mereka istirahat dengan baik!"

"Baiklah. Kamu istirahatlah juga!" Tuan Edward tahu benar, bagaimana lelahnya mereka beberapa hari itu.

***

Keesokan paginya, Ruby mengajak semuanya untuk berkumpul. Karena Ayahnya ingin memberitahu mereka aturan dan bagaimana agar mereka bisa tetap hidup dengan nyaman.

"Kalian Bisa memanggilku Pemimpin, atau Tuan Edward. Tapi diluar sana, kalian hanya bisa sebut Tuan Ed saja!"

"Baik Tuan!"

"Ya. Karena kalian sudah gabung dengan kami. Aku akan menjelaskan aturannya terlebih dahulu.. Pertama, kalian semua harus bekerja untuk mendapatkan poin. Poin itu bisa ditukar dengan makanan!"

"Kami harus bekerja apa?"

"Ada banyak yang bisa kalian kerjakan. Terutama para pria dewasa, membantu membangun rumah. Wanita memasak dan berkebun.!"

"Tuan kami siap bekerja, asal ada makan dan tempat tinggal!"

"Benar. Daripada kami harus berkeliaran di luar sana!"

"Tuan di mana kami bisa berkebun?"

"Bagus! Untuk perkebunan, ada di luar tembok besar. Tapi kalian tenang saja, perkebunan itu juga sudah dipasangkan pagar kayu berduri, dan tegangan listrik, jadi kalian, jangan berani-berani untuk memegangnya!"

"Baik Tuan. Kami mengerti!"

"Tuan kami harus bekerja apa?" salah satu anak kecil bertanya. Mereka khawatir, dengan tubuh kecil itu, tidak bisa melakukan apa-apa.

Tuan Edward tersenyum, tapi hatinya terasa sangat sakit. Anak-anak itu dulunya punya keluarga, tapi sekarang...

"Untuk anak-anak dibawah usia 12 tahun nggak perlu bekerja. Kalian cukup belajar dan bermain. Kita nggak tahu, apa yang terjadi di masa depan!"

"Tuan terima kasih...!"

"Untuk kalian yang pernah bekerja di Rumah Sakit Jangan khawatir! Karena saat ini kita sudah membangun klinik untuk tempat kalian siap siaga!".

"Tuan. Kami janji akan bekerja dengan baik!"

"Baiklah, kalau begitu, sekarang kita tulis nama, dan besok gelang penanda akan dibagikan.!"

Gelang itu seperti jam yang dipakai Ruby. Bisa melacak lokasi dan mengirim pesan jika masi satu daerah.

Gelang itu hanya bisa digunakan sekali. Jika hilang dan ditemukan orang lain, maka nama atau data yang tercantum tidak bisa dihapus atau diganti.

...----------------...

Satu tahun telah berlalu sejak Ruby mulai berkelana menembus bahaya, menembus kegelapan yang merenggut banyak hal.

Selama itu pula, tak terhitung jumlah orang yang berhasil dia temukan, dia selamatkan, dan dia bantu keluar dari kepungan bahaya, membawa mereka ke tempat yang aman, sebuah pangkalan yang kini tumbuh menjadi tempat berlindung yang kokoh.

Di sekelilingnya berdiri pagar tembok batu yang besar dan tinggi. Di dalamnya, setiap penyintas bahu-membahu bekerja keras, menyusun batu, mengaduk semen, membangunan rumah dan menata kebun. Tempat itu bukan sekadar benteng, tapi itu adalah rumah yang nyata.

Penyintas Pria, menepuk tembok batu yang kokoh, dengan suara bergema"Ruby! Lihatlah, rumah-rumah ini, akhirnya selesai juga! Ini semua berkatmu."

Ruby tersenyum lembut, dan berkata. "Bukan berkatku semata! Kalianlah yang mengangkat batu, mencampur semen, dan bekerja hingga keringat jatuh. Aku hanya membukakan jalan, kalianlah yang membuat pangkalan ini menjadi pelindung sejati.",

Penyintas Wanita datang membawa air minum, membagikannya "Benar sekali. Tanpa tembok besar ini kami nggak akan merasa aman. Dan tanpa kamu yang menyelamatkan kami, entah bagaimana nasib kami diluar sana, rasanya tak percaya kami bisa sampai sejauh ini.!"

Ruby minum air dengan pelan, menatap tembok rumah-rumah yang sudah memenuhi halaman perkebunan di dalam tembok. "Aku hanya nggak ingin peradaban manusia punah.!"

Penyintas Pemuda menyeka keringat dari dahi, menatap rumah-rumah itu dengan bangga. "Kami berjanji akan membantu untuk mencapai impianmu. Dan semoga orang yang masih terjebak di luar sana tahu, di sini ada tempat untuk pulang. Sama seperti yang kamu berikan pada kami."

Ruby mengangguk, matanya berbinar penuh harap. "Itulah yang aku harapkan. Satu tahun ini baru permulaan. Selama kita tetap berdiri berdampingan, tembok ini dan persaudaraan kita keduanya akan semakin kokoh."

Mohan yang berdiri di samping Ruby tersenyum tulus "Terima kasih, Ruby. Terima kasih telah menyelamatkan kami, dan mengajarkan kami untuk bangkit serta membangun tempat berlindung yang nyata."

Semua orang menatap Ruby dengan penuh rasa hormat, suara bulat dan tegas "Terima kasih, Ruby!"

Semua orang tahu, jika Ruby lah yang meminta Tuan Edward agar perkebunan itu dijadikan sebagai pangakalan para penyintas. Dan Tuan Edwar menyanggupinya tanpa ragu sedikitpun.

Matahari bersinar di atas pagar tembok batu yang besar itu, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh area pangkalan.

Di dalamnya, tak ada yang merasa sendirian. Satu tahun perjuangan, keringat, dan harapan telah mengubah sekelompok orang asing menjadi satu keluarga besar.

.

.

.

.

.

1
Dandelion
ohhh Tuhan...di gantung lagi sama ka othor nya...
Dandelion
next ka
Dandelion
berasa kurang banyak bacanya...😁
next ka...
Dandelion
seru2 semoga orang2 yg di tolong oleh tim ruby di bawa keperkebunan milik ruby...
next ka...
Dandelion
next ka
Dandelion
lanjut kq
Dandelion
next ka
Dandelion
double up dong ka...
Dandelion
lanjut ka
Dandelion
next ka
Dandelion
hmmmm...nggak berasa bacanya...berasa kurang trs 😁
next ka
Dandelion
double up dong ka...
Dandelion
makin seru dan menegangkan ceritanya
next ka
Dandelion
lanjut ka...
Dandelion
next ka
Dandelion
seru...seru...seru...
next ka
Dandelion
bener2 menegangkan ceritanya 😁
next ka..
Dandelion
knp novel ka othor yg ini bikin menegangkan...serasa ikut terbawa suasana mengerikan 😁
lebih seram dr cerita horror...next ka...
Fii: makasih kk🙏 jangan lupa ajak teman2nya mampir kk 😊
total 1 replies
Dandelion
ceritanya bikin dag dig dug ...serasa ikut jd spt ruby..😁
next ka
Dandelion
wahhh jd ikut deg2an 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!