Indonesia
NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33 - SIAPA YANG MENGGALI TEMBOK SIAPA

Larasati duduk di tepi kursi ruang tengah asrama, kedua tangannya mencengkeram ujung rok dengan erat.

Sejak tadi malam ia tidak bisa tidur nyenyak; pesan yang dikirim kakaknya lewat cakram gema masih terngiang-ngiang di telinganya, dan semakin ia memikirkannya, semakin sesak dadanya.

Ia yang sempat mengingatkan Kirana agar tidak bermimpi terlalu tinggi tentang Panglima Kabut, kini justru dihadapkan pada kenyataan yang jauh di luar dugaannya.

Sejak kecil ia memang terbiasa menjadi orang yang paling tinggi di antara teman-temannya.

Anak seorang laksamana, adik dari permaisuri, perempuan yang tidak pernah takut pada siapa pun.

Tetapi semalam, kakaknya berkata bahwa gadis pendiam di ruangan tengah ini adalah istri sah Panglima Pertama — orang yang bahkan harus dipanggil "Bibi" oleh permaisuri sendiri.

Larasati menunduk, merasakan arogansinya menguap perlahan seperti asap yang ditelan angin.

Ia menghela napas, membuka mulut beberapa kali, menutupnya kembali.

Ketika Kirana, Hana, dan dirinya akhirnya berkumpul di ruang tengah itu, Larasati memutuskan untuk mengawali dengan pertanyaan yang mengganjal di hatinya.

"Sejujurnya," katanya, "seluruh Kekaisaran penasaran dengan pertanyaan ini. Bagaimana kalian bisa berakhir menikah?"

Kirana memiringkan kepalanya, seolah mengenang sesuatu yang manis, lalu tersenyum. "Kami jatuh cinta pada pandangan pertama."

"Tetapi bukankah Panglima selalu memakai topeng sebelumnya?" tanya Hana bingung.

"Oh, ia tidak memakai topeng saat aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama."

Larasati tiba-tiba seperti mendapat pencerahan.

"Aku mengerti. Aku pernah membaca kisah-kisah semacam ini. Kau melihat wajah Panglima di balik topengnya, lalu kau harus bertanggung jawab padanya?"

Kirana terdiam.

Gadis ini, berapa banyak kisah yang sudah ia baca?

Sungguh plot yang sangat klasik, persis seperti cerita silat dari catatan Alam Kuna yang pernah ia baca.

Sebaliknya, Larasati justru tampak tidak wajar, dengan ekspresi canggung menghiasi wajahnya.

"Kirana, jangan ambil hati perkataanku waktu upacara pembukaan."

Kirana tersenyum. "Apa? Aku lupa."

Larasati terkejut, lalu arogansi di wajahnya perlahan menghilang, dan senyuman muncul menggantikannya.

Ia merasa sangat nyaman bergaul dengan Kirana!

Pada saat itulah pintu asrama mereka berbunyi, dan Hana berbalik membukanya.

Sekar berdiri di luar dengan wajah yang lembut, dan begitu melihat Kirana di dalam, ia segera berkata dengan suara merdu, "Kakak, sudah kembali? Ayah menyuruh kita ke rumah makan setelah kelas hari ini. Hanya ada satu kapal terbang. Bagaimana kalau kita berangkat bersama nanti?"

"Oh," jawab Kirana santai, "kau kembali mendekat padaku, apakah kau berencana menggali lubang untukku lagi? Biar kutebak, kau sebenarnya datang untuk memastikan apakah aku sudah kembali. Kalau tidak, kau akan langsung berbalik dan berkata pada orang tua kita, 'Dia tidak pulang semalam, tidak pulang seharian, dan bolos.'"

Senyum di wajah Sekar membeku. "Kakak, apa yang kau katakan? Aku peduli padamu."

"Terima kasih atas perhatianmu." Kirana mengangkat sudut bibirnya, lalu menutup pintu tepat di depan wajah Sekar — sangat cepat, sampai nyaris mengenai ujung hidung gadis itu!

Hana sudah siap secara mental dan tidak tampak terkejut.

Tetapi Larasati sangat dekat dengan kakaknya sendiri, sehingga ia penasaran dengan cara Kirana memperlakukan adiknya.

"Kalian kan bersaudara?" tanyanya.

"Bagaimanapun bersaudara berbicara, tidak mungkin serumit ini. Rasanya setiap kalimat adalah pertempuran."

Kirana telah mengirim semua catatan ukuran untuk dapur ramu itu dan menyuruh orang segera mengatur pemasangannya.

Ia mendengus, "Kami bersaudara memang tidak akur. Makanya aku iri pada hubunganmu dengan kakakmu."

"Benar! Kakakku dan aku memiliki hubungan yang hebat!" Begitu membicarakan kakaknya, Larasati tiba-tiba teringat satu hal yang sangat penting!

Arogansi di wajahnya hilang lagi, digantikan ekspresi canggung.

"Kirana, kau menikah dengan Panglima, dan Panglima adalah paman Baginda, sementara kakakku juga satu generasi di bawahmu. Jadi aku..."

"Jadi bukankah ia juga harus memanggilmu Bibi!" Kirana menyahut dengan senyum lebar.

"Astaga!" Kekhawatiran dan kecanggungan di wajah Larasati hampir membeku!

Kirana tak bisa menahan tawa. "Kita teman sekelas, panggil saja namaku."

Larasati akhirnya menghela napas lega, lalu mengangkat wajah dengan senyuman.

"Kakakku bilang kau sangat mudah bergaul, dan memang benar!"

"Kemarin kau bilang aku angkuh, hari ini kau bilang aku mudah bergaul." Kirana tidak tahu apakah semua ini terjadi karena pernikahannya dengan Panglima, tetapi tidak buruk jika bisa rukun dengan teman sekamarnya.

---

Setelah kelas siang selesai, Kirana berjalan menuju gerbang Akademi, berniat menaiki kapal terbang umum menuju rumah makan keluarga Wijaya.

Namun baru saja melangkah keluar, ia melihat Danendra Prasaja berdiri di gerbang.

Sejak pernikahan mereka dibatalkan, keluarga Wijaya dan keluarga Prasaja perlahan menjauh.

Dikatakan kedua orang tua itu berhenti bermain catur bersama; ikatan yang dulu begitu hangat di Provinsi Seruni kini tinggal kenangan.

Kirana pura-pura tidak melihatnya, tetapi Danendra justru datang sendiri.

"Menunggu kapal umum?" tanyanya.

"Ada apa?"

"Kau mau ke mana? Aku yang mengantar."

Sebenarnya keluarga Wijaya juga memiliki kapal terbang, tetapi Sekar menduduki dan berangkat lebih dulu.

Pikiran sempit semacam itu — menggunakan hal sepele untuk menyakiti orang lain — benar-benar naif dan tertinggal zaman.

Kirana menatap kapal terbang keluarga Prasaja itu, lalu tersenyum.

"Hebat, punya kapal?"

"Kau juga punya Perahu Awan Kerajaan di rumah!"

"Tidak, aku khawatir kau salah paham." Kilatan rasa sakit melintas di mata Danendra, dan ia berkata dengan serius, "Rara, sampai sekarang ia belum mengumumkan identitasmu ke khalayak. Apakah ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya? Kau tidak sedih diperlakukan tidak adil seperti ini?"

Kirana tersenyum tipis.

"Ditinggalkan di hari pernikahan saja aku tidak sedih. Hal sepele seperti ini, apa yang perlu disedihkan?"

"Rara! Berapa kali harus kuulangi — yang ingin kunikahi adalah kau, bukan Sekar! Saat ia datang memintaku menolongnya, kupikir kau akan mengerti, kau akan memahamiku, aku..."

"Aku tidak ingin memahamimu sekarang," potong Kirana dingin. "Pahami saja suamiku."

Danendra hendak membuka mulut berkata lagi, ketika tiba-tiba sebuah bola cahaya perak melesat mendekat.

Ia berhenti di depan Kirana dan berkata dengan hormat, "Nyonya, biar aku yang mengantarmu pulang."

Rupanya itu Guruh.

Kecerdasan Guruh sangat tinggi; dikatakan namanya masuk dalam lima besar di seluruh Kekaisaran.

Kirana tidak menyangka Guruh datang, tetapi itu hal yang baik — ia bisa segera meninggalkan Danendra yang menjengkelkan.

Ia tersenyum pada Guruh dan berkata, "Oke."

Guruh dengan gembira menuntun Kirana menuju kapal terbang abu-abu keperakan lain yang menunggu di pelataran.

Tentu saja, ia tidak lupa mengabadikan penampilan Danendra itu menjadi rekaman citra, lalu meneruskannya kepada Panglima Rangga yang sedang sibuk di markas militer.

---

Rangga yang sedang rapat di markas besar, menyusun rencana agar para bawahannya memusnahkan Gerombolan Belalang Maut yang menyerang, tiba-tiba merasakan Gelang Lentera di pergelangan tangannya bergetar.

Para perwira yang duduk mengelilingi meja bundar serentak menunduk menatap dokumen di tangan masing-masing, menjaga mata tetap ke bawah, tetapi telinga mereka seolah berputar ke arah Panglima.

Siapa yang berani mengirim pesan kepada Panglima di tengah rapat seperti ini?

Mungkinkah istri misterius sang Panglima?

Rangga menurunkan matanya setengah, menatap rekaman citra yang dikirim Guruh beserta catatan di sampingnya.

Guruh menulis, "Tuan, bocah ini hendak menggali tembok Tuan. Aku sudah memeriksa silsilah keluarganya hingga sepuluh generasi!"

"Ternyata dialah tunangan Nyonya," sambung Guruh dalam catatan berikutnya.

"Dari sudut pandang objektif, justru Tuan yang menggali temboknya lebih dulu. Tetapi kini tampaknya tembok Tuan sendiri tak mau beranjak dari istri Tuan."

Rangga terdiam sejenak.

Ia mengangkat kepala dan melanjutkan rapat dengan wajah acuh tak acuh.

"Kali ini aku yang memimpin langsung pasukan untuk memusnahkan mereka. Sisanya terus mencari sisa-sisa Gerombolan yang masih mengintai di dalam kota. Selain itu, fokuskan perhatian pada pelabuhan-pelabuhan di beberapa provinsi."

"Siap!" seru para perwira serentak.

Tepat pada saat itu, Gelang Lentera Rangga bergetar lagi.

Kali ini, pesannya benar-benar dikirim oleh Kirana.

Kirana menulis, "Panglima, aku dengar dari Guruh bahwa Tuan ingin aku pindah ke kediaman Tuan?!"

1
Xlyzy
Jangan jangan itu jadi salah satu spot kesukaan lagi🤭
Xlyzy
Alah usia itu bisa menipu, ada yang masih muda tapi wajah nya sudah tampak lebih dewasa dari pada usia nya
Miu.Nuha
mungkin ... em...
sebuah menyatuan gitu 🤔☺
Miu.Nuha
loh? namanya tidak diralat 🤔
entar denandra donk yg tercantun namanya dan terikat sumpah pernikahan...
Miu.Nuha
dan Kirana begitu teguh dan percaya diri ya
semoga acaranya tetep lancar 🤧
Filan
kok malah nampar sih? Jangan-jangan Sekar anak haram bapaknya.
Filan
parah nih ayahnya
Filan
baiklah apa nih?
btw, paras cantik/ganteng selalu menguntungkan 😌
-Thiea-
mungkin ada unsur kesengajaan biar kamu gagal nikah Kirana.
-Thiea-
jangan-jangan dia ada hubungan dengan sekar. makanya dia lebih mentingin Sekar daripada Rara..🤨
Myz Pena
berarti panas donk...bisa angus itu kirana kalau panasnya kayak tungku kayu bakar nggak sih 🤣🤣🤣
Myz Pena
akhirnya rangga dan kirana resmi menjadi pasangan sejiwa 🤭
Myz Pena
ini ceritanya di kiss kah ?? 🤣
Myz Pena
astaga rangga harus cepat di tangani.. 🤧
Kartika Candrabuwana
ini pengobatan yang membara ya
Myz Pena: unik banget cara pengobatannya... 🤭
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
seleaai juga acara ritual pernikahannya. rangga perlu dibantu tuh
Kartika Candrabuwana
iya cepat.. rangga sepertinya dalam kondisi yang aneh
Kartika Candrabuwana
hahaha...para hadirin terbengong semua...pengantin prianya beda
Kartika Candrabuwana
akhirnya acara dimulai juga dan tentu penuh fengan kejutan
ginevra
mau cari pria dimana? cari pasangan itu sulit loh 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!