Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Ketika Ia Tak Lagi Menunggu
Beberapa pelayan yang menjadi saksi semuanya saling melirik lalu menunduk.
Sementara Alden tidak langsung bergerak hingga beberapa detik. Tangannya masih terulur. Lalu perlahan turun. Ekspresinya tidak berubah banyak. Tapi rahangnya mengeras tipis.
Menarik.
Bukan penolakan terang-terangan.
Tapi juga jelas… bukan kebetulan. Ia melirik sekilas ke arah Belvina yang sudah berjalan lebih dulu.
Sudut bibirnya bergerak sedikit. Bukan senyum. Lebih seperti… reaksi terhadap sesuatu yang baru saja bergeser.
Tanpa terburu, Alden akhirnya menyusul. Langkahnya lebih panjang. Dalam dua langkah, ia sudah sejajar.
Tidak menyentuh. Tidak bicara. Namun kali ini, ia tidak membiarkan jarak itu terlalu jauh.
Dan untuk pertama kalinya—
ia yang menyesuaikan ritme.
Mobil melaju stabil di tengah lalu lintas malam.
Tidak ada percakapan. Hanya suara mesin dan cahaya lampu jalan yang sesekali melintas di wajah mereka.
Alden duduk di sisi kiri tanpa kata. Tapi kali ini bukan karena tidak peduli. Pandangannya bergeser perlahan ke bawah. Ke tangan Belvina yang bertumpu santai di atas pahanya. Dan di sanalah ia berhenti.
Kosong.
Tidak ada cincin itu..Sebagai gantinya, cincin lain. Lebih sederhana yang tak mencolok. Tidak… memiliki makna yang sama.
Jemarinya mengencang sedikit.
“Cincinmu mana?” tanyanya akhirnya, nada suaranya datar.
Belvina bahkan tidak langsung menoleh.
“Aku lepas.” Jawabannya ringan. Seolah itu hal sepele.
Alis Alden bergerak tipis. “Kenapa?”
Kali ini Belvina melirik sekilas. Singkat.
“Bosan.”
Satu kata. Tapi cukup.
“Bosan?” Alden mengulang dengan nada tertahan, bukan karena tidak dengar, lebih karena tidak terima.
“Kelihatan terlalu mencolok,” lanjut Belvina santai. “Aku nggak suka.”
Mobil tetap melaju. Tapi udara di dalamnya berubah.
Alden bersandar sedikit, pandangannya terkunci pada jalan.
“Dulu kamu yang paling ngotot minta model itu.”
Nada suaranya masih tenang. Tapi ada sesuatu yang mulai menekan di baliknya.
Belvina tersenyum tipis.
“Itu dulu.”
Ia mengangkat tangannya sedikit, seolah baru menyadari sesuatu. Pandangannya bergeser, ke tangan Alden.
Kosong.
“Lagipula…” lanjutnya, kali ini lebih lambat, “kamu saja nggak pernah pakai.”
Satu detik.
Dua detik.
“Jadi kenapa aku harus?”
Tidak ada nada menyerang. Tidak juga emosional. Justru karena itu, lebih kena.
Alden tidak langsung menjawab.
Fokusnya tetap ke depan. Tapi rahangnya mengunci lebih jelas sekarang.
Ini bukan sekadar soal cincin. Ini tentang sesuatu yang selama ini ia anggap tetap… ternyata sudah dilepas.
Dan lebih mengganggu lagi, Belvina tidak terlihat kehilangan apa pun.
Mobil berhenti di depan pintu utama ballroom. Seorang petugas segera membukakan pintu.
Alden keluar lebih dulu. Biasanya, itu akhir dari perhatiannya. Namun kali ini, ia tidak langsung melangkah pergi. Ia berbalik. Tangannya terulur ke dalam mobil. Menunggu.
Belvina yang hendak turun berhenti sesaat. Alisnya mengerut tipis.
Ingatan itu muncul lagi. Biasanya, ia akan dibiarkan keluar sendiri. Bahkan tidak jarang, ia diminta cepat karena dianggap terlalu lama merapikan diri.
Bukan seperti ini. Tangannya… justru menunggu.
Belvina memperhatikan tangan itu sepersekian detik. Lalu mengangkat tangannya. Menyambut. Jemari mereka bersentuhan singkat. Hangat. Stabil.
Alden membantu tanpa komentar. Tidak berlebihan. Tidak juga lembut. Sekadar… memastikan ia berdiri dengan benar.
Begitu kakinya sudah mantap di lantai, Belvina langsung melepaskan. Cepat. Tanpa ragu. Seolah sentuhan itu tidak perlu dipertahankan lebih lama.
Belum selesai.
Alden mengangkat sikunya sedikit. Disodorkan ke arahnya. Isyarat yang jelas. Mengajak.
Belvina melirik. Dan sekali lagi, tidak ada dalam ingatan itu.
Yang ada, pria ini selalu berjalan lebih dulu. Tidak pernah menunggu, apalagi menawarkan.
Kini?
Ia justru memberi ruang. Menunggu.
Belvina hanya menatap sekilas. Lalu melangkah. Melewati Alden. Lebih dulu. Tanpa menyentuh lengannya.
Di kursi depan, sopir menahan napas. Pandangannya terangkat ke arah spion sebentar.
Beberapa kali, lalu cepat-cepat diturunkan lagi. Ekspresinya nyaris tidak berubah, tapi jelas, ia mencatat.
Ini… bukan pasangan yang sama seperti biasanya.
Alden tidak langsung bereaksi. Tangannya yang sempat terangkat, perlahan turun. Namun kali ini, ia tidak diam di tempat.
Ia menyusul.
Langkahnya lebih panjang. Dalam beberapa detik, ia sudah sejajar. Tidak menyentuh. Tidak bicara.
Namun cukup dekat untuk menunjukkan, ia tidak lagi membiarkan jarak itu terbentuk begitu saja.
Pintu ballroom terbuka.
Cahaya dari dalam menyambut. Percakapan yang semula ramai… mereda sedikit.
Bukan karena siapa yang masuk. Tapi karena bagaimana ia masuk.
Belvina melangkah ke dalam dengan tenang. Terukur.
Setiap langkahnya mengikuti ritme yang sudah ia kenal. Bukan sebagai dirinya yang dulu, tapi sebagai versi yang sudah ia pelajari dengan cepat.
Tidak berlebihan. Tidak mencari perhatian. Namun tetap… menariknya.
Beberapa kepala mulai menoleh. Lalu lebih banyak lagi.
Bisik-bisik kecil mulai terdengar.
“Itu Belvina?”
“Serius?”
“Beda banget…”
Biasanya, perhatian seperti itu akan terasa tidak nyaman. Tapi tidak kali ini.
Belvina tidak berhenti. Tidak juga menunduk. Ia hanya berjalan. Seolah semua itu, bukan sesuatu yang perlu ia tanggapi.
Di sampingnya—
Alden melihat. Bukan ke orang-orang, tapi ke cara mereka melihat Belvina. Terlalu lama. Terlalu tertarik.
Dan tanpa banyak pikir, tangannya bergerak. Meraih pinggang Belvina. Menariknya sedikit lebih dekat.
Gerakan itu ringan, namun jelas. Dan yang paling penting, tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Belvina sedikit terkejut. Hanya sepersekian detik. Ia melirik ke samping.
Aneh.
Ia tidak terbiasa dengan ini. Tidak pernah. Namun ia tidak menolak.
Di sisi lain ruangan—
Seraphina berdiri. Matanya langsung menangkap adegan itu.
Cara Alden menyentuh. Cara ia menarik Belvina lebih dekat. Dan cara Belvina… tidak menyingkir.
Senyumnya tetap terpasang. Sempurna. Namun kali ini, tidak mencapai mata.
“Menarik…” gumamnya dengan nada lebih rendah.
Bukan karena kagum. Lebih ke arah… waspada.
Untuk pertama kalinya, yang berubah bukan hanya Belvina. Tapi juga cara Alden memperlakukannya.
Dan itu… jauh lebih berbahaya.
Beberapa orang mulai mendekat.
Biasanya, arah mereka jelas, ke Alden.
Sapaan, jabatan tangan, pembicaraan bisnis singkat. Belvina… hanya ada di samping. Dikenal, tapi tidak benar-benar dilibatkan.
Namun malam ini, arah itu sedikit bergeser.
Satu pria berhenti di depan mereka.
“Good evening, Mr. Alden.”
Nada sopan. Formal. Namun pandangannya tidak berhenti di sana. Ia beralih ke Belvina, sedikit lebih lama.
“You look… different tonight.” Senyumnya tipis, tulus. “In a very good way.”
Satu orang lagi ikut mendekat. Lalu satu lagi.
Pujian mulai berdatangan. Tidak berlebihan, tapi jelas. Tidak sekadar basa-basi.
Dan untuk pertama kalinya, Belvina yang menjawab. Bukan canggung. Bukan juga berlebihan. Senyumnya cukup. Nada suaranya tenang.
“Thank you.”
Singkat. Tepat. Tidak mencari perhatian, tapi tetap meninggalkan kesan.
Di sampingnya, tangan Alden masih di pinggangnya. Tanpa sadar, cengkeramannya menguat sedikit. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk terasa.
Jempolnya tanpa sadar bergerak di sisi pinggang Belvina. Bukan belaian. Lebih seperti… memastikan ia masih di sana.
Belvina sedikit menegakkan punggungnya. Sentuhan itu terasa asing. Terlalu dekat. Terlalu… tidak biasa. Namun ia tidak menepis.
Bukan karena menerima, melainkan karena ia tahu, di ruangan seperti ini, setiap gerakan punya arti.
Jadi ia hanya diam. Membiarkannya. Sambil menjaga ekspresinya tetap tenang, seolah itu hal yang wajar.
Seorang pria lain mendekat. Usianya lebih tua. Wajahnya khas Asia Timur. Setelan rapi.
“Good evening,” sapanya dengan bahasa Inggris yang terdengar kaku. Ia mengangguk sopan pada Alden, lalu beralih ke Belvina.
“You are… Mrs. Alden?”
“Yes,” jawab Belvina, tetap tenang.
Pria itu tersenyum, tapi terlihat sedikit canggung. Beberapa detik kemudian, ia menoleh ke asistennya dan berbisik dengan nada rendah dalam bahasa Mandarin.
Nada suaranya rendah, hampir tidak terdengar oleh orang lain. Mengeluhkan bahwa lidahnya terasa kaku saat berbicara dalam bahasa Inggris, memastikan apakah pengucapannya tadi benar.
Dan tanpa berpikir panjang, Belvina menjawab dalam bahasa yang sama.
“Pengucapan Anda sudah cukup jelas. Tidak perlu terlalu khawatir.”
Suasana di sekitar mereka seketika mereda.
Bukan total. Tapi cukup untuk terasa di lingkar kecil itu.
Alden langsung menoleh. Cepat. Ada perubahan kecil di ekspresinya.
Ia tidak mengatakan apa pun. Namun tangannya di pinggang Belvina mengencang sedikit.
Lebih sadar sekarang. Lebih… sengaja.
Dan untuk pertama kalinya,
ia menyadari, ada terlalu banyak hal tentang wanita ini… yang tidak ia ketahui.
...✨Ia melepas sesuatu yang dulu ia jaga mati-matian tanpa ragu, tanpa penyesalan....
...Dan untuk pertama kalinya, pria yang tak pernah menoleh… justru mulai menggenggam lebih erat....
...Bukan karena cinta....
...Tapi karena ia sadar, yang selama ini diam… kini bisa benar-benar pergi.✨...
.
To be continued
Belvina kena jebakannya Seraphina.
Semoga Belvina dan bayi dalam kandungannya selamat
Semua proyek yang belum berjalan juga dihentikan.
Seraphina sudah terlalu lama menikmati hasil kelicikannya. Kini tinggal menunggu kehancurannya.
Sifat jahat Seraphina meronta tak mau kalah.
Semoga perbuatan nekatnya mau mencelakakan Belvina yang sedang mengandung tidak terlaksana.
Seraphina tidak sadar kalau perbuatannya pasti segera diketahui Alden.
Kepala keuangan di perusahaannya terlibat kerja sama dengan Seraphina dengan membocorkan situasi internal perusahaan. Menjual data perusahaan kepada Seraphina.
Licik sekali Seraphina. Bertahun-tahun Alden baru mengetahui perbuatan jahat Seraphina. Bertahun-tahun pula Alden merasa berhutang budi pada Seraphina.
Menjadikan Seraphina sebagai pahlawan penyelamat perusahaan.
Sekarang tinggal penyesalan yang sangat terlambat Alden sadari. Istrinya banyak terluka karena dirinya lebih membela Seraphina.
Orang-orang yang mengawasi Belvina mestinya siaga tidak jauh dari Belvina berada.
Alden sudah memilih Balvina, Seraphina tidak terima.
Jelas Alden akan marah kalau Belvina sampai kenapa-napa. Apalagi karena ulah Seraphina.
Kalimat-kalimat selanjutnya yang terucap dari Alden membuat Seraphina terdiam. Seperti tak percaya.
Seraphina telah meninggalkan ruangan Alden.
Dimas takut Seraphina berbuat nekat.
Alden pun berpikiran sama. Bahkan takut kalau Belvina yang akan jadi sasaran.
Seraphina sudah berada diruang kerja Alden.
Alden tanpa basa basi bicara soal kejadian di klub malam. Tentang foto-foto mereka berdua kepada Belvina.
Seraphina pura-pura terkejut mendengarnya. Dan berkata tidak tahu soal itu.
Tapi tak lama kemudian, pura-pura terkejut itu menjadi benar-benar terkejut.
Masih pura-pura tidak mengerti dengan rekaman yang sudah Alden lihat.
Seraphina mau mengelak apa lagi. Alden mempunyai bukti rekaman.
Kata-kata Belvina terus terngiang di telinganya.
Seraphina menahan amarah.
Seraphina menghubungi seseorang, dengan ponselnya.
Dia menyuruh orang tersebut menjatuhkan Belvina. Tidak peduli dengan Belvina yang diawasi cukup ketat oleh Alden.
Kalau Belvina sudah mode datar, Alden merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Alden baik. Maunya, Belvina terus terang bicara apa yang menjadikan kesal terhadap dirinya. Biar dia tahu kesalahannya.
Omongan Seraphina yang bikin Belvina kesal, ditanyakan pada Alden.
Belvina setelah mendengar penjelasan dari Alden, mestinya sadar kalau omongan Seraphina itu supaya Belvina terpancing kemarahannya.
Kemarahan Ibu hamil bisa membahayakan bayi dalam kandung. Itu yang dikehendaki Seraphina.