Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Suara terompet yang sangat nyaring menandakan dimulainya babak kedua Turnamen Tabib Kematian tepat pada siang hari yang terik.

Dua puluh peserta yang tersisa kini berdiri di depan gerbang besi tinggi yang membatasi area belakang markas Aliansi Medis Gelap.

Di balik gerbang itu terhampar sebuah labirin hutan buatan yang dipenuhi oleh pohon-pohon rindang berdaun keunguan.

Tetua Zulkarnain berdiri di atas menara pengawas dengan senyum dingin yang menyimpan ribuan rencana licik.

"Ujian babak kedua adalah Ujian Bertahan Hidup dan Pencarian Herbal."

"Di dalam hutan labirin ini terdapat puluhan jenis tanaman herbal langka yang sudah kami sebarkan."

"Kalian harus mencari Akar Darah Naga dalam waktu tiga jam dan membawanya keluar dari gerbang seberang dengan selamat."

Tetua Zulkarnain menatap lurus ke arah Genta dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian.

"Hati-hati dengan langkah kalian, karena hutan ini dipenuhi oleh binatang berbisa dan jebakan maut yang tidak kenal ampun."

"Gerbang dibuka sekarang, selamat mencari jalan kematian kalian sendiri!"

Kriettt!

Gerbang besi raksasa itu terbuka perlahan, menghembuskan udara lembap yang berbau sedikit amis dari dalam hutan.

Para peserta langsung berhamburan masuk dengan panik, berlomba-lomba untuk mencari tanaman langka tersebut lebih dulu.

Genta melangkah masuk dengan sangat santai, tidak terburu-buru seperti peserta lainnya yang dibutakan oleh kepanikan.

Sekar Arum berlari kecil menyusul langkah Genta dan berjalan tepat di belakangnya.

"Hutan ini terasa sangat aneh Genta, tanahnya terasa lembek dan udaranya membuat mataku sedikit perih," bisik Sekar sambil mengedarkan pandangan waspada.

"Itu karena seluruh pohon di sini sengaja disiram dengan air rawa beracun untuk menciptakan halusinasi tingkat rendah," jawab Genta tanpa menoleh.

"Tetaplah berada di dekatku dan jangan menyentuh bunga apapun yang berwarna cerah."

Mereka berdua berjalan semakin dalam menyusuri jalur setapak yang berkelok-kelok tanpa ujung yang jelas.

Suara jeritan peserta lain mulai terdengar sesekali dari arah yang berjauhan, menandakan ada yang sudah terkena jebakan atau gigitan binatang berbisa.

Genta terus melangkah sambil terus berkomunikasi dengan sistem di dalam kepalanya.

Sistem, aktifkan Mata Surgawi dan pindai keberadaan Akar Darah Naga sekaligus ancaman yang bersembunyi di sekitar kami.

[Mata Surgawi Level 1 memindai radius dua ratus meter.]

[Akar Darah Naga terdeteksi di koordinat arah utara, berjarak lima ratus meter dari posisi Master.]

[Peringatan Tambahan! Terdeteksi lima hawa membunuh tingkat tinggi yang sedang bergerak mendekati Master dari arah pepohonan.]

Genta mendadak menghentikan langkahnya, membuat Sekar yang berjalan di belakangnya hampir menabrak punggungnya.

"Ada apa Genta? Apakah kau menemukan petunjuk tanamannya?" tanya Sekar kebingungan.

"Tanamannya masih jauh Nona Sekar, tapi sepertinya anjing-anjing peliharaan panitia sudah tidak sabar ingin bermain dengan kita."

Wush! Wush! Wush!

Dari balik dedaunan pohon yang rimbun di atas mereka, lima bayangan hitam melesat turun dengan kecepatan luar biasa.

Mereka adalah lima orang pembunuh bayaran berpakaian serba hitam yang wajahnya tertutup topeng besi.

Masing-masing dari mereka menggenggam pedang melengkung yang bilahnya dilapisi cairan racun berwarna hijau mengkilap.

"Bunuh pemuda itu dan biarkan gadisnya hidup untuk kita nikmati nanti!" teriak pemimpin pembunuh itu dengan suara serak.

Sekar langsung menarik dua bilah belati perak dari balik pinggangnya, bersiap untuk bertarung mempertahankan diri.

Namun Genta mengangkat sebelah tangannya, menghalangi Sekar untuk ikut campur.

"Simpan senjatamu Nona, mengotori tangan putihmu dengan darah kotor mereka adalah sebuah penghinaan," ucap Genta dengan nada sangat tenang.

Kelima pembunuh itu mengepung Genta dari lima arah mata angin secara bersamaan.

Mereka mengayunkan pedang beracun mereka mengincar leher, jantung, dan kaki Genta tanpa celah sedikitpun.

[Teknik Pukulan Penghancur Tulang diaktifkan ke mode respons otomatis.]

Genta sama sekali tidak mencabut senjata apapun dari balik jasnya.

Dia hanya memutar tubuhnya dengan sangat cepat, menghindari kelima sabetan pedang maut itu dengan jarak hanya beberapa milimeter dari kulitnya.

Brak!

Genta merendahkan tubuhnya dan menendang tulang kering pembunuh pertama hingga patah terlipat ke belakang.

"Arrrgh!" pembunuh itu menjerit dan jatuh berlutut di tanah.

Bugh! Krak!

Tanpa membuang waktu, Genta menggunakan siku tangannya untuk menghantam dada pembunuh kedua hingga tulang rusuknya remuk berantakan.

Tiga pembunuh yang tersisa terbelalak kaget melihat dua rekan elit mereka tumbang dalam waktu kurang dari tiga detik.

"Dia bukan manusia biasa! Gunakan formasi racun jaring laba-laba!" teriak sang pemimpin mulai panik.

Ketiga pembunuh itu melompat mundur dan serentak melemparkan jaring besi tipis yang dipenuhi kail-kail kecil beracun ke arah Genta.

Jaring itu mengembang di udara, siap menjerat dan merobek kulit siapa saja yang terperangkap di dalamnya.

Namun Genta hanya menyeringai bosan melihat trik murahan yang sudah sering dia lihat di gunung.

Wush!

Tenaga dalam meridian Genta meledak dari telapak tangannya, menciptakan hembusan angin puyuh yang sangat kuat.

Angin itu menerbangkan kembali jaring-jaring beracun tersebut tepat ke arah ketiga pembunuh itu sendiri.

Srekkk!

"Tidaaak!".Jerit mereka bersamaan saat jaring mereka sendiri menjerat tubuh dan wajah mereka.

Kail-kail beracun itu merobek kulit mereka, memasukkan racun saraf yang membuat mereka kejang-kejang dan mulut berbusa seketika.

Kelima pembunuh bayaran utusan panitia itu kini terkapar tidak berdaya di atas tanah berlumpur hanya dalam waktu satu menit.

Sekar mematung dengan mulut sedikit terbuka, dia tidak menyangka pria di depannya ini memiliki ilmu bela diri yang sama menakutkannya dengan ilmu medisnya.

Genta melangkah mendekati pemimpin pembunuh yang sedang sekarat karena racunnya sendiri.

Genta menginjak dada pria bertopeng besi itu dengan sangat kuat.

"Kau pikir Tetua Zulkarnain bisa membunuhku hanya dengan mengirimkan sampah-sampah tidak berguna seperti kalian?" bisik Genta mengintimidasi.

"Katakan pada majikanmu di alam baka nanti bahwa Raja Tabib akan segera menjemput nyawanya."

Genta menekan injakannya lebih keras hingga mematahkan sisa tulang dada pria itu, mengakhiri penderitaannya seketika.

"Mari kita lanjutkan perjalanan Nona Sekar, jangan sampai kita kehabisan waktu mencari rumput liar itu," ajak Genta santai seolah dia baru saja menginjak semut.

Sekar mengangguk cepat dan bergegas mengikuti Genta dengan perasaan kagum yang luar biasa mendalam.

Mereka berjalan ke arah utara sesuai dengan petunjuk Mata Surgawi milik Genta.

Hanya dalam waktu lima belas menit, mereka tiba di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik semak berduri raksasa.

Di dalam gua yang lembap itu, tumbuh sebatang tanaman dengan daun berwarna merah darah yang memancarkan aura hangat.

"Itu Akar Darah Naga! Kau menemukannya dengan sangat cepat Genta!" seru Sekar gembira bersiap berlari memetiknya.

"Tunggu sebentar Nona ceroboh, jangan melangkah sembarangan," tahan Genta menarik kerah belakang baju Sekar.

Mata Surgawi Genta menangkap ada pergerakan panas di bawah tumpukan batu di dekat tanaman tersebut.

Seekor ular kobra raksasa berukuran sebesar paha orang dewasa dengan sisik hitam legam perlahan merayap keluar dari sarangnya.

Ular itu mendesis marah karena wilayah kekuasaannya diganggu oleh kedatangan manusia.

"Ini adalah Ular Kobra Penjaga Harta, racunnya bisa melelehkan tulang manusia dalam tiga detik," jelas Genta dengan tenang.

Sekar langsung merinding ketakutan dan bersembunyi di belakang punggung Genta.

Ular kobra raksasa itu memamerkan taringnya dan melesat menerjang ke arah wajah Genta dengan kecepatan kilat.

Namun bagi Genta, gerakan ular itu terlihat selambat siput yang sedang merangkak.

Tap!

Tangan kanan Genta melesat maju dan mencengkeram leher ular kobra itu dengan sangat presisi tepat di bawah rahangnya.

Ular raksasa itu meronta liar, melilitkan ekornya yang kuat ke lengan Genta mencoba meremukkan tulang lengannya.

Namun otot lengan Genta yang dilapisi tenaga dalam terasa sekukuh baja murni yang tidak bisa dihancurkan.

Genta menggunakan jari tangan kirinya untuk menekan paksa kelenjar bisa di rahang ular tersebut.

Cairan racun berwarna kuning kental menetes keluar dan ditampung oleh Genta ke dalam sebuah botol kaca kecil yang selalu dia bawa.

"Terima kasih atas hadiah bisamu teman kecil, ini akan sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan mataku nanti."

Setelah mengambil bisa yang cukup, Genta melemparkan ular raksasa itu jauh ke luar gua tanpa membunuhnya.

Dia kemudian mencabut Akar Darah Naga itu dengan akar-akarnya dan menyimpannya dengan rapi.

Di sudut terdalam gua itu, Genta melihat sebuah tanaman jamur berwarna keemasan yang memancarkan cahaya redup.

[Sistem mendeteksi keberadaan Jamur Jiwa Emas.]

[Item ini adalah bahan utama untuk membuka segel Mata Surgawi Level 2.]

Senyum Genta semakin melebar, ujian hutan ini ternyata memberikan harta karun tersembunyi yang tidak disadari oleh panitia bodoh itu.

Genta memetik jamur emas itu tanpa banyak bicara dan langsung memasukkannya ke dalam Gudang Penyimpanan Dimensi miliknya.

"Ayo kita keluar dari hutan jelek ini Nona Sekar, biarkan para panitia itu terkejut melihat kita membawa barang yang mereka minta."

Satu jam kemudian, pintu gerbang keluar labirin hutan terbuka.

Genta dan Sekar melangkah keluar dengan pakaian yang bersih tanpa noda darah sedikitpun, tangan Genta menggenggam erat Akar Darah Naga.

Di luar gerbang, Tetua Zulkarnain yang sedang duduk santai menikmati teh langsung tersedak hebat.

Cangkir teh di tangannya terjatuh dan pecah berantakan di lantai menara pengawas.

"M-mustahil! Bagaimana mungkin mereka bisa keluar hidup-hidup dari kepungan lima pembunuh elitku?!" batin Tetua Zulkarnain dengan wajah sepucat mayat.

Genta menatap lurus ke atas menara pengawas, mengayun-ayunkan Akar Darah Naga di tangannya dengan senyum mengejek yang luar biasa sombong.

Babak kedua berhasil ditaklukkan dengan sempurna, dan ketakutan Aliansi Medis Gelap terhadap monster dari selatan ini semakin membesar tanpa bisa dihentikan.

1
yani
💕💞💕
pricilia
🥰🥰
Anton barly
🥰🥰🥳🥳
fitri
/Gift//Gift//Gift//Gift//Gift/
Antoni gergio
💞💞💞💞💞
Angel
🌹🌹🌹🥰🥰🥰
Shinta geol
❤❤❤❤
clara
andai di dunia nyata ada🥹
Jamrud Khatulistiwa
sistem sangat pelit, setiap misi tdk sda hadiah
Jamrud Khatulistiwa
sistim tdk pernah memberi tahu hadiah yg diberikan
Jamrud Khatulistiwa
murid orang sakti mendapat sistem
Gege
katanya diawal sudah belajar banyak di gunung Rinjani.. nyatanya masih bergantung sama sistem...tapi gpp biar lebih op laah MC nyaaaah .pesen 10 hareem yaa Thor...jangan lembek..🤭
Cherlly: iya kaka,judul nya aja sistem kaka,next crita ya kaka saya lagi mikir lgi biar menarik 😊😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!