Indonesia
NovelToon NovelToon
Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikahmuda / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mina

Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.

Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.

Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.

Sialan emang.

Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.

Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Teror Bab Tiga

Hari Senin tiba tanpa rasa kasihan. Kabut Puncak yang sejuk dan pengakuan manis Kian di balkon villa mendadak digantikan oleh realita kejam kampus, kepulan asap knalpot, udara Jakarta yang panas menyengat, serta coretan tinta merah dari dosen pembimbing yang bentuknya mirip cakar ayam panik.

Gue duduk melamun di meja perpustakaan lantai tiga. Di depan gue, draf Bab 3 skripsi gue terbuka lebar dengan catatan tebal dari Pak Bambang di margin kanan, ‘Ulangi analisis data. Metode tidak relevan dengan teori Bab 2.’

Gue menepuk jidat pelan lalu menjatuhkan kepala ke atas tumpukan kertas.

"Pusing, Mbak?"

Gue mendongak sedikit. Kian berdiri di sebelah meja gue, membawa satu botol kopi dingin dan satu kotak kue cubit rasa matcha kesukaan gue. Penampilannya rapi banget karena habis ada presentasi tugas akhir jurusan.

Dia menarik kursi di sebelah gue tanpa bersuara, tahu betul aturan perpustakaan yang ketatnya melebihi penjara penjara militer, lalu menaruh kopi dan kue cubit itu di dekat laptop gue.

"Katanya mau nemenin konsultasi revisi?" bisik Kian, suaranya dipelankan sampai tinggal desisan halus di dekat telinga gue.

Gue menyeburkan napas kasar, menunjuk lembaran kertas penuh coretan merah di meja. "Pak Bambang minta dirombak total. Gue kagak paham sama rumus statistik variabel terikatnya. Mau nangis aja rasanya."

Kian mengamati lembaran draf gue sekilas. Alisnya terangkat, lalu dia terkekeh pelan tanpa suara.

"Gitu doang pusing," bisiknya tengil, menyentil dahi gue pelan pakai telunjuknya. "Lu forget kalau calon suami lu ini asisten laboratorium komputasi?"

Gue melotot kecil. "Gak usah pamer! Bikin tambah kesal tahu gak!"

Kian menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. Dia memajukan kursinya makin merapat ke kursi gue, hingga bahu kami saling bersentuhan. Kian menarik laptop gue ke depannya, menyebarkan beberapa lembar kertas draf gue di meja, lalu mulai mengambil pulpen dari tasnya.

"Sini," kata Kian pelan, matanya fokus menatap layar monitor. "Gue jelasin dari variabel pertama. Dengarin baik-baik, jangan melamun sambil meratapi nasib."

Selama satu jam berikutnya, perpustakaan yang hening berubah jadi ruang privat kami. Kian menjelaskan metode analisis data dengan sangat terstruktur, tenang, dan sabar, sisi Kian yang jarang banget kelihatan kalau lagi di luar. Jari-jarinya yang panjang dan luwes menari-nari di atas papan ketik, membetulkan rumus spss gue yang acak-acakan.

Gue yang tadinya mau fokus memperhatikan materi statistik, lama-lama malah kepikiran hal lain. Gue memperhatikan profil samping wajahnya, garis rahangnya yang tegas, matanya yang fokus menembus layar monitor, dan bibirnya yang bergerak pelan saat bergumam sendiri.

Ganteng banget sih sialan, batin gue spontan.

Tiba-tiba, Kian menoleh ke arah gue. Jarak wajah kami mendadak cuma belasan sentimeter.

"Paham gak?" tanyanya pelan.

Gue berkedip kaku, tertangkap basah lagi melamun memperhatikan wajahnya. "E-eh... paham. Dikit."

Kian menyipitkan mata, mengamati muka gue yang mulai berubah warna jadi kemerahan. Senyum tipis dan tengil yang sangat gue hafal itu perlahan muncul kembali di bibirnya.

"Lu gak lagi mendengarkan penjelasan statistik gue kan, Ra?" goda Kian setengah berbisik. Tangannya di bawah meja perlahan merayap naik, menggenggam jemari tangan kiri gue yang ada di atas paha.

"D-dengar kok!" seru gue pelan sambil mencoba menarik tangan gue, tapi Kian menahannya erat-erat, menyelipkan jemarinya di antara jemari gue.

"Kebiasaan," bisik Kian, memajukan wajahnya sedikit lagi. "Kalau lagi diajarin malah sibuk mengagumi ketampanan tutornya."

"Kian, ini perpustakaan!" bisik gue histeris tapi dengan nada tertahan, melirik takut-takut ke penjaga perpustakaan di pojokan ruangan.

"Ya makanya, jangan bikin suara berisik," balas Kian santai. Dia merebahkan kepalanya di atas meja, menatap gue dari samping sambil tetap menggenggam tangan gue di bawah meja. "Udah, revisinya selesai. Sisanya tinggal lu ketik ulang. Sekarang bayar upah tutor gue."

Gue mengerutkan dahi. "Upah apaan?!"

Kian tersenyum licik, menunjuk pipinya sendiri dengan lirikan mata. "Cium pipi sekali. Biar adil sama yang kemarin pagi di villa."

Gue melotot sempurna. "GILA LU YA! DI PERPUSTAKAAN?!"

"Kalau gak mau cium, ya udah..." Kian makin mengencangkan pegangan tangannya, lalu sengaja pura-pura mau mengecup leher gue di balik tumpukan buku-buku tebal.

"KIAN! IYA IYA!" pangkas gue panik.

Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan cepat. Koridor rak buku bagian ilmiah ini syukurnya lagi sepi banget, cuma ada kami berdua di meja pojok.

Dengan jantung yang berdegup liar seperti mau lepas dari dada, gue menundukkan kepala cepat-cepat, memajukan wajah, dan menempelkan bibir gue di pipi kanan Kian selama setengah detik.

CUP.

Gue langsung menarik tubuh gue kembali tegak lurus, menutupi seluruh wajah gue pakai draf skripsi tebal. Muka gue rasanya udah mendidih total.

Kian membeku di tempatnya. Senyum tengilnya menghilang seketika, digantikan oleh raut terkejut yang sangat langka. Rupanya dia cuma bercanda dan gak menyangka gue bakal beneran nekat menuruti permintaannya.

Kian perlahan menyentuh pipinya sendiri yang bekas gue cium, lalu menatap draf skripsi yang menutupi muka gue.

Telinganya... berubah jadi merah padam seratus persen.

"Elora..." gumam Kian, suaranya mendadak berubah serak dan gak fokus. "...lu beneran nyari mati ya bikin gue salting di tempat umum gini?"

1
ms. S
lanjut... novelnya menarik buat dibaca hingga bisa inget jaman pdkt sama gebetan. bikin deg2an juga Krena serasa jatuh cinta
ms. S
up lagi kak. novelnya kocak abis . aku sng novel yg kyk gini, lucu, sedih tapi ga mewek2 bgt, dan masih sesuai realita lha . sgra nikah yuk mereka berdua penasaran
Mina: makasih kak, seneng deh baca komennya🫰
total 1 replies
paijo londo
asli fix nih yg bloon kyaknya elora Ter la lu polos g tau kalo si kian itu udah suka elora dari lama🤭🤭🤭
paijo londo
mampir' thor🤦🤦aduh kyaknya hidup elora bakal kiamat kena serangan mental menghadapi kelakuan si kian q yg baca kok ikut2an jadi stress ya🤔🤔🤔
ms. S
ya ampun aku jadi deg2an ini kayak akunsama kian🤭🤣
Nurwana
asik asik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!