"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di koridor luar yang menghubungkan ndalem utama dengan kompleks asrama putri, desas-desus telah menyebar bagai api menyambar jerami kering.
Najwa, Ratna, dan Mawar berdiri di sudut dekat kolam ikan bersama puluhan santriwati lainnya. Suasana kasak-kusuk begitu riuh. Berita bahwa Rani menikah siri dengan Gus Reyhan dan membuat Ning Naya menuntut cerai telah menjadi pukulan telak bagi seluruh penghuni pesantren.
"Aku benar-benar tidak menyangka," bisik Ratna dengan wajah memerah menahan gusar. "Ning Naya itu kurang apa? Beliau cantik, pintar, lulusan psikologi, lembutnya luar biasa. Kurang mulia apa beliau mengajari kita di pondok?"
"Rani yang kebangetan," timpal Mawar. "Dulu waktu dia sakit parah dan tidak punya biaya, Ning Naya yang menguruskan izin dan bantu biayanya. Kenapa dibalas begini?"
Najwa menghela napas panjang, menatap ke arah mobil SUV hitam milik Arsyaka yang baru saja perlahan melaju meninggalkan pelataran ndalem utama.
"Kalian ingat tidak, beberapa bulan lalu Rani sering sekali izin keluar pondok dengan alasan mengurus dokumen perpustakaan? Ternyata tempat hinggapnya di ndalem barat... Ya Allah, sungguh tidak menyangka."
Mobil SUV hitam itu bergerak pelan menembus gerbang kayu Al-Anwar. Di dalam mobil, Naya menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Menatap bangunan pesantren yang telah menjadi rumahnya selama bertahun-tahun perlahan menjauh dan menghilang di balik bukit pegunungan Pacet yang tertutup kabut.
Air mata Naya akhirnya jatuh satu per satu—bukan karena meratapi pria yang mengkhianatinya, melainkan karena melepas sepotong masa lalu yang harus ia kubur dalam-dalam. Di balik air mata itu, ada kelegaan yang membuncah. Ia telah bebas. Impian lamanya untuk melanjutkan studi yang sempat mati kini berpijar kembali di depan mata.
**
Rani melangkah dengan kepala tertekur mendalam. Ujung gamis abunya melambai pelan seiring derap langkahnya yang tertahan di atas koridor berbatu asrama Marwah. Bisik-bisik kasak-kusuk menyeruak dari setiap ambang pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. Tatapan para santriwati—yang biasa menatapnya penuh hormat sebagai santri berprestasi—kini bertransformasi menjadi sorot penuh selidik, celaan, dan rasa tidak percaya yang amat telanjang.
Kabar burung itu bukan lagi sekadar rahasia yang berhembus liar. Berita perpisahan Adskhania Nayara Malik dengan Gus Reyhan—serta pengakuan menggemparkan tentang pernikahan siri di belakang istri sah—telah meluluhlantakkan reputasi yang Rani bangun bertahun-tahun dalam semalam.
Saat jemarinya yang dingin mendorong pintu kayu kamar nomor empat, denting engselnya terdengar amat nyaring.
Tiga teman sekamarnya—Najwa, Ratna, dan Mawar—yang semula tengkurap membedah kitab di atas karpet tipis, seketika bungkam. Tawa kecil yang sempat terdengar beberapa menit lalu menguap tanpa sisa. Udara di dalam kamar terasa mendadak berat dan menyesakkan.
Rani menahan napas, enggan menatap mata siapa pun. Ia berjalan lurus menuju lemari kayu kecilnya di pojok ruangan. Jemarinya yang bergetar hebat mulai menyambar pakaian dari gantungan, menjejalkannya asal-asalan ke dalam tas kain besar.
Najwa bangkit dari dipannya. Langkah kakinya pelan, namun setiap pijakannya terasa sarat akan kekecewaan mendalam. Ia berhenti tepat dua langkah di belakang Rani.
"Ran..." panggil Najwa. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun memiliki gema yang amat tajam.
Rani menghentikan gerakannya. Bahunya naik turun menahan napas, namun ia menolak membalikkan badan.
"Berita yang beredar di luar... itu benar?" Najwa menarik napas panjang, mencoba menetralkan getar pada suaranya. "Kamu... sudah nikah siri sama Gus Reyhan selama sebelas bulan?"
Rani menggigit bibir bawahnya rapat-rapat hingga memucat. Tidak ada sepatah kata pun yang sanggup lolos dari kerongkongannya. Hanya isakan kecil yang tertahan yang akhirnya pecah, menggetarkan punggungnya.
"Kenapa, Ran?" Ratna yang duduk di sudut ruangan ikut bersuara. Nada bicaranya tidak lagi menyembunyikan amarah yang bergolak. "Kenapa kamu tega melakukan itu sama Ning Naya? Kamu lupa siapa yang selalu menolongmu saat keluargamu kesusahan? Siapa yang secara khusus mengajukan nama kamu ke pengurus supaya kamu dapat keringanan SPP dan beasiswa penuh?"
"Aku tak pernah berniat menyakiti Ning Naya!" Rani mendadak berbalik. Wajah polos yang biasa tampak lembut itu kini memerah penuh pertahanan. Air mata merebak di pelupuk matanya. "Aku cuma mencintai Gus Reyhan! Apa salah kalau aku cuma mau hubungan ini halal?!"
"Tapi caramu salah besar, Rani!" tegas Najwa, melangkah lebih dekat dengan tatapan menusuk. "Kamu menikah diam-diam di belakang wanita yang menyambutmu dengan tangan terbuka. Kamu memanfaatkan rasa iba Gus Reyhan di saat Ning Naya sibuk mengabdi untuk madrasah. Ini bukan cuma soal kamu dan cinta blind-mu itu, tapi kamu merusak nama baik pesantren dan menorehkan luka pada orang yang tidak pernah menzalimimu!"
"Padahal Ning Naya sedang menyiapkan berkas beasiswamu ke Mesir..." Mawar menyela, suaranya bergetar menahan ketidakpercayaan. "Seperti mimpi yang selalu kamu ceritakan pada kami tiap malam sebelum tidur. Kita semua tahu betapa baiknya Ning Naya. Beliau bukan cuma ustazah, tapi orang yang paling memperjuangkan nasibmu di sini. Dan kamu... kamu membalasnya dengan tikaman dari belakang."
Pintu kamar mendadak terbuka lebih lebar. Sinta dan Devi melangkah masuk, menyajikan aura konfrontasi yang semakin tebal di dalam ruangan yang menyempit itu.
"Salah apa Ning Naya sama kamu, Ran?" cerca Sinta tanpa tedeng aling-aling. "Apa cintamu ke Gus Reyhan lebih mulia sampai kamu merasa berhak menginjak-injak harga diri wanita lain?"
"Apa kamu pikir dengan dalih 'yang penting halal', dosa membohongi dan mengkhianati sesama wanita itu terhapus begitu saja?" timpal Devi tajam.
"Kalian tak tahu apa-apa!" jerit Rani seraya menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. "Kalian cuma tahu menghakimi aku! Kalian tak pernah tahu bagaimana posisi aku!"
"Kami tidak menghakimi kamu, Rani," balas Devi dingin, matanya menatap lurus tanpa ampun. "Kamu sendiri yang menjerat dirimu dalam penghakiman ini lewat pilihanmu sendiri."
Rani menatap wajah-wajah di hadapannya—teman-teman yang dulu saling berbagi tawa dan selimut—kini memandangnya tak ubahnya seorang pengkhianat. Dengan gerakan kalap, ia menyambar tas pakaiannya yang baru terisi separuh, mendorong tubuh Najwa hingga terhuyung, lalu berlari dari kamar asrama tanpa peduli pada seruan teman-temannya.
**
Sementara itu, di ndalem timur, Reyhan duduk membisu di sudut ruangan yang gelap. Gorden jendela sengaja dibiarkan tertutup rapat, menghalangi masuknya sinar matahari pagi Pacet.
Reyhan meraba dada dan kemejanya. Di atas meja di samping tempat tidur, tergeletak sebuah kotak kayu kecil berukir milik Naya yang tertinggal saat perempuan itu merapikan barang-barangnya semalam. Dengan jemari gemetar, Reyhan membuka kotak tersebut.
Di dalamnya tidak ada perhiasan mahal. Hanya ada sejilid buku catatan harian bercover kain cokelat dan beberapa lembar kertas resep ramuan herbal yang biasa Naya buatkan untuk meredakan migrain Reyhan.
Reyhan membuka halaman pertama buku harian Naya. Tulisan tangan rapi wanita itu terpampang di sana:
"Hari ke-100 pernikahan.
Mas Reyhan masih sering menatap jauh ke luar jendela setiap kali aku menyeduhkan teh hangat. Aku mencoba memahami—mungkin ada ruang trauma di Mesir yang belum selesai ia sembuhkan. Aku akan bersabar. Sebagai istrinya, kewajibanku adalah menjadi tempatnya pulang dengan tenang, tanpa memaksanya bicara sebelum ia siap."
Reyhan memegang dada yang serasa dihantam palu godam. Air matanya menetes meresapi lembaran kertas itu.
Ia membalik halaman berikutnya, tanggal di mana ia pertama kali beralasan "belum siap secara spiritual" untuk menyentuh Naya secara batiniah.
"Hari ke-180.
Malam ini Mas Reyhan menolakku lagi dengan alasan spiritualnya. Ada sedikit rasa sakit di dadaku sebagai seorang wanita, namun aku menepisnya. Aku berdoa semoga Allah menjaga kesucian pernikahan ini dan memberi ketenangan pada hati suamiku. Aku sangat mencintainya karena Allah."
"Naya..." bisik Reyhan serak. Suaranya pecah di tengah kegelapan kamar ndalem timur.
Setiap baris kalimat dalam buku itu bagaikan sembilu yang menguliti egonya. Pria yang selama ini merasa dirinya suci, terpelajar, dan berhak menentukan arah karena statusnya sebagai putra mahkota, kini sadar betapa kerdil dan menjijikkannya ia di hadapan kepolosan serta ketulusan cinta Naya. Wanita yang ia abaikan selama satu tahun justru wanita yang paling sabar mendoakannya di setiap sujud malam.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah