Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya oranye kemerahan yang menerobos masuk melalui celah tirai kamarku. Suasana di luar sana terlihat damai, bebas. Sementara di dalam kamar ini, udaranya terasa pengap dan berat.

Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap layar ponselku yang gelap. Jari-jariku gatal sekali untuk mengetik sesuatu. Apa saja.

Lucas, tolong.

Lucas, aku takut.

Lucas, dia tahu namamu.

Tapi setiap kali jariku hendak menyentuh layar, rasa takut itu muncul kembali, lebih dingin dari es. Samudra bukan orang sembarangan. Dia punya uang, kekuasaan, dan jaringan. Jika dia bisa mendapatkan foto-fotoku saat aku makan nasi bungkus di pinggir pasar, apa sulitnya baginya untuk menyadap ponselku? Membaca chat? Mendengarkan panggilan?

Bayangan wajah Samudra yang gemuk dan berkeringat, dengan senyum menjijikkan itu, muncul di benakku. "Dinding punya telinga. Lantai punya mata." Kata-kata Bi Inem tadi bergema lagi.

Aku meletakkan ponsel itu jauh-jauh, seolah-olah benda itu adalah ular berbisa. Aku tidak bisa mengambil risiko. Jika Samudra tahu aku masih berkomunikasi dengan Lucas... aku tidak ingin membayangkan apa yang akan dilakukannya pada Lucas. Atau worse, pada Ibu.

"Aku harus pintar," bisikku pada diri sendiri. "Aku harus lebih licik darinya."

Aku berdiri dan berjalan menuju meja rias. Di sana, ada sebuah buku harian kecil bersampul kulit coklat tua. Buku itu kuberi kunci kombinasi sederhana. Ini satu-satunya tempat di mana aku bisa menulis kebenaran tanpa takut disadap. Kertas tidak bisa diretas. Tinta tidak bisa dilacak oleh server.

Dengan tangan gemetar, aku membuka buku itu dan mengambil pulpen.

Dia tahu. Dia mengintaimu sejak lama. Dia menikahi Ibu bukan karena cinta, tapi karena obsesi padamu. Dia menyebutmu 'harta miliknya'. Malam ini, makan malam bersama. Aku takut. Tapi aku tidak boleh menunjukkan ketakutan. Aku harus bertahan. Untuk Ibu. Tolong, jika ada yang membaca ini suatu hari nanti... selamatkan aku.

Air mata menetes ke atas kertas, membuat tinta biru sedikit luntur. Aku menghapusnya cepat-cepat dengan tisu sebelum bekasnya terlalu jelas.

Setelah menutup buku harian itu dan menguncinya kembali, aku merasa sedikit lebih lega. Sedikit. Hanya sedikit.

Sekarang, tugas berikutnya: berpakaian.

Samudra meminta aku makan malam bersama. Itu berarti aku harus tampil sempurna. Bukan seperti gadis cafe yang sederhana, tapi seperti boneka mahal yang dia inginkan.

Aku membuka lemari pakaian. Di sana tergantung beberapa gaun baru yang dibeli Samudra minggu lalu. Mahal. Mewah. Dan sebagian besar memiliki potongan yang agak terbuka atau ketat, dirancang untuk menonjolkan tubuh muda ku.

Mataku tertuju pada sebuah gaun midi berwarna maroon gelap. Lengan panjang, leher tinggi, tapi bahannya tipis dan menempel di kulit. Itu sopan, tapi tetap seksi dalam cara yang halus. Itu pilihan yang aman. Tidak terlalu provokatif sehingga bisa memicu amarahnya, tapi cukup elegan untuk menghormati "tuan rumah".

Aku melepas baju rumahan yang longgar, lalu mengenakan gaun itu. Kainnya terasa dingin di kulitku. Aku menyisir rambutku hingga lurus dan berkilau, lalu memberikan sentuhan ringan bedak dan lipstik warna nude. Tidak mencolok. Natural.

Saat aku melihat cermin, wanita di sana terlihat dewasa. Terlalu dewasa untuk usianya. Matanya kosong, tapi bibirnya dipaksa tersenyum tipis.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu kamarku terdengar. Bukan ketukan halus Ibu. Tapi ketukan tegas, berat, dan otoriter.

"Angela," suara Samudra terdengar dari balik pintu. Suaranya berat, serak, dan dekat sekali. Seolah dia sudah berdiri tepat di depan pintu sejak tadi. "Sudah siap? Makan malam menunggu."

Jantungku hampir copot. Jam belum tujuh. Kenapa dia sudah datang? Atau... apakah dia memang menunggu di luar sana, mengintimidasiku dengan kehadirannya?

Aku menarik napas dalam-dalam, merapikan kerah gaunku, lalu berjalan menuju pintu. Tanganku mencapai gagang pintu yang dingin.

Aku bisa melakukan ini, pikirku. Aku kuat.

Dengan tangan gemetar, aku memutar gagang pintu dan membukanya.

Samudra berdiri di ambang pintu kamarku. Dia tidak masuk, tapi kehadirannya sudah cukup membuat udara di lorong terasa sesak. Matanya yang kecil dan tajam menelusuri tubuhku dari ujung kaki hingga ke puncak kepala. Tatapan itu lambat, berat, dan menjijikkan. Seperti seorang pembeli yang sedang menilai kualitas barang dagangan di pasar.

Rasa dingin merayap naik di sepanjang tulang belakangku. Aku ingin membungkus diri dengan selimut, tapi aku tahu itu akan dianggap sebagai penolakan. Jadi, aku hanya bisa berdiri kaku, membiarkan matanya "memakan" aku hidup-hidup.

Senyum tipis terbentuk di bibirnya yang tebal. Dia mengangguk pelan, seolah puas dengan apa yang dilihatnya.

"Kamu cantik sekali begini, Angela," ucapnya serak. Suaranya rendah, hampir seperti gumaman, tapi terdengar jelas di keheningan lorong. "Sangat cantik. Mengapa kamu tidak mau saja menjadi istriku? Bukankah itu lebih mudah? Lebih... menyenangkan?"

Darahku membeku. Napasku tertahan di tenggorokan. Kata-kata itu begitu blak-blakan, begitu melanggar batas norma, tapi diucapkan dengan nada santai seolah dia sedang menawarkan permen.

Aku membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Lidahku kelu. Otakku kosong. Ketakutan melumpuhkan seluruh kemampuan bicaraku. Aku hanya bisa menatap lantai, jari-jariku mencengkeram kain gaun maroon ku hingga putih.

Katakan sesuatu, perintah otakku. Tolak dia. Marah lah.

Tapi tubuhku menolak bekerja. Aku terjebak dalam kelumpuhan total.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah tangga. Cepat dan ringan.

"Permisi, Pak..."

Suara Bi Inem memecah ketegangan yang hampir mencekik itu. Wanita paruh baya itu muncul di samping Samudra, wajahnya tampak sedikit panik namun tetap sopan. Dia tidak menatapku, matanya fokus pada Samudra.

"Koki sudah datang, Pak. Beliau meminta izin untuk bertemu Bapak sebentar soal menu malam ini. Katanya ada bahan khusus yang perlu dikonfirmasi langsung," lapor Bi Inem cepat.

Samudra mengerutkan kening, jelas kesal karena interupsi itu. Dia menoleh ke arah Bi Inem dengan tatapan tajam. "Sekarang? Aku sedang sibuk."

"Maaf, Pak. Tapi beliau bersikeras. Katanya kalau tidak sekarang, daging wagyunya akan kehilangan kualitas terbaiknya," tambah Bi Inem, suaranya tetap tenang meski tangannya terlihat gemetar halus di balik punggungnya.

Samudra mendengus kesal. Dia menatapku sekali lagi, kali ini dengan pandangan yang lebih dingin dan penuh ancaman. Seolah berkata: Ini belum selesai.

Lalu, tanpa sepatah kata pun, dia berbalik badan. Langkah kakinya yang berat dan gontal terdengar menjauh menuju tangga, mengikuti Bi Inem yang segera membungkuk hormat sebelum turun mendahuluinya.

Aku masih berdiri di ambang pintu, napasku baru keluar tersengal-sengal setelah sosok besar itu menghilang dari pandanganku. Kakiku goyah, nyaris ambruk jika tidak segera berpegangan pada kusen pintu.

Untung saja ada Bi Inem.

Aku menoleh ke arah tangga. Bi Inem sudah kembali naik, membawa nampan kosong. Saat melihatku masih di sana, dia berhenti sejenak. Kami saling menatap. Di mata Bi Inem, aku melihat simpati yang mendalam, dan juga peringatan yang sama seperti tadi siang.

Dia berjalan mendekat, lalu berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar.

"Terima kasih, Bi," bisikku, suaraku masih bergetar hebat. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.

Bi Inem menggeleng pelan, senyum tipis yang sedih menghiasi wajahnya yang keriput. "Iya, Nduk. Sama-sama. Bibi cuma melakukan tugas bibi."

Dia menepuk pundakku sekilas, sentuhan singkat yang memberikan sedikit kehangatan di tengah dinginnya situasi ini.

"Bibi mau lanjut bekerja dulu ya, Nduk. Kamu harus tetap hati-hati ya. Jangan pernah lupa kunci pintumu malam ini."

Matanya menatapku lekat-lekat, menekankan kata kunci. Itu bukan saran biasa. Itu instruksi penyelamatan.

"Iya, Bi," jawabku patuh.

Bi Inem mengangguk, lalu berbalik dan menghilang ke arah dapur di lantai bawah.

Aku segera masuk kembali ke kamarku dan menutup pintu dengan kuat. Aku menyandarkan punggungku pada pintu, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih berlari kencang.

Malam ini akan panjang. Sangat panjang. Dan aku harus siap menghadapi apa pun yang terjadi di balik makan malam nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!