Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pagi itu, udara segar menyelinap masuk lewat jendela ruko kecil milik Miska. Ia sedang menata barang-barang di rak, wajahnya cerah dan bersemangat. Pintu terbuka, Bu Siti masuk membawa dua gelas teh hangat.
"Miska, ini tehnya. Istirahat dulu sebentar, jangan kelelahan," kata Bu Siti sambil meletakkan gelas di meja.
Miska tersenyum lebar. "Terima kasih banyak, Bu! Ibu selalu saja perhatian sekali sama aku."
"Ya iyalah, kita kan sudah seperti keluarga. Lagian lihat nih, barang-barangmu makin lama makin banyak. Belum sebulan sudah penuh begini," Bu Siti melihat sekeliling ruangan dengan kagum.
"Alhamdulillah, Bu. Pelanggan makin hari makin bertambah. Banyak yang bilang barangnya bagus dan pengirimannya cepat. Itu semua berkat bantuan Ibu yang selalu menyediakan barang dengan lengkap dan harga yang murah," jawab Miska tulus.
"Itu karena kamu rajin dan jujur, Nak. Pelanggan itu bisa merasakan. Sekarang kamu sudah punya penghasilan sendiri, mandiri, dan tidak perlu lagi minta-minta pada siapa pun. Bagaimana rasanya?"
Miska duduk di kursi kayu, memegang gelas tehnya. "Enak sekali, Bu. Dulu setiap mau beli apa-apa harus pikir dua kali, takut uang kurang, takut dimarahi. Sekarang aku bisa atur semuanya sendiri. Bisa beli apa yang aku butuhkan, bisa menabung. Rasanya... seperti baru saja hidup kembali."
Bu Siti mengangguk senang. "Baguslah kalau begitu. Oh ya, bagaimana dengan urusan surat ceraimu? Sudah ada kabar?"
Miska menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk mantap. "Hari ini aku mau ke pengadilan, Bu. Semua berkas sudah lengkap. Aku sudah siap."
Bu Siti menatapnya bangga. "Kamu yakin, Miska? Tidak ragu sedikit pun?"
"Dulu aku ragu, Bu. Aku bertahan bertahun-tahun berharap Askar akan berubah. Tapi sekarang aku sadar, orang yang tidak mau berubah tidak akan pernah berubah. Aku sudah tidak bahagia di sana. Dan aku tidak mau membuang sisa hidupku untuk hal yang menyakitkan," jawab Miska tegas.
"Itu keputusan yang tepat. Kalau kamu sudah mantap, silakan. Jangan takut, aku di sini selalu dukung kamu. Kalau butuh apa-apa, bilang saja ya," ucap Bu Siti lembut.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah ada untukku. Aku janji aku akan kuat," Miska tersenyum tulus.
Miska berangkat ke pengadilan sendirian. Langkahnya mantap, tidak ada keraguan. Sesampainya di sana, ia mengurus segala sesuatunya dengan tenang. Saat petugas bertanya, ia menjawab dengan jelas dan tegas — tidak ada paksaan, tidak ada perselisihan harta, hanya ingin berpisah dengan baik.
Sementara itu, di rumah Askar, suasana berbeda. Rara sedang duduk di ruang tengah, wajahnya tidak sabar. Askar berjalan keluar dari kamar dengan wajah cemas.
"Bagaimana? Sudah ada kabar dari Miska?" tanya Rara langsung.
"Katanya hari ini dia ke pengadilan. Sepertinya dia benar-benar mau menceraikanku," jawab Askar pelan.
Rara langsung berdiri. "Baguslah! Kalau begitu semakin cepat semakin baik. Aku sudah tidak sabar ingin menikah denganmu, Askar. Kenapa harus menunda-nunda?"
"Tapi... rasanya aneh sekali. Dia tidak menangis, tidak memohon, tidak menuntut apa-apa. Dia hanya membiarkan aku pergi," gumam Askar, ada rasa kehilangan yang samar di hatinya.
Rara mendekat, memegang lengan Askar. "Kamu itu laki-laki, jangan lemah begitu. Dia pergi berarti dia memang tidak cukup mencintaimu. Sekarang giliranku, aku yang akan menemani hidupmu. Bukankah itu yang kita inginkan?"
Askar menatap Rara, lalu mengangguk pelan. "Iya, kamu benar. Sudah tidak ada gunanya memikirkan dia."
Bu Surya keluar dari dapur, mendengar percakapan itu. "Benar kata Rara. Percuma memikirkan wanita yang sudah tidak mau di sini. Cepat urus semuanya, lalu kalian menikah. Aku sudah suka sekali sama Rara, dia jauh lebih pantas menjadi menantuku."
"Terima kasih, Bu. Aku pasti akan berbakti pada Ibu," kata Rara manis, tersenyum lebar.
Di pengadilan, sore itu, Miska keluar dari ruangan dengan selembar kertas di tangannya — surat cerai yang sah. Ia berhenti sejenak di halaman pengadilan, menatap langit biru di atasnya. Tidak ada air mata. Justru ada kelegaan yang luar biasa.
Ia langsung kembali ke ruko. Begitu masuk, Bu Siti langsung menyambutnya.
"Sudah selesai, Miska?" tanya Bu Siti cemas sekaligus berharap.
Miska mengangguk, tersenyum lebar. "Sudah, Bu. Aku bebas sekarang."
Bu Siti langsung memeluknya hangat. "Syukurlah! Syukurlah, Nak! Kamu sudah selesai dengan masa lalumu yang buruk. Sekarang waktunya bahagia untukmu."
"Terima kasih, Bu. Tanpa Ibu aku tidak akan sampai di titik ini," Miska membalas pelukan itu dengan hangat.
"Jangan pernah bilang begitu. Kamu yang berjuang, kamu yang kuat. Sekarang simpan itu baik-baik, dan mulai babak baru dalam hidupmu. Aku yakin masa depanmu akan jauh lebih cerah dari sebelumnya," ucap Bu Siti tulus.
Miska meletakkan surat cerai itu di laci meja kerjanya, dengan hati yang tenang. Ia menatap barang-barang dagangannya, lalu kembali bekerja dengan semangat yang baru. Di luar sana, mungkin masih banyak hal yang menantinya, tapi untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian. Dan ia tidak lagi takut.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪