Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Tap tap tap.
Suara langkah sepatu pantofel mahal Kevin menggema di seluruh ruangan galeri yang mendadak sunyi.
Dia berjalan dengan dada membusung seolah sudah memenangkan kompetisi ini sejak awal.
Kevin meletakkan piring hitam panjang berisi daging wagyu itu di atas meja kayu jati penjurian dengan sangat hati-hati.
Senyum sombong tidak pernah lepas dari bibir pemuda pewaris jaringan restoran terkenal tersebut.
"Silakan dicicipi, Chef," ucap Kevin dengan nada suara yang dibuat sangat sopan.
"Hidangan ini adalah Pan Seared Wagyu A5 dengan saus red wine reduction dan pure kentang truffle."
Chef Renata menjadi orang pertama yang mendekat dan mengambil garpu serta pisau daging.
Srek srek.
Pisau itu memotong daging wagyu dengan sangat mudah tanpa ada perlawanan sedikitpun dari serat dagingnya.
"Tingkat kematangannya medium rare yang sangat sempurna," puji Chef Renata sambil melihat bagian tengah daging yang masih berwarna merah muda.
Dia memasukkan potongan daging itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya secara perlahan.
Raut wajah Chef Renata terlihat sangat menikmati sensasi lemak daging yang meleleh di lidahnya.
"Dagingnya sangat lembut dan meleleh di mulut, pure kentangnya juga sangat halus."
"Terima kasih banyak, Chef Renata," jawab Kevin sambil melirik merendahkan ke arah barisan peserta lain.
Kini giliran Chef Bram yang melangkah maju untuk mencicipi hidangan mahal tersebut.
Dia menyendok daging beserta saus kental berwarna merah gelap itu ke dalam mulutnya.
Nyam nyam.
Chef Bram mengunyah beberapa kali lalu menelan daging itu dengan wajah datar yang sulit ditebak.
"Teknik memasak dagingmu memang bagus, Kevin."
"Tapi saus red wine reduction milikmu ini terlalu manis untuk seleraku," kritik Chef Bram dengan tajam.
"Saus yang terlalu manis menutupi rasa gurih asli dari lemak wagyu yang harganya sepuluh juta ini."
Senyum di wajah Kevin sedikit memudar mendengar kritikan tajam dari Chef Bram.
"Maaf, Chef. Saya sengaja membuatnya sedikit manis untuk menyeimbangkan rasa gurih dari pure kentang truffle."
"Alasan yang bagus, tapi di lidahku ini tetap terlalu manis," balas Chef Bram tanpa ampun.
Suasana menjadi sangat tegang saat Chef Arya akhirnya melangkah maju mendekati piring Kevin.
Juri berwajah galak itu mengambil sepotong daging tanpa menempelkan saus sedikitpun.
Dia mengunyahnya dengan mata menatap tajam langsung ke arah kornea mata Kevin.
Glek.
Chef Arya menelan daging itu dan meletakkan garpunya kembali ke atas meja dengan sedikit kasar.
Trang.
"Bahan masakan seharga sepuluh juta rupiah sudah sewajarnya terasa enak di mulut," ucap Chef Arya dengan suara baritonnya yang berat.
"Bahkan seekor monyet yang diajari menyalakan kompor pun bisa membuat wagyu ini terasa enak."
Wajah Kevin seketika memerah menahan amarah karena disamakan dengan seekor monyet.
"Tapi kau memiliki teknik dasar yang cukup baik untuk menjaga suhu wajanmu agar lemaknya tidak hancur," lanjut Chef Arya.
"Jadi kesimpulannya, hidanganmu ini aman dan kau hanya menumpang pada kualitas bahan masakanmu yang mahal."
Kevin menelan ludah dengan susah payah dan hanya bisa mengangguk kaku menanggapi komentar pedas itu.
"Untuk keputusannya, saya bilang ya," ucap Chef Renata sambil tersenyum tipis.
"Saya juga bilang ya, tapi perbaiki rasio sausmu ke depannya," tambah Chef Bram.
Chef Arya menatap Kevin sejenak sebelum akhirnya memberikan keputusan akhirnya.
"Kau lolos ke babak selanjutnya, ambil celemek putihmu di sana."
"Terima kasih, Chef," ucap Kevin dengan senyum kemenangan yang kembali mengembang lebar.
Dia mengambil celemek putih berlogo Master Chef dan berjalan kembali ke barisannya.
Saat berpapasan dengan Aldo, Kevin sengaja menabrakkan bahunya dengan cukup keras.
Duk.
"Giliranmu sebentar lagi, gembel," bisik Kevin tepat di telinga Aldo.
"Siapkan mentalmu untuk menangis saat juri membuang masakan pinggiranmu itu," lanjutnya sambil tertawa pelan.
Aldo sama sekali tidak merespon provokasi murahan dari Kevin dan tetap berdiri tegak di tempatnya.
Penjurian pun dilanjutkan dengan memanggil beberapa peserta lain ke depan podium.
Namun suasana galeri seketika berubah menjadi mimpi buruk yang sangat mengerikan.
"Apa kau berniat meracuniku dengan ayam mentah ini?!" bentak Chef Arya kepada seorang peserta wanita.
Peserta wanita itu langsung menangis tersedu-sedu melihat bagian dalam ayamnya yang masih berdarah.
Prang.
Chef Bram membuang piring berisi nasi goreng yang terlalu asin ke tempat sampah di sudut podium.
"Pulang sana dan belajar lagi cara membedakan garam dan gula!" usir Chef Bram tanpa belas kasihan.
Satu per satu peserta berguguran dan harus melepas impian mereka di ruang audisi tersebut.
Dari dua puluh orang yang sudah dipanggil, hanya lima orang yang berhasil mendapatkan celemek putih.
Mental para peserta yang belum dipanggil mulai hancur dan beberapa bahkan sudah gemetar ketakutan.
"Panggilan selanjutnya, meja nomor dua belas," suara Chef Renata menggema melalui pengeras suara.
"Aldo Raditya, silakan bawa hidanganmu ke depan sekarang."
Jantung Aldo berdetak sangat kencang hingga dia merasa dadanya sesak sesaat.
Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk membuang semua rasa gugup.
Aldo mengangkat piring keramik putihnya dengan kedua tangan yang sedikit berkeringat dingin.
Tap tap tap.
Langkah kaki Aldo terasa sangat berat saat dia berjalan menyusuri lorong menuju meja penjurian.
Semua mata kini tertuju padanya, menatap penampilan kumalnya dan piring makanannya yang sangat sederhana.
Aldo meletakkan piring itu di atas meja jati dan mundur satu langkah dengan sikap hormat.
"Tolong jelaskan apa yang kau bawa ke depan meja kami ini," pinta Chef Renata dengan ramah.
"Ini adalah Ayam Woku Belanga khas Manado, Chef," jawab Aldo dengan suara yang tegas dan jelas.
Chef Bram memajukan wajahnya untuk melihat lebih dekat tampilan hidangan Aldo tersebut.
"Tampilannya sangat berantakan dan kampungan," komentar Chef Bram tanpa basa-basi.
"Ini seperti makanan yang biasa aku lihat di warung tegal pinggir jalan, bukan di galeri Master Chef."
Beberapa peserta di belakang, termasuk Kevin, terdengar tertawa kecil meremehkan.
"Sebuah hidangan klasik Nusantara memang tidak dirancang untuk terlihat cantik, Chef," jawab Aldo membela diri.
"Keindahan utamanya terletak pada aroma bumbu yang meresap dan rasa yang meledak di dalam mulut."
Chef Bram mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban berani dari pemuda miskin di depannya ini.
"Jawaban yang sangat berani. Mari kita buktikan apakah rasanya sehebat mulutmu berbicara."
Chef Bram mengambil sendok dan garpu lalu mencoba memotong daging ayam kampung tersebut.
Sret.
Daging ayam itu terlepas dari tulangnya dengan sangat mudah hanya dengan sedikit tekanan garpu.
Mata Chef Bram sedikit melebar karena terkejut melihat tekstur daging yang begitu empuk.
Dia menyuapkan potongan daging beserta bumbu kuning kental itu ke dalam mulutnya.
makasi crazy up nya