Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Gadis Tanpa Masa Lalu

"Ya ampun, Elisa! Kenapa sepasang kaki telanjangmu bisa terluka parah dan berdarah-darah seperti ini?! Kau sedang mencoba membohongi Ibu, ya?" pekik Ibu Iris panik setengah mati begitu sepasang matanya menangkap luka lecet memerah dan jejak cairan darah yang mengering di sepanjang kulit betis polos Elisa.

Wanita tua itu bergerak hendak mengambil posisi berjongkok demi memeriksa luka tersebut, namun dengan gerakan sigap nan lembut, Alan Pendragon menahan pundak ringkih Ibu Iris.

"Sebaiknya Anda segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat menenangkan diri, Nyonya Iris. Biarkan putri tunggalku yang akan mengambil alih tanggung jawab untuk mengobati seluruh luka di kaki putri Anda," ucap Alan Pendragon dengan nada suara bariton yang sarat akan wibawa penguasa namun teramat menenangkan jiwa manusia fana.

Meskipun secara status kronologis supranatural ia adalah seorang ayah dari anak remaja, namun guratan wajah Alan Pendragon sama sekali tidak menampilkan adanya tanda-tanti penuaan fisik.

Dengan fitur pahatan wajah yang terahat teramat sempurna tanpa cela khas dari karakteristik bangsa berdarah murni Pegasus, ia justru terlihat sangat muda, bugar, layaknya seorang pemuda manusia yang baru menginjak usia 20-an awal—sebuah keistimewaan mutlak dari genetika fisik kaum abadi yang akan selalu menipu mata ras manusia fana.

Alan memutar kepalanya menoleh ke arah Scarlett, dan putrinya itu langsung menganggukkan kepala patuh menerima perintah.

"Ayo, Elisa. Ikutlah bersamaku naik ke lantai atas," ajak Scarlett dengan nada suara yang teramat lembut sembari menggandeng jemari Elisa.

"Terima kasih banyak atas segala kebaikan dan kemurahan hatimu, Tuan. Anda benar-benar pria yang sangat baik," ucap Elisa tulus, membungkukkan tubuhnya ke arah Alan.

"Sama-sama, Elisa. Perkenalkan, namaku adalah Alan Pendragon. Aku adalah ayah kandung dari Scarlett," ucap Alan ramah sembari mengulurkan telapak tangan kanannya ke depan.

Elisa membungkuk hormat kembali seraya mengulurkan tangannya untuk menyambut jabatan tangan pria tersebut.

"Saya Elisa Morpheana, Tuan Pendragon."

Deg.

Tepat di detik saat kedua telapak tangan mereka saling bertautan rapat, sepasang kening Alan Pendragon seketika berkerut teramat dalam. Sepasang manik matanya yang jernih tampak membelalak samar dilingkupi rasa syok yang luar biasa hebat, sebelum akhirnya jabatan tangan formal itu berakhir dengan cepat.

Scarlett kemudian menuntun langkah kaki Elisa berjalan menuju ke arah lift khusus, bermaksud membawa gadis manusia itu menuju ke sebuah kamar luas yang terletak di lantai 20—sebuah kamar tidur eksklusif yang nantinya akan dideklarasikan sebagai tempat tinggal baru bagi Elisa.

Namun, tepat satu detik sebelum pintu besi lift otomatis tertutup rapat, sesosok wanita dengan setel pakaian pelayan klasik hitam-putih tampak menyelinap masuk ke dalam kabin tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Sosok itu adalah Marrie, sang pelayan utusan mistis dari kediaman Josiah Salvatore. Kehadiran fisiknya yang sedingin es seketika membuat atmosfer udara di dalam kabin lift mendadak terasa teramat mencekam dan mengintimidasi kesadaran fana Elisa.

Begitu pintu lift kembali terbuka lebar setibanya mereka di lantai 20, Scarlett melangkah keluar, membuka sebuah daun pintu kayu ek raksasa berukir megah, menampakkan interior kamar tidur bernuansa putih-perak yang luar biasa mewah, lengkap dengan fasilitas dinding kaca besar yang menyajikan pemandangan langsung ke arah laut biru Kota Luminara.

Tanpa meminta izin secara sopan terlebih dahulu, Marrie melangkahkan sepasang kaki kakunya masuk tepat di belakang tubuh mereka, membanting pintu kamar hingga tertutup rapat, lalu mengambil posisi berdiri tegak di sudut ruangan layaknya sebuah patung penjaga yang siap mengawasi setiap jengkal gerak-gerik Elisa.

Sementara itu, jauh di area lobi lantai satu, Alan Pendragon masih berdiri mematung di tempatnya. Ia memandangi pintu besi lift yang telah tertutup rapat dengan seulas tatapan mata yang teramat sulit untuk diartikan maknanya.

Ia perlahan mengangkat telapak tangan kanannya ke atas udara, menatap permukaan kulitnya dengan rasa ketidakpercayaan yang teramat mendalam merayap di dalam dadanya.

Kenapa... kenapa baru kali ini sepanjang berabad-abad hidupku... aku mendadak tidak mampu membaca atau melihat fragmen masa lalu seseorang? batin Alan terkejut setengah mati dilingkupi rasa takjub.

Gadis bernama Elisa Morpheana itu... jiwanya sama sekali tidak memiliki jalinan benang masa lalu yang tersisa.

Sebagai sesosok keturunan murni dari ras agung Pegasus, Alan Pendragon dianugerahi oleh bakat kekuatan purba yang teramat langka dan masif: ia memiliki kemampuan Psikometri Tingkat Tinggi, di mana ia sanggup membaca, melihat, dan memutar kembali seluruh fragmen memori masa lalu milik siapa pun hanya melalui sebuah sentuhan fisik sederhana, bahkan dari bekas jejak telapak kaki atau sisa benda mati yang pernah disentuh oleh objek tersebut.

Kekuatan pembacaan memori kosmis miliknya ini setara dengan bakat legendaris milik pamannya sendiri, sang Archmage tertinggi klan, William Pendragon. Sementara Scarlett, anehnya, sama sekali tidak mewarisi bakat membaca memori psikometri tersebut dari darahnya.

Namun khusus pada diri Elisa Morpheana, kemampuan magis mutlak milik Alan mendadak lumpuh total tak berfungsi. Dimensi batin Elisa seolah-olah memiliki sebuah benteng dinding pertahanan tak kasat mata yang teramat kokoh, yang menolak keras dan mementalkan kembali segala bentuk upaya interupsi pembacaan memori dari luar.

Alan menarik napasnya sedalam mungkin demi menenangkan gejolak rasa penasarannya, lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah Ibu Iris yang saat itu sedang sibuk menertibkan belasan anak-anak panti untuk masuk ke dalam area kamar tidur mereka masing-masing.

"Nyonya Iris," panggil Alan dengan nada suara tenang penuh wibawa sembari melangkahkan kakinya mendekat. "Ada sebaris hal penting yang ingin saya tanyakan secara pribadi kepada Anda saat ini."

Ibu Iris memutar tubuhnya menoleh, buru-buru menyeka permukaan celemek kainnya yang bersih dengan gerakan canggung.

"Ada hal apa yang bisa saya bantu, Tuan Alan?"

"Gadis itu... Elisa Morpheana. Sebenarnya siapa sesungguhnya asal-usul jati dirinya? Dan apakah Anda sudah mendampingi kehidupannya dalam durasi waktu yang cukup lama selama ini?" tanya Alan langsung menusuk ke inti masalah, mencoba mencari jawaban rasional atas anomali ganjil yang baru saja melumpuhkan kekuatannya.

Ibu Iris mengulas seulas senyuman tipis penuh kehangatan, meskipun gurat kelelahan fisik masih tercetak jelas di wajah tuanya yang keriput.

"Mungkin baru sekitar lima tahun terakhir ini saya mengasuhnya, Tuan Alan. Elisa adalah seorang anak pindahan darurat dari panti asuhan lamanya di distrik utara yang kabarnya sudah bangkrut total. Kasihan sekali nasib anak itu... saat pertama kali ia menapakkan kakinya datang ke tempat panti saya, ia bahkan menderita amnesia parah hingga melupakan total apa nama panti asuhan sebelumnya, dan dari mana sesungguhnya wilayah tempat asalnya berada."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!