Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Rahasia di Balik Lensa

Layar ponsel di tangan Arthur Summers terus berkedip, menampilkan nama 'Elena' di sertai getaran yang panjang dan putus asa. Senyum sinis di sudut bibir Arthur semakin menajam. Baru semalam, wanita itu merasa berada di puncak dunia, mengkhianati pernikahan mereka demi seorang pria arogan yang ia anggap bisa memberikannya masa depan yang gemilang. Namun kini, setelah kekaisaran pria itu hancur menjadi debu dalam hitungan jam, Elena meneleponnya dengan kepanikan.

Bagi Arthur, penderitaan instan tidaklah cukup. Ia menekan tombol tolak panggilan, lalu mematikan daya ponselnya. Biarkan rasa takut dan ketidakpastian memakan jiwa istrinya malam ini.

Arthur memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas wol kasualnya, lalu melangkah menyusuri trotoar sepi di area parkir belakang Universitas St. Jude. Angin sore berhembus menggugurkan dedaunan musim gugur, menciptakan suasana melankolis yang berbanding terbalik dengan badai kehancuran yang baru saja ia lepaskan ke bursa saham kota.

"Langkah yang cukup rapi untuk seorang dosen sejarah, Profesor Summers. Atau haruskah saya memanggil Anda dengan sebutan lain?"

Langkah Arthur terhenti. Suara seorang wanita yang jernih dan penuh selidik memecah keheningan dari arah bayang-bayang pohon ek besar di dekat mobilnya.

Maya Lin melangkah keluar dari balik pepohonan. Mahasiswi tingkat akhir jurusan jurnalistik itu mengenakan jaket kulit cokelat dan celana jeans, dengan sebuah kamera DSLR yang tergantung di lehernya. Tangannya memegang sebuah tablet PC yang layarnya menyala terang, menampilkan grafik saham Yayasan Thorne yang kini telah menyentuh angka nol.

Arthur membalikkan badannya perlahan. Ekspresinya setenang permukaan danau yang membeku. "Nona Lin, jika aku tidak salah ingat. Kelas sejarah sudah selesai tiga jam yang lalu. Apa yang dilakukan seorang mahasiswi sendirian di area parkir yang sepi ini?"

Maya tidak terintimidasi oleh nada datar tersebut. Ia melangkah maju, menjaga jarak aman sekitar tiga meter dari Arthur. "Saya tidak di sini untuk membahas Kejatuhan Kekaisaran Romawi, Profesor. Saya di sini untuk membahas kejatuhan Kekaisaran Thorne."

Gadis itu mengangkat tabletnya, menunjukkan deretan kode dan diagram aliran dana rumit kepada Arthur.

"Pukul enam pagi, dua belas mayat algojo dari sindikat Viper ditemukan di depan rumah keluarga Thorne. Pukul sembilan pagi, Julian Thorne terlihat ketakutan setengah mati hanya karena bertatapan mata dengan Anda di depan ruang kelas," Maya mulai membeberkan deduksinya dengan suara mantap, matanya berbinar tajam. "Lalu, mulai pukul dua siang, rentetan serangan short-selling besar-besaran menghantam saham Yayasan Thorne. Serangan itu dilakukan melalui lusinan perusahaan cangkang (shell companies) yang berlapis-lapis di rekening luar negeri."

Arthur menatap Maya dalam diam, membiarkan mahasiswi itu terus berbicara. Tidak ada sedikit pun kepanikan di mata sang Jenderal.

"Polisi dan media massa mungkin mengira ini hanyalah kejatuhan bisnis biasa akibat krisis likuiditas," lanjut Maya, suaranya sedikit bergetar menahan kebahagiaan karena berhasil merangkai teka-teki raksasa ini. "Tapi saya tahu kebenarannya. Anda yang melakukan ini, bukan? Anda menggunakan jaringan entitas bayangan untuk menghancurkan mereka tanpa meninggalkan jejak nama Anda sama sekali. Siapa Anda sebenarnya, Arthur Summers?"

Mendengar tuduhan telak itu, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah.

Angin sore seolah berhenti berhembus. Udara menjadi sangat berat dan menyesakkan. Arthur tidak lagi menyembunyikan auranya di balik topeng seorang dosen. Wajah Arthur berubah menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam. Tekanan membunuh yang ia pancarkan di medan perang perbatasan kini menguar perlahan, membuat insting bertahan hidup Maya berdering hebat.

"Nona Lin," suara Arthur berubah menjadi bariton yang sangat berat dan mematikan. "Tahukah kau bahwa di dunia ini, rasa ingin tahu yang berlebihan adalah penyebab utama kematian dini? Jika kau sudah menyimpulkan bahwa aku bisa membantai selusin pembunuh bayaran tanpa berkedip dan melenyapkan sebuah keluarga konglomerat dalam sehari... apa yang membuatmu berpikir aku tidak akan melenyapkan seorang mahasiswi yang terlalu banyak ikut campur saat ini juga?"

Maya menelan ludah. Kakinya tanpa sadar ingin melangkah mundur saat merasakan aura membunuh yang mengerikan itu. Namun, gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dan memaksakan dirinya untuk tetap berdiri tegak.

Sebuah senyum penuh arti tiba-tiba terbentuk di bibir Maya.

"Karena Anda tidak akan membunuh saya, Profesor," jawab Maya dengan napas sedikit tersengal menahan tekanan aura Arthur. "Selain karena saya tidak memiliki niat buruk terhadap Anda... ada alasan lain mengapa saya bisa melacak pergerakan perusahaan cangkang Anda."

Arthur menyipitkan matanya. Jaringan peretas Phantom Vanguard adalah yang terbaik di dunia. Tidak mungkin seorang mahasiswi biasa bisa menembus enkripsi militer mereka hanya dengan laptop kampus. "Jelaskan."

"Pemutusan urat nadi finansial keluarga Thorne tidak akan terjadi secepat itu jika bukan karena campur tangan dari pihak internal kota ini," ucap Maya, menggeser layar tabletnya untuk menampilkan logo Tucker Group. "Serangan pamungkas yang menghancurkan mereka hari ini adalah pembatalan kontrak sepihak dari konsorsium Drake Tucker."

Drake Tucker adalah orang terkaya di kota ini, yang secara rahasia pernah menjadi salah satu pengikut setia organisasi Arthur, dan begitu sang raja kembali ke kota ini, Drake telah siap sedia melayani segala kebutuhan yang diminta. Ini adalah rahasia yang seharusnya tidak diketahui oleh siapa pun di luar Phantom Vanguard.

Arthur mengambil satu langkah maju, tatapannya kini benar-benar mengunci Maya. "Bagaimana kau tahu keterlibatan Tucker?"

"Karena," Maya menarik napas panjang, mengeluarkan kartu as-nya, "Drake Tucker adalah paman saya. Lebih tepatnya, dia adalah sepupu kandung dari ayah saya. Nama asli saya adalah Maya Tucker Lin."

Langkah Arthur terhenti. Kesunyian menggantung di udara selama beberapa detik. Tatapan sang Jenderal yang tadinya dipenuhi aura membunuh kini digantikan oleh kilatan ketertarikan.

"Ayah saya menolak ikut campur dalam bisnis keluarga Tucker dan memilih hidup sebagai akademisi biasa. Namun, sebagai bagian dari keluarga besar, saya masih memiliki akses terbatas ke server internal Tucker Group," jelas Maya. "Ketika paman Drake tiba-tiba memerintahkan pembatalan mega-proyek dengan Thorne secara mendadak dan tanpa alasan logis yang menguntungkan perusahaan, saya meretas masuk untuk mencari tahu. Dan saya menemukan jejak komunikasi yang terenkripsi tingkat tinggi... yang mengarah ke wilayah kampus ini."

Maya menatap lurus ke mata Arthur. "Paman Drake adalah pria paling berkuasa di kota ini. Dia tidak menundukkan kepalanya kepada politisi, jenderal militer, atau mafia mana pun. Namun, data yang saya retas menunjukkan bahwa paman saya membatalkan proyek miliaran dolar itu hanya karena sebuah perintah telepon singkat dari seseorang yang dipanggilnya dengan sebutan hormat. Orang itu adalah Anda."

Udara yang tadinya mencekik perlahan-lahan mengendur. Aura membunuh Arthur menghilang tanpa sisa, digantikan oleh tawa pelan yang dalam. Sang raja menganggukkan kepalanya pelan, merasa terkesan dengan keberanian dan kecerdasan anak sepupu dari bawahannya itu.

"Drake tidak pernah bercerita bahwa ia memiliki keponakan dengan insting jurnalistik seberbahaya ini," ucap Arthur dengan nada yang kembali tenang, memancarkan wibawa kuat seorang pemimpin. "Kau sangat cerdas, Maya. Kau memegang informasi yang bisa mengguncang tatanan kota ini, dan kau memilih untuk mengkonfrontasiku secara langsung. Apa yang kau inginkan? Uang? Perlindungan? Atau sebuah berita eksklusif?"

Maya menggelengkan kepalanya. Wajah gadis itu berubah serius.

"Saya sudah menyelidiki Julian Thorne dan sindikat di balik kampus ini selama lebih dari setahun, Profesor," ungkap Maya sambil mencengkeram erat tabletnya. "Julian bukan hanya arogan; dia menggunakan Yayasan Thorne untuk mencuci uang dari sindikat narkoba dan perdagangan manusia tingkat rendah. Saya selalu ingin menghancurkan mereka, tapi saya tidak punya kekuatan. Hukum di kota ini bisa dibeli oleh ayah Julian."

Maya menatap Arthur dengan penuh harap. "Lalu, Anda muncul. Seperti dewa perang yang turun dari langit untuk meratakan semuanya. Saya tidak peduli siapa Anda di masa lalu atau mengapa Anda menyembunyikan identitas Anda. Saya hanya tahu bahwa kita memiliki musuh yang sama. Saya ingin menawarkan kerja sama."

"Kerja sama?" Arthur mengangkat sebelah alisnya, merasa terhibur.

"Ya. Anda mungkin memiliki kekuatan finansial dan algojo bayangan yang tak terbatas, tapi Anda tidak mengenal medan pertempuran lokal ini sedetail saya. Saya tahu siapa saja dosen yang disuap oleh Julian, saya tahu di mana mereka menyembunyikan aset fisik di kampus ini, dan saya tahu kelemahan Elena, dekan yang tampaknya memiliki hubungan khusus dengan Anda."

Mendengar nama Elena disebut, rahang Arthur sempat mengeras sesaat, namun ia dengan cepat mengendalikan emosinya.

"Aku tidak butuh bantuan untuk menghancurkan semut, Nona Lin," jawab Arthur tenang.

"Mungkin tidak," balas Maya cepat. "Namun, Anda tadi menyebutkan soal menyembunyikan jejak. Jika Anda bergerak membabi buta, intelijen negara atau musuh asing Anda pada akhirnya akan menyadari keberadaan Anda. Jika Anda menjadikan saya sebagai mata dan telinga Anda di lapangan, saya bisa membantu mengarahkan opini publik dan media kampus, menutupi jejak Anda, dan memastikan kejatuhan Julian terlihat murni sebagai skandal kriminal biasa."

Arthur terdiam. Logika gadis itu sangat masuk akal. Silas dan Phantom Vanguard sangat ahli dalam perang destruktif, namun mereka kekurangan pion sipil di dalam kampus yang bisa bergerak bebas tanpa mengundang kecurigaan. Menjadikan keponakan Drake Tucker sebagai informan pribadinya adalah langkah taktis yang brilian.

Sang Jenderal mengulurkan tangan kanannya. "Kau baru saja membuat kesepakatan dengan iblis, Maya Tucker Lin. Mulai detik ini, kau bekerja di bawah komandoku. Khianati aku, dan bahkan pamanmu Drake tidak akan bisa menyelamatkanmu."

Maya tersenyum lebar dan menyambut jabatan tangan Arthur. "Saya tidak akan mengecewakan Anda, Bos."

Arthur melepaskan jabatan tangannya dan kembali berbalik menuju mobilnya. "Sebagai tugas pertamamu, Maya. Pantau pergerakan Julian dan Elena malam ini. Setelah kehilangan seluruh hartanya, tikus yang terpojok biasanya akan lari ke selokan tergelap yang mereka ketahui."

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!