Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sinar fajar menerobos gorden tipis water villa, menyinari kamar yang tenang dengan latar belakang laut biru jernih.

Pantulan cahaya matahari pagi yang berkilauan di atas permukaan air menyusup lembut, menciptakan nuansa hangat di seluruh sudut ruangan.

Sasi terbangun lebih dulu dalam dekapan erat Adrian.

Ada perasaan lega dan utuh yang benar-benar baru bagi Sasi tanpa ada bayang-bayang ketakutan lagi.

Ia menghela napas pelan, menikmati kehangatan lengan kokoh Adrian yang melingkar sempurna di pinggangnya.

Menatap paras tampan suaminya yang masih terlelap tenang tanpa raut penyesalan atau beban, senyum kebahagiaan menyungging di bibir Sasi.

Perlahan, Sasi mengulurkan jarinya, mengusap lembut garis rahang Adrian.

Sentuhan halus itu membuat Adrian bergerak pelan. Kelopak matanya terbuka perlahan, menampilkan sorot mata teduh yang seketika memancarkan cinta begitu menangkap sosok Sasi di hadapannya.

"Selamat pagi, istriku." sapa Adrian dengan suara parau khas bangun tidur yang begitu dalam dan lembut.

Pria itu mendekatkan wajahnya, mendaratkan ciuman hangat dan lama di dahi Sasi, lalu berpindah ke pipinya.

"Selamat pagi, Mas," balas Sasi berbisik, rona merah tipis menghiasi paras cantiknya.

"Tidurmu nyenyak, sayang?" tanya Adrian seraya merapikan helai rambut yang menutupi wajah Sasi, jemarinya mengusap pipi halus itu penuh kasih sayang.

"Sangat nyenyak, Mas. Aku merasa sangat tenang," jawab Sasi jujur, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.

Adrian tersenyum puas, melingkarkan lengannya kian erat sejenak sebelum akhirnya mengajak Sasi bangkit untuk menyambut pagi pertama mereka sebagai pasangan yang utuh.

Tak lama kemudian, mereka sudah berada di teras pribadi atas air (overwater deck).

Pihak resort telah menyajikan sarapan pagi santai yang mengapung di atas kolam renang pribadi mereka (floating breakfast), serta menata meja kecil di tepi dek.

Berbagai buah-buahan segar, pastry hangat, jus buah murni, dan kopi aromatik tersaji sempurna dengan latar belakang pemandangan samudera tanpa batas.

Adrian menarikkan kursi untuk Sasi, membiarkan angin laut yang sejuk menerpa lembut wajah mereka.

Mereka menikmati sarapan pagi itu tanpa terburu-buru, diselingi tawa kecil dan perbincangan hangat.

Adrian menyodorkan sepotong pastry kepada Sasi, menatap istrinya dengan rasa syukur yang membuncah.

Di atas dek kayu yang dikelilingi lautan jernih Maldives itu, dunia terasa begitu luas dan indah—hanya milik mereka berdua, tanpa ada lagi celah bagi masa lalu untuk menyentuh kebahagiaan mereka.

Selesai menikmati sarapan pagi di atas dek kayu, Adrian berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Sasi.

Dengan senyum manis, Sasi menyambut genggaman itu dan membiarkan suaminya menuntunnya menuju tangga kayu yang langsung terhubung ke dalam air laut jernih di bawah villa mereka.

Air laut yang hangat dan bening bagai kristal menyapa kaki mereka.

Sasi tertawa kecil saat ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang mengitari pergelangan kakinya.

"Mas, lihat! Ikan-ikannya berani sekali mendekat," seru Sasi gembira, matanya berbinar penuh kebahagiaan yang polos.

Adrian menatap binar mata itu dengan perasaan haru.

Sudah sangat lama ia tidak melihat tawa lepas tanpa beban dari bibir istrinya.

Tanpa ragu, Adrian melangkah makin dalam ke dalam air, lalu mengangkat tubuh Sasi ke dalam pelukannya, membuat wanita itu memekik kaget diselingi tawa renyah.

"Mas Adrian! Nanti basah semua!" ujar Sasi seraya melingkarkan tangannya refleks di leher Adrian.

"Memang tujuannya untuk basah-basahan, sayang," balas Adrian terkekeh pelan.

Ia membawa Sasi berenang perlahan di area perairan dangkal yang tenang di sekitar villa privat mereka.

Matahari makin meninggi, memancarkan kehangatan yang memanjakan kulit.

Setelah puas berenang dan bermain air, Adrian membawa Sasi kembali naik ke dek.

Pria itu dengan sigap mengambil handuk tebal dan membungkus tubuh Sasi agar tidak kedinginan, mengeringkan helai-helai rambut basah istrinya dengan penuh kelembutan.

"Terima kasih untuk hari ini ya, Mas," tutur Sasi lirih, menatap Adrian dari balik balutan handuknya.

"Akuz benar-benar merasa bahagia."

Adrian menghentikan gerakan tangannya, menangkup kedua pipi Sasi dan mendaratkan ciuman lembut di ujung hidungnya.

"Kebahagiaanmu itu hidupku sekarang, Sasi," jawab Adrian tulus.

"Hari ini baru permulaan. Kita masih punya banyak waktu di sini untuk mengukir kenangan manis yang baru."

Sasi mengangguk mantap, menyandarkan dadanya ke dada bidang Adrian seraya menikmati kehangatan angin laut Maldives yang terus membisikkan janji masa depan yang indah bagi mereka berdua.

Siang harinya, setelah membersihkan diri dari sisa air garam dan berganti pakaian santai berbahan linen yang sejuk, Adrian mengajak Sasi bersantai di jaring-jaring hammock yang menggantung tepat di atas air laut teras mereka.

Sasi berbaring menyandar nyaman di dada bidang Adrian, sementara kedua lengan kokoh suaminya melingkar protektif di pinggangnya.

Angin laut berembus sepoi-sepoi, membawa aroma kebebasan dan ketenangan yang belum pernah Sasi rasakan sebelumnya.

"Mas," panggil Sasi pelan, mengusap jemari Adrian yang tertaut di jemarinya.

"Iya, sayang?" sahut Adrian seraya mencium puncak kepala Sasi yang wangi.

"Setelah dari Maldives, kita mau langsung pulang ke rumah atau mau mampir ke tempat lain?" tanya Sasi mendongak sedikit, menatap garis wajah suaminya dari bawah.

Adrian menyunggingkan senyum hangat. Ia menatap mata bening Sasi dengan sorot penuh rencana indah.

"Terserah kamu, wife. Kalau kamu masih mau jalan-jalan ke negara lain, Mas akan atur semuanya. Tapi kalau kamu mau pulang, kita akan tata kembali kehidupan kita di rumah utama. Mas juga ingin memastikan penyembuhan Ayah berjalan lancar sampai beliau benar-benar pulih total."

Sasi tersenyum haru mendengar betapa Adrian kini begitu memikirkan kesejahteraan sang ayah. Rasa hormat dan cintanya pada suaminya itu makin membuncah tak bertepi.

"Kita pulang saja ya, Mas," tutur Sasi lembut.

"Aku ingin merawat Ayah bersama Mas, dan aku ingin mulai menata rumah kita jadi tempat paling hangat buat keluarga kita nanti."

Mendengar kata 'keluarga kita', binar mata Adrian makin terang.

Hatinya bergetar hebat oleh rasa syukur yang membuncah.

Ia meremas lembut jemari Sasi, lalu berbisik parau tepat di depan bibir istrinya.

"Terima kasih, Sasi. Terima kasih sudah hadir dan melengkapi hidupku."

Adrian menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan penuh kehangatan, dinaungi langit biru Maldives yang menjadi saksi bisu betapa cinta mereka kini telah berdiri kokoh tanpa ada lagi celah untuk dihancurkan.

Ciuman itu terlepas perlahan, menyisakan binar cinta yang makin pekat di antara mereka.

Adrian mengusap pipi Sasi yang merona, lalu membimbing istrinya bangkit dari hammock untuk kembali masuk ke dalam villa saat matahari mulai berada di puncak peraduan siang.

Suasana di dalam villa terasa begitu sejuk dan menenangkan, terlindung dari teriknya sengatan matahari di luar.

Adrian menuntun Sasi menuju area sofa empuk di tepi ruang tengah, lalu membiarkan istrinya menyandar nyaman seraya mengambilkan segelas air mineral dingin untuk Sasi.

"Minum dulu, sayang," tutur Adrian lembut seraya menyodorkan gelas itu, lalu ikut duduk merapat di samping Sasi.

Sasi menerima gelas tersebut, meminumnya perlahan sebelum kembali menatap suaminya.

"Mas, soal kepulangan kita nanti, apa Mas sudah mengatur jadwalnya?"

Adrian mengangguk pelan, menyusupkan jemarinya di antara jemari Sasi.

"Sudah, sayang. Mas sudah minta Pak Baskoro menyiapkannya untuk lusa. Tapi kalau kamu masih betah dan mau memperpanjang waktu di sini, Mas bisa minta diatur ulang."

"Tidak perlu, Mas," jawab Sasi mantap seraya tersenyum hangat.

"Dua hari lagi di sini sudah sangat cukup untuk mengisi energi kita. Lagipula, aku sudah tidak sabar ingin melihat kondisi Ayah secara langsung dan memulai hidup baru kita di rumah."

Mendengar ucapan tulus itu, Adrian merengkuh bahu Sasi, membawa wanita itu kian erat dalam dekapannya.

Ada rasa bangga dan keharuan yang membuncah di dadanya—melihat betapa dewasa dan berjiwa besarnya wanita yang kini resmi menjadi pendamping hidupnya.

"Baiklah, lusa kita pulang," bisik Adrian di puncak kepala Sasi.

"Dan, Mas janji, begitu kita sampai di rumah nanti, Mas sendiri yang akan mendampingi kamu merawat Ayah. Kita akan pastikan Ayah mendapatkan perawatan terbaik sampai pulih total."

Sasi mendongak, menatap manik mata Adrian yang memancarkan kesungguhan tanpa batas.

Di dalam ketenangan water villa siang itu, di tengah deburan ombak Maldives yang menjadi saksi bisu, Sasi merasa seluruh potongan kehidupannya yang sempat hancur kini telah menyatu kembali—lebih indah, utuh, dan penuh akan rasa cinta yang murni.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!