Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tancap Gas Demi Serum
"Pegangan yang kencang, Samson! Kalau lu jatuh, gue enggak bakal balik lagi buat ngambil!" teriak Kenanga sambil menarik gas penuh motor matic pink pastel milik Samson.
"Aaaargh! Mbak Kenanga! Pelan-pelan sedikit dong! Ini anginnya kencang banget, moisturizer di muka aku bisa menguap karena dehidrasi ekstrem!" teriak Samson histeris dari jok belakang.
Kedua tangan Samson yang kekar meremas pinggang Kenanga erat-erat. Tubuh bongsor 178 sentimeter itu meringkuk ketakutan di belakang Kenanga yang ukurannya jauh lebih kecil. Setiap kali motor melintasi polisi tidur, Samson menjerit melengking seraya menutup matanya rapat-rapat, membiarkan rambut poninya berkibar liar diterpa angin jalanan.
"Dua belas menit lagi, Samson! Lu mau skincare lu dihibahkan ke pemulung sama Mami lu?!" balas Kenanga melirik dari kaca spion.
Mendengar kata skincare, mata Samson langsung terbuka lebar. Rasa takutnya pada kecepatan mendadak hilang, berganti dengan tekad baja demi menyelamatkan botol-botol serum bernilai ratusan ribu rupiah.
"Tancap gas, Mbak Ken! Terobos segalanya! Demi niacinamide dan hyaluronic acid!" seru Samson memberi komando bagai panglima perang.
Motor matic pink pastel itu membelah kemacetan jalanan pinggir kota dengan manuver-manuver ekstrem. Kenanga meliuk-liuk di antara angkot dan truk galon air dengan keahlian luar biasa, sementara Samson di belakang bertugas menjadi penunjuk jalan—sekaligus pemberi efek suara panik setiap kali mereka nyaris menyerempet spion kendaraan lain.
Dalam waktu sepuluh menit yang dipenuhi senam jantung, akhirnya mereka sampai di gerbang rumah yang bertuliskan bengkel Perkasa Putra.
Samson langsung melompat turun dari motor dengan gerakan agak sempoyongan. Tumit kakinya lemas, tapi matanya dipenuhi api perjuangan. Ia berlari menerobos pintu samping rumah, mengabaikan Papi yang sedang melotot heran di depan kap mobil.
"MAMI! JANGAN DIBUANG DULU SKINCARE-NYA! SAMSON PULANG!" jerit Samson membelah keheningan rumah.
Di ruang tamu, Mami sedang berdiri di depan meja dengan daster batiknya yang megah. Tangan kanannya sudah memegang kantong plastik besar berisi deretan botol toner, moisturizer, dan sunscreen milik Samson yang siap dilempar ke tong sampah depan.
"Tepat waktu... kurang tiga puluh detik," ucap Mami dingin seraya melirik jam dinding.
Samson berlutut di lantai yang dingin, memeluk kaki Mami dengan raut wajah memelas. Samson mengedip-ngedipkan matanya centil dan polos, berusaha memasang raut muka paling menggemaskan yang ia miliki.
"Mami Ratu yang paling cantik se-RT... Maafkan Samson, tadi di pasar ada insiden dramatis, Samson hampir dijambret preman! Tapi belanjaan Mami selamat kok, cuma... agak berubah bentuk dikit," ucap Samson sambil pelan-pelan menyodorkan kantong plastik berisi sisa cabe keriting dan cumi asin yang sudah tidak berwujud sempurna.
Mami menunduk, menatap isi kantong plastik itu, lalu menatap Samson, dan akhirnya menatap Kenanga yang baru saja melangkah masuk dari pintu depan sambil bersedekap dada.
Mata Mami membelalak kaget saat mengenali sosok wanita tomboi di belakang anaknya.
"Lho... Kamu kan anak gadisnya Pak Sabeni yang punya padepokan pencak silat ujung jalan?" tanya Mami.
Kenanga mengangguk sopan, meluruskan topi capingnya, "Iya... tante, saya Kenanga, Samson habis saya pinjam buat bantuin hajar geng preman pasar."
Suasana ruangan mendadak hening seketika. Mami mengerutkan dahi, menatap anak tunggalnya yang masih berlutut di lantai dengan raut tak percaya.
"Kamu... hajar preman, Sam?" tanya Mami dengan nada tidak percaya.
Samson menelan ludah dengan susah payah. Ia menoleh ke arah Kenanga yang memberi isyarat mata seolah berkata:
"Ikutin aja alurnya kalau mau skincare lu selamat."
"I...iiyaa Mami... Samson pakai jurus... racun cabe keriting," jawab Samson pelan sambil mengacungkan dua jari kelingkingnya yang bergetar.
Mami diam seribu bahasa. Namun tiba-tiba, senyum lebar terbit di wajah sang Ratu rumah tangga. Mami menaruh kembali kantong plastik skincare Samson ke atas meja dengan aman.
"Nah! Gitu dong! Itu baru namanya anak lelaki Papi sama Mami!" seru Mami bangga seraya menepuk-nepuk bahu kekar Samson hingga sang anak hampir tersungkur. "Karena kamu sudah berani bertarung dan bawa calon menantu yang jago silat ke rumah, jatah skincare kamu Mami tambah bulan ini!"
"Hah?! Calon menantu?!" Samson dan Kenanga berteriak kompak dengan nada melengking penuh syok.
Belum sempat Samson meluruskan kesalahpahaman itu, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari arah bengkel luar, disusul teriakan Papi yang terdengar sangat panik.
"MAMI! SAMSON! CEPAT KE DEPAN! GENG MOTOR DATANG!"
Wajah Samson yang baru saja kembali berwarna seketika berubah menjadi pucat pasi kembali.
"Gusti Allah... barusan lolos dari hukuman Mami, sekarang malah ada gelombang serangan balik dari geng motor?!"
Knalpot brong meraung di halaman Bengkel Perkasa Putra dengan suara bising, menggetarkan kaca jendela. Samson bergidik ngeri, merapat ke dinding sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang layaknya drum metal.
"Duh, Mbak Ken... ini suaranya kasar banget! Telinga aku yang peka ini bisa rusak frekuensinya!" Samson panik sambil mengintip dari balik gorden.
Di luar halaman bengkel, belasan sepeda motor besar sudah mengepung area parkir. Pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam, kacamata hitam, dan kumis tebal melangkah turun dari motor paling depan. Dialah Bang Jarot, ketua geng motor "Serigala Jalanan" sekaligus dewan pembina para preman pasar yang tadi dihajar oleh Kenanga dan Samson.
"Mana cewek tengil sama cowok gemulai yang berani-beraninya bikin anak buah gue belepotan cumi asin dan cabe keriting?!" gertak Bang Jarot dengan suara berat membahana. Ia melangkah maju sambil mengayunkan rantai besi tebal di tangan kanannya.
Papi, yang keluar dari dalam bengkel sambil memegang kunci inggris ukuran jumbo, berdiri tegap membusungkan dada, "Hei, Jarot! Jangan sembarangan teriak-teriak di halaman bengkel gue! Mau berurusan sama besi tua, lu?!"
"Gak usah banyak bacot, Pak Tua! Serahin anak lu yang bertingkah sok pahlawan itu, atau bengkel ini gue ratakan sama tanah!" ancam Bang Jarot seraya menghantamkan rantai besinya ke drum oli bekas,
CRANG!
Percikan api memercik kencang, membuat Samson di dalam rumah menjerit kecil.
"Aduh, Mami! Itu rantai karatan! Kalau kena kulit, bisa infeksi tetanus plus merusak susunan jaringan epidermis!" ujar Samson panik setengah mati.
Mami yang mendengarnya langsung menaruh kedua tangannya dipinggang. Tatapan matanya mendadak berubah tajam, penuh wibawa seorang ibu negara rumah tangga.
"Samson! Kamu lihat itu?! Mereka mau merusak rumah kita! Kamu kan pahlawan pasar yang baru saja Mami banggakan, sekarang keluar dan tunjukkan jurus kamu!"
"Hah?! Tapi Mami, tadi itu cuma kebetulan! Samson cuma menyelamatkan moisturizer!" rengek Samson memohon belas kasihan.
Kenanga yang berdiri di sebelah Samson menepuk bahu kekar cowok itu dengan cengkeraman mantap, "gue ada di belakang lu, Sam, lu yang bikin mereka lengah pakai kelakuan aneh lu, gue yang eksekusi. Gimana?"
Samson menatap Kenanga, lalu beralih ke Mami yang memegang tong sampah berisi skincare-nya sebagai ancaman terselubung. Tidak ada pilihan lain. Dengan langkah gemetar dan raut wajah bagai prajurit yang akan dieksekusi mati, Samson melangkah keluar dari pintu bengkel.”
"Mm...mmaas...mmass.. geng motor... bisa bicara baik-baik enggak? Kulit saya sensitif sama debu knalpot, nih..." ujar Samson dengan nada teramat pasrah.