Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berjalan dan tawakkal....
Baiklah aku sekarang paham. Semuanya tidak rumit. Hanya butuh perjuangan dan tekad. Ila bisa menemukan hidup yang tenang setelah ini. Dia tidak perlu menangisi tekanan yang ada. Karena kemungkinan terindah sudah terlihat sekarang. Begitu Ila berhasil ku antar ke pada kakeknya, beliau pasti sangat terkejut setelah Ila menjelaskan semuanya. Pak Baruh telah membantu banyak, dia tahu mengenai keluarga Ila. Kami harus banyak berterima kasih.
Aku dan Ila sudah di luar rumah. Pak Baruh dan Bu Evi berdiri di ambang pintu.
“lah kenapa kami di kasih tas segala?” Aku dan Ila terkejut. Pak Baruh menyiapkan tas punggung dan diberikan kepada kami begitu saja. Aku semakin tidak enak. “bisa sejauh ini bapak dan ibu membantu. Aku meminta banyak permintaan maaf karena sudah merepotkan, dan ribuan terima kasih atas segalanya”
Pak Baruh terdiam. Bu Evi juga.
“ada apa?” Aku bertanya.
Aku mulai melihat air mata keluar dari Bu Evi.
“Perasaan yang sama ketika melihat anak-anak kami pergi untuk pertama dan terakhir kalinya dari rumah ini. Di hari ini peristiwa itu seakan terputar kembali. Kalian yang baik-baik ya” Pak Baruh berkata datar.
Aku tersentak. Perasaan yang sangat dalam menyelimuti hatiku seketika.
Ila memeluk Bu Evi. Beliau yang di peluk balas memeluk dengan penuh arti sebenarnya. “terima kasih Bu atas penenang hatinya semalam” ucap Ila. Mata air juga mulai berlinang di ke lopaknya.
Beberapa detik senggang. Kami akhirnya bersalaman dan berpamitan. Aku segera mengangkat motor yang ternyata tergeletak di bawah. Siapa yang menjatuhkannya?
“Ini motor bukan punya kita, Ila. Kita harus mengembalikannya” ucapku menatap motor.
Ila membenahi tudung jaket di kepalanya. “Balikin ke orang yang ngejar di hutan itu?”
Aku mulai menaiki motor. “harusnya seperti itu.. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengembalikan nya”
Ila pergi ke belakang motor. Memotret sesuatu.
Alisku menaik. “Hey ayo naik. Pikirkan nanti saja. Yang penting kita ke terminal sekarang”
Ila berdecak. “bentar bang” Gadis itu menatap ponselnya. Kemudian baru naik.
“Ada apa?” Tanyaku ingin tahu apa yang dia lakukan barusan.
“Nah” wajah Ila merekah “motor ini di pasang GPS aktif. Cepat atau lambat motor ini akan di temukan pemiliknya nanti”
Aku meng ohh, paham. Ila memotret plat nomor dan mencari lokasi nya di Peramban maps. Main juga otaknya.
“kau taruh senapannya di mana semalam” aku teringat sesuatu. Sebaiknya kita tidak meninggalkan jejak apapun di sini.
“Oh iya..” Ila mulai turun dan mengambil barang tersebut dari balik pot besar semalam.
Tak sadar dari tadi Bu Evi dan Pak Baruh memperhatikan kami dari rumahnya. Mereka hanya tersenyum ramah.
Aku tersenyum. Mulai menurunkan grip dengan perlahan. Motor pun melaju. Aku segera menilik kembali Bu Evi dan Pak Baruh di rumah. Mereka melambaikan tangan dan tersenyum.
Beberapa detik kami sudah menjauh dari ke diaman mereka. Kami melaju di jalan tunggal yang ada, di tengah perumahan warga yang berderet rapi memanjang menghadap jalan tersebut.
Suasana siang di desa sangat pekat. Pohon-pohon tidak hanya membunyikan dedaunan yang di terpa angin, ada banyak suara serangga seperti tonggeret menderit nyaring, burung-burung berkicau dan suara hembusan di sawah yang terbentang berkilo-kilo meter.
Kabar baiknya kami tidak mendapat perasaan aneh lagi dari warga sekitar seperti tadi malam. Walau terkadang ada saja orang yang melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan aktivitas nya.
“eh, berarti kamu sebenarnya pernah melakukan sesuatu yang diluar logika” Aku bertanya. Teringat cerita anak itu pada pak baruh sebelumnya.
“Hmmmmm.. Iya. Tapi itu sifatnya aksidental, terkadang aktif begitu saja. Aku dulu pernah mengangkat air..” Jawab Ila.
Wow. Ini menarik “mengangkat air? Di mana?”
Ila terdiam sejenak. “hmnn.. Gajadi deh”
“Lah kok?” Kenapa pulak ni anak.
“aku malu bang” Ila bersemu. “masa aku di intip pas di WC sekolah sama siswa laki-laki. Menyebalkan sekali” Lanjut nya.
Aku terbahak. Bagaimana pun gadis ini tetap menceritakan nya. “lalu, tiba-tiba kau bisa angkat air di dalam sana kemudian menyembur anak siswa yang mengintip mu itu?” Aku asal tebak.
“iya. Saat itu aku sudah malu parah. Hanya bisa diam. Tidak teriak, tapi saat itu juga tanganku tiba-tiba hangat bersamaan air di dalam ember bergetar. Itu pertama kalinya aku melakukan hal aneh tersebut. Instingku mengatakan jika air ini bisa di gerakkan. Yasudah, aku mengayun kan lembut tangan ku. Namun air satu ember di kamar mandi justru langsung mengguyur siswa yang mengintip ku” Jelas Ila. Dia terdengar semangat menceritakan nya.
“Selain itu?” Aku bertanya lagi. Sambil mata tetap memperhatikan ke depan.
“Apa ya?” Ila bergumam. “Lupa”
Sesuatu terbesit dalam pikiranku. Kemarin, saat masih di dalam bis dia menyatakan bahwa dirinya hanya gadis biasa.
“Mungkin itu menjadi figur utama mereka. Karena kau punya kekuatan” Aku berkata, melanjutkan pembahasan.
“Lah, kok mereka bisa tau?” Balasnya janggal.
“Entah. Tapi bener, kan. Kamu punya kekuatan”
Ila terdiam sejenak. “Selama ini hanya suatu kejadian yang tidak aku fahami. Aku tidak tahu itu murni kekuatanku atau tidak, tapi itu memang nyata dan tidak banyak yang tau. Bahkan aku sendiri masih merasa seperti gadis pada umumnya”
Aku mengangguk. “Oh, Ku kira kau berbohong kemarin”
Lengang. Fokus ke jalan. Kami melewati beberapa anak yang sedang main di jalan. Mereka segera menepi begitu melihat kendaraan yang naiki di belakang. Satu dua anak melirik, yang lain tidak peduli dan lanjut bermain.
“Fay!!” Tiba-tiba ada satu anak berseru. Aku bisa melihat nya dari spion. Seorang anak perempuan berusaha mengejar motor kami. Tak sadar dia juga membawa teman-teman di sekitarnya ikut berlari.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi Ila tersenyum ke arah anak-anak itu. Mereka seketika merespon dan berseru girang. “kak Fay… itu” “ihh iya.. Kenapa dia ada di sini?”
Anak-anak sudah sepuluh meter di belakang kami. Mereka berhenti mengejar. Tapi masih melambaikan tangan dengan riang. Orang-orang desa yang kebetulan. lewat berpapasan atau duduk di rumah juga melirik.
Aku masih belum paham apa yang terjadi. “ada apa dengan mereka tadi?” Maksudku adalah anak-anak. “mereka mengenalmu?”
Ila terbahak. “ada dehh”
Lah. Sialan. “Kamu juga di panggil Fay. Nama laqobmu kah?” Aku tetap bertanya.
“ih.. Kepo hahah” Ila tetap acuh. Tertawa di belakangku.
“Beuhh.. Kasih tau lah” aku mendesak.
“Kau tidak akan percaya. Aku tahu perangaimu bang. Pertama kali aku menjelaskan masalah sebenarnya, kau justru tertawa mendengar itu” Ujar Ila.
Aku terdiam menatap jalan selebar satu setengah meter di depanku. Terserah kau saja lah.. “tapi wajar kan, aku belom bisa percaya gara-gara gak masuk akal. Masa orang kayak kamu sampai jadi buronan” ujarku.
Ila tidak membalas. Dia sudah sibuk bermain ponsel. Entah kenapa masih bisa sempat-sempatnya anak itu. Dia terduduk santai di belakangku. Sesekali memotret pemandangan desa, hamparan sawah yang tampak seperti di bawah gunung di ke jauhan, orang memandikan kerbau. Anak-anak bermain bola sepak.
Terdapat juga orang-orang yang sibuk mengusir burung menggunakan drone. Aku baru menyadarinya. Teknologi drone untuk mengusir burung sudah biasa di zaman ini. Selain murah. Ini lebih efisien, dan hemat tenaga karena drone yang di pakai bertenaga baterai Surya.
Pemandangan desa mulai tergantikan puluhan menit kemudian. Aku mulai bisa melihat gedung mengisi langit siang yang biru cerah.
Kami akan memasuki kawasan perkotaan kota Bandung. Gapura ke luar jalan kecil tinggal beberapa meter lagi di depan, menuju ke jalan besar.